[BEAUTY]: Review L'oreal Paris Revitalift 1.5% Hyaluronic Acid Serum Pakai Sampai Habis

Review L'oreal Hyaluronic Acid Serum

L'oreal Paris Revitalift 1.5% Hyaluronic Acid Serum ini cukup menggoda saya dengan kemasannya yang elegan. Sederhana, tapi tetap terlihat mewah. Gayung bersambut, saya dikirimi serum ini oleh Female Daily Network sekalian buat ikut event online-nya L'oreal x FD. Kebetulan lagi, saya belum punya serum yang mengandung Hyaluronic Acid, jadi pas banget deh.

Apa itu Hyaluronic Acid?

Hyaluronic Acid alias asam hialuronat itu sebenernya secara alami diproduksi oleh tubuh kita. Tapi, jumlahnya bisa berkurang seiring bertambahnya usia. Makanya kita tetep perlu Hyaluronic Acid dalam bentuk skincare buat menghidrasi kulit.

Fungsi utama si Hyaluronic Acid adalah menahan air di dalam jaringan ikat dan kulit sehingga bikin kulit tetep lembab. Kalau kulit lembab kan turunannya jadi lebih enak tuh, kayak kulit jadi lebih kenyal, elastis, dan cerah. Juga bisa mengurangi kerutan atau garis-garis halus di wajah seiring bertambahnya usia.

Kapan Waktu yang Tepat Pakai Hyaluronic Acid?

Skincare yang mengandung Hyaluronic Acid bisa dipakai semua usia. Saya sendiri baru pakai di usia 28 tahun karena sebelumnya lebih fokus ingin coba AHA, BHA, dan retinol. Saya sarankan sih skincare dengan kandungan Hyaluronic Acid bisa mulai kamu masukkan dalam rangkaian skincare di usia 25 tahun.

Tentang L'oreal Paris Revitalift 1.5% Hyaluronic Acid Serum

L'oreal Hyaluronic Acid Serum

L'oreal Paris Revitalift 1.5% Hyaluronic Acid Serum jadi istimewa karena dia punya kandungan Hyaluronic Acid tertinggi di antara rangkaian produk Revitalift lainnya. Di dalamnya, ada 2 tipe Hyaluronic Acid:

1) Micro - dengan partikel kecil yang dapat merawat elastisitas kulit dari dalam (lapisan epidermis).
2) Macro - dengan partikel besar yang dapat melembabkan, melindungi, dan menghaluskan permukaan kulit.

Klaimnya, setelah pemakaian L'oreal Paris Revitalift 1.5% Hyaluronic Acid Serum, kulit terasa lebih lembab sampai ke dalam, lembut, dan lebih halus. Dalam 1 minggu, kulit tampak lebih muda dan elastis (berdasarkan uji konsumen pada 55 wanita Asia setelah 1 minggu pemakaian).

Kemasan L'oreal Paris Revitalift 1.5% Hyaluronic Acid Serum

Kemasan L'oreal Hyaluronic Acid Serum

Secara packaging, buatku L'oreal Paris Revitalift 1.5% Hyaluronic Acid Serum terlihat mewah dengan botol kaca bening dan warna merah di tulisan Revitalift-nya. Saat dibuka, bentuknya pipet seperti serum pada umumnya.

Keterangan L'oreal Hyaluronic Acid Serum

Di botolnya ada petunjuk pemakaian berbunyi 'pakai setiap hari sebelum menggunakan moisturizer dan hindari area mata. Period after opening (PAO)-nya 12M alias masa pemakaian produk terbaik dalam jangka waktu 12 bulan setelah kemasan dibuka. Oh ya, dia isinya 30 ml.

Tekstur L'oreal Paris Revitalift 1.5% Hyaluronic Acid Serum

Tekstur L'oreal Hyaluronic Acid Serum

L'oreal Paris Revitalift 1.5% Hyaluronic Acid Serum punya tekstur cair agak kental dengan warna bening. Wanginya lebih ke wangi ingredients-nya sih yang plain gitu. Serumnya terasa ringan, cepat meresap, dan gak lengket waktu diaplikasikan ke kulit.

Saat Pemakaian L'oreal Paris Revitalift 1.5% Hyaluronic Acid Serum

Karena ingin mencari tahu gimana efeknya L'oreal Paris Revitalift 1.5% Hyaluronic Acid Serum di kulit wajah saya, jadi saya berhenti menggunakan serum lainnya (termasuk retinol dan daily serum saya lainnya). Saya gunakan setiap pagi dan malam setelah menggunakan essence dan sebelum menggunakan moisturizer.

Kondisi Pakai Serum L'oreal

Awalnya saya berniat full menggunakan serum ini cukup sebulan aja (sebulan setelahnya bisa diselingi menggunakan serum lainnya lagi). Tapi, jadi keterusan pakai L'oreal Paris Revitalift 1.5% Hyaluronic Acid Serum sampai bener-bener habis jadinya.

Pemakaian L'oreal Hyaluronic Acid Serum

Awal pakai tuh di tanggal 9 Oktober 2020 pas event Female Daily x L'oreal. Dan baru banget tanggal 3 Desember 2020 habis tak menetes lagi. Hehe. Biasanya, saya pakai satu tarikan pipet ke telapak tangan baru di-tap ke seluruh wajah dan leher.

Bagaimana Hasil Pemakaian L'oreal Paris Revitalift 1.5% Hyaluronic Acid Serum?

