[BEAUTY]: Review Lip Coat Peach Soda by Lizzie Parra

Ngomongin soal lipstick dan kawan-kawannya itu nggak pernah ada abisnya, apalagi buat cewek. Apalagi sekarang ini, ada banyak lipen-lipen yang local brand dan menggandeng para influencer buat kolaborasi di produknya ini. 
Saya pribadi lebih suka pake pewarna bibir yang tipenya lip cream sih ketimbang lipstick, lebih gampang apply-nya aja gitu hehe. Udah gitu, saya juga termasuk orang yang picky banget soal warna, alias suka cari warna-warna yang aman di bibir. Dulu banget, lip cream pertama saya justru warna merah agak ke maroon gitu, lagi musim-musimnya Taylor Swift pake lipen merah soalnya haha. Makin kesini, saya lebih suka cari yang warna-warna pink atau mauve gitu. Nah, bulan kemaren, saya mencoba sesuatu yang baru, nggak ngejreng sih tapi warna yang nggak pernah pede saya pake sebelumnya. Warna peach. Hihi.

BLP X SOCIOLLA : PEACH SODA
Godaan ini datang begitu saja waktu saya mantengin akun instagram-nya sociolla sama blpbeauty. Maklum, bulan itu (Maret), sociolla lagi ulang tahun jadi sering saya pantengin buat cari diskonan haha. Nah dia tuh sering banget ngomongin soal ‘peach soda’ yang kemudian ‘pecah’-lah kata itu di minggu penghabisan bulan Maret. Produk barunya BLP yang kolaborasi sama sociolla sebagai selebrasi hari ulang tahun Sociolla yang ketiga. Terus beberapa influencers kan pada mulai mini review gitu di instastory mereka. Terus yaudah akhirnya saya pesen. Anaknya suka susah nahan godaan kalau yang review macem Abel Cantika, Andra Alodita, sama si Kak Icilnya sendiri.
Sebenernya udah dari lama juga pengen beli lip coat-nya BLP, hanya saja masih bingung sama shade-nya yang mana yang cocok sama saya. Nah pas peach soda ini keluar, seakan menjadi jawaban atas kebimbangan saya selama ini. Hahahaha.

Packaging + Swatches
Oke. Begitu sampai, saya langsung tertarik sama packaging-nya yang cute dengan tulisan Peach Soda yang gede dan satu sisi ada tulisan By Lizzie Parra X Sociolla. Apalagi dapet balon sih dari Sociolla haha. 
Nah kalau packaging dari si lip coat ini masih sama seperti kemasan lip coat terdahulu, yaitu warna putih di tutupnya dan warna bening (transparan) di wadahnya (body-nya) dengan tulisan LIP COAT BY LIZZIE PARRA yang font size-nya minimalis gitu. Pokoknya eye catching dan classy gitu deh.
Aplikatornya juga enak dipakai, nggak terlalu kaku dan agak pipih jadi gampang buat apply di bibir (secara merata). Sayangnya, karena saya orangnya agak slebor, jadi lama kelamaan si cream-nya itu belepet di mulut tube-nya (yang berwarna putih ini huff). Di foto agak keliatan kan itu noda-noda yang tak diinginkan di putaran dan mulut tube-nya.
Sudah soal kemasannya, mari kita coba buat swatch di tangan sama bibir. Sesuai dengan namanya, nuansanya emang peach kalem gitu, cocok deh buat kalian yang pengen tampil natural. 
Pas dipake di bibir juga nggak gonjreng orange, malah bikin muka kelihatan fresh. Kalau saya pribadi, pas pake nih lip coat, entah kenapa warna blush on saya jadi berasa lebih keluar. Tapi bukan keluar yang medog gitu ya, lebih kaya warna pipi merona yang alami gitu (halah). Sesuai deh sama tema warnanya yang konon vibrant, fresh and universally flattering.
Terus gimana rasanya selama pemakaian? Kalau buat saya, lip coat ini terasa ringan pas dipakai. Nggak berat juga nggak lengket. Teksturnya creamy. Matte juga tapi nggak bikin bibir kering atau pecah-pecah (bibir saya termasuk yang picky juga sama beberapa lip cream langsung pecah-pecah huff). Coverage-nya oke, pigmented juga oke, nggak perlu oles banyak buat bikin warnanya keluar. Tapi dia transferable gitu kalau belum satu jam pemakaian. Soalnya setiap saya minum susu kemasan pas di kantor (sarapan pagi), pasti ada bekasnya di sedotan. Tapi masih dalam batas wajar sih karena warna yang stay di bibir juga masih bagus.
Setelah 4-5 jam pemakaian lip coat peach soda by lizzie parra
Dan setelahnya, si lip coat ini cukup tahan lama di bibir, apalagi kalau nggak makan makanan yang berminyak. Saya pakai di pagi hari sekitar jam 7, kalau nggak makan yang minyakan, jam 2 siang pas balik ke kantor masih aman-aman aja warnanya. Seneng deh. Tapi kalau makan yang berminyak, di bagian dalem bibirnya itu warnanya udah hilang. Ya macem lipen-lipen lainnya sih hihi. Nah tapi yang saya suka ini lip coat kalau warnanya udah ilang menyisakan warna bibir asli yang lebih cerah. Mmm maksudnya kalau di bibir saya, kalau pake lipstik gitu pas warnanya ilang bibir saya jadi agak gelap gitu. Nah si lip coat peach soda ini pas warnanya ilang, warna bibir saya jadi cerah alami gitu. Cuma gatau ya kalau di bibir kalian seperti apa.

