[REVIEW BUKU] : AMBA - LAKSMI PAMUNTJAK



Identitas Buku
Judul : Amba – Sebuah Novel
Penulis : Laksmi Pamuntjak
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Cetakan ketujuh edisi cover baru, Januari 2018
Jumlah Halaman : 577 halaman

Sinopsis
Tahun 2006: Amba pergi ke Pulau Buru. Ia mencari orang yang dikasihinya, yang memberinya seorang anak di luar nikah. Laki-laki itu Bhisma, dokter lulusan Leipzig, Jerman Timur, yang hilang karena ditangkap pemerintah Orde Baru dan dibuang ke Pulau Buru. Ketika kamp tahanan politik itu dibubarkan dan para tapol dipulangkan, Bhisma tetap tak kembali.
Novel berlatar sejarah ini mengisahkan cinta dan hidup Amba, anak seorang guru di sebuah kota kecil Jawa Tengah. “Aku dibesarkan di Kadipura. Aku tumbuh dalam keluarga pembaca kitab-kitab tua.” Tapi ia meninggalkan kotanya. Di Kediri ia bertemu Bhisma. Percintaan mereka terputus dengan tiba-tiba di sekitar Peristiwa G30S di Yogyakarta. Dalam sebuah serbuan, Bhisma hilang selama-lamanya. Baru di Pulau Buru, Amba tahu kenapa Bhisma tak kembali.

Setelah membaca...
Saya membeli novel ini atas rekomendasi seorang teman ketika saya merasa kehabisan bahan bacaan. Teman yang tahu selera bacaan saya, yang seringnya berlatar belakang peristiwa sejarah itu langsung memberitahu buku Amba karya Laksmi Pamuntjak ini. Alhasil begitu menemukannya di salah satu rak Fiksi di Gramedia Grand Indonesia (favorit saya), saya baca dulu sinopsisnya dan oke, langsung saya bawa ke kasir.
Novel ini memiliki alur yang maju mundur. Berputar di kejadian tahun 1956 – 1965 hingga 2006. Masa lalu dan saat ini dengan tokoh utama perempuan bernama Amba. Diawali dengan sepenggal kisah pencarian Amba terhadap kekasihnya Bhisma di Pulau Buru yang ternyata ia dapati dalam keadaan sudah meninggal dan juga sedikit perkenalan dengan pemuda Ambon bernama Samuel Lawerissa.
Amba sendiri dibesarkan dalam keluarga Jawa yang penuh kasih sayang, kesetiaan, sopan santun dan pengorbanan. Bapaknya penyuka kitab-kitab Jawa lama seperti Wedhatama dan Serat Centhini. Nama Amba dan kedua adik kembarnya, Ambika dan Ambalika, juga diambil dari kisah-kisah pewayangan Mahabharata. Sesungguhnya Amba dalam Cerita Besar itu adalah seorang perempuan yang tersia-sia dan mendendam, tapi ayahnya memiliki alasan lain, bahwa Amba-lah yang kemudian membawa akhir Perang Bharatayudha. Kejayaan Amba akan terbukti kemudian.
“Seorang perempuan seharusnya tak menerima begitu saja tafsir umum atas namanya. Kamu jangan sampai terjerat oleh apa yang dibayangkan orang. kamu harus bisa mengatasinya dan memberi makna sendiri kepada namamu.” – Sudarminto, Bapak Amba (p.107)
Kehadiran tokoh Salwa (Salwani Munir) dan Bhisma (Bhisma Rashad) dalam hidup Amba pun tak ubahnya seperti cerita di kitab Mahabharata tersebut. Kedua orangtua Amba yang bertemu dengan Salwa di UGM membuat mereka langsung tertarik dan menjodohkannya dengan Amba, meski berkali-kali ibu Amba, Nuniek, mengingatkan kepada Amba bahwa ini bukan seperti kisah pewayangan karena keduanya bukan wayang. Amba yang awalnya tidak terlalu memikirkan akhirnya juga tak berkutik ketika bertemu dengan Salwa karena sosok Salwa yang baik, yang ngemong.
Meski pada akhirnya hubungan keduanya tak berjalan mulus seperti yang orangtua Amba harapkan. Amba bertemu dengan Bhisma, seorang dokter di rumah sakit tempat Amba bekerja paruh waktu sebagai penerjemah di Kediri. Disitulah kisah Amba dan Bhisma terjalin dengan begitu… rumit mungkin kata yang paling tepat. Kisah cinta yang bisa dikatakan sebentar karena mereka harus terpisah ketika acara yang mereka datangi ‘digerebek’ oleh tentara karena dianggap berhubungan dengan PKI yang saat itu masih sensitif pasca kejadian G30S.
Pada akhirnya, Amba tidak bersama keduanya, tidak bersama Salwa juga tidak bersama Bhisma. Greget sih tapi ya itu bagian emosinya. Sebenarnya di hampir semua bab muncul emosi yang berbeda-beda sih, mulai dari senang, sedih, jatuh cinta, takut yang tak jarang bikin keluar air mata (saya ya).
“Para resi boleh saja bersikeras bahwa cinta sejati membutuhkan kerendahhatian, tapi ia harus mengakui bahwa pada akhirnya tak ada kebajikan yang bisa didapatkan dari sebuah hubungan ketika satu pihak lebih mencintai pihak lainnya,” (p.353)
Perjalanan mencari Bhisma setelah 41 tahun berselang juga memiliki keseruan tersendiri, bertemu dengan orang-orang yang mengenal Bhisma, bercerita tentang kenangannya bersama Bhisma di Tefaat (Tempat Pemanfaatan), meski klimaksnya bagi saya adalah ketika membaca surat-surat dari Bhisma yang dikubur di bawah pohon Meranti.
Membaca novel ini memberi gambaran seperti apa kehidupan orang-orang dulu, yang pemerintah sebelumnya menyebutnya sebagai tahanan politik atau tapol, di Pulau Buru. Dipaksa bekerja keras, terkadang disiksa, membuka lahan, atau mengerjakan apapun yang diperintahkan oleh tentara seharian. Terbukti komunis atau tidak, tidak ada bedanya. Meski pada akhirnya mereka dibebaskan untuk pulang ke daerahnya masing-masing, namun mereka tetap menyandang istilah ‘eks-tapol’ yang sangat berpengaruh di kehidupan mereka.
Membacanya memberi pengetahuan tersendiri dan baru bagi saya. Sepertinya saya belum punya novel yang setting-nya tapol di Pulau Buru. Inilah mengapa saya lebih suka membaca novel yang berlatar belakang sejarah, khususnya sejarah di Indonesia. Karena pada dasarnya, belajar bisa darimana saja bukan? Hehehe.
Tapi meski terdengar agak berat, bacanya sih nggak terlalu bikin mikir banget kalau buat saya. Kaya dari setiap kalimat, setiap bab, setiap kejadian, mudah aja gitu tergambar di otak, ‘oh begini nih kejadiannya’. Kita benar-benar bebas berimajinasi dengan membacanya, bagaimana suasana mencekam dianggap komunis, bagaimana hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian, dan berbagai kejadian lainnya.
Bab yang menandakan hilangnya Bhisma. Tidak ada cerita karena Bhisma hilang tanpa ada kabar
Sedikit saya kutipkan beberapa kutipan kalimat yang menurut saya menarik dari buku ini,
Aneh, memang : selalu ada yang membuat terlena dan tak berdaya pada hujan, pada rintik dan aromanya, pada bunyi dan melankolinya, pada caranya yang pelan sekaligus brutal (p.27)
Tidak, kau jangan mau jadi bulan-bulanan sistem yang korup ini, kau harus melakukan segalanya tanpa bantuan polisi, dan percaya pada instingmu sendiri (p.45)
Orang yang cemburu adalah orang yang nggak pede (p.76)
Jangan minta maaf. Nggak ada yang lebih menyedihkan di dunia ini daripada permintaan maaf yang nggak pada tempatnya (p.82)
Di satu sisi kecantikan adalah anugerah, ia pemberi hidup, menyanjung. Di sisi lain ia pembawa mala, terkutuk, menakutkan (p.86)
Orang bisa berbeda pendapat tapi siapapun butuh teman (p.88)
Perkawinan tak banyak bedanya dengan politik. Lewat ibu ia belajar: perkawinan adalah tahu bagaimana membaca perubahan, tahu kapan menyerang kapan mundur, kapan memulai kapan berhenti, kapan berbicara kapan mendengar (p.110)
Politik memang bukan tentang apa yang benar. Politik adalah bagaimana kita bisa salah dengan benar (p.111)
Perjalanan : melatih diri untuk tetap menjaga jarak seraya berbagi begitu banyak (p.181)
Meskipun suara kecil di telinganya terngiang-ngiang, hati-hati, jangan serahkan hidupmu pada orang-orang yang tak kau kenal, apalagi yang mengaku jatuh cinta padamu (p.276)

