[JOURNOLIFE] Cerita Mudik : Jalur Nagreg Sepi?


Mudik selalu menjadi event tahunan bagi masyarakat khususnya warga Jakarta, untuk pulang ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga besar saat lebaran. Kenapa saya sebut Jakarta, karena sering banget nih kalau musim mudik tiba, Jakarta lengangnya bukan kepalang. Tapi mudik lebaran juga jadi event tahunan buat para pekerja media buat meninggalkan ibu kota. Bedanya, kalau orang lain pulang ke kampung halaman buat lebaran beneran sama keluarga, kita pergi ke jalanan buat memberikan informasi ter-update seputar arus mudik. Dan inilah sekelumit cerita saya tentang pengalaman liputan arus mudik dan balik tahun ini. ceilah. Hahaha.

Pembagian Kelompok
Selama saya bekerja disini, hampir setiap tahunnya saya pulang ke rumah pas lebaran. Tahun kemarin pas saya sudah join sebagai reporter saja, saya dikasih buat cuti ke rumah. Makanya tahun ini sebenernya agak agak curiga bakal dikirim liputan mudik. Tapi tetep aja saya iseng tanya ke atasan saya pas ketemu di kantor.
“Pakde (panggilan ke section head saya), saya dapet cuti lebaran nggak ya?” // “Heh enak aja, tahun kemarin belum dapet liputan mudik kan? Tahun ini kamu berangkat,” // “Oh oke pakde, tapi jangan di Merak ya,” (iseng lho) // “Iya, dapet pantura kamu,”
Itu jawaban atasan saya sambil lalu kembali ke mejanya yang kemudian saya iyakan dengan lapang dada. Kan lumayan dapet Pantura bisa mampir ke rumah. Karena tahun lalu, tim mudik Pantura aja sempet mampir ke rumah di hari lebaran setelah agak legaan liputannya hihi.
Sayangnya, beberapa minggu setelahnya, keluarlah pembagian wilayah tim mudik tahun ini dan saya dapet di Nagreg alias jalur selatan, bareng Felicia. Lenny, Akbar dan Yana di Pantura, sementara Retno dan Rima di Merak.
Tim Mudik Asyik RTV 2018 - dari kiri ada Akbar, Retno, saya, Rima, Lenny, Felicia, dan Yana

Memulai Perjalanan ke Nagreg
Long story short, tibalah waktu dimana kami harus berangkat setelah persiapan yang cukup singkat bagi tim lapangannya. Packing aja baru dilakuin malem sebelum berangkat. Bahkan masih sempet jajan di McD dulu haha. Jadi abis sahur nih, tanggal 8 Juni 2018 jam 4.30 pagi berangkatlah saya ke kantor, kumpul sama anak-anak lain dan siapin alat yang mau dibawa ke bawah. Bukan saya sih yang bawa, tapi anak anak cowo haha.
Anyway, tim saya di Nagreg untuk reporternya ada Felicia Wu (selanjutnya saya singkat Cia ya), terus kameramennya ada Bang Nael sama Bang Riki, dan pilotnya bareng Bang Meike dan Bang Dayat. Karena kebetulan Cia dan Bang Nael non muslim, jadi kemaren pas berangkat mereka satu mobil biar lebih leluasa kalau mau ngemil di mobil tanpa merasa sungkan. Tapi ternyata seterusnya itu jadi tim liputan karena dari awal sampai akhir saya akhirnya bareng sama Bang Riki terus.
Agak tersendat di tol karena masih ada proyek pembangunan LRT
Oke jadi kita berangkat dari kantor sekitar pukul 5.30, langsung masuk tol dalam kota dan memang agak tersendat di Bekasi sampai Cikarut (Cikarang Utama), setelahnya lancar. Cuma saya tinggal tidur sih haha. Terima kasih karena kameramen saya hobi ngobrol jadi bisa nemenin pilot deh hahaha.
Sempat berhenti di Rest Area daerah Purwakarta (kalau nggak salah), kami akhirnya sampai di jalur Nagreg itu hampir jam setengah sebelas pagi. Keluar tol Cileunyi, jalanan lancar parah. Iya sih, masih H-7 dan orang juga kebanyakan masih kerja hari ini (walau hari terakhir kerja sih kalau kantornya menganut cuti bersama yang ditetapkan oleh pemerintah).
Kondisi jalur Nagreg yang masih asri alias banyak pohon
Daaaan pemandangannya seger banget. Kanan kiri banyak sawah bukit, langit biru, duh enak banget liatnya. Walaupun panas, tapi udaranya sejuk. Oke bhaiq, jangan terpedaya dengan udara sejuk, perlindungan dengan sunscreen harus tetap ON!

Tidur Dimana?
Ada DM masuk dari beberapa temen yang komen di stories liputan mudik saya. Tipe pertanyaannya hampir sama, “tinggal dan tidur dan mandi dimana?”. Pas saya cerita ke temen juga, dia sebelum jadi wartawan juga ngira kalau liputan mudik itu beneran di jalan tidurnya. Beberapa bilang tidur macem di tenda atau pos polisi. Hahaha. Serius dulu saya memang mengagumi wartawan yang liputan arus mudik begini tapi sama sekali nggak kepikiran soal di balik layarnya alias tempat tinggal dan sebagainya.
Jadi begini, kalau kami yang di tim Nagreg tinggal di rumah warga, alias di rumah Bu Ai yang udah jadi langganan tim mudik RTV yang liputan di jalur selatan. Lokasinya terbilang strategis, masih dapet arus kendaraan yang ke arah Garut/Tasik, juga masih dapet yang ke arah Bandung. Tepatnya kita di dekat Pos Polisi Cikaledong, lokasi yang sering jadi titik buat diberlakukan one way.
Pemandangan depan rumah sewaan 
Kita dapet satu rumah dengan 3 kamar dan 1 kamar mandi di lantai bawah, sementara rumah keluarga Bu Ai ada di atasnya. Dan kalau dinas luar kota lebih dari 4 hari, kita dapet budget untuk laundry pakaian jadi ya kita beneran nggak usah memusingkan hal-hal di luar liputan. Beruntung pula, di rumah Bu Ai ini, kesepakatan kantor selain sewa rumah untuk tidur juga sekalian masakin makanan kita (jatah 2x sehari karena pas puasa jadi buat sahur/sarapan dan buka puasa). Jadi beneran nggak perlu pusing mau nyari makan kemana, paling kita tinggal request pengen lauk apa. Atau kalau pengen cemilan, ya tinggal ke Indomaret yang agak ke atas dikit dari rumah kita. Yang nggak ada di daerah ini hanya fast food macam McD, KFC, Hokben dan lain sebagainya. Oh juga bakso mie ayam dan sebagainya agak jauh nyarinya. Hmmm.
Kalau tim lain kaya Pantura sama Merak, bisa tidur di hotel karena di jalur mereka ada hotel-hotel kan. Intinya, kita nggak tidur di mobil atau tenda lah. Hehe.

