[BEAUTY]: REVIEW BIORE UV AQUA RICH WATERY ESSENCE SPF 50+ PA++++


Biore UV Aqua Rich Watery Essence SPF 50+ PA++++ ini bisa dibilang sunscreen sejuta umat. Dimana-mana, entah itu tutorial make up para beauty influencer, review di Female Daily atau temen-temen sendiri, hampir sebagian besar pakai sunscreen biore ini. Saya pribadi penasaran pakai sunscreen biore ini karena terus-terusan liat Kak Icil (@bylizzieparra) yang kalau tutorial daily make up pasti diawali dengan biore dan doi selalu bilang ini bagus. Ya kan anaknya gampang tergoda sama review-an orang yak ini :3
Bahkan baru-baru ini, di Twitter ada sebuah thread yang bilang sunscreen Biore Watery Essence ini ada versi KW-nya. Serem ndak sih :(
Emang sebagus apa sih si mungil biru ini menghalau sinar matahari di kulit kita? Saya tuliskan review saya pribadi setelah saya pakai sebulanan ini ya~

Kenapa Butuh Sunscreen?

Sunscreen is a must! Pemakaian sunscreen tuh jadi tahapan rutin skincare yang sangat penting dilakuin. Karena sinar matahari di atas jam 9 pagi itu jahat. Hahaha. Kalau masih pagi sampai jam 9 itu, matahari lagi oke-okenya karena ada kandungan vitamin D yang bagus buat kita. Tapi, kalau setelah itu, better nggak kena paparan sinar matahari langsung. 
Efek yang paling berasa banget buat saya pribadi kalau si matahari ini udah mulai ‘nakal’ itu perih banget di kulit, berasa kaya nusuk-nusuk gitu. Tapi bisa jadi beda di kalian karena jenis kulit kita kan beda-beda.
kalau judulnya liburan ya udah pasti WAJIB hukumnya PAKE SUNSCREEN!
Hampir semuanya akan menyarankan pemakaian sunscreen setiap hari, bukan cuma pas lagi liburan ke pantai atau berenang aja. Bahkan pemakaiannya sangat direkomendasikan buat kalian yang banyak beraktivitas di lapangan. 
Sunscreen punya fungsi buat melindungi kulit dari sinar UVA dan UVB yang bisa bikin kulit kita rusak, penuaan dini (plus dark spot, beb) dan berisiko kanker kulit. Makanya, lebih baik mencegah daripada mengobati, ya kan?
Kalau saya mulai rutin pake sunscreen ketika saya mulai turun ke lapangan. Karena sebelumnya cuma di kantor, saya pikir day cream yang ada SPF nya udah cukup. Tapi pas saya mulai liputan, inget banget itu hari pertama, kulit tuh langsung ‘cekit-cekit’ rasanya. Perih banget. Barulah dari situ konsultasi sama temen, browsing dan lain-lain, langsung pakai sunscreen.

Tergoda Sunscreen Biore

Bukan bukan, biore ini bukan sunscreen pertama saya. Kayaknya waktu itu belum masuk Indonesia juga sih (FYI, biore ini sunscreen dari Jepang). Sunscreen pertama saya itu merknya ISIS Pharma, dikasih sama dokter kulit dan kecantikan pas abis wawancara dia (buat liputan saya). Cuma karena merknya yang kurang awam, setelah habis saya pakai Banana Boat. Nggak tanggung-tanggung, SPF nya yang 110. Karena pas itu mau liburan ke Belitung juga sih hahaha.
Tapi di tengah-tengah pemakaian si banana ini, sunscreen biore mulai berseliweran di Instagram saya. Ya kan anaknya mudah penasaran dibilang, makanya pas begitu habis, langsung beli si biore ini. Saya beli di Sociolla harganya sekitar Rp 115.800,-.

Mari Kita Ulas dari Packaging

Saya suka sih packaging-nya, simpel banget dengan warna gradasi biru, enak adem diliatnya. Tulisan di mukanya juga nggak banyak, cuma “Bioré UV AQUA Rich Watery Essence SPF 50+ PA++++”. Dia travel-friendly abis, di pouch tuh sama sekali nggak makan tempat. Tube-nya ditutup ulir kaya krim-krim kebanyakan, terus lubangnya itu pas banget. Nggak terlalu kecil tapi nggak terlalu besar, jadi nggak perlu effort aja buat keluarin krimnya.
Sementara di baliknya, full tulisan Jepang yang isinya deskripsi produk. Maap maap nih karena belum lancar Bahasa Jepang jadi belum bisa bacanya hehe. Tapi jangan sedih, deskripsi dalam Bahasa Indonesia tertera di kemasan kotaknya.