Final Thoughts
Pakai lip coat dengan nuansa peachy ini bikin saya jadi berasa keluar dari zona nyaman karena warnanya yang bener-bener baru di dunia per-lipstik-an saya. Pada akhirnya, lip coat ini menggeser beberapa lip cream mauve saya yang selalu saya pake sehari-hari. Bahkan pas ngantor, saya sekarang lebih suka pake lip coat peach soda ini. Yang ngeh saya ganti warna lipstick bilang kalau pake warna peach ini bikin penampilan saya jadi lebih seger. Uh yeah! Cuma kayaknya nggak begitu kelihatan deh warnanya kalau dipakai oncam. Jadi kaya nggak pakai lipstik, tapi bibirnya tetep berwarna (alami) gitu. Eh. Ya gitu deh pokoknya. Hehe.
Sudah lebih dari sebulan saya pakai lip coat peach soda ini dan bikin saya jadi tergoda buat koleksi lip coat lainnya dari BLP ini. Apa coba lip stain-nya aja? Atau coba produk lainnya juga? Hahaha. 
Nah buat kalian yang juga pengen coba si peach soda ini, bisa beli di Sociolla atau datang langsung ke Beauty Space by Lizzie Parra di Lotte Shopping Avenue, Kuningan, Jakarta. Harganya Rp 129.000,- , masih ramah lah di kantong hihi.
Selamat mencoba ya!

XOXO!
Za


[REVIEW BUKU] : RADEN MANDASIA SI PENCURI DAGING SAPI - YUSI AVIANTO PAREANOM



Identitas Buku
Judul : Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi
Penulis : Yusi Avianto Pareanom
Penerbit : Banana
Tahun Terbit : Cetakan Kedua edisi Kedua, Oktober 2017
Jumlah Halaman : 470 halaman

Sinopsis
Sungu Lembu menjalani hidup membawa dendam. Raden Mandasia menjalani hari-hari memikirkan penyelamatan Kerajaan Gilingwesi. Keduanya bertemu di rumah dadu Nyai Manggis di Kelapa. Sungu Lembu mengerti bahwa Raden Mandasia yang memiliki kegemaran ganjil mencuri daging sapi adalah pembuka jalan bagi rencananya. Maka, ia pun menyanggupi ketika Raden Mandasia mengajaknya menempuh perjalanan menuju Kerajaan Gerbang Agung.
Berdua, mereka tergulung dalam pengalaman-pengalaman mendebarkan: bertarung melawan lanun di lautan, ikut menyelamatkan pembawa wahyu, bertemu dengan juru masak menyebalkan dan hartawan dengan selera makan yang menakjubkan, singgah di desa penghasil kain celup yang melarang penyebutan warna, berlomba melawan maut di gurun, mengenakan kulit sida-sida, mencari cara menjumpai Putri Tabassum Sang Permata Gerbang Agung yang konon tak pernah berkaca – cermin-cermin di istananya bakal langsung pecah berkeping-keping karena tak sanggup menahan kecantikannya, dan akhirnya terlibat dalam perang besar yang menghadirkan hujan mayat belasan ribu dari langit.
Meminjam berbagai khazanah cerita dari masa-masa yang berlainan, Yusi Avianto Pareanom menyuguhkan dongeng kontemporer yang memantik tawa, tangis, dan maki-makian Anda dalam waktu berdekatan – mungkin bersamaan.