Satu alasan saya kenapa jadi keterusan pakai L'oreal Paris Revitalift 1.5% Hyaluronic Acid Serum full pagi-malam lebih dari sebulan karena serum ini senyaman itu pas dipakai. Sejak awal, gak ada purging apalagi breakout. Seminggu pemakaian kulit memang berasa lebih lembab dan halus. Saya punya beberapa jerawat kecil di jidat yang sukar hilang. Sekitar 2 atau 3 minggu pemakaian, jidat saya sudah cukup mulus karena si jerawat kecilnya mulai menghilang. Jadi, tanda-tanda ketidakcocokan pada serum ini memang tidak muncul di kulit saya makanya seneng pakainya.

Before After L'oreal Hyaluronic Acid Serum

Kulit juga lebih glowing dan plumpy. Enak aja gitu pas nyentuhnya atau abis selesai skincare-an pasti jadi lebih seneng ngacanya. Hehe. Kalau di foto mungkin gak terlalu kelihatan jelas bedanya. Dua foto di atas itu kondisi bare face saya, fotonya sama-sama menghadap jendela biar terang di jam yang hampir sama. Tapi, soal lembab dan halusnya beneran saya rasakan dan itu bikin happy banget.

Pemakaian Rutin L'oreal Hyaluronic Acid Serum
Selama rutin pakai L'oreal Paris Revitalift 1.5% Hyaluronic Acid Serum, kulit jadi halus dan make up jadi lebih flawless

Tapi, efek ini pasti akan berbeda di masing-masing orang karena tergantung skin type dan problem-nya apa. Pun rangkaian skincare kita juga berbeda sih hehe. Temen saya ada yang coba pakai, tapi di dia gak cocok. Fyi, kulit saya normal to dry ya. Kalau saya rangkum setelah pemakaian, kira-kira seperti ini:

(+)
Cepat menyerap di kulit dan gak lengket saat dipakai
Kulit terasa lebih lembab, mulus, dan plumpy
Rona kulit lebih seger
Jerawat kecil di jidat perlahan menghilang
Nyaman dipakai dalam rangkaian skincare am-pm

(-)
Di awal pemakaian, agak kurang nyaman sama wangi ingredients-nya. Mungkin karena sebelumnya kebiasa pakai daily serum yang wanginya manis.

Gak banyak yang bisa saya tulis di poin minusnya sih karena memang selama pemakaian di kulit saya tidak menemukan efek negatif apapun. Semua berjalan mulus, semulus kulit saya setelah pemakaian rutin L'oreal Paris Revitalift 1.5% Hyaluronic Acid Serum. Hehe.

L'oreal Paris Revitalift 1.5% Hyaluronic Acid Serum bisa kamu beli seharga Rp 245 ribu. Sering-sering cek L'oreal Paris Indonesia Official Shop di Shopee Mall atau Sociolla deh karena sering banget diskonnya. Atau bisa juga beli langsung di Guardian dan Watson.

Kalau belanja di Sociolla, kamu bisa pakai kode voucher punya saya untuk dapat potongan Rp 25 ribu dengan minimal pembelian Rp 150 ribu. Voucher-nya berlaku untuk semua produk di Sociolla baik diskon maupun nondiskon. Cukup masukin kode SBN0646AF saat checkout ya!

Selamat mencoba!

XOXO!
Zakia

[BEAUTY]: Review Pemakaian Sebulan Avoskin Miraculous Retinol Ampoule

Review Avoskin Miraculous Retinol Ampoule

Awalnya, saya gak tertarik buat beli Avoskin Miraculous Retinol Ampoule sewaktu dia launching di Sociolla. Alasannya ya karena saya masih punya Miraculous Refining Serum (produk exfoliant-nya Avoskin), jadi kayak biar satu-satu aja dulu gitu. Tapi, kok lama-lama ini retinol ini booming dan habis dimana-mana. Jujur, saya jadi penasaran. Apalagi di usia saya saat ini, sama sekali belum pakai skincare yang fungsinya untuk anti-aging. Makanya, begitu dia restock, langsung saya masukin ke keranjang dan bayar. Lemah saya kalau soal skincare haha.

Kenapa Pakai Retinol?

Retinol itu turunan dari Vitamin A, khususnya berasal dari retinoid. Fungsi utamanya sebagai anti-aging karena retinol dipercaya punya kemampuan buat merangsang produksi kolagen. Gak cuma itu, retinol juga bisa mempercepat proses regenerasi sel-sel kulit mati dan membuat tekstur kulit jadi lebih halus.

Kapan Waktu yang Tepat Pakai Retinol?

Beberapa ahli dermatologi merekomendasikan penggunaan retinol ini di awal usia 20-an karena produksi kolagen secara alami mulai menurun di usia ini. Mungkin efeknya gak akan terlalu kelihatan seperti orang-orang yang lebih tua karena ini masih bersifat pencegahan.
Review Avoskin Miraculous Retinol Ampoule

Saya sendiri menggunakan retinol pertama kali alias si avoskin ini di usia 28 tahun karena baru 3 tahunan terakhir bener-bener fokus buat merawat kulit dengan skincare. Karena baru pertama, saya mau membiasakan kulit saya dulu dengan memakai retinol 1x seminggu. Baru setelah merasa baik-baik saja, pelan-pelan saya naikkan frekuensinya jadi 2-3x seminggu.

Yang Harus Diperhatikan Saat Menggunakan Retinol

Pada dasarnya, retinol itu sensitif dan bisa rusak saat terkena sinar UV. Makanya, skincare yang mengandung retinol disarankan untuk digunakan malam hari. Selain itu, besok paginya jangan sampai skip pakai moisturizer dan sunscreen ya walau gak kemana-mana alias di rumah aja.
Oh ya, produk retinol juga tidak disarankan untuk digunakan bersamaan dengan produk yang mengandung AHA, BHA, Vitamin C, atau Benzoyl Peroxide. Karena perpaduan kandungan aktif tersebut bisa membuat kulit jadi memerah dan iritasi akibat over-exfoliated. Kalau skincare kalian mengandung kandungan aktif tersebut, sebaiknya digunakan di hari yang berbeda.