Katanya Suncreen Biore itu...

si tutup ulir kemasan biore uv aqua rich watery essence
Sunscreen Biore ini mengklaim dirinya punya teknologi baru, yaitu UV Block dalam Watery Capsule, yang memberikan perlindungan kuat dari sinar UVA dan UVB dengan SPF 50+. Dia juga mengandung Hyaluronic Acid, Royal Jelly dan campuran ekstrak Citrus yang menjaga kelembaban kulit. Ini juga diperkuat dengan teksturnya yang ringan seperti air, nggak lengket dan bikin seger.

Bahan-bahannya

*brb belajar baca tulisan Jepang biar bisa kuliah di Jepang*
Water, Alcohol, Ethylhexyl Methoxycinnamate, Lauryl Methacrylate/Sodium Methacrylate Crosspolymer, Diethylamino Hydroxybenzoyl Hexyl Benzoate, Dimethicone, Acrylates/C10-30 Acrylate Crosspolymer, Glyceryl Stearate, Agar, Polyvinyl Alcohol, Sodium Hyaluronate, Citrus Gandis,  Citrus Medica Limonum, Citrus Aurantium Dulcis, Xylitol, Butylene Glycol, Propylene Glicol, Sodium Hydroxide, Potassium Hydroxide, Phenoxyethanol, Disodium EDTA, BHT, Fragrance.

Tekstur

Seperti yang selalu dibangga-banggakan, sunscreen Biore ini punya tekstur yang ringan dan watery sesuai namanya. Warnanya agak putih kehijau-mudaan sih kalau menurut saya. Wanginya seger ala-ala citrus tapi ya nggak terlalu nyengat.
Kulitnya keliatan kering ya? Huff
Pas diaplikasiin ke kulit, dia ada sensasi dingin (yang didapetin dari alkohol) dan mudah menyerap. Nggak lengket, nggak greasy, ringan dan yang penting nggak ninggalin whitecast yang suka jadi momok kalo kita pake sunscreen. Rasa-rasanya mungkin hampir mirip sama kalau kita abis cuci muka pakai air gitu.

Cara Pemakaian

Layaknya pakai krim muka pada umumnya sih, tinggal usapkan merata di wajah sama leher. Karena SPF-nya cuma 50, kalau kalian banyak beraktivitas di luar, jangan lupa ­re-apply secara berkala, misal setelah wudhu atau berkeringat. Kalau kalian cuma pakai pagi doang sih sama aja bohong huff.

Jadi, Menurut Saya...

Terhitung sudah satu bulan saya pakai sunscreen Biore. Saya pakai sebagai step terakhir morning skin care routine saya, sebelum pakai bedak (Pond’s Magic Powder BB andalan!). Ya emang beneran nggak perlu nunggu lama sih buat pakai bedaknya karena beneran secepat itu menyerapnya.
Wanginya seger sih dan itu kadang bisa jadi mood booster gitu sebelum beraktivitas pagi menghadapi macetnya Jakarta. Sunscreen ini menyarankan dirinya untuk dipakai sekitar 15-20 menit sebelum beraktivitas di luar. Tapi ya dalam kurun waktu yang disarankan itu, kadang buat saya nggak terlalu ngefek.
Maksudnya gini, kulit saya tuh lumayan sensitif kalau kena sinar matahari. Apa ya dibilangnya, jadi kaya sunburn suka perih gitu (untung nggak sampai muncul ruam sih). Saya suka sebutnya dengan istilah “cekit cekit”. Nah tapi, si Biore Aqua Rich ini lumayan nggak bikin ‘cekit cekit’, tapi ‘gremet gremet’. Ibaratnya kalau diurutin, ‘cekit cekit’ itu di level yang perih kena matahari, si ‘gremet gremet’ ini ada di posisi dia dibilang perih nggak, tapi dikata nggak perih juga nggak. Simpelnya, efeknya lebih ringan dari kata ‘cekit cekit’. Hahaha bingung nggak?
Terus menurut saya juga nggak terlalu ngefek sih karena kadang kulit berasa agak kusem juga. Nggak paham sih apakah ada hubungannya sama sunscreen sebelumnya yang saya pakai SPF-nya lebih tinggi (SPF 110 by the way). Cuma karena sekarang saya lebih banyak beraktivitas di dalam ruangan alias nggak terpapar sinar matahari langsung jadi ndak masalah sih. Yang penting, kulit nggak langsung kena sinar matahari. Dah gitu aja.
Abis pake sunscreen terus pake bedak ndak masalah~
Oh ya, sama satu lagi. Beberapa hari setelah pemakaian, kulit saya agak bereaksi dengan munculnya jerawat kecil (ada 3 langsung dan 2 di anak rambut) di pojokan jidat. Ini bukan tempat yang biasa buat saya tumbuh jerawat dan saya tuh tipikal yang jerawatannya karena siklus (mau haid), sementara pas saya pakai ini yang pertama kalinya tuh masih jauh banget dari siklus. Jadi mungkin ini purging karena produknya masih saya pakai sampai sekarang dan jerawatnya nggak nambah. Tapi jadi PR karena ngilangin bekasnya :((
Efek ini mungkin akan beda-beda di masing-masing orang, karena skin type kita yang berbeda. Kalau saya tipe normal to combination.
Coba saya poinkan ya.
(+)
Tekstur ringan, cepat meresap dan kasih efek dingin di kulit
Tetep bikin lembab kulit kaya berasa abis cuci muka
Nggak ada yang namanya whitecast atau greasy setelah pemakaian
Wanginya seger banget cocok dipake siang-siang
Aman-aman aja setelah pakai sunscreen lalu pakai bedak (atau foundation kalau lagi mau dandan formal)
Harganya terjangkau beb!