Live Report demi Live Report
Hari pertama kami tiba di Nagreg merupakan jatah hari saya untuk memulai laporan arus mudik disini. Jadi sebelum berangkat, kami sudah dibagikan rencana matriks untuk live report di jam berapa saja dalam satu hari itu. Ini bisa berubah sewaktu-waktu menyesuaikan kondisi di lapangan. Setidaknya, planning-nya demikian. Polanya, satu hari saya live dari subuh sampai sore, satu hari berikutnya Cia dari pagi sampai malam. Begitu seterusnya.
Dan di hari pertama tersebut, saya harus live report di program Lensa Indonesia Sore jam 14.30 WIB. Masih ada waktu untuk ngulik-ngulik sedikit informasi dari pak polisi di Pospol, walaupun kita harus memutar otak untuk bikin pointers apa aja yang akan kita sampaikan ke pemirsa karena kondisi jalanan yang masih lengang. Ya memang masih H-7 sih, orang juga kebanyakan masih kerja di hari ini. Prinsipnya, saya harus menyampaikan sesuatu yang informatif yang bisa memberikan manfaat bagi para pemudik yang akan melewati jalur ini.
Live pertama di program Mudik Asyik, jalanan masih kosong
Berbagi layar bareng tim Pantura yeay
Usai live, saya dan tim sengaja untuk survey lokasi, melihat jalur Nagreg ini kondisi jalanannya seperti apa, mana saja yang sering menjadi titik rawan kemacetan dan kecelakaan, dan ngobrol-ngobrol sama Polisi di Pos Tangan (pos pelayanan yang terletak di Turunan Nagreg) tentang prediksi puncak arus mudik. Ini memang baru pertama kali saya melintas di jalur Nagreg dan jika melihat kondisi jalanannya, pemudik ini harus punya skill dan konsentrasi tinggi saat menyetir. Kenapa? Karena jalanannya sendiri banyak turunan dan tikungan yang cukup curam dan tajam. Waktu pilot saya menyalip mobil depannya dan di jalur sebaliknya ada bis aja udah cukup deg-deg-an.
Oke, balik lagi soal live report, jadi dalam sehari kita dapet jatah untuk live 4x sehari. Kalau saya pribadi, dapet jatah untuk live di Lensa Indonesia Pagi jam 5 pagi, Lensa Indonesia Siang jam 11 siang (berlaku untuk weekday), Lensa Update jam 1 siang dan Lensa Indonesia Sore jam 14.30 WIB. Sementara kalau Felicia, dapet jatah live di Lensa Update jam 8 pagi, Lensa Indonesia Siang, Lensa Indonesia Sore dan Lensa Indonesia Malam sekitar jam 8 malam (taping by the way). Nah, di hari kita nggak dapet jatah live, biasanya kita pakai buat liputan atau nyari update soal arus mudik ini deh. Ya tapi beberapa kali kalau capek ya kita pakai buat istirahat juga haha. Kesehatan tetap menjadi nomor satu guys!
Live subuh yang super dingin di Nagreg
Soal lokasi, kalau subuh biasanya saya cuma ke seberang rumah (pos Cikaledong) dan itu dinginnya super duper sampai keluar asap dari mulut (kalau saya lihat ya haha). Kelar live bisa istirahat bentar di rumah, baru keluar jam 8an nyari spot lain yang lebih kece buat dilaporin mengingat kondisi Nagreg yang sepi sepi aja ya bu. Paling merapat ke Limbangan atau ke Cileunyi. Tapi ya, landai.
Contekan ajaib untuk live
Kalau live report sendiri, saya belum sampai di tahap pede nggak bawa contekan. Jadi saya selalu catat poin poin apa saja yang akan saya sampaikan di notes yang selalu saya bawa liputan. Ini buat jaga-jaga sih, bukan buat dihapal. Karena (katanya) kalau dihapal, kita lupa satu kalimat langsung buyar semuanya. Walaupun pada akhirnya seringnya saya ngomong nggak liat catatan, tapi notes kecil ini selalu saya pegang di tangan kiri saya. Ya itu, nggak pede kalau nggak bawa catatan hihi.

Make Up harus On Point!
Namanya di depan layar, diliat banyak orang (mungkin kan pada nonton tv saya gitu haha), nggak enak kan kalau pas live itu polosan alias nggak dandan. Biasanya kalo ngantor, saya cuma pake day cream, alis, bedak tabur dikit, blush on sama lip cream. Kalau harus live, paling touch up dikit bedak sama lip cream-nya. Anaknya emang agak males sih buat dandan kalau nggak ada event haha.
Felicia in action yeay
Sebelum berangkat, kita juga sempet dikasih kelas make up walaupun pas hari H bebas kita mau dandan sesuai yang di kelas atau yang biasa kita lakuin. Di awal-awal liputan (live), masih rajin pake paket lengkap mulai dari foundation, concealer, eyeshadow, eyeliner sampe mascara. Di pertengahan sampai akhir, udah say goodbye sama foundie dan concealer. Pake eyeshadow aja dikit dikit kalau nggak males. Hahaha.
candid yang hampir jarang berhasil kece gitu huff
Karena pernah sekali nggak pake eyeshadow dan eyeliner (juga kayaknya), langsung dikomen. Mata saya memang agak kecil sih, plus kalau kena sinar matahari langsung menyipit lah haha.
Nanti di postingan terpisah, saya akan sebutkan 5 make up apa saja yang jadi penyelamat di liputan kali ini. OK? Tapi boleh dong baca dulu review saya soal lip cream andalan saya buat mudik disini dan juga bedak yang kece banget buat oncam rekomendasi saya disini. Hihi