Tentang Avoskin Miraculous Retinol Ampoule

Review Avoskin Miraculous Retinol Ampoule

Ada 5 kandungan aktif yang di-highlight di ampoule terbaru dari Avoskin ini yaitu:
Retinol + Peptide + Vitamin E + Pomegranate + Green Tea
Actosome Retinol contains of 0.09% active Retinol, 0.1% Hexapeptide, Vitamin E which is suit for sensitive skin. 
Fragrance Free + Sensitive Skin Friendly
Review Avoskin Miraculous Retinol Ampoule

Klaimnya, ampoule dengan kandungan aktif di atas bisa bekerja optimal untuk memacu regenerasi sel kulit baru sehingga meningkatkan produksi kolagen alami pada kulit. Berfungsi untuk menyamarkan garis halus, menjaga kekenyalan kulit, dan membantu mencerahkan kulit.

Kemasan Avoskin Miraculous Retinol Ampoule

Review Avoskin Miraculous Retinol Ampoule

Secara packaging terlihat gak ada bedanya dengan Miraculous Refining Series. Sekilas warnanya sama. Kalau diperhatikan lagi, botol yang retinol ini warnanya lebih coklat. Tapi, itu kalau benar-benar diperhatikan dengan saksama ya, selain harus membaca keterangannya yang tentu saja berbeda.
Karena hampir miripnya, teman saya ada yang sampai salah beli. Rencananya, dia mau beli Retinol Toner. Pas cerita ke saya, dia bilang beli toner yang ukuran mini buat coba dulu. Setahu saya, seri retinol ini belum mengeluarkan versi mininya. Dan bener ternyata, pas dia kirim capture belanjaannya, yang dia beli adalah Miraculous Refining Toner. Emang kudu teliti dan jeli sih pas baca keterangannya.

Review Avoskin Miraculous Retinol Ampoule

Saat dibuka, bentuknya pipet seperti serum pada umumnya. Tapi, sekali lagi, bener-bener mirip dengan Refining serum-nya sih.

Tekstur Avoskin Miraculous Retinol Ampoule

Review Avoskin Miraculous Retinol Ampoule

Avoskin Miraculous Retinol Ampoule ini punya tekstur kental dengan warna putih susu. Sesuai klaimnya yang fragrance free, wangi yang kecium ya bener-bener plain aja gitu. Biarpun kental, dia cukup cepat menyerap ke kulit tanpa meninggalkan residu di wajah.

Saat Pemakaian Avoskin Miraculous Retinol Ampoule

Review Avoskin Miraculous Retinol Ampoule

Karena ini jadi pertama kali saya pakai retinol, kulit saya harus disiapkan dulu biar gak kaget. Caranya, dengan mencoba produk ini secara bertahap. Di minggu pertama, saya pakai 1x seminggu. Saya mulai di tanggal 10 Mei 2020, tepat satu bulan yang lalu.
Tidak ada tingling alias cekit-cekit yang saya rasakan di awal pemakaian. Selayaknya memakai serum seperti biasa saja sebelum tidur yang cepat menyerap. Justru saat bangun tidur saya merasa kulit saya kering, agak gatal, dan muncul 2 jerawat kecil di jidat.
Review Avoskin Miraculous Retinol Ampoule

Urutan pemakaiannya di saya, setelah cuci muka dengan Senka, saya gunakan hydrating toner (saya pakai Hada Labo), essence (SK-II FTE), baru saya pakai avoskin miraculous retinol ampoule ini. Sebenarnya dianjurkan menggunakan moisturizer setelahnya karena retinol bisa menyebabkan kulit kering. Tapi, saya kurang nyaman menggunakannya, jadi moisturizer baru saya gunakan di pagi harinya bersama dengan sunscreen.
Review Avoskin Miraculous Retinol Ampoule

Baru setelahnya, saya mulai naikkan frekuensi pemakaiannya menjadi 2-3 kali seminggu saat saya merasa kulit saya sudah mulai baik-baik saja. Sekali pemakaian, saya ambil satu tarikan pipet lalu saya teteskan di jidat, pipi, dagu, dan hidung.

Setelah Pemakaian Avoskin Miraculous Retinol Ampoule

Review Avoskin Miraculous Retinol Ampoule
Bare face before after pemakaian Avoskin Miraculous Retinol Ampoule selama satu bulan

Setelah hampir 2 minggu pemakaian, saya merasa kulit muka saya membaik. Bruntusan di jidat mulai menghilang walau menyisakan sedikit noda hitam. Saat bangun tidur, kulit saya juga tidak sekering pemakaian di awal, justru jadi lebih lembab. Pun sudah tidak ada rasa gatal yang saya rasakan.
Saya suka tekstur kulit saya yang terasa lebih mulus, terutama di bagian jidat dan pipi. Tanpa sadar saya jadi sering menyentuh wajah gitu karena saking lembab dan mulusnya (padahal gak boleh banyak sentuh wajah karena tangan suka kotor hihi). FYI, dulu pipi dan jidat saya suka terasa kasar karena ada bruntus atau mungkin semacam fungal acne ya. Lalu, di hidung juga sama mulusnya. Padahal, seringnya hidung saya agak kasar karena komedo.
Review Avoskin Miraculous Retinol Ampoule
Bare face pemakaian 2 minggu Avoskin Miraculous Retinol Ampoule