(-)
Ada alkoholnya
Buat saya nggak terlalu ngefek karena masih ‘gremet gremet’ di kulit 
Kurang cocok dipakai buat beraktivitas di luar ruangan/liburan ke pantai

Overall, saya sih suka. Repurchase? Belum tau sih, malah kepikiran buat balik lagi ke merk sunscreen saya sebelumnya (berasa ngefeknya karena SPF-nya lebih gede haha padahal 50 juga cukup sih). Tapi saya rekomendasiin ini buat kalian yang nggak banyak beraktivitas di luar ruangan. Gimana pun juga, kita harus tetep pakai sunscreen setiap hari dan menurut saya ini lumayan banget terjangkau harganya.
Sama satu lagi, kalian bisa beli di drugstore macem Guardian Watson Century atau di Sociolla kalau mau online. Seenggaknya udah terjamin keasliannya. Kalaupun ada masalah ya kita tau bisa komplen kemana. Sejak beredarnya ulasan soal fake Biore Aqua Rich ini jadi beneran kudu hati-hati. Kalau pengen tau, search aja deh di Twitter. Thread-nya lengkap sama foto yang mungkin bisa jadi pertimbangan kalian buat menilai keasliannya.
Jadi, tertarik pakai sunscreen sejuta umat ini? Atau bahkan udah pernah pakai? Share yuk pengalaman kalian di sini. Hihi

XOXO!
Za

[FASHION]: KATA SIAPA TRAVELLING PAKE ROK WANITA ITU RIBET?

Sebagai orang yang demen banget jalan-jalan, saya sering banget dapet pertanyaan, “emang nggak ribet jalan-jalan pake rok?”. Yah, kaga tau dia, yang namanya jalan-jalan itu mau pake rok kek, mau pake celana kek, seru seru aja ah. Kan bukan perkara bajunya, tapi perkara tempat liburannya. Yak, silakan di-quote! Hahaha :3

Bye Celana Jeans :’)
Saya emang udah jarang pake celana (ketat), terutama celana jeans atau celana model pensil. Padahal dulu secinta itu pake celana pensil, dikombinasiin sama oversized sweater/jacket/shirt, terus pake sneakers. Beuh cakep! Tapi nggak tau kenapa, makin kesini makin malu pake celana yang ngebentuk kaki. Maksudnya yang ketat, bener-bener kakinya kebentuk (apaan dah haha).
Perasaan itu muncul begitu aja. Namanya juga masih dalam masa pencarian jati diri ya. Awalnya, disiasati pake outer, kemeja atau tunik yang cukup panjang (sampai lutut). Tapi lama kelamaan, kok tetep rasanya malu aja gitu. Akhirnya perlahan coba-coba mulai pake rok dan… nyaman. Kategori nyamannya itu susah buat dijelasin secara gamblang, yang jelas bener-bener perasaan malu risih selama pake celana itu mulai hilang.
Dulu, saya termasuk sebagian orang yang suka ngatain pake rok itu ribet. Eh sekarang ketulah malah nggak nyaman kalau nggak pake rok atau at least celana kulot.
ini dulu, waktu liputan sebelum tol Batang beneran jadi (2017)
Ada masanya juga saya khawatir, ini akan berpengaruh dengan kerjaan saya, yang waktu itu masih sering liputan. Sempet ragu apakah harus balik lagi pake celana biar liputannya nyaman. Karena beneran momen mulai jadi reporter itu pas banget beberapa minggu setelah bertekad untuk pake rok buat kegiatan sehari-hari (termasuk kerja). Nggak taunya sama sekali lancar, nggak ada gangguan, dan tetep bisa pake rok buat liputan. Alhamdulillah hihi.