Jalur Nagreg Sepi?
Hari pertama kami tiba, which is itu H-7, kondisi jalanan masih sepi sampai malam. Hari kedua, nggak beda jauh. Hari ketiga, hampir sama. Hari keempat, tidak ada kepadatan yang berarti. Barulah di hari kelima, malam hari, depan rumah macetnya nggak nahan shay.
Nah ini macetnya di hari kelima kami tiba di Nagreg
Pemerintah sendiri memprediksi bahwa puncak arus mudik, termasuk di jalur selatan, akan terjadi di tanggal 9-10 Juni 2018. Mengingat cuti bersama yang ditetapkan oleh pemerintah dimulai tanggal 11 Juni 2018, sehingga diperkirakan para perantau ini bisa curi-curi gitu mudik gitu dari hari Jumatnya (8/6). Sayangnya ini tidak nampak di jalur Nagreg.
Tanggal 9 Juni, jatah Felicia live sementara saya liputan ikut Kakorlantas, Irjen Royke Lumowa, yang lagi tinjauan ke Nagreg. Beliau sih bilangnya kurang lebih begini, “karena cutinya panjang, masyarakat jadi lebih bijak dalam memilih hari mudik sehingga nggak numpuk di satu hari tertentu aja. Tapi namanya juga prediksi, coba kita lihat di esok hari (10/6),”.
Besoknya, jatah saya yang live. Bingung karena depan rumah masih begini-begini aja, akhirnya saya nyoba untuk merapat ke Cileunyi, yang jadi gerbang masuknya para pemudik jalur selatan. Tapi rupanya, kondisinya masih ramai lancar alias belum terjadi kepadatan, termasuk di gerbang keluar tol Cileunyi. Akhirnya kulik-kulik info sedikit di Pos Pelayanan Cileunyi buat materi live yang lebih ngomongin soal rencana rekayasa lalu lintas kalau terjadi kepadatan di titik tersebut dan tim urai yang disiagakan polres Bandung. Teriknya luar biasa. Tapi biar puasa, teriknya nggak sampai yang bikin haus banget, beda sama terik di Jakarta haha. Sayangnya, karena terik ini, kita gagal live di yang jam 14.30 karena kelamaan standby alatnya nggak kuat. Katanya sih gitu. Huff.
H-5 di Cileunyi masih landai
Tak hanya Polres Bandung yang punya rencana untuk mengurai kepadatan, Jasa Marga juga turut andil membantu agar mudik tahun ini berjalan lancar. Seperti, saat arus mudik ini, ada 10 gerbang keluar yang dibuka (biasanya hanya 8 gerbang), lalu mereka juga melakukan metode ‘jemput bola’. Artinya, para petugas dari jasa marga ini nanti yang akan ‘nyamperin’ mobil pemudik satu per satu kalau terjadi antrean panjang sambil bawa alat namanya mobile reader. Pemudik ini tinggal tap e-money nya di mobile reader ini. Selain itu, kalau di dalem tolnya terjadi antrean panjang sampai 5 kilometer, Jasa Marga (cabang Purbaleunyi dalam hal ini) membuka pintu tol sementara di Gedebage dan kendaraan dialihkan untuk lewat jalur alternatif Cijapati via Sapan-Majalaya. Tapi kayaknya nggak sampai terjadi sih ini.
Hari-hari berikutnya, masih ‘raba-raba’ dimana ya enaknya yang bisa ada materi bagus buat live. Merapat lah kita ke Limbangan, tepatnya di Pos Pelayanan Alun-Alun Limbangan. Pagi situasi masih lancar-lancar aja jadi sengaja di Lensa Siang ngajak Kapolres Garut, AKBP Budi Satria Wiguna, buat live ngomongin seputar arus lalin di Garut beserta rekayasa lalinnya. Kalau boleh saya ceritakan sedikit kondisi arus lalu lintas di Limbangan, jalur ini memang agak sempit karena dua jalur kan. Terus ada pasar dan banyak gang gitu yang banyak kendaraan keluar masuk. Itu lumayan bikin tersendat lho. Makanya dari akhir pekan sebelum lebaran itu, Polres Garut udah melakukan one way traffic secara situasional, kalau kendaraan sudah menumpuk dan ekornya mencapai Nagreg. Pak Budi sendiri orangnya enak diajak kerjasama, sharing info juga bahkan bercandaan. Seneng kalau ketemu narsum yang begini haha.
Di hari yang sama juga, waktu masih nunggu Kapolda Jabar dateng tinjauan ke Limbangan, saya dan beberapa wartawan TV sebelah yang ngepos di Nagreg nih, saling curhat tentang materi live yang kudu puter otak banget mau ngomongin apa yang nggak kosong alias tetep informatif bagi pemirsa. Jalanan boleh kosong, tapi isi laporan kita jelas nggak boleh kosong dong. Eh nggak taunya, setelah kami bubar jalan ke tempat tinggal masing-masing, sore ke malemnya, jalanan langsung macet panjang. Naik level dari ramai lancar menjadi padat merayap. Data dari Dishub Kab Bandung sendiri memang mencatat ada kenaikan yang cukup signifikan sih dari H-4 ke H-3 (naik) sekitar 20 ribuan kendaraan. Macetnya sendiri bisa dari Cicalengka atau Polres Nagreg sampai Limbangan. Pemudik sih biasanya gondok kesel ya, tapi kita bersyukur karena akhirnya dapet macet juga. Bukan bermaksud jahat tapi biar agak variasi aja gitu haha.
Kondisi lalu lintas di H-3 jalur Nagreg depan Pos Cikaledong
Sayangnya, besokannya atau di H-2 yang lagi puncak-puncaknya kendaraan ke arah Garut/Tasik dari Bandung, bukan jatah saya yang live. Di hari itu, rekayasa lalu lintas diberlakukan mulai dari pengalihan jalur (via Kadungora-Leles) sampai buka tutup jalur. Banyak materi kan haha. Beruntung banget itu Felicia bisa dapet macet.
Pemudik sendiri didominasi pemudik yang menggunakan sepeda motor sepemantauan kami
Pasalnya, esok harinya di H-1, volume kendaraan yang melintas mulai menurun alias kembali ramai lancar. Nih ya, saya ceritain, waktu saya live subuh, lagi siap-siap blocking-an, jalanan padet sama kendaraan pemudik mulai dari motor (paling banyak), mobil sampai bus. Udah enak banget kan live-nya bisa jelasin kondisi terkini alias laporan pandangan mata. 10 menit to on air, jalanan langsung melompong karena udah mulai diurai antrean kendaraannya. Kendaraan juga yang belum sampai simpang Cagak (persimpangan sebelum Cikaledong) juga diarahkan untuk lewat Garut Kota. Jadi yang lewat depan Cikaledong hanya motor-motor saja. Buset itu menit-menit terakhir harus putar otak buat modifikasi materi live yang menggambarkan kondisi terkini, tapi juga menceritakan bahwa sempat terjadi kepadatan sebelumnya.
Kondisi jalur Nagreg H-1 di jam 5 subuh
15 menit sebelum on air live, kondisi masih begini. 5 menit kemudian, jalanan sudah kosong dong
Di program siang, coba geser ke simpang Cagak nggak taunya lancar. Live di depan posnya anak tvOne saling tuker info apa yang mau diomongin (dia juga mau live haha). Karena kondisinya nggak berubah, di lensa update jam 1 akhirnya bikin wawancara sama pemudik yang bawa anak sambil kasih tips mudik bawa anak biar nggak rewel gitu. Jam 14.30 merapat ke Limbangan berharap ada buka tutup gitu pas live eh ternyata sudah landai haha.
Live terakhir di arus mudik Nagreg. Iya soalnya besok live-nya udah arus balik hihi
Jadilah hari itu saya nggak kebagian macet-macetnya dan langsung merapat ke Bandung buat lebaran disana. 