Setelah membaca...
Sebelumnya, saya mau mengakui satu hal. Membaca dongeng dengan latar belakang sejarah kuno (setting kerajaan-kerajaan) sebenarnya tidak terpikirkan oleh saya. Saya memang suka buku dengan setting sejarah Indonesia, tapi kaya sebatas latar sejarah tahun 1965 atau Orde Baru, seperti koleksi buku saya selama ini. Well, buku Raden Mandasia ini direkomendasikan oleh teman saya, Mas Fahmi, saat saya meminta rekomendasi buku bacaan di Instagram (iya, buku saya sudah habis dibaca huff).
Ada tiga buku yang direkomendasikan oleh teman-teman saya kala itu yang menarik perhatian. Dua diantaranya saya dapatkan di toko buku Gramedia. Nah si Raden Mandasia ini nggak nemu, bahkan pas dicari sama CS Gramed juga nggak ada. Usut punya usut, ternyata ini buku indie, guys! Saya pun akhirnya membeli buku ini di Post (via Instagram). Harganya 85K kalau nggak salah.
Semula saya berpikir bahwa Raden Mandasia lah main character-nya dalam buku ini, tapi ternyata buku ini lebih banyak menggunakan sudut pandang si Sungu Lembu. Semuanya malah. Ya, Sungu Lembu pemeran utamanya. Cerita dibuka dengan pengalaman mereka (Sungu Lembu bersama Raden Mandasia) yang dikejar prajurit setempat setelah mencuri daging sapi. Ini adalah kebiasaan ganjil yang dimiliki oleh Raden Mandasia. Memotong daging sapi hidup-hidup dengan cara yang tak biasa (bukan menyembelih ya), kemudian mengambil bagian lulur atau daging yang tepat berada di kiri-kanan punggung tengah (has dalam, has luar, dan daging yang menempel pada tulang yang berbentuk beliung kecil), menata rapi sisanya, lalu meletakkan sejumlah uang perak ataupun emas layaknya membayar daging.
Beneran unik sih, soalnya Raden Mandasia itu salah satu pangeran di kerajaan Gilingwesi. Ayahnya, Prabu Watugunung, seorang raja yang diyakini memiliki kesaktian dan kekuatan saat berperang. Gilingwesi sendiri menguasai kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya (layaknya menjajah). Nah, Banjaran Waru, tempat tinggal Sungu Lembu, juga (pada akhirnya) dikuasai oleh Gilingwesi (tanpa perang perebutan wilayah). Banyak yang tidak terima, termasuk Sungu Lembu dan beberapa saudaranya. Hingga akhirnya kejadian di rumah Banyak Wetan (paman Sungu Lembu) membuat dirinya membawa dendam terhadap Watugunung. Ia bertekad untuk memenggal kepala si Watugunung.
Perjalanan Sungu Lembu nggak selamanya mulus. Berkelana dari satu tempat ke tempat lain, menyamarkan identitas, sampai akhirnya bertemu Nyai Manggis di Kelapa. Di Rumah Dadu milik Nyai Manggis inilah, Sungu Lembu bertemu Raden Mandasia hingga akhirnya mereka berkelana bersama ke Gerbang Agung demi mewujudkan misi Raden Mandasia yang sebenernya ‘kentang’. Di Kelapa sendiri banyak kejadian dan peperangan (yang mengakibatkan Nyai Manggis meninggal). Tapi pengalaman setelahnya juga nggak kalah bikin deg-deg-an. Ya kurang lebih seperti yang tertulis di sinopsis deh sampai akhirnya ketemu Putri Tabassum juga. Hehe.
"Dunia milik orang yang berani, demikian kata seorang pujangga Atas Angin yang pernah kudengar..." (p. 72)
Alur, penggambaran dan cara bercerita dari Yusi Avianto sendiri smooth banget (biar maju-mundur-maju), jadi mudah dimengerti. Pas baca, di otak tuh semacam langsung kebayang adegan demi adegannya (settingannya di otak saya sih kaya film-film kerajaan di Indosiar haha). Masing-masing bab dan sub bab juga nggak begitu panjang jadi enak bacanya. Mengalir gitu. Hehe.
Jangan bayangkan ini dongeng yang bisa dibacakan ke anak-anak sebagai pengantar tidur, karena sejatinya ini novel ‘dewasa’. Tapi dari segi diksi, karakter tokohnya yang kuat, deskripsinya, humor, dan plot twist-nya, buku ini bikin begadang. Karena mau berhenti baca, tapi penasaran kelanjutannya. Ujungnya tidur jam 2 pagi haha. Banyak kejutan di dalamnya yang bener-bener nggak bisa ditebak. Sesekali bikin ketawa juga kesel.
Yang paling nggak disangka dari membaca buku ini itu adalah... saya nangis. Hahaha. Jadi di satu momen perang besar antara kerajaan Gilingwesi dan Gerbang Agung, Raden Mandasia akhirnya meninggal karena terluka saat bertarung. Emosi Sungu Lembu bener-bener tersampaikan, betapa sedihnya dia ditinggalkan ‘kawan berpetualang’. Padahal semula, dia lumayan sebal dengan Raden Mandasia karena kebiasaannya yang ganjil dan juga dirinya yang merupakan putra Watugunung, dendamnya selama ini. Cara Sungu Lembu me-recall pengalaman dan petualangan mereka bersama itu... sedih.
"Kemenangan terhebat dalam pertempuran justru ketika kita tak perlu lagi mengangkat senjata. Masih ada lagi: tak ada senjata yang lebih tajam ketimbang akal, tak ada perisai yang lebih ampuh ketimbang nyali, dan tak ada siasat yang lebih unggul ketimbang hati." (p. 88)
Seperti yang saya bilang, buku ini suka memberi kejutan yang tak disangka. Dan ini terjadi di bagian akhir cerita. Sungu Lembu yang akhirnya bertemu kembali dengan ‘pengalaman pertama’-nya. Itu nggak terpikirkan oleh saya sih. Saya kira tokoh itu hanya selewat saja haha. Bahkan kalimat terakhirnya bikin penasaran lho sampai saya googling cerita itu haha. Kali aja kan ini cerita asli tapi pake nama-nama kiasan (kaya nama tempat atau kerajaan gitu), tapi yaaa ini hanya dongeng, guys!
Saya sih cukup kaget dengan buku ini. Saya nggak expect apapun pas baca, tapi membacanya sampai selesai bener-bener membuat saya puas (dan ketagihan). Ini buku dengan genre silat-kolosal pertama yang saya baca. Saya sih rekomendasiin ke kalian buku ini. Serius. Ini seru. Baca deh. Kalau dikasih nilai, saya sih kasih nilai 9 dari 10. Yeay!
Anyway, selamat membaca ya!