Kalo jalan-jalan pake rok?
Lhoh liputan yang suka lari-larian pake rok aja nggak ada masalah, apalagi cuma liburan. Waktu saya main ke Belitung, saya pakai long dress biar lebih enak pas main di pantai. Hari selanjutnya pake skinny skirt buat photo session (gaya bener haha). Dan tidak ada masalah dooong. Enak-enak aja naik turun bus sama kapal. Hihi.
outfit hari pertama di Belitung, pake long dress sama outer
Outfit hari kedua, pake skirt aja buat foto cantik hihi
Tapi emang sejatinya main ke pantai ya lebih enak pake dress (macem summerdress) gitu sih ya. Kalau ke gunung gimana?
Waktu jalan-jalan di Sikembang langit
Berhubung nggak pernah naik gunung yang beneran gunung (karena nggak dibolehin hehe), jadi nggak bisa menjabarkan dengan rinci sih. Tapi kalau mendaki bukit, candi dan lain-lain, pernah dong! Waktu itu, saya main ke Rumah Pohon Tombo yang jalannya agak terjal nanjaknya, pake rok aman-aman aja sih. Kayak yang saya bilang, apa yang kita pakai sebenernya nggak akan masalah selama kitanya nyaman nyaman aja. Gitu.
Naik-naik ke bukit di Rumah Pohon Tombo ga masalah sih haha



Trus cari rok wanita yang cocok buat travelling itu yang kaya gimana?
Intinya, cari rok wanita itu yang bikin kita nyaman saat kita pakai, entah itu buat liburan atau buat berkegiatan sehari-hari. Khusus untuk liburan, saya sih lebih menyarankan pake baju atau rok yang emang modelnya longgar, jadi lebih bebas buat gerak. Bahannya juga yang ringan dan jatuh kayak katun atau sifon.




A post shared by Nova Zakiya (@novazakiya) on

BIG NO buat rok wanita yang berbahan denim, lace atau satin. Denim jelas berat, apalagi kalau kena air. Dia juga lumayan makan tempat di tas (pas packing). Kalau lace sebenernya nggak masalah, tapi ngeri suka kesangkut aja. Satin?  Kita nggak lagi mau pergi ke pesta, beb. Takut salah kostum nantinya haha.
ke pantai pake long dress bahan sifon jangan lupa pake legging, gengs!
Tapi yang perlu diperhatikan saat liburan pake rok wanita adalah jangan lupa pake legging ya! Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kalo rok kita tertiup angin atau bahannya yang cenderung transparan (seperti bahan sifon). Toh sekarang udah banyak kok legging yang bahannya mudah menyerap keringat dan breathable gitu, jadi kita nggak akan kegerahan atau ngerasa tebel banget pas dipake hehe.
Waktu main di Salatiga nih yippi~
Pada dasarnya, liburan mau pake baju apapun itu bebas, asal kitanya nyaman. Entah itu soal model pakaian, warna atau bahan. Nggak enak dong kalau kita liburan, tapi ngerasa risih sama baju yang kita pake? Hehehe.
Nah, jangan lupa kalo udah pake outfit kece pas liburan, upload foto OOTD kalian di Instagram pake hashtag #MauGayaItuGampang. Kali bisa di-feature sama MatahariMall.com trus nampang di aplikasinya haha.


Akhir kata, selamat mencari rok wanita yang oke buat liburan ya!

XOXO!
Za

[REVIEW BUKU] : AMBA - LAKSMI PAMUNTJAK



Identitas Buku
Judul : Amba – Sebuah Novel
Penulis : Laksmi Pamuntjak
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Cetakan ketujuh edisi cover baru, Januari 2018
Jumlah Halaman : 577 halaman

Sinopsis
Tahun 2006: Amba pergi ke Pulau Buru. Ia mencari orang yang dikasihinya, yang memberinya seorang anak di luar nikah. Laki-laki itu Bhisma, dokter lulusan Leipzig, Jerman Timur, yang hilang karena ditangkap pemerintah Orde Baru dan dibuang ke Pulau Buru. Ketika kamp tahanan politik itu dibubarkan dan para tapol dipulangkan, Bhisma tetap tak kembali.
Novel berlatar sejarah ini mengisahkan cinta dan hidup Amba, anak seorang guru di sebuah kota kecil Jawa Tengah. “Aku dibesarkan di Kadipura. Aku tumbuh dalam keluarga pembaca kitab-kitab tua.” Tapi ia meninggalkan kotanya. Di Kediri ia bertemu Bhisma. Percintaan mereka terputus dengan tiba-tiba di sekitar Peristiwa G30S di Yogyakarta. Dalam sebuah serbuan, Bhisma hilang selama-lamanya. Baru di Pulau Buru, Amba tahu kenapa Bhisma tak kembali.