Suka Duka di Arus Mudik 
Sukanya, tentu ini pengalaman baru buat saya. Ke daerah yang baru, kenal sama orang-orang baru, materi yang lain-lain pula dari biasanya, dan tempat yang adem (walaupun ademnya menipu alias tetep panas). Dan seru aja gitu, kami semua live di satu waktu yang sama terus split 4 sama mereka. Oh ya, momen mudik ini bener-bener jadi ajang latihan banget sih buat berani tampil di layar dan memperlancar live report. Kenapa? Karena waktu kita untuk oncam ataupun live jadi lebih banyak dan hampir di semua program berita kita plus update di jam-jam tertentu. Selain itu, kalau saya pribadi bener-bener merasa ditantang kudu bisa menyajikan materi live report di tengah kondisi yang datanya itu-itu aja (tidak terlalu ada perubahan yang signifikan).
Itu kalau soal suka di layar ya, kalau di balik layar, Alhamdulillah banget sih punya partner kerja seperti mereka yang kocak, saling menyemangati dan julid di waktu yang bersamaan. Di hari ketiga atau keempat gitu saya lupa, kita bikin grup buat group video call. Isi pembicaraanya? Ya itu, saling menanyakan kabar, kondisi lapangan, ngecengin dan ngehibur satu sama lain dan tak lupa untuk julid. Okesip!
Kalau dukanya, saya pribadi suka kesel kalau ada gangguan teknis, dalam hal ini alat yang kadang nge-hang padahal tim sudah siap ngonsepin materi buat live. Miskomunikasi juga pasti ada antara tim lapangan dan tim yang di kantor, kadang bikin kesel sih tapi ya udah dicoba untuk diomongin lalu dilupakan haha. Kebetulan manager saya juga bikin grup buat curhat kalau ada masalah di lapangan, jadi tersalurkan sih rasa-rasa kesalnya. Sedikit. Haha. Selain itu, beneran deh, kesehatan itu kudu dijaga banget pas liputan begini. Saya dan Cia tumbang untungnya di hari yang berbeda. Cia di hari hari awal (pas jatah saya live), dan saya di hari hari akhir mendekati lebaran (pas jatah Cia yang live). Vitamin menjadi hal yang sangat dibutuhkan kalau begini, soalnya kalau sakit repot dan nyusahin tim lain kan. Untung aja ini pas tumbangnya, pas bukan jatah kita yang live. Anaknya mencoba untuk selalu bersyukur. Hehe.
Soal lebaran nggak di rumah? Sedih sih sebenernya. Biasanya malem takbiran, bisa denger takbiran langsung di rumah (kebetulan rumah diapit sama masjid dan mushola), tahun ini malem takbirannya di hotel (nggak terlalu kedengeran takbiran dari masjid) dan nangis pas denger takbirannya Quran ID Project. Kaya yang merasa kurang bersyukur aja gitu...ah gitu deh, tonton aja videonya. Tapi ya namanya resiko pekerjaan sih ya buat jadi pelajaran aja hehe.
Toh lebaran tahun ini jadi pengalaman baru buat saya pribadi. Selain karena di tempat orang, saya juga sempat menjelajah ke beberapa tempat pas di Bandung dan juga di Garut setelah lebaran. Anaknya suka jalan-jalan sih hihi. Nanti cerita selengkapnya saya ceritakan di postingan selanjutnya ya. 
Jadi, masih tertarik untuk jadi reporter? Hahaha.

XOXO!
Za

[BEAUTY]: Review Lip Coat Peach Soda by Lizzie Parra

Ngomongin soal lipstick dan kawan-kawannya itu nggak pernah ada abisnya, apalagi buat cewek. Apalagi sekarang ini, ada banyak lipen-lipen yang local brand dan menggandeng para influencer buat kolaborasi di produknya ini. 
Saya pribadi lebih suka pake pewarna bibir yang tipenya lip cream sih ketimbang lipstick, lebih gampang apply-nya aja gitu hehe. Udah gitu, saya juga termasuk orang yang picky banget soal warna, alias suka cari warna-warna yang aman di bibir. Dulu banget, lip cream pertama saya justru warna merah agak ke maroon gitu, lagi musim-musimnya Taylor Swift pake lipen merah soalnya haha. Makin kesini, saya lebih suka cari yang warna-warna pink atau mauve gitu. Nah, bulan kemaren, saya mencoba sesuatu yang baru, nggak ngejreng sih tapi warna yang nggak pernah pede saya pake sebelumnya. Warna peach. Hihi.