Saya sih suka dan merekomendasikan buku ini bagi kalian yang memang suka novel fiksi yang lebih kompleks dengan latar belakang sejarah. Bagi saya, nilainya 9 dari 10. Cus mampir ke toko buku! Selamat membaca ya! Hihihi

XOXO!
Za

TANGKAL BAHAYA POLUSI DENGAN NATSBEE HONEY LEMON BIAR #ASIKTANPATOXIC


Jakarta lagi rame-ramenya nih karena ada event Asian Games 2018. Puluhan hingga ratusan perwakilan dari 45 negara hadir ke Indonesia untuk mengejar gelar juara dari 40 cabang olahraga yang dipertandingkan di Asian Games 2018. Tambah macet? Pemerintah dalam hal ini pihak kepolisian lalu lintas, Dinas Perhubungan dan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) melakukan perluasan ganjil genap sih untuk mengantisipasi terjadinya kepadatan itu. Data dari BPTJ sih menyebut bahwa kecepatan rata-rata kendaraan yang melintas di titik-titik yang diberlakukan ganjil genap meningkat sebesar 44.08% dan emisi CO2 menurun 20.30%. Menurun bukan berarti sama sekali nggak ada lho ya, karena namanya polusi masih ada aja di Jakarta apalagi di jam jam sibuk haha.
Oke tapi saya nggak mau bahas soal itu. Ini hanya semacam pembukaan. Tapi yang akan saya bahas adalah nggak cuma pemerintah aja lho yang sibuk sana sini mempersiapkan dan menyukseskan Asian Games 2018, tetapi juga para pekerja media. Dari zaman persiapan sampai ini bentaran lagi udah mau abis, sibuknya super. Berhubung saya nggak meliput Asian Games 2018 (karena sudah resign hehe), jadi saya ceritakan persiapannya aja ya dan menangkal debu debu polusi yang nakal selama beraktivitas!

Sibuknya Wartawan dari Kapan?
Beh. Dari tuh venue masih direnovasi sampai udah bisa dipake, sampe acara kelar dan seterusnya. Kenapa? Karena kita mewakili mata pemirsa, masyarakat sebangsa dan setanah air, untuk mengabarkan sejauh mana persiapan Indonesia menjadi tuan rumah gelaran pesta olahraga terbesar se-Asia ini. Tentunya, nggak pengen malu-maluin dong ya!
bayangkan dari lantai 6 kita lari turun tangga bawa tripod demi kalian pemirsa. huff
Berhubung waktu itu saya wartawan RI2 alias gabung di tim medianya Wapres Jusuf Kalla (perwakilan dari kantor ya), jadi saya sempat ikut beliau waktu meninjau venue sebelum acara dimulai. Pagi-pagi kita sudah lari-larian turun tangga bawa tripod dari lantai 6 sampai lantai dasar di Wisma Atlet Kemayoran (soalnya kalau nungguin lift lama dan Pak JK sudah turun ke bawah). Satu per satu, Pak JK bareng sama Gubernur DKI Anies Baswedan dan perwakilan menteri juga ketua Inasgoc, melihat tempat-tempat yang nantinya akan digunakan oleh atlet negara lain, mulai dari kamar, taman, dining room, dan lain-lain. Belum selesai sampai situ, Pak JK juga sempat makan pisang di samping kali Sentiong (yang banyak orang kenal kali item) untuk membuktikan disitu tidak bau.
Mampir di Stadion Atletik yang udah bagus terus ketemu Zohri
Selesai dari situ, kita langsung menuju Gelora Bung Karno untuk meninjau stadion atletik dan akuatik. Udah jangan ditanya, panas debu keringat sungguh mensponsori liputan hari itu. Mungkin karena judulnya liputan persiapan acara olahraga terus wartawannya juga kudu olahraga kali ya hahaha.
Mejeng dulu di trotoar baru daerah Sudirman
Perbaikan sih nggak cuma diterapkan di venue-venue pertandingan aja, tetapi juga infrastruktur kota seperti trotoar. Suka perhatiin nggak sekarang trotoar di sepanjang Jalan Sudirman sampai MH Thamrin itu bagus banget dan lebih lebar? Bisa dibilang space untuk pejalan kaki 2 kali lipat ukuran semula. Udah gitu ditambah tanaman jadi ada buat mengurangi polusi udara. Ingat, mengurangi ya bukan menghilangkan sama sekali. Apalagi kalau liputan disini jam-jam berangkat kantor kan ya banyak kendaraan lewat kita macem sarapan asap kendaraan haha.

Udah Resign dari Wartawan, Enak Dong Nggak Kena Polusi
Mohon maap nih, dikata kita resign terus cuma ‘ngedekem’ dalem rumah apa begimane nih? Memang nggak sepadat dulu sih kegiatannya, karena masih rehat sebentar sambil ngurus WO dulu jadi ya seputar ketemu klien aja biasanya. Atau memanfaatkan waktu sebelum kerja (tetap) beneran lagi dengan me time ke toko buku lah, salon atau pulang ke rumah kumpul keluarga. Pokoknya bener-bener dimanfaatkan waktunya dengan baik. Atau karena masih dalam proses pencarian jati diri gitu (sok muda ya), jadi suka dateng ke kajian ba’da Isya hari Rabu di Masjid Universitas Al Azhar Indonesia.
Padat kendaraan di pagi hari yang terulang di sore hari juga
Kena polusi apa nggak? So pasti gengs! Hampir sebagian besar kegiatan saya lakukan di jam-jam sore menjelang jam pulang kerja, atau bahkan abis Maghrib sekalian. Itu polusi lagi numpuk-numpuknya, nggak ada beda sama saya dulu liputan pagi haha. Ini aja ya, bikin tulisan ini, baru aja pulang menembus kemacetan Jalan Sudirman ke Al Azhar (dan sebaliknya dong! Padahal udah malem) karena ya masih ada euforia Asian Games 2018 di GBK. Banyak bener yang nonton dah, bagus masyarakat kita turut mendukung! Tapi jadinya perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh 20 menitan, bisa hampir 45 menitan pemirsa! Tak terkecuali bus Transjakarta yang juga kena imbas antara halte GBK ke halte Bundaran Senayan. Oke bhaique!

Emang Bahayanya Polusi Apaan?
Suka pada ngerasa sesak atau pusing kalau lama-lama di jalan ngirup asap kendaraan gitu nggak sih? Kalau saya sih iya. Kelamaan dikit bawaannya pusing, apalagi kalau lagi pakai helm langsung kepala berasa nyut nyut aja. Hal ini karena pada udara yang sudah terkena polusi terdapat banyak sekali senyawa, unsur ataupun partikel berbahaya bagi makhluk hidup, seperti Partikulat Matter (PM10 dan PM2,5) yang gampang banget menembus darah dan alveoli (bagian terkecil paru-paru). Belum lagi natrium dioksida, ozon, karbon monoksida yang pasti berimbas negatif ke sistem pernapasan kita. Bahkan bisa juga lho meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular atau gangguan jantung dan pembuluh darah kayak tekanan darah tinggi, stroke, diabetes, dll. Serem ya.