XOXO!
Za

Wisata Gardu Pandang Sri Gunung Batang


Beberapa hari sebelum saya cuti buat pulang ke rumah, partner travelling saya, Ayu, tetiba mengirim pesan yang dilengkapi foto ber-caption, “nggak pulang, Mbak?”. Foto itu tak lain dan tak bukan adalah tempat wisata yang lagi happening di Batang, Jawa Tengah. Salah satunya adalah wisata gardu pandang Sri Gunung yang terletak di daerah Banyuputih. Hmmm. Sepertinya jauh pemirsa. Tapi tak apa, karena foto yang lainnya saya sudah pernah kesana, kayak Sikembang Langit yang tambah obyek fotonya gitu deh. Plus, saya di rumah cuma 4 hari, jadi ndak bisa menjelajah banyak-banyak karena lebih pengen banyak di rumahnya aja.
Di sela 4 hari itu, akhirnya diputuskan untuk meninjau (ceilee ninjau banget haha) kawasan Sri Gunung pada hari Sabtu (24/3), pas Ayu libur. Tadinya, orangtua saya juga pengen ikut (pengen liburan sama anaknya huhu), hanya saja batal karena ada kewajiban lain. Huff.

How to go there...
Memang kawasan wisata ini kayaknya lagi ramai jadi perbincangan netizen di Batang, karena hampir semua akun wisata Batang posting-nya foto-foto wisata di Sri Gunung. Yahaha makin penasaran dong ya. Di bayangan saya dari cerita Abah (re: bapak saya), lokasinya ini jauuuuuh banget. Dan ternyata setelah dijalani. Memang jauh, guys!
Saya dan Ayu berangkat dari rumah sekitar jam 8.30-an gitu, naik motor biasa. Dengan kecepatan rata-rata 50-60 km/jam, kami sampai lokasi itu sekitar jam 9.40 WIB (patokannya kami berangkat dari Alun-Alun Batang aja itung waktunya haha). Tapi itu diselingi macet sedikit karena ada muatan truk yang jatuh dan juga isi bensin. Saya pribadi memang agak ngeri-ngeri sedap sih kalau mau ngebut, soalnya banyak truk atau bus-bus besar yang melintas juga di jalan utama. Iya, ini di jalur Pantura. Yang buat mudik itu. Haha.
Kalau masih kecil kecil gini pohonnya, pertanda sudah masuk Desa Kedawung nih
Kalau kalian pernah baca cerita saya tentang wisata Jembatan Buntu Sengon di Subah, nah itu masih lanjut lagi ke timur. Atau lebih gampangnya, jalur Pantura arah ke Semarang deh. Patokannya Terminal Banyuputih (di sebelah kanan jalan kalo dari arah Barat ya) sama Pos Polisi 03 Polres Batang (di kiri jalan). Nah nggak jauh dari situ, setelah lewat jembatan, ada sebuah jalan ke kiri yang ada petunjuk jalan ke Sri Gunung gitu. Masuk ke dalemnya kurang lebih 1,5 km. Kanan kiri isinya pepohonan jadi berasa naik motor di tengah hutan gitu sampai ketemu tanda masuk Desa Kedawung. Udah sampai? Tentu belum dong haha.
Namanya juga Gardu Pandang, otomatis lokasinya ada di atas bukit. Jadi setelah ketemu tanda masuk desa, ada penunjuk jalan lagi yang mengarahkan kita untuk berbelok ke kanan menaiki bukit. Jalannya lumayan terjal dan curam. Kalau dilihat sih sepertinya hanya muat 1 mobil aja. Beneran kudu hati-hati sih naiknya karena jalannya belum terlalu mulus. Beberapa masih jalur tanah gitu. Butuh konsentrasi yang tinggi!
Kondisi jalanan di bawah nih sebelum menanjak curam
Kondisi jalanan di atas hampir sampai yuhuuu
Kurang lebih 500 meter naik ke atas bukit itu, sampailah kita ketika kita melihat ada tulisan Sri Gunung yang tentu saja jadi objek foto utama pengunjung (seperti di foto pertama saya yang di atas itu) haha.