BLP X SOCIOLLA : PEACH SODA
Godaan ini datang begitu saja waktu saya mantengin akun instagram-nya sociolla sama blpbeauty. Maklum, bulan itu (Maret), sociolla lagi ulang tahun jadi sering saya pantengin buat cari diskonan haha. Nah dia tuh sering banget ngomongin soal ‘peach soda’ yang kemudian ‘pecah’-lah kata itu di minggu penghabisan bulan Maret. Produk barunya BLP yang kolaborasi sama sociolla sebagai selebrasi hari ulang tahun Sociolla yang ketiga. Terus beberapa influencers kan pada mulai mini review gitu di instastory mereka. Terus yaudah akhirnya saya pesen. Anaknya suka susah nahan godaan kalau yang review macem Abel Cantika, Andra Alodita, sama si Kak Icilnya sendiri.
Sebenernya udah dari lama juga pengen beli lip coat-nya BLP, hanya saja masih bingung sama shade-nya yang mana yang cocok sama saya. Nah pas peach soda ini keluar, seakan menjadi jawaban atas kebimbangan saya selama ini. Hahahaha.

Packaging + Swatches
Oke. Begitu sampai, saya langsung tertarik sama packaging-nya yang cute dengan tulisan Peach Soda yang gede dan satu sisi ada tulisan By Lizzie Parra X Sociolla. Apalagi dapet balon sih dari Sociolla haha. 
Nah kalau packaging dari si lip coat ini masih sama seperti kemasan lip coat terdahulu, yaitu warna putih di tutupnya dan warna bening (transparan) di wadahnya (body-nya) dengan tulisan LIP COAT BY LIZZIE PARRA yang font size-nya minimalis gitu. Pokoknya eye catching dan classy gitu deh.
Aplikatornya juga enak dipakai, nggak terlalu kaku dan agak pipih jadi gampang buat apply di bibir (secara merata). Sayangnya, karena saya orangnya agak slebor, jadi lama kelamaan si cream-nya itu belepet di mulut tube-nya (yang berwarna putih ini huff). Di foto agak keliatan kan itu noda-noda yang tak diinginkan di putaran dan mulut tube-nya.
Sudah soal kemasannya, mari kita coba buat swatch di tangan sama bibir. Sesuai dengan namanya, nuansanya emang peach kalem gitu, cocok deh buat kalian yang pengen tampil natural. 
Pas dipake di bibir juga nggak gonjreng orange, malah bikin muka kelihatan fresh. Kalau saya pribadi, pas pake nih lip coat, entah kenapa warna blush on saya jadi berasa lebih keluar. Tapi bukan keluar yang medog gitu ya, lebih kaya warna pipi merona yang alami gitu (halah). Sesuai deh sama tema warnanya yang konon vibrant, fresh and universally flattering.
Terus gimana rasanya selama pemakaian? Kalau buat saya, lip coat ini terasa ringan pas dipakai. Nggak berat juga nggak lengket. Teksturnya creamy. Matte juga tapi nggak bikin bibir kering atau pecah-pecah (bibir saya termasuk yang picky juga sama beberapa lip cream langsung pecah-pecah huff). Coverage-nya oke, pigmented juga oke, nggak perlu oles banyak buat bikin warnanya keluar. Tapi dia transferable gitu kalau belum satu jam pemakaian. Soalnya setiap saya minum susu kemasan pas di kantor (sarapan pagi), pasti ada bekasnya di sedotan. Tapi masih dalam batas wajar sih karena warna yang stay di bibir juga masih bagus.
Setelah 4-5 jam pemakaian lip coat peach soda by lizzie parra
Dan setelahnya, si lip coat ini cukup tahan lama di bibir, apalagi kalau nggak makan makanan yang berminyak. Saya pakai di pagi hari sekitar jam 7, kalau nggak makan yang minyakan, jam 2 siang pas balik ke kantor masih aman-aman aja warnanya. Seneng deh. Tapi kalau makan yang berminyak, di bagian dalem bibirnya itu warnanya udah hilang. Ya macem lipen-lipen lainnya sih hihi. Nah tapi yang saya suka ini lip coat kalau warnanya udah ilang menyisakan warna bibir asli yang lebih cerah. Mmm maksudnya kalau di bibir saya, kalau pake lipstik gitu pas warnanya ilang bibir saya jadi agak gelap gitu. Nah si lip coat peach soda ini pas warnanya ilang, warna bibir saya jadi cerah alami gitu. Cuma gatau ya kalau di bibir kalian seperti apa.

Final Thoughts
Pakai lip coat dengan nuansa peachy ini bikin saya jadi berasa keluar dari zona nyaman karena warnanya yang bener-bener baru di dunia per-lipstik-an saya. Pada akhirnya, lip coat ini menggeser beberapa lip cream mauve saya yang selalu saya pake sehari-hari. Bahkan pas ngantor, saya sekarang lebih suka pake lip coat peach soda ini. Yang ngeh saya ganti warna lipstick bilang kalau pake warna peach ini bikin penampilan saya jadi lebih seger. Uh yeah! Cuma kayaknya nggak begitu kelihatan deh warnanya kalau dipakai oncam. Jadi kaya nggak pakai lipstik, tapi bibirnya tetep berwarna (alami) gitu. Eh. Ya gitu deh pokoknya. Hehe.
Sudah lebih dari sebulan saya pakai lip coat peach soda ini dan bikin saya jadi tergoda buat koleksi lip coat lainnya dari BLP ini. Apa coba lip stain-nya aja? Atau coba produk lainnya juga? Hahaha. 
Nah buat kalian yang juga pengen coba si peach soda ini, bisa beli di Sociolla atau datang langsung ke Beauty Space by Lizzie Parra di Lotte Shopping Avenue, Kuningan, Jakarta. Harganya Rp 129.000,- , masih ramah lah di kantong hihi.
Selamat mencoba ya!