Kulit juga terlihat lebih glowing dan plumpy. Rona kulit lebih merata dan segar. Noda bekas jerawat di pipi lumayan memudar, tinggal di jidat yang belum tersamarkan.
Sementara untuk pori-pori, saya merasa belum banyak perubahan. Kerutan atau garis-garis halus juga, mungkin karena ya belum ada kerutan yang berarti di wajah saya hihi. Kecuali garis halus di bawah mata ya.
Review Avoskin Miraculous Retinol Ampoule
Bare face pemakaian sebulan Avoskin Miraculous Retinol Ampoule

Efek pemakaiannya tentu akan berbeda antara saya dan kalian karena skin type dan problem kita yang berbeda. Pun mungkin rangkaian skincare yang kita pakai juga berbeda. FYI, tipe kulit saya adalah normal to dry. Tapi, kalau saya boleh sedikit rangkum, kira-kira begini plus minusnya setelah satu bulan mencoba Avoskin Miraculous Retinol Ampoule.

(+)
Cepat menyerap di kulit walau teksturnya agak kental
Tidak meninggalkan residu saat pemakaian
Fragrance free
Kulit terasa lebih mulus dan plumpy
Rona kulit jadi lebih merata dan segar
Noda bekas jerawat di pipi perlahan memudar
Nyaman digunakan sebelum tidur

(-)
Packaging mirip dengan series refining jadi kudu teliti pas ambil
Di awal pemakaian, agak terasa gatal dan muncul purging di kulit
Untuk mengecilkan pori-pori, masih belum kelihatan hasilnya dalam sebulan pemakaian

Oh ya, satu lagi yang jadi alasan kenapa saya akhirnya membeli retinolnya Avoskin. Karena, di salah satu sesi sharing di Instagram Story, mereka bilang bisa digunakan dengan Avoskin Miraculous Refining Serum. Tentunya beda hari ya. Apalagi, mereka juga membagikan ilustrasi jadwal pemakaian Retinol series dan Refining Series. Benar-benar story itu mengubah pemikiran saya dan langsung berniat untuk membelinya haha.
Review Avoskin Miraculous Retinol Ampoule

Overall, pemakaian retinol saya untuk pertama kalinya berjalan dengan baik. Mungkin, setelah ini saya akan mulai coba selang-seling dengan pemakaian Refining Serum-nya. Yang jelas, saya senang karena retinol ini adalah produk lokal yang gak kalah kualitasnya dengan produk luar yay!
Kalian bisa beli Retinol Series ini di official store-nya atau lewat Sociolla. Saya beli waktu itu pas gak ada potongan seharga Rp 229 ribu. Oh ya, kalau belanja di Sociollakalian bisa pakai kode voucher punya saya untuk dapat potongan Rp 25 ribu dengan minimal pembelian Rp 150 ribu berlaku untuk semua produk di Sociolla baik diskon maupun nondiskon. Cukup masukkan kode SBN0646AF saat checkout ya!
Voucher sociolla SBN0646AF

Gimana? Tertarik buat coba Avoskin Miraculous Retinol Ampoule gak nih? Sejauh ini, ada 3 teman kantor saya yang berhasil saya racuni untuk membeli ampoule ini hihi. Sampai jumpa di review selanjutnya ya!

XOXO!
Zakia

Serunya Berangkat Kerja Naik MRT Jakarta


MRT Jakarta
Coba siapa yang excited MRT akhirnya ada di Jakarta angkat tangaaan? Kalau dilihat banyaknya yang ikut uji coba sampai tiketnya ludes sih kayaknya nggak cuma saya aja yang excited, tapi sebagian besar warga yang sering ‘mampir’ ke Jakarta juga. Ya gimana nggak, akhirnya penantian kita selama bertahun-tahun tiba juga. Nggak perlu lagi deh jauh-jauh ke Singapore atau Malaysia (atau maunya sih Jepang) buat nyobain moda transportasi ini. Hihihi.

Perkembangan MRT di Jakarta

Waktu bikin oncam super cepat di tunnel MRT Bundaran HI
Kebetulan, saya dulu berkesempatan buat ngikutin perkembangan MRT di Jakarta, mulai dari groundbreaking sampai proses pembangunannya yang waktu itu udah masuk 90 persenan. Waktu itu, saya masih jadi jurnalis dan join di Fellowship-nya MRT. Beberapa kali ngobrol sama Pak William Sabandar (Dirut MRT yang super humble), Bu Silvia Halim (ngefans banget sama doi karena jadi satu-satunya wanita yang duduk di jajaran direksi. Bu Silvia ngejabat Direktur Konstruksi MRT anyway), dan jajaran MRT lainnya bikin kayak punya bonding aja gitu walau nggak sampai menang ke Jepang.
MRT Jakarta
Ngobrol sama Pak William Sabandar yang super duper humble
Pertengahan 2018, saya memutuskan resign dari profesi jurnalis yang bikin saya nggak se-intens ngikutin perkembangan MRT di akhir-akhir. Sempet ikut launching aplikasinya abis itu udah mulai sibuk sama kerjaan baru. Yang paling saya inget sih pokoknya Maret 2019, MRT ditargetkan udah bisa membawa penumpang. Daaaan kesampaian dong targetnya~