Ya Tapi kan Namanya Polusi Nggak Bisa Dihindari. Kita kan Butuh Beraktivitas di Luar
Ya ya memang, saya juga nggak bisa menghindari takdir ini kok. Selama masih tinggal di perkotaan, ya ini bakal tetap jadi salah satu masalah kita bersama (ya dong bersama masa sendiri hehe). Tapi ada pepatah bilang, “MENCEGAH LEBIH BAIK DARI MENGOBATI”. Caranya?
Gambaran kehidupan yang tak bisa dihindari. tsaaah!
Pertama, kita bisa menggunakan masker kalau bepergian. Kedua, banyak minum air putih. Ketiga, konsumsi madu lemon. Ini sih yang biasa saya lakukan ya. Karena bagaimana pun toxic-toxic ini harus kita lawan  demi hidup sehat. Abis kalau kita aja gaya hidupnya tidak sehat, berujung stress, terus makin ngendep dah tuh toxic dalam tubuh kita (ditambah terpapar polusi setiap hari lagi! HAH!).
Masker? Oke mudah. Air putih? Tiap hari suka bawa tumbler. Madu? Hmm agak ribet sih kalau buat saya, karena kalau saya minum madu itu biasanya saya bikin minuman sendiri pakai lemon gitu. Soalnya ini bagus lho buat kekebalan tubuh, menghilangkan racun tubuh atau si toxic tadi, dan bonus satu lagi, baik buat kulit juga buat diet. Tapi. Ya. Kadang males aja bikinnya. Hahaha.
Natsbee Honey Lemon temani aktivitas liputan saya dulu yihaaa
Makanya pas Pokka ngeluarin produk minumannya, Natsbee Honey Lemon alias si minuman madu lemon ini seakan menjadi jawaban atas segala kemageran saya meracik minuman madu lemon setiap hari. Kan kalau tinggal minum gini praktis banget, orang rasanya juga mirip-mirip sama yang saya racik. Manisnya pas, madunya berasa, asem lemonnya juga berasa. Seger deh, apalagi kalau udah didiemin di kulkas seharian terus diminum pas siang hari lagi terik. MasyaAllah nikmat mana yang mau kalian dustakan, gengs?
Enak diminum selagi dingin di siang terik. Beh mantap betul!
Menyenangkannya, harganya terjangkau! Sebotol isi 450 ml ini dihargai sekitar Rp 6.500,-. Enak nih buat stok di kosan. Haha. Terus ya, di angka kecukupan gizinya, tertulis Vitamin C nya 100%, lemak totalnya 0%. Suka girang nggak sih kalau liat informasi nilai gizi gini di bagian lemaknya 0% tuh? Kalau saya sih girang banget haha. Biar empunya ini, si Pokka asalnya dari Jepang, tapi nggak usah khawatir lho. karena Natsbee Honey Lemon ini udah terdaftar di BPOM dan udah dapet sertifikat halal dari MUI. Kalian bisa cek deh di website-nya MUI hehe.

Rekomendasiku bulan ini, Natsbee Honey Lemon yuhuuu
Jadi saya sih yes, alias merekomendasikan minuman madu lemon ini ke kalian semua. Beberapa temen sekantor saya dulu pas masih liputan bareng, saya bagi juga dan enak mereka bilang. Jadi nggak cuma pendapat saya aja dong ya hehehe.

Tuppy sama Blobby aja minum Natsbee Honey Lemon lho hahayy
Jadi (lagi), udah siap bersihkan hari aktifmu, #AsikTanpaToxic dengan Natsbee Honey Lemon yang kandungan Vitamin C-nya nggak main-main? Selamat mencoba ya!

XOXO!
Za

[FASHION] : LAYAKNYA CINDERELLA MENCARI FLAT SHOES TERBARU DI MATAHARIMALL.COM

Fashion itu layaknya roda yang berputar. Itu kalimat yang pernah saya ungkapkan saat bercerita tentang tren celana kulot yang kembali diminati akhir-akhir ini. Saya termasuk salah satu penganutnya. Bahkan celana kulot milik mama saya aja, saya minta karena sudah tidak terpakai lagi oleh beliau. Dengan warna yang cenderung netral, abu muda dan krem, celana kulot turunan mama saya ini memang gampang banget buat di-mix and match sama blouse atau kemeja warna apapun. Tapi ada satu titik bosan saya mix and match baju ini, yaitu agak bosen sih sama sepatu yang itu-itu aja. Dan baru sadar, kalau saya sama sekali nggak punya koleksi flat shoes di rak sepatu saya. OMG!

Sneakers? BANYAK. Flat Shoes? NIHIL.
Sejatinya, tuntutan profesi yang menuntun saya untuk selalu mengoleksi sneakers. Berhubung saat itu, saya lebih sering kerja di lapangan, memang lebih aman dan nyaman untuk pakai sneakers. Saya punya cerita mengapa saya jarang punya koleksi flat shoes.
Waktu itu saya liputan di KPK. Kalau tidak salah pas lagi ramai-ramainya drama Setya Novanto yang pura-pura sakit tapi ketauan gitu. FYI, liputan di KPK itu harus tahan banting baik jiwa maupun raga, karena nggak pernah kejadian yang namanya doorstop itu rapi di tempat ini. Kenapa? Kebanyakan para pemakai rompi orange ini menghindar dari media, alias nggak mau komentar apapun, tapi para awak media ini tetap harus dapet statement dari dia (kadang cuma dari bahasa tubuh mereka aja sih kalau saking bungkamnya).
Lagi rame-ramenya mau live report soal 'papa'
Nah, lagi cegat mau doorstop nih, doi ngehindar dari media bikin kita langsung terseret-seret mengikuti geraknya. Udah nggak peduli lagi dah mau muka kehimpit sama badan kameramen yang tinggi-tinggi, terseok kesana kemari sambil harus tetep ngarahin mic ke narsum kita yang abis diperiksa itu. Apesnya di hari itu, lagi pake flat shoes, mungkin kurang sempurna juga makenya, lalu keinjek sama wartawan lain, dan saya… jatuh. Sakitnya nggak berasa, malunya iya. Makanya belajar dari pengalaman, saya jadi lebih sering beli sneakers.
Gara-gara tuntutan profesi itu juga yang akhirnya secara tidak langsung mempengaruhi style saya sehari-hari. Kemana-mana saya pergi, baik sekedar main atau lagi datengin event, pasti pakenya sneakers. Kondangan aja udah girly banget nih bajunya, bawahannya pasti pake sneakers. Ya emang kece sih, tapi lama-lama kok ya bosen gitu. Udah gitu agak nggak praktis kalau harus lepas pake lepas pake pas mau sholat. Hmmm.
Kondangan pun tetep pake sneakers. Oke bhaiq!

Memulai Drama Pencarian Flat Shoes Terbaru
Saya ini anaknya seneng explore dan mix and match soal penampilan. Bahkan ngantor yang notabene pake seragam aja sering saya tambahin outer ataupun vest biar nggak boring aja gitu. Beberapa kali sampai dikomentarin sama temen sekantor karena outfit-nya selalu beda aja gitu dari penampilan karyawan pada umumnya (that’s why di masa yang akan datang pengen ngantornya di tempat yang orang bebas mau pake baju apa aja alias nggak dikomentarin. Huff!).
Mulai kerudung sampai celana, oke lah bisa gonta-ganti setiap hari. Tapi saya agak sedikit tertohok dengan ucapan teman saya yang bilang, “sepatunya itu-itu aja,”. Oke baik!
Daily outfit ala Zakia
Kalau dihitung nih, sneakers saya ada lebih dari 5 pasang dengan berbagai warna. Flat shoes? Ada 2 tapi dua duanya udah nggak layak pakai haha. Kadang ngerasa saltum juga sih misal lagi harus meeting ketemu klien atau dateng wawancara kerja pakainya sneakers. Jadi kaya kurang profesional aja gitu. IMO ya hehe.
Tapi nyari flat shoes terbaru itu gampang-gampang susah. Kadang kita udah ke offline store malah capek doangan karena nggak nemu yang cocok. Saya anaknya cukup picky sih, nggak terlalu suka dengan yang modelnya terlalu lancip di depan gitu soalnya, tapi nggak terlalu suka juga yang biasa-biasa aja. Nah kan ribet kan?
Cari flat shoes terbaru di mataharimall.com? Banyak! WOOOW!
Tuk menghemat tenaga ye kan, daripada nyamperin toko satu per satu yang belum tentu nemu yang cocok, teman saya merekomendasikan buat window shopping dulu di MatahariMall.com. Dipikir-pikir dulu jaman masih sekolah sering banget beli sepatu di Matahari. Paling sering beli merk Nevada, mau itu sepatu atau baju. Jadi baiklah, mari kita surfing dulu di online store-nya Matahari Mall buat cari flat shoes terbaru, kali ada yang cocok sambil berasa nostalgia juga kan.