Setelah membaca...
Saya membeli novel ini atas rekomendasi seorang teman ketika saya merasa kehabisan bahan bacaan. Teman yang tahu selera bacaan saya, yang seringnya berlatar belakang peristiwa sejarah itu langsung memberitahu buku Amba karya Laksmi Pamuntjak ini. Alhasil begitu menemukannya di salah satu rak Fiksi di Gramedia Grand Indonesia (favorit saya), saya baca dulu sinopsisnya dan oke, langsung saya bawa ke kasir.
Novel ini memiliki alur yang maju mundur. Berputar di kejadian tahun 1956 – 1965 hingga 2006. Masa lalu dan saat ini dengan tokoh utama perempuan bernama Amba. Diawali dengan sepenggal kisah pencarian Amba terhadap kekasihnya Bhisma di Pulau Buru yang ternyata ia dapati dalam keadaan sudah meninggal dan juga sedikit perkenalan dengan pemuda Ambon bernama Samuel Lawerissa.
Amba sendiri dibesarkan dalam keluarga Jawa yang penuh kasih sayang, kesetiaan, sopan santun dan pengorbanan. Bapaknya penyuka kitab-kitab Jawa lama seperti Wedhatama dan Serat Centhini. Nama Amba dan kedua adik kembarnya, Ambika dan Ambalika, juga diambil dari kisah-kisah pewayangan Mahabharata. Sesungguhnya Amba dalam Cerita Besar itu adalah seorang perempuan yang tersia-sia dan mendendam, tapi ayahnya memiliki alasan lain, bahwa Amba-lah yang kemudian membawa akhir Perang Bharatayudha. Kejayaan Amba akan terbukti kemudian.
“Seorang perempuan seharusnya tak menerima begitu saja tafsir umum atas namanya. Kamu jangan sampai terjerat oleh apa yang dibayangkan orang. kamu harus bisa mengatasinya dan memberi makna sendiri kepada namamu.” – Sudarminto, Bapak Amba (p.107)
Kehadiran tokoh Salwa (Salwani Munir) dan Bhisma (Bhisma Rashad) dalam hidup Amba pun tak ubahnya seperti cerita di kitab Mahabharata tersebut. Kedua orangtua Amba yang bertemu dengan Salwa di UGM membuat mereka langsung tertarik dan menjodohkannya dengan Amba, meski berkali-kali ibu Amba, Nuniek, mengingatkan kepada Amba bahwa ini bukan seperti kisah pewayangan karena keduanya bukan wayang. Amba yang awalnya tidak terlalu memikirkan akhirnya juga tak berkutik ketika bertemu dengan Salwa karena sosok Salwa yang baik, yang ngemong.
Meski pada akhirnya hubungan keduanya tak berjalan mulus seperti yang orangtua Amba harapkan. Amba bertemu dengan Bhisma, seorang dokter di rumah sakit tempat Amba bekerja paruh waktu sebagai penerjemah di Kediri. Disitulah kisah Amba dan Bhisma terjalin dengan begitu… rumit mungkin kata yang paling tepat. Kisah cinta yang bisa dikatakan sebentar karena mereka harus terpisah ketika acara yang mereka datangi ‘digerebek’ oleh tentara karena dianggap berhubungan dengan PKI yang saat itu masih sensitif pasca kejadian G30S.
Pada akhirnya, Amba tidak bersama keduanya, tidak bersama Salwa juga tidak bersama Bhisma. Greget sih tapi ya itu bagian emosinya. Sebenarnya di hampir semua bab muncul emosi yang berbeda-beda sih, mulai dari senang, sedih, jatuh cinta, takut yang tak jarang bikin keluar air mata (saya ya).
“Para resi boleh saja bersikeras bahwa cinta sejati membutuhkan kerendahhatian, tapi ia harus mengakui bahwa pada akhirnya tak ada kebajikan yang bisa didapatkan dari sebuah hubungan ketika satu pihak lebih mencintai pihak lainnya,” (p.353)
Perjalanan mencari Bhisma setelah 41 tahun berselang juga memiliki keseruan tersendiri, bertemu dengan orang-orang yang mengenal Bhisma, bercerita tentang kenangannya bersama Bhisma di Tefaat (Tempat Pemanfaatan), meski klimaksnya bagi saya adalah ketika membaca surat-surat dari Bhisma yang dikubur di bawah pohon Meranti.
Membaca novel ini memberi gambaran seperti apa kehidupan orang-orang dulu, yang pemerintah sebelumnya menyebutnya sebagai tahanan politik atau tapol, di Pulau Buru. Dipaksa bekerja keras, terkadang disiksa, membuka lahan, atau mengerjakan apapun yang diperintahkan oleh tentara seharian. Terbukti komunis atau tidak, tidak ada bedanya. Meski pada akhirnya mereka dibebaskan untuk pulang ke daerahnya masing-masing, namun mereka tetap menyandang istilah ‘eks-tapol’ yang sangat berpengaruh di kehidupan mereka.
Membacanya memberi pengetahuan tersendiri dan baru bagi saya. Sepertinya saya belum punya novel yang setting-nya tapol di Pulau Buru. Inilah mengapa saya lebih suka membaca novel yang berlatar belakang sejarah, khususnya sejarah di Indonesia. Karena pada dasarnya, belajar bisa darimana saja bukan? Hehehe.
Tapi meski terdengar agak berat, bacanya sih nggak terlalu bikin mikir banget kalau buat saya. Kaya dari setiap kalimat, setiap bab, setiap kejadian, mudah aja gitu tergambar di otak, ‘oh begini nih kejadiannya’. Kita benar-benar bebas berimajinasi dengan membacanya, bagaimana suasana mencekam dianggap komunis, bagaimana hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian, dan berbagai kejadian lainnya.
Bab yang menandakan hilangnya Bhisma. Tidak ada cerita karena Bhisma hilang tanpa ada kabar
Sedikit saya kutipkan beberapa kutipan kalimat yang menurut saya menarik dari buku ini,
Aneh, memang : selalu ada yang membuat terlena dan tak berdaya pada hujan, pada rintik dan aromanya, pada bunyi dan melankolinya, pada caranya yang pelan sekaligus brutal (p.27)
Tidak, kau jangan mau jadi bulan-bulanan sistem yang korup ini, kau harus melakukan segalanya tanpa bantuan polisi, dan percaya pada instingmu sendiri (p.45)
Orang yang cemburu adalah orang yang nggak pede (p.76)
Jangan minta maaf. Nggak ada yang lebih menyedihkan di dunia ini daripada permintaan maaf yang nggak pada tempatnya (p.82)
Di satu sisi kecantikan adalah anugerah, ia pemberi hidup, menyanjung. Di sisi lain ia pembawa mala, terkutuk, menakutkan (p.86)
Orang bisa berbeda pendapat tapi siapapun butuh teman (p.88)
Perkawinan tak banyak bedanya dengan politik. Lewat ibu ia belajar: perkawinan adalah tahu bagaimana membaca perubahan, tahu kapan menyerang kapan mundur, kapan memulai kapan berhenti, kapan berbicara kapan mendengar (p.110)
Politik memang bukan tentang apa yang benar. Politik adalah bagaimana kita bisa salah dengan benar (p.111)
Perjalanan : melatih diri untuk tetap menjaga jarak seraya berbagi begitu banyak (p.181)
Meskipun suara kecil di telinganya terngiang-ngiang, hati-hati, jangan serahkan hidupmu pada orang-orang yang tak kau kenal, apalagi yang mengaku jatuh cinta padamu (p.276)

