INDONESIA KRISIS MORAL

7:23 PM Nova Zakiya 18 Comments

Air di sekitar gunung es perlahan surut usai kasus pemerkosaan berujung kematian yang menimpa YY, gadis berusia 14 tahun, ramai dibicarakan di media sosial beberapa hari belakang. Dengan hashtag #NyalaUntukYuyun, mereka mengunggah foto dan video di akun sosial medianya, sebagai bentuk dukungan dan simpati atas kasus yang mengenaskan ini.
via instagram
Untuk kembali mengingatkan kepada kalian, peristiwa naas tersebut terjadi pada awal April 2016, di Desa Kasie Kasubun, Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Mayoritas penduduk desa ini berprofesi sebagai petani karet. Desa ini mendadak gempar dan menjadi sorotan setelah ditemukannya mayat YY dalam kondisi nyaris tanpa busana di dasar jurang perkebunan karet.

Usut punya usut, YY meninggal usai diperkosa secara bergiliran oleh 14 remaja, dimana 2 diantaranya merupakan senior YY di sekolah (YY siswi kelas 2 SMP). Biadab bukan? Keempat belas remaja yang usianya di bawah 20 tahun (setengahnya masih di bawah umur) itu diketahui meminum tuak sebelum melakukan aksi binatangnya hingga mabuk berat dan muncul niat jahat untuk menggilir YY yang saat itu sedang dalam perjalanan dari sekolah menuju rumah. Bahkan beberapa di antaranya memperkosa YY lebih dari sekali. YY pun tewas dan mayatnya dibuang ke jurang untuk menghilangkan jejak.
Kemudian mereka berpura-pura tak tahu akan kejadian tersebut dan ikut membantu keluarga YY bersama warga lainnya mencari YY yang sudah tidak pulang ke rumah selama 2 hari. Bahkan saat ditemukan jenazahnya, salah satu dari mereka pun ikut menguburkan jenazah YY. Pintar kali bersandiwara remaja-remaja ini.
Bak bangkai yang disimpan rapat-rapat pada akhirnya tercium juga baunya. Polisi pun akhirnya menangkap para pelaku yang tingkahnya sudah tak layak disebut manusia. Miris, dalam penyelidikan, sedikit pun tak ada rasa menyesal atau bersalah dari mereka.
Lalu muncul kembali kasus yang menimpa seorang gadis di Manado yang diperkosa 19 pria pada Januari 2016 lalu. Awalnya, ia dibawa oleh dua temannya pergi dan dipaksa untuk mencicipi narkoba. Setelah korban tak sadarkan diri, ia kemudian digilir oleh 15 pria di sebuah hotel. Bahkan peristiwa tersebut terjadi berulang kali. Ia pun akhirnya dibawa ke Gorontalo dan kembali mendapat perlakuan tak senonoh dari 4 pria. Tak hanya itu, korban juga dianiaya oleh para pelaku. Pulang-pulang, korban dalam keadaan trauma yang sangat dalam dan tidak mengenali keluarganya.
Sayangnya, meski telah dilaporkan sejak akhir Januari lalu, kasus ini belum juga menemukan titik terang hingga sekarang. Menurut pihak keluarga, kepolisian kurang tanggap dalam menangani kasus ini. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pun akhirnya turun tangan.
Kasus-kasus serupa pun bermunculan di berbagai daerah, seolah para korban akhirnya berani untuk mengungkap kasus yang menimpa dirinya atau keluarganya. Tak jarang korban masih di bawah umur, bahkan balita. Pelakunya pun tidak sedikit yang berasal dari lingkungan terdekat, seperti keluarga ataupun guru. Entahlah apa yang ada di otak para pelaku ini yang sudah tidak bisa memanusiakan manusia.
Data diambil dari Pusat Data dan Informasi Komnas Anak 
Data dari Pusat Data dan Informasi Komisi Nasional Perlindungan Anak (Pusdatin Komnas Anak) menunjukkan, dalam 5 tahun terakhir, terdapat 21.689.987 kasus pelanggaran anak yang tersebar di Indonesia, dimana 58 persen diantaranya merupakan kasus kekerasan seksual. Betapa menyedihkannya anak-anak tak berdosa yang menjadi korban ini. Bahkan sejak tahun 2013, Komnas Anak menyatakan bahwa Indonesia berada dalam situasi Darurat Kekerasan Seksual.