Setelah Mampir di MatahariMall…
Oke, sejujurnya ini kali pertama saya mampir di MatahariMall.com, dan wow… lumayan seru juga tampilannya. Belum apa-apa udah disambut dengan promo diskon 60%. Sungguh berbahaya. Haha.
Tapi mari kita sejenak fokus terlebih dahulu dan langsung masuk ke kategori sepatu lalu pilih flat shoes. Dan oke (lagi), berasa sia-sia gitu kemarenan muterin mall cari sepatu, ternyata disini kita bisa nemuin flat shoes terbaru yang lucu-lucu dengan berbagai merk. Nggak perlu capek pegel pegel jalan tapi dari rumah aja bisa belanja huhu. Thanks to penemu online shop!
Kategori dan subkategori di MatahariMall.com banyak lho! Enak dah
Di awal buka sub kategori ini udah disambut flat shoes abu yang lucu dari Universal, plus diskon pula. Oke jangan gegabah, mari kita scrolling ke bawah dulu agar tidak menyesal nantinya haha. Ternyata hampir sebagian besar flat shoes-nya diskon lho! Ya Allah, lindungi hamba dari godaan diskon ini :(((((
Terlalu banyak diskon senang tapi pusing akutu... *brb elus dompet*
Target saya, pengen cari sepatu hitam yang lumayan formal yang masih kece juga kalau dipake main. Tapi kok, yang warna-warna lain kaya abu, salem dan warna pastel lainnya terasa menggoda. Diskonnya juga nggak kuat. Yaaaaah…
Pilihannya bener-bener banyak, ada lebih dari 2500 produk di kategori flat shoes ini yang bikin saya nggak bakal kehabisan pilihan. Terus pas saya buka satu-satu, ternyata store-nya nggak cuma dari Matahari aja, tapi ada juga online shop lain karena sejatinya MatahariMall.com itu semacam online marketplace gitu lho. Jadi kalau misalkan produk yang kita mau ternyata dari online shop lain, coba cek ratingnya juga sih. Buat jaga-jaga kan.
Pilihanku yey!
Akhirnya, setelah membuka satu per satu yang menarik perhatian, pilihan agak mengerucut nih sama flat shoes dari Details Faux Fur yang ada bulu-bulunya gitu cute haha. Hanya saja, saya bingung di foto terlihat krem kecoklatan gitu kan, nah tapi di judunya dia klaim warnanya putih. Akhirnya saya pun menggunakan fitur live chat dengan personal assistant dan mendapat keterangan yang cukup membantu (termasuk soal size guide yang nggak tertera di deskripsi produk).
personal assistant-nya cukup responsif dan membantu. senang deh hihi
Mantap, Bismillah dibayar. Walaupun nggak sesuai sama target awal yang carinya sepatu hitam. Hahaha. Nanti kita langsung dapet email konfirmasi yang menyatakan pembayaran kita sukses. Nggak hanya itu, kita juga bisa nge-track status pemesanan kita melalui profil kita di MatahariMall.com. Biar gampang sih, saya download aplikasinya aja. Hehehe.
Fitur tracking di MatahariMall.com memudahkan kita nih - www.novazakiya.com
Klaimnya sepatu akan sampai dalam waktu 3-7 hari di area Jabodetabek. Ternyata, keesokan harinya langsung sampai dong! Sebelumnya, di bagian keterangan produk/store-nya memang tertulis Jakarta sih, tapi tak disangka ternyata secepat itu sampainya. Dan setelah dibuka, cucok persis sama gambar yang ada di website. Ukurannya juga pas. Yay!
Akhirnya flat shoes terbaru dari MatahariMall.com sampai. Asyik!

Ukurannya Gimana?
Oh ya, belanja sepatu tuh memang agak gambling sih kalo online, dan biasanya masing-masing merk punya size guide sendiri. Makanya tadi saya tanyakan itu ke personal assistant yang disediakan oleh pihak MatahariMall.com. Tapi gini deh, saya kasih tips ya buat kalian gimana nentuin size kita kalau beli sepatu online.
Pertama, pakai kaos kaki dulu terus jiplak kaki kita di atas kertas HVS, boleh lah pake kertas size A4. Udah gitu, ukur deh panjang pola dari ujung jari kaki paling panjang sampai tumit menggunakan penggaris. Kalau mau ukur lebarnya, tinggal ukur aja dari ujung kanan sampai ujung kiri. Kalau udah dapet angkanya, tinggal dicocokkan sama size guide dari si sepatu itu deh.

Yang Menarik Lainnya di MatahariMall.com
Selain pilihan dan kategorinya yang beragam, ada satu hal yang menarik perhatian saya sih pas buka di website maupun di app nya. Yaitu fitur search by hashtag. Jadi nanti begitu kita klik ikon #, muncul dong #maugayaitugampang dan isinya ada banyak referensi fashion dengan tampilan ala-ala Instagram gitu. 
butuh referensi fashion? bisa pakai fitur search by hashtag-nya MatahariMall.com
Terus pas kita klik salah satu foto, ada rekomendasi produknya juga yang similar yang bisa jadi acuan kita kalau mau tampil dengan style kaya gitu. Udah gitu kita bisa langsung belanja deh di MatahariMall.com. Menarik sekaligus racun sih (elus dompet). Haha.
Udah nemu style-nya? Bisa langsung belanja juga dimari haha
Kalau kalian pengen ‘mejeng’ disini, bisa juga lho! Cukup upload foto terbaik kalian di Instagram, lalu tambahin hashtag #MauGayaItuGampang. Nanti saya mau ikutan juga ah kalau sepatunya udah sampai. Hihi.
Udah cocok buat ikutan #MauGayaItuGampang belum? Hehe

Well, selamat mencoba berbelanja di MatahariMall.com ya kalian!

XOXO
Za

MARTI DAN MRT-J, YANG BARU DARI MRT JAKARTA


Sebagai anak rantau yang nggak punya kendaraan pribadi di Jakarta, tentu saya sangat memperhatikan perkembangan transportasi umum di ibu kota. Saya merasa banyak perubahan sih. Dari yang semula TransJakarta hanya melayani beberapa koridor, dengan bus yang bisa dikatakan kurang layak (inget banget dulu koridor 6 sama 8 kalau naik bus kupingnya ikutan geter), tapi sekarang TransJakarta mampu menjangkau sampai ke daerah penyangga ibu kota seperti Depok dan Ciledug misalnya, plus dengan rute dan jam yang makin banyak. Begitu juga dengan trotoar yang lebar dan indah banget di sepanjang Jalan Sudirman sampai MH Thamrin. Semoga keindahan trotoar ini tak hanya untuk Asian Games 2018 saja tetapi sampai ke depan juga tetap dirawat.
Tapi ada satu lagi yang paling saya tunggu-tunggu, yaitu moda transportasi Mass Rapid Transit atau MRT! Who’s excited? ME OF COURSE! Hihihi.