Tentang Biaya Masuk dan Parkir
Baru lewat 10 menit dari jam setengah 10, tapi parkiran motor sudah cukup ramai saat itu. Ada beberapa mobil juga sudah terparkir di area tersebut. Benar-benar lagi hits ini sih! Kalau menurut pedagang di area itu (tempat saya jajan bakso bakar), wisata Gardu Pandang Sri Gunung ini memang buka dari jam 6 pagi untuk hari biasa dan dari subuh kalau weekend. Katanya, ngejar sunrise gitu. Hmmm. Kalau tutupnya, biasanya sih Maghrib itu udah mulai sepi. Iya sih, kayanya kalau malem agak agak serem gimana gitu naik ke atas bukitnya, soalnya minim penerangan.
Untuk parkir dan biaya masuk sendiri, kami dikenakan Rp 8000,- dengan rincian Rp 2000,- untuk parkir motor dan Rp 3000,- untuk biaya masuk seorang (karena kami berdua jadi kena Rp 6000 gitu lho hihi). Yaaa masih terhitung murah lah ya.

Ada Apa Aja sih di Sri Gunung?
Ada banyak bunga. Hahaha. Dari awal masuk, memang kita sudah disambut hamparan bunga jengger ayam lilin atau nama latinnya Celosia argentea berwarna merah dan kuning. Ada bunga matahari juga sih, tapi nggak sebanyak jengger ayam lilin ini.
Masih di area pintu masuk, ada semacam papan penunjuk gitu tentang apa saja yang ada di kawasan ini. Seperti, ada gardu pandang (iya dong kan namanya Wisata Gardu Pandang Sri Gunung), jembatan cinta, taman lope-lope dan area madiyang (kayaknya sih plesetan untuk area makan gitu). Untuk menjangkau ke area-area tersebut (kecuali area makan ya), kita sudah disambut tangga-tangga yang menanti untuk kita tapaki.
Soal pemandangan, beuh jangan ditanya. Selain bisa berfoto dengan bunga-bunga yang ada di sini (tentu jangan diinjak apalagi dirusak ya), kita juga bisa berfoto dengan pemandangan hamparan perbukitan di belakang yang hijau. 
Niatnya pengen bikin foto ala ala Rich Brian di MV Glow like dat. Tapi apa daya bunganya nggak sebanyak itu hihi
Sejauh mata memandang~~~
Foto dengan background ini butuh effort, eh lebih tepatnya kesabaran karena fotonya diambil di Jembatan Cinta dan objek foto yang ini favorit banget sehingga antreannya lumayan panjang (buat gantian). Gimanapun juga demi keselamatan, jembatan ini maksimal bisa dinaiki hanya 20 orang. Ya intinya, kalau sudah terlihat penuh disitu, jangan dipaksain naik cuma demi foto yang indah ya! Utamakan keselamatan~
Supaya tidak tertiup angin kencang haha
Maka inilah yang dinamakan jembatan cinta, guys 
Butuh properti buat foto di jembatan? Tenang semua ada haha
Soal fasilitas, ada banyak saung-saung gitu untuk kita istirahat misal kalau capek. Tapi, dengan jumlah pengunjung yang cukup banyak begini, ya jangan berharap banyak aja bisa dapet salah satu saungnya buat leyeh leyeh.
Nah ini taman lope lope nya nih haha
Jangan sedih, karena masih ada bangku bangku juga sih kalau ndak dapet saung.  Terus ada juga flying fox di area ini. Sayangnya, pas saya kesana, ndak operasi gitu flying fox-nya karena nggak ada yang jaga haha.
Tempat sampah dan pemberitahuan untuk tidak membuang sampah sembarangan dan merusak tanaman juga sudah cukup tersedia di area ini. Udah gitu, ndak perlu repot mikirin mau sholat dimana karena tersedia mushola juga di area ini. Mau ke toilet? Ada juga dong. Jadi lumayan lengkap sih.
Nah kalau udah banyak energi yang terbuang karena naikin tangga-tangga (lebay haha) dan foto-foto, kita bisa mampir ke warung-warung yang tersedia disini. Mulai dari cemilan macem ciki-cikian, makan berat sampai minuman es juga ada dong. Ndak perlu khawatir kelaperan pokoknya sih hihi.
Kalau laper makan ya, jangan tawa tawa aja haha