See? Total kekerasan terhadap anak ini terus meningkat setiap tahunnya. Dan yang warna biru adalah kasus kekerasan seksual terhadap anak yang jumlahnya cukup fantastis ya. Oke mungkin lebih tepatnya, kasus kekerasan seksual terhadap anak yang dilaporkan. 
Kita semua tahu, di Indonesia, hal-hal yang berbau seksual masih tabu untuk dibicarakan. Ya mungkin sekarang jauh lebih santai sedikit ketimbang jaman dulu. Tapi tetap saja, untuk membicarakan tentang pendidikan seks secara benar masih jarang dilakukan, termasuk dari orang tua yang mulai mengenalkan fungsi organ vital anak, apa saja yang tidak boleh disentuh oleh orang lain, dan sebagainya. 
Atau sebaliknya, bagi orang dewasa, hal-hal berbau seksual dipakai untuk mencandai orang lain, yang seringkali mengarah pada pelecehan. Lalu yang salah siapa?
Kasus ini semakin ramai saat ada anggota dewan yang pernyataannya cenderung menyalahkan korban (dalam kasus YY) mengapa berjalan sendirian di pinggir kebun yang sepi sehingga mengundang kejahatan. Entah apa yang ada di otak bapak tersebut hingga muncul kalimat demikian. Mungkin menurut si bapak, cowok bisa semudah itu (maaf) sange kalo liat cewek jalan sendirian. Entah kenapa ini bapak nggak garis bawahi kenapa itu para pemuda di bawah umur bisa mendapatkan dan mengonsumsi minuman keras yang kemudian memicu terjadinya kasus asusila (selain ini, si 14 pelaku memang hobi nonton bokep).
Saat ada kasus demikian, tak jarang orang menyalahkan korban, entah dari perilakunya, pakaiannya, dandanannya, atau seperti kasus YY ini, karena dia sendirian jalan kaki ke rumah. Kasihan rok mini nggak salah tapi terus terusan disalahkan. Padahal yang salah kan yang ada di otak pelaku ya. 
Oke gini deh contoh konkritnya, saya pribadi yang mengenakan hijab sehari-hari, sedang belajar untuk rutin mengenakan rok. Dengan pakaian setertutup ini pun, saya kerap kali mendapat 'siulan melecehkan' dari orang-orang yang kurang berpendidikan (secara moral). Mau saya pakai make up atau dengan wajah pucat sekalipun, saya kerap mendapat perlakuan tersebut. Geram rasanya, ingin menonjok wajah mereka namun ini bukan daerah saya. Kalau begini, masih mau menyalahkan pakaian wanita?
Harapan saya, semoga di Indonesia segera ada hukuman yang setimpal bagi para pelaku yang telah merusak hidup korbannya seumur hidup. Ya, efek dari kekerasan seksual bisa membekas seumur hidup, bahkan bisa memicu 'korban menjadi pelaku' di kemudian hari jika tidak mendapat penanganan yang tepat. Sementara pelaku hanya dihukum hitungan tahun, yang mungkin bisa saja tidak menimbulkan efek jera.
Dalam bagian ini, saya pun tidak tahu apa hukuman yang setimpal bagi mereka yang biadab merusak hidup anak-anak. Karena hukuman kebiri bisa saja membuat para pelaku lebih bengis melakukan aksinya, meski sudah tidak memiliki alat kelamin ataupun hasrat seksual. Yang perlu disembuhkan bukan alat kelaminnya, melainkan otak dan pikirannya. 
"Tak akan ada emansipasi sosial yang sesungguhnya tanpa emansipasi wanita. Percuma berpura-pura menjadi bangsa yang setara dan berdaulat jika masih banyak remaja yang menjadi korban pemerkosaan dan pelecehan seksual." - dikutip dari Majalah Rolling Stone
Ini hanya opini saya, seorang wanita yang geram melihat kasus kekerasan seksual yang terus terusan menimpa anak-anak tak berdosa. Anak-anak yang seharusnya masih punya sejuta impian namun direnggut paksa oleh otak kotor seseorang yang dikendalikan oleh hawa nafsunya.