XOXO!
Za


[REVIEW BUKU] : RADEN MANDASIA SI PENCURI DAGING SAPI - YUSI AVIANTO PAREANOM



Identitas Buku
Judul : Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi
Penulis : Yusi Avianto Pareanom
Penerbit : Banana
Tahun Terbit : Cetakan Kedua edisi Kedua, Oktober 2017
Jumlah Halaman : 470 halaman

Sinopsis
Sungu Lembu menjalani hidup membawa dendam. Raden Mandasia menjalani hari-hari memikirkan penyelamatan Kerajaan Gilingwesi. Keduanya bertemu di rumah dadu Nyai Manggis di Kelapa. Sungu Lembu mengerti bahwa Raden Mandasia yang memiliki kegemaran ganjil mencuri daging sapi adalah pembuka jalan bagi rencananya. Maka, ia pun menyanggupi ketika Raden Mandasia mengajaknya menempuh perjalanan menuju Kerajaan Gerbang Agung.
Berdua, mereka tergulung dalam pengalaman-pengalaman mendebarkan: bertarung melawan lanun di lautan, ikut menyelamatkan pembawa wahyu, bertemu dengan juru masak menyebalkan dan hartawan dengan selera makan yang menakjubkan, singgah di desa penghasil kain celup yang melarang penyebutan warna, berlomba melawan maut di gurun, mengenakan kulit sida-sida, mencari cara menjumpai Putri Tabassum Sang Permata Gerbang Agung yang konon tak pernah berkaca – cermin-cermin di istananya bakal langsung pecah berkeping-keping karena tak sanggup menahan kecantikannya, dan akhirnya terlibat dalam perang besar yang menghadirkan hujan mayat belasan ribu dari langit.
Meminjam berbagai khazanah cerita dari masa-masa yang berlainan, Yusi Avianto Pareanom menyuguhkan dongeng kontemporer yang memantik tawa, tangis, dan maki-makian Anda dalam waktu berdekatan – mungkin bersamaan.

Setelah membaca...
Sebelumnya, saya mau mengakui satu hal. Membaca dongeng dengan latar belakang sejarah kuno (setting kerajaan-kerajaan) sebenarnya tidak terpikirkan oleh saya. Saya memang suka buku dengan setting sejarah Indonesia, tapi kaya sebatas latar sejarah tahun 1965 atau Orde Baru, seperti koleksi buku saya selama ini. Well, buku Raden Mandasia ini direkomendasikan oleh teman saya, Mas Fahmi, saat saya meminta rekomendasi buku bacaan di Instagram (iya, buku saya sudah habis dibaca huff).
Ada tiga buku yang direkomendasikan oleh teman-teman saya kala itu yang menarik perhatian. Dua diantaranya saya dapatkan di toko buku Gramedia. Nah si Raden Mandasia ini nggak nemu, bahkan pas dicari sama CS Gramed juga nggak ada. Usut punya usut, ternyata ini buku indie, guys! Saya pun akhirnya membeli buku ini di Post (via Instagram). Harganya 85K kalau nggak salah.
Semula saya berpikir bahwa Raden Mandasia lah main character-nya dalam buku ini, tapi ternyata buku ini lebih banyak menggunakan sudut pandang si Sungu Lembu. Semuanya malah. Ya, Sungu Lembu pemeran utamanya. Cerita dibuka dengan pengalaman mereka (Sungu Lembu bersama Raden Mandasia) yang dikejar prajurit setempat setelah mencuri daging sapi. Ini adalah kebiasaan ganjil yang dimiliki oleh Raden Mandasia. Memotong daging sapi hidup-hidup dengan cara yang tak biasa (bukan menyembelih ya), kemudian mengambil bagian lulur atau daging yang tepat berada di kiri-kanan punggung tengah (has dalam, has luar, dan daging yang menempel pada tulang yang berbentuk beliung kecil), menata rapi sisanya, lalu meletakkan sejumlah uang perak ataupun emas layaknya membayar daging.
Beneran unik sih, soalnya Raden Mandasia itu salah satu pangeran di kerajaan Gilingwesi. Ayahnya, Prabu Watugunung, seorang raja yang diyakini memiliki kesaktian dan kekuatan saat berperang. Gilingwesi sendiri menguasai kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya (layaknya menjajah). Nah, Banjaran Waru, tempat tinggal Sungu Lembu, juga (pada akhirnya) dikuasai oleh Gilingwesi (tanpa perang perebutan wilayah). Banyak yang tidak terima, termasuk Sungu Lembu dan beberapa saudaranya. Hingga akhirnya kejadian di rumah Banyak Wetan (paman Sungu Lembu) membuat dirinya membawa dendam terhadap Watugunung. Ia bertekad untuk memenggal kepala si Watugunung.
Perjalanan Sungu Lembu nggak selamanya mulus. Berkelana dari satu tempat ke tempat lain, menyamarkan identitas, sampai akhirnya bertemu Nyai Manggis di Kelapa. Di Rumah Dadu milik Nyai Manggis inilah, Sungu Lembu bertemu Raden Mandasia hingga akhirnya mereka berkelana bersama ke Gerbang Agung demi mewujudkan misi Raden Mandasia yang sebenernya ‘kentang’. Di Kelapa sendiri banyak kejadian dan peperangan (yang mengakibatkan Nyai Manggis meninggal). Tapi pengalaman setelahnya juga nggak kalah bikin deg-deg-an. Ya kurang lebih seperti yang tertulis di sinopsis deh sampai akhirnya ketemu Putri Tabassum juga. Hehe.
"Dunia milik orang yang berani, demikian kata seorang pujangga Atas Angin yang pernah kudengar..." (p. 72)
Alur, penggambaran dan cara bercerita dari Yusi Avianto sendiri smooth banget (biar maju-mundur-maju), jadi mudah dimengerti. Pas baca, di otak tuh semacam langsung kebayang adegan demi adegannya (settingannya di otak saya sih kaya film-film kerajaan di Indosiar haha). Masing-masing bab dan sub bab juga nggak begitu panjang jadi enak bacanya. Mengalir gitu. Hehe.
Jangan bayangkan ini dongeng yang bisa dibacakan ke anak-anak sebagai pengantar tidur, karena sejatinya ini novel ‘dewasa’. Tapi dari segi diksi, karakter tokohnya yang kuat, deskripsinya, humor, dan plot twist-nya, buku ini bikin begadang. Karena mau berhenti baca, tapi penasaran kelanjutannya. Ujungnya tidur jam 2 pagi haha. Banyak kejutan di dalamnya yang bener-bener nggak bisa ditebak. Sesekali bikin ketawa juga kesel.
Yang paling nggak disangka dari membaca buku ini itu adalah... saya nangis. Hahaha. Jadi di satu momen perang besar antara kerajaan Gilingwesi dan Gerbang Agung, Raden Mandasia akhirnya meninggal karena terluka saat bertarung. Emosi Sungu Lembu bener-bener tersampaikan, betapa sedihnya dia ditinggalkan ‘kawan berpetualang’. Padahal semula, dia lumayan sebal dengan Raden Mandasia karena kebiasaannya yang ganjil dan juga dirinya yang merupakan putra Watugunung, dendamnya selama ini. Cara Sungu Lembu me-recall pengalaman dan petualangan mereka bersama itu... sedih.
"Kemenangan terhebat dalam pertempuran justru ketika kita tak perlu lagi mengangkat senjata. Masih ada lagi: tak ada senjata yang lebih tajam ketimbang akal, tak ada perisai yang lebih ampuh ketimbang nyali, dan tak ada siasat yang lebih unggul ketimbang hati." (p. 88)
Seperti yang saya bilang, buku ini suka memberi kejutan yang tak disangka. Dan ini terjadi di bagian akhir cerita. Sungu Lembu yang akhirnya bertemu kembali dengan ‘pengalaman pertama’-nya. Itu nggak terpikirkan oleh saya sih. Saya kira tokoh itu hanya selewat saja haha. Bahkan kalimat terakhirnya bikin penasaran lho sampai saya googling cerita itu haha. Kali aja kan ini cerita asli tapi pake nama-nama kiasan (kaya nama tempat atau kerajaan gitu), tapi yaaa ini hanya dongeng, guys!
Saya sih cukup kaget dengan buku ini. Saya nggak expect apapun pas baca, tapi membacanya sampai selesai bener-bener membuat saya puas (dan ketagihan). Ini buku dengan genre silat-kolosal pertama yang saya baca. Saya sih rekomendasiin ke kalian buku ini. Serius. Ini seru. Baca deh. Kalau dikasih nilai, saya sih kasih nilai 9 dari 10. Yeay!
Anyway, selamat membaca ya!