Pesan dan Kesan...
BAGUS. Tapi beberapa ndak sebagus di foto sih haha. Gimana angle fotonya aja ternyata. Saya quote kalimat ini dari pedagang bakso bakar tempat saya jajan. Katanya, “ini karena masih rame aja neng di Instagram, orang pada update disini. Padahal tempatnya ya cuma segini,”.
Iya sih memang cuma segitu dan obyek fotonya juga itu itu aja, tapi menurut saya lumayan lah untuk refreshing sekali-kali pas lagi di rumah. Mata bisa dimanjain dengan pemandangan yang berwarna-warni, dikelilingi nuansa alam, dan kalau jeli kita bisa liat Laut Jawa lho dari tempat ini! Maklum, selama ini sering liatnya gedung-gedungan mulu. Beneran lumayan lah buat ngisi feed Instagram dan isi materi di blog juga haha.
Itu yang saya tunjuk Laut Jawa. Keliatan ndak?
Soal pengelolaan, kemarin saya nggak ketemu sama pengelolanya. Kalau di papan sih kawasan ini milik PTPN IX Divisi Tanaman Tahunan Kebun Siluwok. Mungkin ada kerjasama juga dengan warga sekitar kali ya, jadi kan bisa membantu perekonomian warga juga hihi. Opini saya lho ini karena saya ndak dapet soundbite dari pengelola hehe.
Saya pribadi sih rekomendasiin ke kalian untuk datang ke tempat ini. Lumayan lah jadi kalau pas lagi mampir ke Batang, nggak cuma mainnya di Pantai Ujung Negoro atau Kebun Teh Pagilaran aja. Tapi saya saranin datengnya pagian aja biar nggak panas-panas banget atau malah bisa jadi ujan pas udah sorean. Yuk mampir!
Anyway, sampai jumpa di jalan-jalan berikutnya ya!

XOXO!
Za

PS.
Foto saya ambil menggunakan kamera Sony A6000. Kalau ada foto saya yang ‘nyangklong’ kamera, itu saya difoto Ayu pake Canon M10. Kemajuan ya kita jalan-jalannya bawa mirrorless haha. Dan semua foto disini ndak saya pake-in filter ya biar liat warna aslinya juga yeay!


THANK YOU, THE WORLD OF GHIBLI JAKARTA


Demi apapun, satu tahun itu ternyata cepat sekali berlalunya ya! Perasaan baru kemarin Studio Ghibli dan Kaninga Pictures, Marubeni Indonesia, dan Hakuhodo DY Media Partners mengumumkan rangkaian acara bertajuk ‘TheWorld of Ghibli Jakarta’. Baru kemarin juga nonton Spirited Away, film pertama Ghibli dalam rangkaian ini yang diputar di bioskop, yang biasanya hanya ditonton di laptop. Terus sekarang, di bulan Maret ini, resmi udahan dong rangkaian acaranya :(

Akhirnya Nonton Ghibli di Bioskop!
April 2017 menjadi bulan yang paling menyenangkan bagi penggemar film-film Studio Ghibli. Karena apa? Karena akhirnya kita bisa nonton film mereka di bioskop dengan layar yang lebih lebar dan suara yang mumpuni dibandingkan kebiasaan kita yang nontonnya semula di laptop aja. Film pertama yang diputar adalah Spirited Away di berbagai daerah.


Kemudian berlanjut dengan film favorit saya, My Neighbor Totoro di bulan Mei yang diputar di XXI dan CGV! Ah demi apapun, meski sudah berkali-kali nonton ini, tapi menonton di bioskop menjadi satu hal yang nggak mungkin saya lewatkan. Dan rasa harunya lebih berasa. Oh ya, masing-masing film ini durasi tayangnya di bioskop sekitar satu minggu di awal bulan. Jadi dari jauh-jauh hari memang sudah diatur pokoknya di awal bulan ini harus menyempatkan diri demi Ghibli.

Bos besar kembali mengenang masa kejayaannya di layar lebar tahun 1988. Dan tepat bos besar pindah ke Jakarta tepat banget @theworldofghiblijkt lagi ngadain banyak event Ghibli, mulai dari screening film sampai Agustus nanti ada exhibition juga. Bos besar merasa ga sabar bertemu rekan rekan sejawatnya di Studio Ghibli 💃💃💃 . . PS. Tinggal 4 hari lagi lho Totoro tayang di bioskop Indonesia. Cek jadwalnya di worldofghibli.id atau di cgv blitz. Kamu juga bisa beli tiket exhibition-nya juga kalo buka via PC. Ah ga sabar. Makasih banyak @theworldofghiblijkt aku padamu ❤❤❤ . . #Nontontotoro #totoro #tonarinototoro #ghibliaddicted #GhibliJKT #ghiblinesia #studioghibli #totoroishere #totoro_society #Japan #toyphotography #toyphotogram #totoromerchandise #ceritazakia #blogger #lifestyleblogger
Sebuah kiriman dibagikan oleh Nova Zakiya (@novazakiya) pada
Ada juga film film lainnya yang diputar di bulan berikutnya seperti Ponyo, Princess Mononoke, Nausicaä, Castle in the Sky, Porco Rosso, Pompoko, Howl’s Moving Castle, Only Yesterday, Whisper of the Heart, Kiki’s Delivery Service, From Up on Poppy Hill, Arriety, dan When Marnie was There yang ditayangkan setiap bulannya. Sayangnya, mungkin karena peminatnya kurang (pernah lho pas nonton berasa sepi banget huff) atau banyaknya gempuran film lain yang banyak saat itu membuat film-film Ghibli ini agak tergeser. Seperti dari yang semula durasi penayangannya satu minggu penuh, menjadi paling banyak 3 hari di akhir pekan. Terus juga semula ada di bioskop XXI dan Cinemaxx, terus akhirnya hanya di CGV. Untung tempat tinggal saya dekat dengan CGV Grand Indonesia jadi gampang lah ya.
Oh ya, judul-judul tersebut tidak termasuk dengan film-film lain yang diputar sepanjang pameran Ghibli berlangsung di bulan Agustus-September. Jadi pas bulan tersebut, kita penggemar Ghibli benar-benar dimanjakan dengan pemutaran film Ghibli setiap harinya. Seneng nggak sih? Terus di bulan terakhir ini, ada 5 film Ghibli yang ditayangin berturut-turut dari Senin sampai Jumat minggu terakhir Maret ini. Yihaaa!