Salam.
Za.

18 comments:

  1. nice artikel (y)
    Ditunggu kunjungan baliknya ya di http://www.dzikirsm.web.id/2015/06/tanda2-datangnya-bulang-ramadhan-puasa.html
    .
    .
    #Blogwalking #SalamBlogger

    ReplyDelete
  2. Jelas sekali penyebabnya adalah minuan keras. Dari sibilah harus menjadi fokus utamanya. Kalau menangkap dan menjatuhi hukuman g akan ada habisnya. Lah wonh mabuk itu g sadar. Harusnya pemerintah lebih tegas dalam menangkap, meregulasi aturan jangan sampai memberi ruang bagi produsen, pedagang, dan lainya. Dukung UU anti miras 😉

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup. Saya setuju mas. Namun dalam banyak kasus tak jarang pemicunya juga karena terlalu banyak menonton video porno. Entahlah semakin kesini kok jaman semakin tidak memanusiakan manusia ya? Terlalu banyak untuk dihitung kasus serupa. Anyway, terima kasih atas kunjungannya yaa 😁

      Delete
    2. Nice :)mbak , artikel yang positif.
      Miris sekali makin hari makin parah moral manusia, kekerasan yg berbau seksual,pemerkosaan, hingga di bunuh makin menjadi , serasa tidak ada habisnya, berita2 yang seharusnya berfungsi sbg informasi. Tapi seakan akan di salah artikan oleh orng2 yang tdk berotak, bukan nya menekan tapi malah mencontohnya, , dan sy yakin sang pelaku sebelumnya prnh menonton berita yang sama dg apa yang dia perbuat skrng,, mungkin yang dia perbuat di anggap dia sbg tren,
      Di bulan puasa pun masih ada kasus sprti itu, contohnya kasus Angesti Sistiani yang di perkosa tetangganya sendiri sehabis SAHUR,lalu di bunuh , , miris sekali , :(
      ntah siapa lg korbanya,
      Aku sedih melihat manusia sekarang, tidak tahu apa yang bisa aku lakukan buat negara ini, untuk membangkitkan jiwa jiwa yang sudah muak, marah, dan sedih, melihat tindakan yang jauh dr kata manusiawi,
      Mari kita semua bersatu mencari solusi untuk mengatasi moral bangsa kita yang sangat sudah kritis, dan koma ini,

      Delete
  3. Bagus sekali tulisannya mbak, memang minuman keras inilah yang memicu perbuatan perbuatan tak berperikemanusiaan semacam itu, selain itu karena kemudahan akses sosial media oleh anak anak dan remaja yang masih labil juga berpengaruh. Semoga kedepannya krisis moral di Indonesia bisa lenyap dengan diberlakukannya UU anti miras, UU kebiri dan pembatasan umur akses internet untuk anak anak... Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mas saeful sudah mampir di blog saya. Ya, memang banyak pemicu dari kasus-kasus yang belakangan marak terjadi, seperti miras, sosmed, lingkungan dan juga akses internet. Bisa ditarik kesimpulan bahwa orang tua juga memegang peranan penting untuk menentukan sikap anak nantinya, melalui pendidikan moral dan juga perhatian yang cukup. Semoga Indonesia menjadi lebih baik lagi ya :)

      Delete
  4. Sedih ya mba melihat kasus kekerasan seksual dewasa ini. Dunia semakin tidak aman bagi perempuan, termasuk bayi perempuan. Predator seksual ada dimana-mana

    Salam,

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba, miris sekali. kok bisa bisanya orang dewasa nafsu sama anak kecil sekalipun. memang otak para pelaku kekerasan seksual ini harus diluruskan kembali. Tak hanya itu, kita juga harus melindungi anak-anak dengan memberikan pendidikan seksual bahwa ada bagian bagian tertentu yang tidak boleh disentuh oleh orang. hehe ini opini saya pribadi sih

      Delete
  5. Sedih,kesal,prihatin,dsb.. tp kapan sih ada hukuman mati ??!

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sama mas betul sekali. prihatin geram miris melihat banyak kejadian seperti ini. entahlah saya juga kurang paham. saya pun lebih setuju hukuman mati ketimbang kebiri karena kebiri tak menjamin orang tersebut tidak akan melakukan kekerasan kembali. lagi pula, dampak yang dialami korban kekerasan seksual akan bertahan selamanya, itulah yang menyedihkan :(

      Delete
  6. Nice :)mbak , artikel yang positif.
    Miris sekali makin hari makin parah moral manusia, kekerasan yg berbau seksual,pemerkosaan, hingga di bunuh makin menjadi , serasa tidak ada habisnya, berita2 yang seharusnya berfungsi sbg informasi. Tapi seakan akan di salah artikan oleh orng2 yang tdk berotak, bukan nya menekan tapi malah mencontohnya, , dan sy yakin sang pelaku sebelumnya prnh menonton berita yang sama dg apa yang dia perbuat skrng,, mungkin yang dia perbuat di anggap dia sbg tren,
    Di bulan puasa pun masih ada kasus sprti itu, contohnya kasus Angesti Sistiani yang di perkosa tetangganya sendiri sehabis SAHUR,lalu di bunuh , , miris sekali , :(
    ntah siapa lg korbanya,
    Aku sedih melihat manusia sekarang, tidak tahu apa yang bisa aku lakukan buat negara ini, untuk membangkitkan jiwa jiwa yang sudah muak, marah, dan sedih, melihat tindakan yang jauh dr kata manusiawi,
    Mari kita semua bersatu mencari solusi untuk mengatasi moral bangsa kita yang sangat sudah kritis, dan koma ini,