Menjajal MRT Jakarta

Selain lewat media sosial, PT MRT Jakarta juga mempromosikan kesiapannya melalui uji coba gratis yang ditujukan untuk masyarakat selama 2 minggu dari tanggal 12-23 Maret 2019. Tiketnya bisa dipesan lewat BukaLapak. Tinggal pilih tanggal, terus dari stasiun mana kita mau berangkat, pesan trus udah deh dapet e-ticket­ nya. Mungkin karena orang-orang banyak yang akses, jadi waktu saya pesan situsnya agak lemot sih. Alhamdulillah dapet tapi hehe.
Saya sendiri memilih buat nyoba di tanggal 20 Maret 2019 alias hari Rabu. Sekalian simulasi berangkat kerja naik MRT. Kebetulan kantor saya di wilayah Cilandak KKO jadi paling deket turun di Fatmawati. Coba kantornya masih di Pondok Pinang, saya bisa turun di Lebak Bulus deh.
MRT membuka kloter untuk uji coba sebanyak 4 kali. Mulai dari pukul 8.00-10.00; 10.00-12.00; 12.00-14.00; dan 14.00-16.00 dengan batas scan tiket jam 15.30 WIB. Karena saya berangkat kerja, jadi saya datang di kloter pertama dan naik dari Stasiun Dukuh Atas. Sebenernya bisa sih naik dari Sudirman Astra tinggal jalan kaki dari tempat tinggal, tapi karena masih nyoba pingin dari Dukuh Atas aja (tau gitu malah dari Bundaran HI aja sekalian ya hahaha).

Berangkat Kerja Naik MRT Jakarta

Saya sampai di Stasiun Dukuh Atas sekitar jam setengah 9 kurang, lalu nunjukin e-ticket ke petugas keamanan dan turun ke bawah. FYI, dari Stasiun Bundaran HI sampai Stasiun Senayan itu ada di bawah tanah, sementara sisanya adalah stasiun layang. Berhubung saya salah pintu masuk, lumayan turun tangga karena elevator di pintu saya masuk adalah elevator naik. Untung turun ya, bukan naik haha.
Suasana di lantai tengah (saya kurang paham istilahnya lantai 1 kah atau gimana) masih sepi. Tapi, konon katanya nanti akan diisi tenant-tenant buat jajan. Bayangan saya sih kayak ada minimarket, roti O, subway (lhoh emang ada di Indo haha), dum dum, dan makanan lainnya yang bisa buat sarapan atau nyemil di perjalanan pulang.

MRT Jakarta
Gate untuk tempel kartu MRT
Gate tap in-nya sendiri belum berfungsi karena masih uji coba. Jadi, saya nunjukin e-ticket saya ke petugas MRT buat di-scan sama mereka. Nantinya, kalau udah berfungsi, gate-nya ditempel pake kartu single trip dan multitrip layaknya MRT. Pengennya sih, bisa juga tap in pakai flazz atau e-money biar nggak kebanyakan kartu. Untuk tarifnya, masih digodok belum ada fiksasi tarifnya berapa. Denger-denger sih sesuai jarak mulai dari 3 ribu sampai 10 ribuan. Ya semoga masih ramah di kantong ya.

MRT Jakarta
Suasana di peron Stasiun Dukuh Atas BNI
Abis itu, saya langsung turun ke bawah menuju peron. Pas saya sampai bener-bener ngepas ada kereta yang baru banget jalan. Jadi sambil nunggu kereta selanjutnya yang datang per 10 menit sekali, saya izin ke petugas buat ambil gambar. Oh ya, pas di bawah, nomor saya yang XL nggak ada sinyal, sementara yang telkomsel lancar jaya.

Papan penunjuk jam keberangkatan kereta MRT Jakarta
Kereta datang tepat waktu di jam 08.46 WIB. Yang naik dari Dukuh Atas cukup banyak juga hari itu. Saya duduk di gerbong paling belakang. Dan yang lain nyebar di 5 gerbong lainnya. Di peron, ada garis untuk antre dan garis untuk turun. Semoga nantinya kalau udah berjalan, para penumpang bisa cerdas memahami garis itu ya. Jangan asal serobot kayak di KRL.
Garis antrean keluar-masuk gerbong kereta MRT Jakarta

First impression di dalam kereta, bersih dan rapi. Nggak terlalu panas juga di dalam alias AC nya berasa. Di atas pintu, ada layar penunjuk lokasi kita saat ini dan stasiun-stasiun tujuan. Oh ya, ada juga penunjuk pintu mana yang akan dibuka di stasiun tujuan. Soal kapasitas, ada 50 kursi penumpang di setiap gerbong dan di ruang kosongnya bisa menampung 150 penumpang berdiri. Ada juga kursi prioritas dan spot untuk lansia, ibu hamil, ibu membawa balita, dan difabel.

Suasana di dalam gerbong MRT Jakarta
Sebenernya yang saya tunggu-tunggu adalah momen dimana dari tunnel naik ke atas (setelah bundaran Senayan) tapi ternyata nggak berasa naiknya. Se-flat itu rasanya hebat deh! Begitu udah di jalur layang, beuh, pemandangannya mantap! Kebetulan hari itu cerah juga jadi enak. Cuma agak panas sih kesengat matahari. Trus karena nggak ada yang motion jadi nggak punya foto di dalem gerbong huhu.
Pemandangan di jalur layang MRT Jakarta. Sayang nggak ada yang motoin saya padahal bagus huhu
Perjalanan dari Dukuh Atas ke Fatmawati hanya memakan waktu 20 menit. Cepet banget sih menurut saya kalau dibandingkan lewat jalur darat yang makan waktu sampai 30 menitan lebih (pengalaman naik TransJakarta pas masih ngantor di Pondok Pinang). Begitu turun, ah pemandangannya juga yahud! Stasiunnya kece rapi. Harapan saya sih semoga kerapian ini tetep terjaga sampai nanti MRT bener-bener udah beroperasi untuk publik sih.