Tak hanya pemutaran film sebenarnya, tapi Ghibli Jakarta ini juga mengadakan lomba mewarnai bagi anak-anak dan juga audisi musik soundtrack film Ghibli. Duuuuh gemas!

Merinding di Ghibli Exhibition!
Event ini yang menurut saya menjadi gong rangkaian Ghibli di Jakarta. Jadi dari jauh-jauh hari semenjak mereka mengumumkan akan membuat rangkaian acara bagi penggemar Ghibli di Indonesia, mereka sudah bilang akan menghadirkan pameran dengan nuansa mirip dengan museum Ghibli di Mitaka, Jepang. Kebayang nggak gimana nggak sabarnya menunggu bulan Agustus itu datang?
Ada Totoro terbang! Jadi pengen nemplok haha
Pamerannya digelar di Ritz Carlton Pacific Place Jakarta. Tiket sendiri sudah mulai dijual sejak Mei 2017 kalau saya tidak salah ingat. Harganya sih lumayan pricey, tapi buat saya itu kebayar sih dengan instalasi di dalam pamerannya yang... WOW! Untuk dewasa, HTM nya seharga Rp 300K di weekday dan 350K di weekend. Sementara untuk pelajar harganya Rp 250K.
logo Ghibli Jakarta nih hihi
Jauh jauh hari saya sengaja booking di tanggal 28 Agustus 2017 alias hari Senin, karena pasti lebih sepi ketimbang weekend, ya kan? Hahaha. Saya kesana bersama Inang, teman saya sesama penyuka Ghibli yang juga baru ketemu di event yang diadakan oleh Project Ghibli Jakarta, bulan Juni 2017.
Ternyata, pas kami datang kesana, belum semua instalasi pameran selesai alias belum 100%. Di awal pembukaan pameran, kurang lebih semingguan gitu memang sudah di-announce bahwa instalasinya belum selesai. Ya memang saya akui pasti tidak mudah sih membuatnya, apalagi mereka mendapat bimbingan langsung dari Studio Ghibli Jepangnya lho! Yang jelas, karena belum 100% itulah, kami mendapat kesempatan untuk datang sekali lagi ke pameran setelah semua instalasinya selesai! Yihaaa!
Di pameran itu sendiri terdiri dari 3 area. Area pertama setelah pintu masuk berisi sejarah Ghibli beserta orang-orang di belakangnya seperti Hayao Miyazaki, Toshio Suzuki dan Isao Takahata. Kemudian ada juga semua poster film Ghibli dari awal sampai akhir, dari film Nausicaä yang rilis tahun 1984 sampai film La Tortue Rouge tahun 2016. Terus ada lagi gambar ruang kerja di Studio Ghibli Jepang, beserta sketsa sketsa pensil film-film Ghibli yang langsung didatangkan dari Jepang! Tapi yang perlu diingat, di area ini, pengunjung tidak boleh memotret ya.
Lanjut ke area kedua itu adalah area trailer room. Jadi disini disediakan layar lebar dan penonton bisa ‘ngemper’ di bawah buat menikmati semua trailer ke-22 filmnya! Peraturannya masih sama ya, pengunjung tidak boleh merekam atau memotret.
Pemandangan pertama di area boleh foto. CASTLE IN THE SKY!
Kami baru diperbolehkan memotret ketika sampai di area ketiga yaitu pameran 3D-nya. Boleh bilang saya lebay, tapi begitu masuk bawaannya pengen nangis (sebenarnya dari awal baca sejarah dan profil di area pertama juga udah mau nangis sih haha). Merinding banget karena semua instalasinya serupa banget dengan apa yang di film. Detailnya jangan ditanya, detail banget. Aduh pengen nangis beneran sih. Beberapa barang juga langsung didatangkan dari Jepang seperti ornamen dan buku buku di rumah Kusakabe (film My Neighbor Totoro). Bahkan ya, di instalasi Kiki’s Delivery Service, roti-rotinya sama persis. Ah, sepertinya saya ndak usah banyak nulis ya, kalian bisa liat sendiri di foto-foto ini! Hihi.
Semacam kuburan robot robot di Laputa (CASTLE IN THE SKY)
Sayang  nih robotnya belum ada bunganya kaya di film CASTLE IN THE SKY hihi