XOXO!
Za

Wisata Gardu Pandang Sri Gunung Batang


Beberapa hari sebelum saya cuti buat pulang ke rumah, partner travelling saya, Ayu, tetiba mengirim pesan yang dilengkapi foto ber-caption, “nggak pulang, Mbak?”. Foto itu tak lain dan tak bukan adalah tempat wisata yang lagi happening di Batang, Jawa Tengah. Salah satunya adalah wisata gardu pandang Sri Gunung yang terletak di daerah Banyuputih. Hmmm. Sepertinya jauh pemirsa. Tapi tak apa, karena foto yang lainnya saya sudah pernah kesana, kayak Sikembang Langit yang tambah obyek fotonya gitu deh. Plus, saya di rumah cuma 4 hari, jadi ndak bisa menjelajah banyak-banyak karena lebih pengen banyak di rumahnya aja.
Di sela 4 hari itu, akhirnya diputuskan untuk meninjau (ceilee ninjau banget haha) kawasan Sri Gunung pada hari Sabtu (24/3), pas Ayu libur. Tadinya, orangtua saya juga pengen ikut (pengen liburan sama anaknya huhu), hanya saja batal karena ada kewajiban lain. Huff.

How to go there...
Memang kawasan wisata ini kayaknya lagi ramai jadi perbincangan netizen di Batang, karena hampir semua akun wisata Batang posting-nya foto-foto wisata di Sri Gunung. Yahaha makin penasaran dong ya. Di bayangan saya dari cerita Abah (re: bapak saya), lokasinya ini jauuuuuh banget. Dan ternyata setelah dijalani. Memang jauh, guys!
Saya dan Ayu berangkat dari rumah sekitar jam 8.30-an gitu, naik motor biasa. Dengan kecepatan rata-rata 50-60 km/jam, kami sampai lokasi itu sekitar jam 9.40 WIB (patokannya kami berangkat dari Alun-Alun Batang aja itung waktunya haha). Tapi itu diselingi macet sedikit karena ada muatan truk yang jatuh dan juga isi bensin. Saya pribadi memang agak ngeri-ngeri sedap sih kalau mau ngebut, soalnya banyak truk atau bus-bus besar yang melintas juga di jalan utama. Iya, ini di jalur Pantura. Yang buat mudik itu. Haha.
Kalau masih kecil kecil gini pohonnya, pertanda sudah masuk Desa Kedawung nih
Kalau kalian pernah baca cerita saya tentang wisata Jembatan Buntu Sengon di Subah, nah itu masih lanjut lagi ke timur. Atau lebih gampangnya, jalur Pantura arah ke Semarang deh. Patokannya Terminal Banyuputih (di sebelah kanan jalan kalo dari arah Barat ya) sama Pos Polisi 03 Polres Batang (di kiri jalan). Nah nggak jauh dari situ, setelah lewat jembatan, ada sebuah jalan ke kiri yang ada petunjuk jalan ke Sri Gunung gitu. Masuk ke dalemnya kurang lebih 1,5 km. Kanan kiri isinya pepohonan jadi berasa naik motor di tengah hutan gitu sampai ketemu tanda masuk Desa Kedawung. Udah sampai? Tentu belum dong haha.
Namanya juga Gardu Pandang, otomatis lokasinya ada di atas bukit. Jadi setelah ketemu tanda masuk desa, ada penunjuk jalan lagi yang mengarahkan kita untuk berbelok ke kanan menaiki bukit. Jalannya lumayan terjal dan curam. Kalau dilihat sih sepertinya hanya muat 1 mobil aja. Beneran kudu hati-hati sih naiknya karena jalannya belum terlalu mulus. Beberapa masih jalur tanah gitu. Butuh konsentrasi yang tinggi!
Kondisi jalanan di bawah nih sebelum menanjak curam
Kondisi jalanan di atas hampir sampai yuhuuu
Kurang lebih 500 meter naik ke atas bukit itu, sampailah kita ketika kita melihat ada tulisan Sri Gunung yang tentu saja jadi objek foto utama pengunjung (seperti di foto pertama saya yang di atas itu) haha.