Kenapa excited banget sih?
Tahun depan, Jakarta bakal punya MRT coy! Hahaha. Kalau dibandingkan dengan negara-negara lain ya tentu telat sih, tapi bukan berarti kita nggak mengapresiasi perkembangan ini. Sekarang gini deh, beberapa orang masih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi karena malas menggunakan transportasi umum. Apalagi kalau moda transportasinya nggak punya jalur sendiri jadi masih kena macet-macet juga. Kaya yang berpikirnya, mending bawa kendaraan sendiri deh, sama sama kena macet ini.
Belum lagi harus desek-desekan di KRL tiap jam berangkat dan pulang kerja. Para pejuang krl dari Bogor, Depok ataupun Bekasi pasti paham lah. Dulu saya sempet setahun PP Bogor-Jakarta buat ngantor dan Alhamdulillah ‘berasa ya kerjanya’ alias kalau sampai rumah itu langsung beberes tidur nyenyak banget dah. Tapi itu belum sama gangguan gangguan persinyalan. Karena saya sekarang udah nggak PP lagi, jadi saya kurang tau sih masih ada gangguan-gangguan semacam itu apa nggak di jam crowded. Semoga sudah berkurang lah ya hehe.
Kita tentu juga lumayan terbantu dengan adanya transportasi online. Memang cukup banyak yang meninggalkan kendaraan pribadinya lalu beralih ke moda transportasi ini, tapi kalau jalanannya macet ya bakal sama aja sih.
Data dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta yang pernah saya kutip untuk tugas saya di akhir tahun lalu, menyebutkan bahwa 74,7% perjalanan di Jakarta masih menggunakan kendaraan pribadi, dimana separuhnya menggunakan sepeda motor. Angka ini sih diharapkan semakin menurun nantinya jika semua moda transportasi yang saat ini tengah dibangun rampung dan bisa melayani penumpang sehingga masyarakat memiliki banyak alternatif transportasi umum.
Kelas jurnalis MRT Jakarta 2017
Sempat mengikuti kelas di program Fellowship Jurnalis MRT Jakarta 2017 juga menjadi alasan mengapa saya selalu excited dengan kehadiran MRT. Waktu itu ada 5 kali pertemuan/kelas dan 1 hari terjun langsung ke proyek stasiun underground Bundaran HI. Di setiap kelas dijabarkan mengapa kita butuh MRT, bagaimana perkembangannya, konstruksinya, operasionalnya, rencana TOD-nya, dan banyak lagi materi yang beberapa diantaranya dibawakan oleh orang-orang hebat di balik MRT (saya selalu ngefans sama Bu Silvia Halim, Direktur Konstruksinya MRT!). Semua materi itu rasanya bikin nggak sabar kapan ya bisa cobain MRT di negara sendiri. Oh ya, kalian bisa tonton tugas akhir liputan saya itu disini ya!
Kalau saya pribadi, yang paling saya highlight dari MRT ini karena dia punya jalur sendiri yang tentu nggak akan terjebak sama yang namanya macet. Di Fase 1 ini, relnya membentang dari kawasan Lebak Bulus sampai Bundaran HI. Ada yang elevated, ada yang underground. Nanti di Fase 2 nya akan dilanjutkan sampai Kampung Bandan. Saya sih berharap gangguan persinyalan bisa diminimalisir ya oleh MRT. Hehehe.

Emang kapan sih MRT jadinya?
Maret 2019 menjadi target MRT bisa digunakan secara komersial oleh masyarakat. Atau kalau kata Dirut MRT, Pak William Sabandar, ya sekitar 196 hari lagi lah. Perkembangannya sendiri saat ini sudah mencapai 95,33% konstruksinya per Juli 2018. Kalian juga bisa liat detail progress-nya di website-nya MRT Jakarta atau YouTubeChannel MRT Jakarta. Mereka selalu update per bulannya gimana perkembangan masing-masing konstruksi juga operasionalnya. Cus!

Nah, 9 Agustus kemarin, MRT Jakarta udah mulai melakukan uji coba rangkaian kereta pertamanya di Depo Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Uji coba ini untuk melihat sistem persinyalan kereta, telekomunikasi dan overhead catenary system (OCS). Sesuai target sih yang pernah dibilang sama Pak William kalau 9 Agustus 2018 itu bakal jadi uji coba pertama yang dilakukan oleh MRT Jakarta.
MRT Jakarta resmi rilis app MRT-J
Dan yang paling baru, MRT Jakarta baru aja launching aplikasinya, MRT-J, kemarin (15/8) di Grand Indonesia. Aplikasi ini bisa di-download di App Store ataupun Play Store, gratis! Tak hanya itu, di momen yang sama, MRT Jakarta juga memperkenalkan si maskot MRT bernama Marti, yang digambarkan sebagai anak laki-laki berusia 9 tahun, penuh rasa ingin tahu dengan harapan cerah untuk masa depan. 
Penggambaran ini merepresentasikan MRT Jakarta sebagai pilihan moda transportasi untuk masa depan Jakarta yang lebih baik tentunya. Melalui si Marti yang gemas banget ini juga diharapkan MRT Jakarta dapat semakin membangun interaksi dengan masyarakat, khususnya calon pengguna MRT Jakarta.

Kalau di aplikasinya ada apa aja?
Dewasa ini, transportasi dan gaya hidup digital sudah tidak bisa dihindari. Hampir semua sistem atau moda transportasi kini punya aplikasi yang bisa memberikan kita banyak informasi, terutama jam keberangkatan dan juga rute. Hal ini juga lah yang disasar oleh MRT Jakarta untuk merilis aplikasi MRT-J walaupun moda transportasinya sendiri belum beroperasi. Kalau kata anak muda, ini namanya PDKT. Hahaha.
Baru buka app nya aja, udah disuguhin banyak informasi. Hihi
Begitu membuka aplikasinya, masyarakat sudah mulai diperkenalkan sejak dini dengan informasi umum mengenai MRT Jakarta Fase 1. Ada pop up message yang berisi waktu tempuh, rentang waktu antar kereta, waktu operasional, kapasitas penumpang, sampai sistem operasinya. Selanjutnya, kita akan disambut deh sama si Marti.
Memang masih simple banget fitur di dalamnya tapi cukup informatif sih. Ada informasi tentang cara naik MRT Jakarta, ada juga informasi mengenai stasiun terdekat dari lokasi kita saat ini. Terus kalau kita klik fitur ‘Perjalanan’, kita bisa liat estimasi waktu dari stasiun kita berangkat sampai ke stasiun tujuan kita. 
Sebelumnya, ada rekomendasi stasiun terdekat dari lokasi kita juga lho
Dan yang paling unik menurut saya adalah fitur ‘Jelajah Stasiun’. Kenapa? Karena begitu kita klik satu per satu nama Stasiunnya, akan muncul cerita dari si stasiun itu sendiri, mulai dari sejarah namanya, konsep stasiunnya, dan tempat yang bisa kita kunjungi yang terdekat dari stasiun, seperti monumen, museum, kuliner ataupun taman. Cerdas sih ini!
Sejarah di balik nama stasiunnya nih guys!
Masing-masing stasiun ada rekomendasi tempat wisata terdekat yang bisa kita tuju lho!
Informasi tempat wisatanya juga tersedia di app MRT-J
Udahan nguliknya, di aplikasi ini kita juga bisa beli merchandise MRT Jakarta yang tentu ada si Martinya dong. Mulai dari kaos, tumbler, bantal leher, totebag, notebook sampai topi dan juga payung. Saya berharap sih nantinya ada bonekanya juga karena gemas! 
Boneka si Marti gemas!!!
Oh ya, berhubung ini masih suasana HUT RI dan juga Asian Games, merchandise-nya ada yang seri Asian Games lho. Dan semuanya diskon 17%. Seneng nggak? Hahaha.


Mumpung diskon yuk dipilih. Hehehe

Oh ya, ada reward juga yang diberikan kepada pengguna aplikasi MRT-J berupa poin. Poin ini bisa kita kumpulkan dengan cara masuk ke aplikasi setiap harinya, atau bisa juga connect semua akun medsos kalian dengan akun MRT-J ini. Kalau beli merchandise-nya? Tentu dapet poin dong asal melalui aplikasi ini hihi.
Nantinya sih, fitur-fitur di aplikasi ini bakal lebih dikembangkan lagi untuk aspek komersil lainnya, seperti pembelian atau penambahan saldo tiket MRT Jakarta. Ini sekaligus menjawab tantangan Menkominfo Rudiantara ke MRT Jakarta untuk menyediakan tiket secara digital. Keren ya? Hihi.
Dirut MRT, William Sabandar menjawab tantangan dari Menkominfo, Rudiantara
Hadirnya MRT Jakarta ini tentu jadi terobosan baru bagi transportasi publik di ibu kota setelah sekian lama hanya jadi wacana. Semoga sih dengan adanya MRT Jakarta ini benar-benar bisa mengurangi kemacetan dan mengubah gaya hidup masyarakat untuk beralih menggunakan transportasi umum. Ada studi dari pemerintah pusat yang menyatakan bahwa tahun 2020, Jakarta bisa mengalami gridlock atau kemacetan total kalau nggak dilakukan terobosan baru pada sistem transportasi di ibu kota. Tapi dengan adanya MRT Jakarta ini semoga nggak bakal sampai kejadian deh ya.
Akhirnya foto deh sama Pak William sama si Marti juga. Hihi
Jadi, udah siap untuk menyambut hadirnya MRT di Indonesia?
Saya sudah download aplikasinya. Kamu?