Pemandangan di Stasiun Fatmawati nih. Keren ya!
Cuma kalau untuk ke kantor, saya masih harus nyambung ojek lagi dan agak lumayan jauh jalan nunggu gojeknya sampai depan RSUP Fatmawati. Harganya juga lumayan beda sih kurang lebih 10-11 ribu dibandingkan saya naik dari Deptan. Tapi, buat variasi sih ndak masalah lah. Hihi.

Harapan Buat MRT Jakarta

Sebagai pengguna transportasi publik, adanya MRT Jakarta tentu jadi angin segar sih buat saya, semacam variasi lah buat berangkat kerja atau main biar nggak melulu naik TransJakarta atau Commuter Line. Apalagi waktu tempuhnya terbilang cukup cepat karena punya jalur sendiri alias bener-bener nggak ada tuh perlintasan sebidang. Ini juga yang saya bahas buat tugas fellowship saya dulu.

Tapi, ini baru permulaan. Saya sih berharap banget kalau nanti udah bener-bener beroperasi yang sebenarnya, masyarakat juga ikut menjaga si MRT Jakarta ini. Mulai dari menjaga kebersihan di stasiunnya, menjaga ketertiban pas antre masuk-keluar dari kereta, dan menghormati penumpang lain di gerbong kereta. Ini yang suka luput sih dari para pengguna transportasi umum, merasa pengen diistimewakan. Huff.


Trus, yang paling penting sih, semoga MRT Jakarta nggak berubah ke depannya, dalam artian tetep on time on schedule dan bisa meminimalisir yang namanya gangguan. Kita pengguna KRL udah kenyang sama yang namanya gangguan listrik aliran atas atau antrean masuk stasiun. Semoga sih ini nggak terjadi di MRT ya. 


Jadi, sekarang kita udah nggak perlu jauh jauh ke luar negeri buat nyobain MRT deh. Kamu udah coba belum? Share pengalamanmu naik MRT di kolom komentar ya! 


XOXO!
Za

[BEAUTY]: Review L’oréal Paris UV Perfect Matte & Fresh Long UV SPF 50 / PA ++++


sunscreen loreal
Drama pencarian sunscreen yang cocok dengan kulit wajah saya ternyata tak semudah menekan tombol ‘add to cart’ di situs Sociolla. Apalagi, saya bener-bener telat sadar kalau si sunscreen sejuta umat alias si Biore UV Aqua Rich Watery Essence itu bikin kulit saya breakout dan muncul jerawat. Kok bisa nggak sadar? Karena munculnya emang setidak disangka dan senyaman itu sebenernya.
Awalnya cuma muncul 3 jerawat kecil di pelipis yang saya kira jerawat siklus. Karena masih enak-enak aja pas pake, alias nggak ada rasa gatel atau apapun itu, jadi tetep dilanjut. Sampai akhirnya sadar, kok jerawatnya muncul terus muncul terus padahal nggak lagi dapet. Jadi dengan berat hati saya stop pemakaian si sunscreen sejuta umat ini. Huhu.  
Tapi sekarang, saya sudah nggak galau lagi karena berhasil menemukan sunscreen yang cocok (sejauh ini nggak ada komplen dari kulit wajah sih) yaitu si mini L’Oréal Paris UV Perfect Matte & Fresh Long UV SPF 50 / PA ++++ (panjang mon maap namanya haha).

Pertemuan dengan Si Mini L’oréal 

sunscreen loreal
November 2018 jadi bulan yang agak gencar promoin si L’oréal  ini karena baru banget masuk di Indonesia. Tiap buka Sociolla, adalah si sunscreen L’oréal  ini. Bukan Instagram, beberapa beauty influencer udah mulai promote ini. Secara anaknya suka penasaran kalau ada rame-rame begini, jadilah dibeli. Apalagi waktu itu di Sociolla lagi ada potongan harga buat si hijau ini.
Sebenernya bulan itu belum sadar kalau saya nggak cocok sama Biore, beli ya cuma dibeli aja dulu buat punya-punya plus lagi diskon juga kan. Rencananya malah si L’oréal  ini bakal dipake setelah biore abis paling ya pas awal awal tahun 2019. Eh nggak taunya, akhir November sadar nggak cocok biore jadi langsung dipakai lah di bulan Desember 2018.

Packaging

sunscreen loreal
Yang saya suka selain warna kemasannya hijau tosca muda adalah bentuk botolnya pipih kayak tube yang sama sekali nggak makan tempat baik di make up pouch ataupun di kantong celana. Setipis itu enak. Udah gitu, mulut botolnya tuh mengerucut jadi kalau isinya dikeluarin nggak akan mbleber gitu lho.

Tekstur

sunscreen L’oréal
Nah, begitu dikeluarkan isinya, sunscreen L’oréal  ini punya tekstur layaknya sunscreen pada umumnya yang krim kental tapi lebih ringan alias nggak pekat gitu. Warnanya broken white dan sama sekali nggak ada wewangiannya (selain wangi sunscreen pada umumnya aja). Kalau dibaur, lumayan cepat meresap dan nggak ninggalin rasa lengket atau berminyak yang berlebihan di wajah. Sejauh ini saya pakai enak-enak aja sih.