Masih dari CASTLE IN THE SKY guys!
Jembatan tempat Chihiro ketemu Kaonashi di film SPIRITED AWAY! Oh ya setelah saya datang yang kedua, jembatan ini sudah tidak boleh diinjak oleh pengunjung hehe
Rumah pemandian Yubaba di film SPIRITED AWAY ini detail banget! 
Ini bagian belakangnya! Keren ya?
Bahkan sampai setting kotanya aja mirip. Plus banyak makanan juga di etalasenya, tempat orangtuanya Chihiro jadi babi
Menuju rumah Marnie! (dari film WHEN MARNIE WAS THERE)
Beli roti dulu sekalian dianterin sama KIKI'S DELIVERY SERVICE~
Kiki dan Jiji menjaga toko~
Mampir di rumah Kusakabe sebelum ketemu Totoro
Lorong tempat Satsuki sama Mei lari-larian nyari tangga. Tuh, detail mainan dan alat alat di rumahnya aja sama banget kaya di film
Ruang tengah Rumah Kusakabe. Udah cocok tinggal di Jepang belum? Hihi
Style Inang ala ala Mei di film Totoro, da saya cuma pake kimono ala ala aja hehe
Pas nonton filmnya, selalu ngebayangin betapa fluffy-nya Nekobasu ini. Dan di pameran ini, beneran fluffy dong! Pengen dibawa pulang :))
CINTAKU TOTORO!
Dari film PORCO ROSSO~
Pada kedatangan saya yang kedua, saya ndak mau rugi dengan meminjam kamera mirrorless punya Yana (saya belum punya waktu itu hehe). Biar foto-fotonya lebih kece!
Karena instalasi sudah 100%, pengunjung bisa menukar tiketnya dengan wristband ini
Ini keren banget sih. Baling-balingnya muter gitu. Pas pertama dateng belum selesai sepertinya. (CASTLE IN THE SKY)
Robot di Laputa yang udah nonaktif (CASTLE IN THE SKY)
Dari film SPIRITED AWAY. Tebak ini lampu dimana?
Pose sebelum masuk terowongan di SPIRITED AWAY 
Ketemu Dewa Rusa yeay! (PRINCESS MONONOKE)
Ketemu Kodama juga. Sayang kepalanya ngga gerak hihi (PRINCESS MONONOKE)
Pose bareng topengnya San (PRINCESS MONONOKE)
Terbang dulu guys pinjem sapunya Kiki hehe (KIKI'S DELIVERY SERVICE)
Lukisan di rumah Kusakabe (MY NEIGHBOR TOTORO)
Properti termasuk buku bukunya ini didatangkan langsung dari Jepang lho! Makanya ruangan ini nggak boleh dimasuki dan disentuh ornamennya (MY NEIGHBOR TOTORO)
Dari depan rumahnya Kusakabe (MY NEIGHBOR TOTORO)
Ada yang ngumpet! (MY NEIGHBOR TOTORO)
BERSANDAR~
Bawa daku ke Jepang~
Bersama rekan sejawat di dalam Nekobasu~
Kalau matanya merah berarti Ohm sedang marah! Ini gerak lho pas pameran~ (NAUSICAA)
Mau ikut Howl's berkelana? (HOWL'S MOVING CASTLE)
Sebelum ke pintu keluar, keliling sekali lagi di pameran, dan jodoh ketemu sama Kaonashi! Langsung ajak foto sebelum akhirnya dibikin antrean buat foto bareng sama doi hehe (SPIRITED AWAY)

Maka di Akhir Kata...
Saya sih senang banget, Ghibli bisa mampir ke Jakarta. Secara saya belum punya kesempatan untuk ke Jepang langsung (terutama ke Museum Ghibli-nya), rangkaian acara ini seenggaknya bisa mengobati kerinduan saya akan momen-momen di film Ghibli. Apalagi sama Totoro yang real size dan peluk-able itu. Ya Allah seneeeeeng banget!
Pelukan terakhir tahun ini :((
Sebenarnya nggak rela rangkaian ini sudah berakhir di bulan ini. Beberapa film juga saya belum sempat nonton di bioskop karena pas jadwal tayang lagi di luar kota. Tapi ya mau gimana lagi, gimana pun juga tim Ghibli Jakarta ini sudah berusaha keras meng-arrange event ini sedemikian menyenangkannya. Ah. Saya speechless karena nggak tau harus ngomong apalagi selain makasih banyak sudah memberikan momen bahagia ini. Semoga di tahun berikutnya ada acara serupa lagi dan juga saya bisa langsung menyambangi museum Ghibli di Jepang haha. Ah ya, sampai jumpa di Jepang juga ya kalau gitu. Hihi.

XOXO!

Za