XOXO!
Za

[JOURNOLIFE] Cerita Mudik : Jalur Nagreg Sepi?


Mudik selalu menjadi event tahunan bagi masyarakat khususnya warga Jakarta, untuk pulang ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga besar saat lebaran. Kenapa saya sebut Jakarta, karena sering banget nih kalau musim mudik tiba, Jakarta lengangnya bukan kepalang. Tapi mudik lebaran juga jadi event tahunan buat para pekerja media buat meninggalkan ibu kota. Bedanya, kalau orang lain pulang ke kampung halaman buat lebaran beneran sama keluarga, kita pergi ke jalanan buat memberikan informasi ter-update seputar arus mudik. Dan inilah sekelumit cerita saya tentang pengalaman liputan arus mudik dan balik tahun ini. ceilah. Hahaha.

Pembagian Kelompok
Selama saya bekerja disini, hampir setiap tahunnya saya pulang ke rumah pas lebaran. Tahun kemarin pas saya sudah join sebagai reporter saja, saya dikasih buat cuti ke rumah. Makanya tahun ini sebenernya agak agak curiga bakal dikirim liputan mudik. Tapi tetep aja saya iseng tanya ke atasan saya pas ketemu di kantor.
“Pakde (panggilan ke section head saya), saya dapet cuti lebaran nggak ya?” // “Heh enak aja, tahun kemarin belum dapet liputan mudik kan? Tahun ini kamu berangkat,” // “Oh oke pakde, tapi jangan di Merak ya,” (iseng lho) // “Iya, dapet pantura kamu,”
Itu jawaban atasan saya sambil lalu kembali ke mejanya yang kemudian saya iyakan dengan lapang dada. Kan lumayan dapet Pantura bisa mampir ke rumah. Karena tahun lalu, tim mudik Pantura aja sempet mampir ke rumah di hari lebaran setelah agak legaan liputannya hihi.
Sayangnya, beberapa minggu setelahnya, keluarlah pembagian wilayah tim mudik tahun ini dan saya dapet di Nagreg alias jalur selatan, bareng Felicia. Lenny, Akbar dan Yana di Pantura, sementara Retno dan Rima di Merak.
Tim Mudik Asyik RTV 2018 - dari kiri ada Akbar, Retno, saya, Rima, Lenny, Felicia, dan Yana

Memulai Perjalanan ke Nagreg
Long story short, tibalah waktu dimana kami harus berangkat setelah persiapan yang cukup singkat bagi tim lapangannya. Packing aja baru dilakuin malem sebelum berangkat. Bahkan masih sempet jajan di McD dulu haha. Jadi abis sahur nih, tanggal 8 Juni 2018 jam 4.30 pagi berangkatlah saya ke kantor, kumpul sama anak-anak lain dan siapin alat yang mau dibawa ke bawah. Bukan saya sih yang bawa, tapi anak anak cowo haha.
Anyway, tim saya di Nagreg untuk reporternya ada Felicia Wu (selanjutnya saya singkat Cia ya), terus kameramennya ada Bang Nael sama Bang Riki, dan pilotnya bareng Bang Meike dan Bang Dayat. Karena kebetulan Cia dan Bang Nael non muslim, jadi kemaren pas berangkat mereka satu mobil biar lebih leluasa kalau mau ngemil di mobil tanpa merasa sungkan. Tapi ternyata seterusnya itu jadi tim liputan karena dari awal sampai akhir saya akhirnya bareng sama Bang Riki terus.
Agak tersendat di tol karena masih ada proyek pembangunan LRT
Oke jadi kita berangkat dari kantor sekitar pukul 5.30, langsung masuk tol dalam kota dan memang agak tersendat di Bekasi sampai Cikarut (Cikarang Utama), setelahnya lancar. Cuma saya tinggal tidur sih haha. Terima kasih karena kameramen saya hobi ngobrol jadi bisa nemenin pilot deh hahaha.
Sempat berhenti di Rest Area daerah Purwakarta (kalau nggak salah), kami akhirnya sampai di jalur Nagreg itu hampir jam setengah sebelas pagi. Keluar tol Cileunyi, jalanan lancar parah. Iya sih, masih H-7 dan orang juga kebanyakan masih kerja hari ini (walau hari terakhir kerja sih kalau kantornya menganut cuti bersama yang ditetapkan oleh pemerintah).
Kondisi jalur Nagreg yang masih asri alias banyak pohon
Daaaan pemandangannya seger banget. Kanan kiri banyak sawah bukit, langit biru, duh enak banget liatnya. Walaupun panas, tapi udaranya sejuk. Oke bhaiq, jangan terpedaya dengan udara sejuk, perlindungan dengan sunscreen harus tetap ON!

Tidur Dimana?
Ada DM masuk dari beberapa temen yang komen di stories liputan mudik saya. Tipe pertanyaannya hampir sama, “tinggal dan tidur dan mandi dimana?”. Pas saya cerita ke temen juga, dia sebelum jadi wartawan juga ngira kalau liputan mudik itu beneran di jalan tidurnya. Beberapa bilang tidur macem di tenda atau pos polisi. Hahaha. Serius dulu saya memang mengagumi wartawan yang liputan arus mudik begini tapi sama sekali nggak kepikiran soal di balik layarnya alias tempat tinggal dan sebagainya.
Jadi begini, kalau kami yang di tim Nagreg tinggal di rumah warga, alias di rumah Bu Ai yang udah jadi langganan tim mudik RTV yang liputan di jalur selatan. Lokasinya terbilang strategis, masih dapet arus kendaraan yang ke arah Garut/Tasik, juga masih dapet yang ke arah Bandung. Tepatnya kita di dekat Pos Polisi Cikaledong, lokasi yang sering jadi titik buat diberlakukan one way.
Pemandangan depan rumah sewaan 
Kita dapet satu rumah dengan 3 kamar dan 1 kamar mandi di lantai bawah, sementara rumah keluarga Bu Ai ada di atasnya. Dan kalau dinas luar kota lebih dari 4 hari, kita dapet budget untuk laundry pakaian jadi ya kita beneran nggak usah memusingkan hal-hal di luar liputan. Beruntung pula, di rumah Bu Ai ini, kesepakatan kantor selain sewa rumah untuk tidur juga sekalian masakin makanan kita (jatah 2x sehari karena pas puasa jadi buat sahur/sarapan dan buka puasa). Jadi beneran nggak perlu pusing mau nyari makan kemana, paling kita tinggal request pengen lauk apa. Atau kalau pengen cemilan, ya tinggal ke Indomaret yang agak ke atas dikit dari rumah kita. Yang nggak ada di daerah ini hanya fast food macam McD, KFC, Hokben dan lain sebagainya. Oh juga bakso mie ayam dan sebagainya agak jauh nyarinya. Hmmm.
Kalau tim lain kaya Pantura sama Merak, bisa tidur di hotel karena di jalur mereka ada hotel-hotel kan. Intinya, kita nggak tidur di mobil atau tenda lah. Hehe.