Klaim dari L’oréal 

sunscreen loreal
Sunscreen L’oréal ini mengklaim dirinya mampu memberikan perlindungan dan mencegah kerusakan yang disebabkan sinar UV karena punya kandungan mexoryl XL Filter dan Long UVA Filters. Selain itu, kedua kandungan ini konon bisa menghindari risiko penggelapan kulit, flek hitam, penuaan dini dan warna kulit tidak merata.
Kandungan lain yang ada di sunscreen ini adalah detoxyl yang mampu melindungi kulit dari partikel polusi hingga PM 2,5. Bye debu gitu kali ya.
Nah, satu lagi yang lumayan sering di-mention adalah sunscreen ini konon katanya jadi sunscreen pertama yang menghasilkan matte finished setelah pemakaian. Ini berkat kandungan 3 ekstrak tanaman astringent dan mattifying pure clays yang bisa mencegah dan mengurangi produksi minyak berlebih di kulit wajah. Hmmm.

Setelah Pemakaian

Saya pakai sunscreen ini sebagai step terakhir dari skincare morning routine saya alias sebelum pake priming water atau bedak. Pas dipakai ke kulit wajah, emang nggak ada kesan dingin kaya biore, tapi juga nggak panas juga pas dipakai. Lumayan cepat meresap, nggak ninggalin whitecast. Buat saya, si sunscreen ini awalnya agak meninggalkan kesan mengkilat tapi bukan yang berminyak banget ya. Kaya kulit tuh dewy-dewy gitu hahaha.
Tapi, begitu ditimpa bedak, dia akan jadi matte finished (ya emang gitu sih haha) yang enakeun gitu, berasa kulit tuh lembut dari sananya. Intinya, saya sih yes! Sebaiknya sih re-apply pemakaiannya barang 2-3 jam sekali gitu. Tapi, karena saya lebih banyak di dalem ruangan, jarang  banget sih pake ulang gitu haha.
Oh ya, selama di Penang, saya seharian pakai ini dan Alhamdulillah nggak ada masalah di kulit, nggak ada cekit-cekit, dan surprisingly nggak belang di muka juga nggak keling. Kaget sih karena SPF-nya kan cuma 50 ya, biasanya saya kalau liburan selalu bawa yang SPF 110 soalnya dan kemaren nggak kebawa. Padahal, cuaca di Penang panasnya minta ampun. Ini juga saya jarang banget re-apply. Kalau ada kesempatan buat pake ulang ya pake, kalau nggak yaudah aja gitu.
Mungkin efeknya akan berbeda antara saya dan kalian karena skin type kita kan berbeda. Tapi, kalau boleh saya rangkum, kira-kira begini plus minusnya.

(+)
Tekstur ringan dan lumayan cepat meresap
Bisa dijadiin primer
Nggak ninggalin whitecast setelah pemakaian
No fragrance
Setelah diset pakai bedak, hasilnya lebih matte
Harga terjangkau, cuma 99 ribu rupiah!
Lumayan ngefek karena bisa menangkis sinar matahari yang suka bikin belang selama di Penang
Travel-friendly

(-)
Ada kesan mengkilat setelah pemakaian (tapi nggak berlangsung lama sih)
Udah nggak ada lagi haha bingung karena emang se-nggak ada itu

Overall, saya sih suka banget sama sunscreen ini. Saking sukanya, pas dia diskon 50% di Sociolla langsung beli lagi padahal yang ini masih ada banyak isinya haha. Abis dipake di luar ruangan pun nggak masalah karena nggak bikin belang.
Kalian bisa beli sunscreen ini di drugstore atau sociolla. Tapi, biasanya harganya lebih murah di Sociolla. Pernah waktu itu lihat di Guardian/Watson, harganya 115 ribu sekian huhu lumayan kan bedanya.
Gimana? Tertarik buat coba nggak nih? Atau udah pernah pakai? Share yuk pengalaman kalian di kolom komentar.

XOXO!
Za

[BEAUTY]: Review Emina Cheeklit Cream Blush


Review Emina Cheeklit Cream Blush
Sebagai pecinta blush on, saya cukup penasaran pas Emina nambah shade baru buat cream blush-nya. Lebih tepatnya, agak shock sih pas 2 warna tambahannya itu violet dan coklat yang woooow unpredictable banget, karena buat saya cream blush-nya emina ini ya buat tampilan yang natural. Tapi rupannya, first impression saya salah begitu udah coba produknya. Memang kita tuh nggak boleh menilai sesuatu dari penampilannya aja. Yuk kita ulas aja lah ya~

Packaging

Review Emina Cheeklit Cream Blush
Perbedaan Kemasan Lama dan Baru si Emina Cream Blush
Nah, selain nambah shade, si cream blush emina ini juga ganti packaging yang menurut saya lebih simpel dan elegan gitu sih. Sebelumnya, packaging dia tuh ungu muda (kardusnya juga sama). 
Review Emina Cheeklit Cream Blush
Sekarang warnanya dominan putih plus ilustrasi karakter ceweknya yang lebih oke sih. Trus, kalau dulu di kardusnya penanda ‘pink’ dan ‘peach’ itu cuma di atas dan di-highlight doang yang suka bikin ketuker ambil kalau nggak jeli. 
Review Emina Cheeklit Cream Blush
Nah, sekarang tuh pembeda kardusnya ada di samping. Jadi, masing-masing shade warna kemasan bagian sampingnya juga disesuaikan dengan shade-nya. Sayangnya, saya nggak punya kardus kemasan lama soalnya udah dibuang huhu.
Review Emina Cheeklit Cream Blush
Shade (Kiri-Kanan) : Peach - Pink - Nudie Brown - Violet