Saya sih suka dan merekomendasikan buku ini bagi kalian yang memang suka novel fiksi yang lebih kompleks dengan latar belakang sejarah. Bagi saya, nilainya 9 dari 10. Cus mampir ke toko buku! Selamat membaca ya! Hihihi

XOXO!
Za

TANGKAL BAHAYA POLUSI DENGAN NATSBEE HONEY LEMON BIAR #ASIKTANPATOXIC


Jakarta lagi rame-ramenya nih karena ada event Asian Games 2018. Puluhan hingga ratusan perwakilan dari 45 negara hadir ke Indonesia untuk mengejar gelar juara dari 40 cabang olahraga yang dipertandingkan di Asian Games 2018. Tambah macet? Pemerintah dalam hal ini pihak kepolisian lalu lintas, Dinas Perhubungan dan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) melakukan perluasan ganjil genap sih untuk mengantisipasi terjadinya kepadatan itu. Data dari BPTJ sih menyebut bahwa kecepatan rata-rata kendaraan yang melintas di titik-titik yang diberlakukan ganjil genap meningkat sebesar 44.08% dan emisi CO2 menurun 20.30%. Menurun bukan berarti sama sekali nggak ada lho ya, karena namanya polusi masih ada aja di Jakarta apalagi di jam jam sibuk haha.
Oke tapi saya nggak mau bahas soal itu. Ini hanya semacam pembukaan. Tapi yang akan saya bahas adalah nggak cuma pemerintah aja lho yang sibuk sana sini mempersiapkan dan menyukseskan Asian Games 2018, tetapi juga para pekerja media. Dari zaman persiapan sampai ini bentaran lagi udah mau abis, sibuknya super. Berhubung saya nggak meliput Asian Games 2018 (karena sudah resign hehe), jadi saya ceritakan persiapannya aja ya dan menangkal debu debu polusi yang nakal selama beraktivitas!