Tentang Biaya Masuk dan Parkir
Baru lewat 10 menit dari jam setengah 10, tapi parkiran motor sudah cukup ramai saat itu. Ada beberapa mobil juga sudah terparkir di area tersebut. Benar-benar lagi hits ini sih! Kalau menurut pedagang di area itu (tempat saya jajan bakso bakar), wisata Gardu Pandang Sri Gunung ini memang buka dari jam 6 pagi untuk hari biasa dan dari subuh kalau weekend. Katanya, ngejar sunrise gitu. Hmmm. Kalau tutupnya, biasanya sih Maghrib itu udah mulai sepi. Iya sih, kayanya kalau malem agak agak serem gimana gitu naik ke atas bukitnya, soalnya minim penerangan.
Untuk parkir dan biaya masuk sendiri, kami dikenakan Rp 8000,- dengan rincian Rp 2000,- untuk parkir motor dan Rp 3000,- untuk biaya masuk seorang (karena kami berdua jadi kena Rp 6000 gitu lho hihi). Yaaa masih terhitung murah lah ya.

Ada Apa Aja sih di Sri Gunung?
Ada banyak bunga. Hahaha. Dari awal masuk, memang kita sudah disambut hamparan bunga jengger ayam lilin atau nama latinnya Celosia argentea berwarna merah dan kuning. Ada bunga matahari juga sih, tapi nggak sebanyak jengger ayam lilin ini.
Masih di area pintu masuk, ada semacam papan penunjuk gitu tentang apa saja yang ada di kawasan ini. Seperti, ada gardu pandang (iya dong kan namanya Wisata Gardu Pandang Sri Gunung), jembatan cinta, taman lope-lope dan area madiyang (kayaknya sih plesetan untuk area makan gitu). Untuk menjangkau ke area-area tersebut (kecuali area makan ya), kita sudah disambut tangga-tangga yang menanti untuk kita tapaki.
Soal pemandangan, beuh jangan ditanya. Selain bisa berfoto dengan bunga-bunga yang ada di sini (tentu jangan diinjak apalagi dirusak ya), kita juga bisa berfoto dengan pemandangan hamparan perbukitan di belakang yang hijau. 
Niatnya pengen bikin foto ala ala Rich Brian di MV Glow like dat. Tapi apa daya bunganya nggak sebanyak itu hihi
Sejauh mata memandang~~~
Foto dengan background ini butuh effort, eh lebih tepatnya kesabaran karena fotonya diambil di Jembatan Cinta dan objek foto yang ini favorit banget sehingga antreannya lumayan panjang (buat gantian). Gimanapun juga demi keselamatan, jembatan ini maksimal bisa dinaiki hanya 20 orang. Ya intinya, kalau sudah terlihat penuh disitu, jangan dipaksain naik cuma demi foto yang indah ya! Utamakan keselamatan~
Supaya tidak tertiup angin kencang haha
Maka inilah yang dinamakan jembatan cinta, guys 
Butuh properti buat foto di jembatan? Tenang semua ada haha
Soal fasilitas, ada banyak saung-saung gitu untuk kita istirahat misal kalau capek. Tapi, dengan jumlah pengunjung yang cukup banyak begini, ya jangan berharap banyak aja bisa dapet salah satu saungnya buat leyeh leyeh.
Nah ini taman lope lope nya nih haha
Jangan sedih, karena masih ada bangku bangku juga sih kalau ndak dapet saung.  Terus ada juga flying fox di area ini. Sayangnya, pas saya kesana, ndak operasi gitu flying fox-nya karena nggak ada yang jaga haha.
Tempat sampah dan pemberitahuan untuk tidak membuang sampah sembarangan dan merusak tanaman juga sudah cukup tersedia di area ini. Udah gitu, ndak perlu repot mikirin mau sholat dimana karena tersedia mushola juga di area ini. Mau ke toilet? Ada juga dong. Jadi lumayan lengkap sih.
Nah kalau udah banyak energi yang terbuang karena naikin tangga-tangga (lebay haha) dan foto-foto, kita bisa mampir ke warung-warung yang tersedia disini. Mulai dari cemilan macem ciki-cikian, makan berat sampai minuman es juga ada dong. Ndak perlu khawatir kelaperan pokoknya sih hihi.
Kalau laper makan ya, jangan tawa tawa aja haha

Pesan dan Kesan...
BAGUS. Tapi beberapa ndak sebagus di foto sih haha. Gimana angle fotonya aja ternyata. Saya quote kalimat ini dari pedagang bakso bakar tempat saya jajan. Katanya, “ini karena masih rame aja neng di Instagram, orang pada update disini. Padahal tempatnya ya cuma segini,”.
Iya sih memang cuma segitu dan obyek fotonya juga itu itu aja, tapi menurut saya lumayan lah untuk refreshing sekali-kali pas lagi di rumah. Mata bisa dimanjain dengan pemandangan yang berwarna-warni, dikelilingi nuansa alam, dan kalau jeli kita bisa liat Laut Jawa lho dari tempat ini! Maklum, selama ini sering liatnya gedung-gedungan mulu. Beneran lumayan lah buat ngisi feed Instagram dan isi materi di blog juga haha.
Itu yang saya tunjuk Laut Jawa. Keliatan ndak?
Soal pengelolaan, kemarin saya nggak ketemu sama pengelolanya. Kalau di papan sih kawasan ini milik PTPN IX Divisi Tanaman Tahunan Kebun Siluwok. Mungkin ada kerjasama juga dengan warga sekitar kali ya, jadi kan bisa membantu perekonomian warga juga hihi. Opini saya lho ini karena saya ndak dapet soundbite dari pengelola hehe.
Saya pribadi sih rekomendasiin ke kalian untuk datang ke tempat ini. Lumayan lah jadi kalau pas lagi mampir ke Batang, nggak cuma mainnya di Pantai Ujung Negoro atau Kebun Teh Pagilaran aja. Tapi saya saranin datengnya pagian aja biar nggak panas-panas banget atau malah bisa jadi ujan pas udah sorean. Yuk mampir!
Anyway, sampai jumpa di jalan-jalan berikutnya ya!

XOXO!
Za

PS.
Foto saya ambil menggunakan kamera Sony A6000. Kalau ada foto saya yang ‘nyangklong’ kamera, itu saya difoto Ayu pake Canon M10. Kemajuan ya kita jalan-jalannya bawa mirrorless haha. Dan semua foto disini ndak saya pake-in filter ya biar liat warna aslinya juga yeay!