Swatches

Review Emina Cheeklit Cream Blush
Tekstur si cream blush ini masih sama dengan yang terdahulu, cream lotion yang super duper ringan dengan agak-agak wangi bedak bayi kalau menurut saya. Shade pink ini nggak jauh beda sama yang dulu, jadi warna cream awalnya dia putih. Sementara yang peach, nudie brown dan violet, itu warna cream-nya ya sesuai sama judulnya. Beneran agak kaget sih liat warnanya 😭
Review Emina Cheeklit Cream Blush
Nggak terlalu keliatan bedanya ya ternyata huhu
Sekarang kita coba blend ya, ini saya blend tinggal di-tap-tap pakai jari. Si pink dan peach ini nggak berubah sih, tetep ‘alus’ gitu warnanya. Nah, si nudie brown sama violet ini tebel banget rasanya mau sesedikit apapun nge-swatch-nya. Jadi mikir panjang mau dipakai ke pipi. Haha takut asli 😥

Baca juga: [BEAUTY]: Review Biore UV Aqua Rich Watery Essence SPF 50+ PA++++



Waktu Dipakai di Pipi...

Review Emina Cheeklit Cream Blush

Let me ask you. Can you spot the difference in these pictures? Hahaha.

To be honest, saya sudah pakai keempatnya dengan jumlah yang cukup banyak, warnanya keluar semuanya (sampai takut dibilang ketebelan) tapi sedihnya nggak terlalu keliatan di kamera huhu. Kalau dilihat secara kasat mata, perbedaannya ya memang nggak terlalu signifikan sih karena keempatnya ngasih warna yang natural macem pipi tuh merona alami. 
Tadinya saya kira akan dua shade baru akan keliatan berbeda kan, secara dari krimnya aja warnanya lebih 'kereng'. Tapi setelah di-blend pakai jari, lama-lama warnanya jadi soft dan ngebaur sama kulit kita. Cuma memang kalau di kulit saya, si violet ini jadi warna pink yang pucet kalau kalian zoom fotonya. 

Baca juga: 9 Beauty Products Terfavorit 2018


Ronanya kalau diurutin itu dari yang paling soft sampe yang lumayan bold itu ada peach-pink-nudie brown-violet. Next, saya akan coba pakai dan foto lagi yang lebih proper biar keliatan bedanya. Mungkin kudu pakai ring light kali ya. Hmmm, nanti saya update deh kalau ring light-nya udah ada. Hehehe.  

Final thoughts

Walaupun agak kaget pas lihat shade terbarunya, saya akhirnya paham kalau emina ini berusaha ngasih solusi buat kita yang berkulit gelap atau sawo matang. Yup, nudie brown dan violet ini memang cocok dipakai untuk mereka yang berkulit gelap atau sawo matang karena bisa ngasih kesan pipi merona alami. Sementara untuk shade pendahulunya, peach dan pink, memang lebih cocok untuk mereka yang berkulit putih atau kuning langsat. Bukan berarti yang berkulit gelap nggak cocok pakai peach atau pink sih, hanya saja sayang aja gitu kalau jadi kontras atau nggak keliatan gitu. Pun sebaliknya. Huff.
Review Emina Cheeklit Cream Blush

Keempat shade ini masih ngasih ciri khas blush on emina sih, yaitu ngasih hasil rona pipi yang natural. Wanginya juga masih sama, mirip wangi bedak bayi yang cukup calming kalo menurut saya. Efek calming-nya nggak cuma dari wangi sih, tapi juga nggak bikin bruntusan di pipi. Jadi kalau kulit saya lagi rewel, ya pasti saya lari ke cream blush ini. Hidup saya hampa tanpa blush on, kudu merona gitu beb. Haha.

Baca juga : [BEAUTY]: Review Pond's Magic Powder BB


Cara pakainya masih di-tap tap pakai jari atau pakai beauty blender. Saya pribadi sih nggak menyarankan dia dipakai di atas foundation/bb cushion karena bisa ngegeser atau bisa juga susah di-blend. Kalau saya lagi pakai foundie, saya lebih milih pakai powder blush. Tapi, kalau kamu tetep pengen pakai cream blush, saran saya sih pakainya sebelum pakai foundie/bb cushion cuma pakainya lebih banyak (tebel) aja jadi warnanya tetep keluar walaupun udah ditimpa.
Review Emina Cheeklit Cream Blush
Kulit saya lagi rewel bruntusan gara-gara penasaran cobain banyak skincare baru dalam satu waktu. Sekarang lagi coba skincare detox deh. Huff
Satu lagi, pakai cream blush emina ini harus pakai perasaan alias pakainya mending sedikit-sedikit dulu gitu. Pas awal pakai emang dia nggak terlalu keliatan, tapi ntar lama-lama makin di-blend makin keluar warnanya. Blush on ini juga lumayan tahan lama walaupun udah kena air wudhu berkali-kali tapi masih keluar warnanya, apalagi kalau lagi pakai lipstik. Saya biasanya retouch pakai lip cream BLP Peach Soda dan si blush on emina ini makin keluar lagi warnanya. Sukak! 💖

Baca juga: [BEAUTY]: Review Lip Coat Peach Soda by Lizzie Parra


Saya sih selalu nyetok cream blush ini walaupun ada blush on yang lain juga. Jangan sedih, harganya juga ramah banget di kantong (karena sasarannya juga remaja sih haha), sekitar Rp 30 ribuan dan bisa dibeli di Guardian, Watson, ataupun Sociolla.
Nah, kalau kamu, apa sih blush on favoritmu? Kalau sama-sama emina cheeklit cream blush juga, shade mana yang paling kamu suka? Share dong jawabannya di komentar ya! Selamat mencoba!

XOXO!

Za