Sibuknya Wartawan dari Kapan?
Beh. Dari tuh venue masih direnovasi sampai udah bisa dipake, sampe acara kelar dan seterusnya. Kenapa? Karena kita mewakili mata pemirsa, masyarakat sebangsa dan setanah air, untuk mengabarkan sejauh mana persiapan Indonesia menjadi tuan rumah gelaran pesta olahraga terbesar se-Asia ini. Tentunya, nggak pengen malu-maluin dong ya!
bayangkan dari lantai 6 kita lari turun tangga bawa tripod demi kalian pemirsa. huff
Berhubung waktu itu saya wartawan RI2 alias gabung di tim medianya Wapres Jusuf Kalla (perwakilan dari kantor ya), jadi saya sempat ikut beliau waktu meninjau venue sebelum acara dimulai. Pagi-pagi kita sudah lari-larian turun tangga bawa tripod dari lantai 6 sampai lantai dasar di Wisma Atlet Kemayoran (soalnya kalau nungguin lift lama dan Pak JK sudah turun ke bawah). Satu per satu, Pak JK bareng sama Gubernur DKI Anies Baswedan dan perwakilan menteri juga ketua Inasgoc, melihat tempat-tempat yang nantinya akan digunakan oleh atlet negara lain, mulai dari kamar, taman, dining room, dan lain-lain. Belum selesai sampai situ, Pak JK juga sempat makan pisang di samping kali Sentiong (yang banyak orang kenal kali item) untuk membuktikan disitu tidak bau.
Mampir di Stadion Atletik yang udah bagus terus ketemu Zohri
Selesai dari situ, kita langsung menuju Gelora Bung Karno untuk meninjau stadion atletik dan akuatik. Udah jangan ditanya, panas debu keringat sungguh mensponsori liputan hari itu. Mungkin karena judulnya liputan persiapan acara olahraga terus wartawannya juga kudu olahraga kali ya hahaha.
Mejeng dulu di trotoar baru daerah Sudirman
Perbaikan sih nggak cuma diterapkan di venue-venue pertandingan aja, tetapi juga infrastruktur kota seperti trotoar. Suka perhatiin nggak sekarang trotoar di sepanjang Jalan Sudirman sampai MH Thamrin itu bagus banget dan lebih lebar? Bisa dibilang space untuk pejalan kaki 2 kali lipat ukuran semula. Udah gitu ditambah tanaman jadi ada buat mengurangi polusi udara. Ingat, mengurangi ya bukan menghilangkan sama sekali. Apalagi kalau liputan disini jam-jam berangkat kantor kan ya banyak kendaraan lewat kita macem sarapan asap kendaraan haha.

Udah Resign dari Wartawan, Enak Dong Nggak Kena Polusi
Mohon maap nih, dikata kita resign terus cuma ‘ngedekem’ dalem rumah apa begimane nih? Memang nggak sepadat dulu sih kegiatannya, karena masih rehat sebentar sambil ngurus WO dulu jadi ya seputar ketemu klien aja biasanya. Atau memanfaatkan waktu sebelum kerja (tetap) beneran lagi dengan me time ke toko buku lah, salon atau pulang ke rumah kumpul keluarga. Pokoknya bener-bener dimanfaatkan waktunya dengan baik. Atau karena masih dalam proses pencarian jati diri gitu (sok muda ya), jadi suka dateng ke kajian ba’da Isya hari Rabu di Masjid Universitas Al Azhar Indonesia.
Padat kendaraan di pagi hari yang terulang di sore hari juga
Kena polusi apa nggak? So pasti gengs! Hampir sebagian besar kegiatan saya lakukan di jam-jam sore menjelang jam pulang kerja, atau bahkan abis Maghrib sekalian. Itu polusi lagi numpuk-numpuknya, nggak ada beda sama saya dulu liputan pagi haha. Ini aja ya, bikin tulisan ini, baru aja pulang menembus kemacetan Jalan Sudirman ke Al Azhar (dan sebaliknya dong! Padahal udah malem) karena ya masih ada euforia Asian Games 2018 di GBK. Banyak bener yang nonton dah, bagus masyarakat kita turut mendukung! Tapi jadinya perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh 20 menitan, bisa hampir 45 menitan pemirsa! Tak terkecuali bus Transjakarta yang juga kena imbas antara halte GBK ke halte Bundaran Senayan. Oke bhaique!