Live Report demi Live Report
Hari pertama kami tiba di Nagreg merupakan jatah hari saya untuk memulai laporan arus mudik disini. Jadi sebelum berangkat, kami sudah dibagikan rencana matriks untuk live report di jam berapa saja dalam satu hari itu. Ini bisa berubah sewaktu-waktu menyesuaikan kondisi di lapangan. Setidaknya, planning-nya demikian. Polanya, satu hari saya live dari subuh sampai sore, satu hari berikutnya Cia dari pagi sampai malam. Begitu seterusnya.
Dan di hari pertama tersebut, saya harus live report di program Lensa Indonesia Sore jam 14.30 WIB. Masih ada waktu untuk ngulik-ngulik sedikit informasi dari pak polisi di Pospol, walaupun kita harus memutar otak untuk bikin pointers apa aja yang akan kita sampaikan ke pemirsa karena kondisi jalanan yang masih lengang. Ya memang masih H-7 sih, orang juga kebanyakan masih kerja di hari ini. Prinsipnya, saya harus menyampaikan sesuatu yang informatif yang bisa memberikan manfaat bagi para pemudik yang akan melewati jalur ini.
Live pertama di program Mudik Asyik, jalanan masih kosong
Berbagi layar bareng tim Pantura yeay
Usai live, saya dan tim sengaja untuk survey lokasi, melihat jalur Nagreg ini kondisi jalanannya seperti apa, mana saja yang sering menjadi titik rawan kemacetan dan kecelakaan, dan ngobrol-ngobrol sama Polisi di Pos Tangan (pos pelayanan yang terletak di Turunan Nagreg) tentang prediksi puncak arus mudik. Ini memang baru pertama kali saya melintas di jalur Nagreg dan jika melihat kondisi jalanannya, pemudik ini harus punya skill dan konsentrasi tinggi saat menyetir. Kenapa? Karena jalanannya sendiri banyak turunan dan tikungan yang cukup curam dan tajam. Waktu pilot saya menyalip mobil depannya dan di jalur sebaliknya ada bis aja udah cukup deg-deg-an.
Oke, balik lagi soal live report, jadi dalam sehari kita dapet jatah untuk live 4x sehari. Kalau saya pribadi, dapet jatah untuk live di Lensa Indonesia Pagi jam 5 pagi, Lensa Indonesia Siang jam 11 siang (berlaku untuk weekday), Lensa Update jam 1 siang dan Lensa Indonesia Sore jam 14.30 WIB. Sementara kalau Felicia, dapet jatah live di Lensa Update jam 8 pagi, Lensa Indonesia Siang, Lensa Indonesia Sore dan Lensa Indonesia Malam sekitar jam 8 malam (taping by the way). Nah, di hari kita nggak dapet jatah live, biasanya kita pakai buat liputan atau nyari update soal arus mudik ini deh. Ya tapi beberapa kali kalau capek ya kita pakai buat istirahat juga haha. Kesehatan tetap menjadi nomor satu guys!
Live subuh yang super dingin di Nagreg
Soal lokasi, kalau subuh biasanya saya cuma ke seberang rumah (pos Cikaledong) dan itu dinginnya super duper sampai keluar asap dari mulut (kalau saya lihat ya haha). Kelar live bisa istirahat bentar di rumah, baru keluar jam 8an nyari spot lain yang lebih kece buat dilaporin mengingat kondisi Nagreg yang sepi sepi aja ya bu. Paling merapat ke Limbangan atau ke Cileunyi. Tapi ya, landai.
Contekan ajaib untuk live
Kalau live report sendiri, saya belum sampai di tahap pede nggak bawa contekan. Jadi saya selalu catat poin poin apa saja yang akan saya sampaikan di notes yang selalu saya bawa liputan. Ini buat jaga-jaga sih, bukan buat dihapal. Karena (katanya) kalau dihapal, kita lupa satu kalimat langsung buyar semuanya. Walaupun pada akhirnya seringnya saya ngomong nggak liat catatan, tapi notes kecil ini selalu saya pegang di tangan kiri saya. Ya itu, nggak pede kalau nggak bawa catatan hihi.

Make Up harus On Point!
Namanya di depan layar, diliat banyak orang (mungkin kan pada nonton tv saya gitu haha), nggak enak kan kalau pas live itu polosan alias nggak dandan. Biasanya kalo ngantor, saya cuma pake day cream, alis, bedak tabur dikit, blush on sama lip cream. Kalau harus live, paling touch up dikit bedak sama lip cream-nya. Anaknya emang agak males sih buat dandan kalau nggak ada event haha.
Felicia in action yeay
Sebelum berangkat, kita juga sempet dikasih kelas make up walaupun pas hari H bebas kita mau dandan sesuai yang di kelas atau yang biasa kita lakuin. Di awal-awal liputan (live), masih rajin pake paket lengkap mulai dari foundation, concealer, eyeshadow, eyeliner sampe mascara. Di pertengahan sampai akhir, udah say goodbye sama foundie dan concealer. Pake eyeshadow aja dikit dikit kalau nggak males. Hahaha.
candid yang hampir jarang berhasil kece gitu huff
Karena pernah sekali nggak pake eyeshadow dan eyeliner (juga kayaknya), langsung dikomen. Mata saya memang agak kecil sih, plus kalau kena sinar matahari langsung menyipit lah haha.
Nanti di postingan terpisah, saya akan sebutkan 5 make up apa saja yang jadi penyelamat di liputan kali ini. OK? Tapi boleh dong baca dulu review saya soal lip cream andalan saya buat mudik disini dan juga bedak yang kece banget buat oncam rekomendasi saya disini. Hihi