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih mas yusuf
      iya betul sekali. semakin kesini semakin parah. bisa jadi yang dulunya menjadi korban kini melampiaskan dendamnya sebagai pelaku. entahlah mengapa orang orang jaman sekarang gampang sekali yang sange seperti ini.

      memang di bulan puasa, setan dibelenggu. sayangnya, untuk kasus pembunuhan angesti, pelaku mengedepankan hawa nafsunya. saya sebagai perempuan sungguh sangat geram melihat semuanya ini.

      semoga banyak orang yang sadar dan bersatu untuk melawan kekerasan seksual ini ya. amin

      Delete
    2. Iya berdoa sj ya mbak, ,smg kelak moral bisa di junjung tinggi, ga ky sekarang, dan maaf dg komen sy yang banyak, waktu sy pencet error trus aku pencet2 trus, eh taunya komen ku ke copy paste bnyak gtu, hha maaf maklum hp murah

      Delete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. Nice :)mbak , artikel yang positif.
    Miris sekali makin hari makin parah moral manusia, kekerasan yg berbau seksual,pemerkosaan, hingga di bunuh makin menjadi , serasa tidak ada habisnya, berita2 yang seharusnya berfungsi sbg informasi. Tapi seakan akan di salah artikan oleh orng2 yang tdk berotak, bukan nya menekan tapi malah mencontohnya, , dan sy yakin sang pelaku sebelumnya prnh menonton berita yang sama dg apa yang dia perbuat skrng,, mungkin yang dia perbuat di anggap dia sbg tren,
    Di bulan puasa pun masih ada kasus sprti itu, contohnya kasus Angesti Sistiani yang di perkosa tetangganya sendiri sehabis SAHUR,lalu di bunuh , , miris sekali , :(
    ntah siapa lg korbanya,
    Aku sedih melihat manusia sekarang, tidak tahu apa yang bisa aku lakukan buat negara ini, untuk membangkitkan jiwa jiwa yang sudah muak, marah, dan sedih, melihat tindakan yang jauh dr kata manusiawi,
    Mari kita semua bersatu mencari solusi untuk mengatasi moral bangsa kita yang sangat sudah kritis, dan koma ini,

    ReplyDelete
  9. Nice :)mbak , artikel yang positif.
    Miris sekali makin hari makin parah moral manusia, kekerasan yg berbau seksual,pemerkosaan, hingga di bunuh makin menjadi , serasa tidak ada habisnya, berita2 yang seharusnya berfungsi sbg informasi. Tapi seakan akan di salah artikan oleh orng2 yang tdk berotak, bukan nya menekan tapi malah mencontohnya, , dan sy yakin sang pelaku sebelumnya prnh menonton berita yang sama dg apa yang dia perbuat skrng,, mungkin yang dia perbuat di anggap dia sbg tren,
    Di bulan puasa pun masih ada kasus sprti itu, contohnya kasus Angesti Sistiani yang di perkosa tetangganya sendiri sehabis SAHUR,lalu di bunuh , , miris sekali , :(
    ntah siapa lg korbanya,
    Aku sedih melihat manusia sekarang, tidak tahu apa yang bisa aku lakukan buat negara ini, untuk membangkitkan jiwa jiwa yang sudah muak, marah, dan sedih, melihat tindakan yang jauh dr kata manusiawi,
    Mari kita semua bersatu mencari solusi untuk mengatasi moral bangsa kita yang sangat sudah kritis, dan koma ini,

    ReplyDelete
  10. Nice :)mbak , artikel yang positif.
    Miris sekali makin hari makin parah moral manusia, kekerasan yg berbau seksual,pemerkosaan, hingga di bunuh makin menjadi , serasa tidak ada habisnya, berita2 yang seharusnya berfungsi sbg informasi. Tapi seakan akan di salah artikan oleh orng2 yang tdk berotak, bukan nya menekan tapi malah mencontohnya, , dan sy yakin sang pelaku sebelumnya prnh menonton berita yang sama dg apa yang dia perbuat skrng,, mungkin yang dia perbuat di anggap dia sbg tren,
    Di bulan puasa pun masih ada kasus sprti itu, contohnya kasus Angesti Sistiani yang di perkosa tetangganya sendiri sehabis SAHUR,lalu di bunuh , , miris sekali , :(
    ntah siapa lg korbanya,
    Aku sedih melihat manusia sekarang, tidak tahu apa yang bisa aku lakukan buat negara ini, untuk membangkitkan jiwa jiwa yang sudah muak, marah, dan sedih, melihat tindakan yang jauh dr kata manusiawi,
    Mari kita semua bersatu mencari solusi untuk mengatasi moral bangsa kita yang sangat sudah kritis, dan koma ini,

    ReplyDelete