Jalur Nagreg Sepi?
Hari pertama kami tiba, which is itu H-7, kondisi jalanan masih sepi sampai malam. Hari kedua, nggak beda jauh. Hari ketiga, hampir sama. Hari keempat, tidak ada kepadatan yang berarti. Barulah di hari kelima, malam hari, depan rumah macetnya nggak nahan shay.
Nah ini macetnya di hari kelima kami tiba di Nagreg
Pemerintah sendiri memprediksi bahwa puncak arus mudik, termasuk di jalur selatan, akan terjadi di tanggal 9-10 Juni 2018. Mengingat cuti bersama yang ditetapkan oleh pemerintah dimulai tanggal 11 Juni 2018, sehingga diperkirakan para perantau ini bisa curi-curi gitu mudik gitu dari hari Jumatnya (8/6). Sayangnya ini tidak nampak di jalur Nagreg.
Tanggal 9 Juni, jatah Felicia live sementara saya liputan ikut Kakorlantas, Irjen Royke Lumowa, yang lagi tinjauan ke Nagreg. Beliau sih bilangnya kurang lebih begini, “karena cutinya panjang, masyarakat jadi lebih bijak dalam memilih hari mudik sehingga nggak numpuk di satu hari tertentu aja. Tapi namanya juga prediksi, coba kita lihat di esok hari (10/6),”.
Besoknya, jatah saya yang live. Bingung karena depan rumah masih begini-begini aja, akhirnya saya nyoba untuk merapat ke Cileunyi, yang jadi gerbang masuknya para pemudik jalur selatan. Tapi rupanya, kondisinya masih ramai lancar alias belum terjadi kepadatan, termasuk di gerbang keluar tol Cileunyi. Akhirnya kulik-kulik info sedikit di Pos Pelayanan Cileunyi buat materi live yang lebih ngomongin soal rencana rekayasa lalu lintas kalau terjadi kepadatan di titik tersebut dan tim urai yang disiagakan polres Bandung. Teriknya luar biasa. Tapi biar puasa, teriknya nggak sampai yang bikin haus banget, beda sama terik di Jakarta haha. Sayangnya, karena terik ini, kita gagal live di yang jam 14.30 karena kelamaan standby alatnya nggak kuat. Katanya sih gitu. Huff.
H-5 di Cileunyi masih landai
Tak hanya Polres Bandung yang punya rencana untuk mengurai kepadatan, Jasa Marga juga turut andil membantu agar mudik tahun ini berjalan lancar. Seperti, saat arus mudik ini, ada 10 gerbang keluar yang dibuka (biasanya hanya 8 gerbang), lalu mereka juga melakukan metode ‘jemput bola’. Artinya, para petugas dari jasa marga ini nanti yang akan ‘nyamperin’ mobil pemudik satu per satu kalau terjadi antrean panjang sambil bawa alat namanya mobile reader. Pemudik ini tinggal tap e-money nya di mobile reader ini. Selain itu, kalau di dalem tolnya terjadi antrean panjang sampai 5 kilometer, Jasa Marga (cabang Purbaleunyi dalam hal ini) membuka pintu tol sementara di Gedebage dan kendaraan dialihkan untuk lewat jalur alternatif Cijapati via Sapan-Majalaya. Tapi kayaknya nggak sampai terjadi sih ini.
Hari-hari berikutnya, masih ‘raba-raba’ dimana ya enaknya yang bisa ada materi bagus buat live. Merapat lah kita ke Limbangan, tepatnya di Pos Pelayanan Alun-Alun Limbangan. Pagi situasi masih lancar-lancar aja jadi sengaja di Lensa Siang ngajak Kapolres Garut, AKBP Budi Satria Wiguna, buat live ngomongin seputar arus lalin di Garut beserta rekayasa lalinnya. Kalau boleh saya ceritakan sedikit kondisi arus lalu lintas di Limbangan, jalur ini memang agak sempit karena dua jalur kan. Terus ada pasar dan banyak gang gitu yang banyak kendaraan keluar masuk. Itu lumayan bikin tersendat lho. Makanya dari akhir pekan sebelum lebaran itu, Polres Garut udah melakukan one way traffic secara situasional, kalau kendaraan sudah menumpuk dan ekornya mencapai Nagreg. Pak Budi sendiri orangnya enak diajak kerjasama, sharing info juga bahkan bercandaan. Seneng kalau ketemu narsum yang begini haha.
Di hari yang sama juga, waktu masih nunggu Kapolda Jabar dateng tinjauan ke Limbangan, saya dan beberapa wartawan TV sebelah yang ngepos di Nagreg nih, saling curhat tentang materi live yang kudu puter otak banget mau ngomongin apa yang nggak kosong alias tetep informatif bagi pemirsa. Jalanan boleh kosong, tapi isi laporan kita jelas nggak boleh kosong dong. Eh nggak taunya, setelah kami bubar jalan ke tempat tinggal masing-masing, sore ke malemnya, jalanan langsung macet panjang. Naik level dari ramai lancar menjadi padat merayap. Data dari Dishub Kab Bandung sendiri memang mencatat ada kenaikan yang cukup signifikan sih dari H-4 ke H-3 (naik) sekitar 20 ribuan kendaraan. Macetnya sendiri bisa dari Cicalengka atau Polres Nagreg sampai Limbangan. Pemudik sih biasanya gondok kesel ya, tapi kita bersyukur karena akhirnya dapet macet juga. Bukan bermaksud jahat tapi biar agak variasi aja gitu haha.
Kondisi lalu lintas di H-3 jalur Nagreg depan Pos Cikaledong
Sayangnya, besokannya atau di H-2 yang lagi puncak-puncaknya kendaraan ke arah Garut/Tasik dari Bandung, bukan jatah saya yang live. Di hari itu, rekayasa lalu lintas diberlakukan mulai dari pengalihan jalur (via Kadungora-Leles) sampai buka tutup jalur. Banyak materi kan haha. Beruntung banget itu Felicia bisa dapet macet.
Pemudik sendiri didominasi pemudik yang menggunakan sepeda motor sepemantauan kami
Pasalnya, esok harinya di H-1, volume kendaraan yang melintas mulai menurun alias kembali ramai lancar. Nih ya, saya ceritain, waktu saya live subuh, lagi siap-siap blocking-an, jalanan padet sama kendaraan pemudik mulai dari motor (paling banyak), mobil sampai bus. Udah enak banget kan live-nya bisa jelasin kondisi terkini alias laporan pandangan mata. 10 menit to on air, jalanan langsung melompong karena udah mulai diurai antrean kendaraannya. Kendaraan juga yang belum sampai simpang Cagak (persimpangan sebelum Cikaledong) juga diarahkan untuk lewat Garut Kota. Jadi yang lewat depan Cikaledong hanya motor-motor saja. Buset itu menit-menit terakhir harus putar otak buat modifikasi materi live yang menggambarkan kondisi terkini, tapi juga menceritakan bahwa sempat terjadi kepadatan sebelumnya.
Kondisi jalur Nagreg H-1 di jam 5 subuh
15 menit sebelum on air live, kondisi masih begini. 5 menit kemudian, jalanan sudah kosong dong
Di program siang, coba geser ke simpang Cagak nggak taunya lancar. Live di depan posnya anak tvOne saling tuker info apa yang mau diomongin (dia juga mau live haha). Karena kondisinya nggak berubah, di lensa update jam 1 akhirnya bikin wawancara sama pemudik yang bawa anak sambil kasih tips mudik bawa anak biar nggak rewel gitu. Jam 14.30 merapat ke Limbangan berharap ada buka tutup gitu pas live eh ternyata sudah landai haha.
Live terakhir di arus mudik Nagreg. Iya soalnya besok live-nya udah arus balik hihi
Jadilah hari itu saya nggak kebagian macet-macetnya dan langsung merapat ke Bandung buat lebaran disana. 

Suka Duka di Arus Mudik 
Sukanya, tentu ini pengalaman baru buat saya. Ke daerah yang baru, kenal sama orang-orang baru, materi yang lain-lain pula dari biasanya, dan tempat yang adem (walaupun ademnya menipu alias tetep panas). Dan seru aja gitu, kami semua live di satu waktu yang sama terus split 4 sama mereka. Oh ya, momen mudik ini bener-bener jadi ajang latihan banget sih buat berani tampil di layar dan memperlancar live report. Kenapa? Karena waktu kita untuk oncam ataupun live jadi lebih banyak dan hampir di semua program berita kita plus update di jam-jam tertentu. Selain itu, kalau saya pribadi bener-bener merasa ditantang kudu bisa menyajikan materi live report di tengah kondisi yang datanya itu-itu aja (tidak terlalu ada perubahan yang signifikan).
Itu kalau soal suka di layar ya, kalau di balik layar, Alhamdulillah banget sih punya partner kerja seperti mereka yang kocak, saling menyemangati dan julid di waktu yang bersamaan. Di hari ketiga atau keempat gitu saya lupa, kita bikin grup buat group video call. Isi pembicaraanya? Ya itu, saling menanyakan kabar, kondisi lapangan, ngecengin dan ngehibur satu sama lain dan tak lupa untuk julid. Okesip!
Kalau dukanya, saya pribadi suka kesel kalau ada gangguan teknis, dalam hal ini alat yang kadang nge-hang padahal tim sudah siap ngonsepin materi buat live. Miskomunikasi juga pasti ada antara tim lapangan dan tim yang di kantor, kadang bikin kesel sih tapi ya udah dicoba untuk diomongin lalu dilupakan haha. Kebetulan manager saya juga bikin grup buat curhat kalau ada masalah di lapangan, jadi tersalurkan sih rasa-rasa kesalnya. Sedikit. Haha. Selain itu, beneran deh, kesehatan itu kudu dijaga banget pas liputan begini. Saya dan Cia tumbang untungnya di hari yang berbeda. Cia di hari hari awal (pas jatah saya live), dan saya di hari hari akhir mendekati lebaran (pas jatah Cia yang live). Vitamin menjadi hal yang sangat dibutuhkan kalau begini, soalnya kalau sakit repot dan nyusahin tim lain kan. Untung aja ini pas tumbangnya, pas bukan jatah kita yang live. Anaknya mencoba untuk selalu bersyukur. Hehe.
Soal lebaran nggak di rumah? Sedih sih sebenernya. Biasanya malem takbiran, bisa denger takbiran langsung di rumah (kebetulan rumah diapit sama masjid dan mushola), tahun ini malem takbirannya di hotel (nggak terlalu kedengeran takbiran dari masjid) dan nangis pas denger takbirannya Quran ID Project. Kaya yang merasa kurang bersyukur aja gitu...ah gitu deh, tonton aja videonya. Tapi ya namanya resiko pekerjaan sih ya buat jadi pelajaran aja hehe.
Toh lebaran tahun ini jadi pengalaman baru buat saya pribadi. Selain karena di tempat orang, saya juga sempat menjelajah ke beberapa tempat pas di Bandung dan juga di Garut setelah lebaran. Anaknya suka jalan-jalan sih hihi. Nanti cerita selengkapnya saya ceritakan di postingan selanjutnya ya. 
Jadi, masih tertarik untuk jadi reporter? Hahaha.

XOXO!
Za