Emang Bahayanya Polusi Apaan?
Suka pada ngerasa sesak atau pusing kalau lama-lama di jalan ngirup asap kendaraan gitu nggak sih? Kalau saya sih iya. Kelamaan dikit bawaannya pusing, apalagi kalau lagi pakai helm langsung kepala berasa nyut nyut aja. Hal ini karena pada udara yang sudah terkena polusi terdapat banyak sekali senyawa, unsur ataupun partikel berbahaya bagi makhluk hidup, seperti Partikulat Matter (PM10 dan PM2,5) yang gampang banget menembus darah dan alveoli (bagian terkecil paru-paru). Belum lagi natrium dioksida, ozon, karbon monoksida yang pasti berimbas negatif ke sistem pernapasan kita. Bahkan bisa juga lho meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular atau gangguan jantung dan pembuluh darah kayak tekanan darah tinggi, stroke, diabetes, dll. Serem ya.

Ya Tapi kan Namanya Polusi Nggak Bisa Dihindari. Kita kan Butuh Beraktivitas di Luar
Ya ya memang, saya juga nggak bisa menghindari takdir ini kok. Selama masih tinggal di perkotaan, ya ini bakal tetap jadi salah satu masalah kita bersama (ya dong bersama masa sendiri hehe). Tapi ada pepatah bilang, “MENCEGAH LEBIH BAIK DARI MENGOBATI”. Caranya?
Gambaran kehidupan yang tak bisa dihindari. tsaaah!
Pertama, kita bisa menggunakan masker kalau bepergian. Kedua, banyak minum air putih. Ketiga, konsumsi madu lemon. Ini sih yang biasa saya lakukan ya. Karena bagaimana pun toxic-toxic ini harus kita lawan  demi hidup sehat. Abis kalau kita aja gaya hidupnya tidak sehat, berujung stress, terus makin ngendep dah tuh toxic dalam tubuh kita (ditambah terpapar polusi setiap hari lagi! HAH!).
Masker? Oke mudah. Air putih? Tiap hari suka bawa tumbler. Madu? Hmm agak ribet sih kalau buat saya, karena kalau saya minum madu itu biasanya saya bikin minuman sendiri pakai lemon gitu. Soalnya ini bagus lho buat kekebalan tubuh, menghilangkan racun tubuh atau si toxic tadi, dan bonus satu lagi, baik buat kulit juga buat diet. Tapi. Ya. Kadang males aja bikinnya. Hahaha.
Natsbee Honey Lemon temani aktivitas liputan saya dulu yihaaa
Makanya pas Pokka ngeluarin produk minumannya, Natsbee Honey Lemon alias si minuman madu lemon ini seakan menjadi jawaban atas segala kemageran saya meracik minuman madu lemon setiap hari. Kan kalau tinggal minum gini praktis banget, orang rasanya juga mirip-mirip sama yang saya racik. Manisnya pas, madunya berasa, asem lemonnya juga berasa. Seger deh, apalagi kalau udah didiemin di kulkas seharian terus diminum pas siang hari lagi terik. MasyaAllah nikmat mana yang mau kalian dustakan, gengs?
Enak diminum selagi dingin di siang terik. Beh mantap betul!
Menyenangkannya, harganya terjangkau! Sebotol isi 450 ml ini dihargai sekitar Rp 6.500,-. Enak nih buat stok di kosan. Haha. Terus ya, di angka kecukupan gizinya, tertulis Vitamin C nya 100%, lemak totalnya 0%. Suka girang nggak sih kalau liat informasi nilai gizi gini di bagian lemaknya 0% tuh? Kalau saya sih girang banget haha. Biar empunya ini, si Pokka asalnya dari Jepang, tapi nggak usah khawatir lho. karena Natsbee Honey Lemon ini udah terdaftar di BPOM dan udah dapet sertifikat halal dari MUI. Kalian bisa cek deh di website-nya MUI hehe.

Rekomendasiku bulan ini, Natsbee Honey Lemon yuhuuu
Jadi saya sih yes, alias merekomendasikan minuman madu lemon ini ke kalian semua. Beberapa temen sekantor saya dulu pas masih liputan bareng, saya bagi juga dan enak mereka bilang. Jadi nggak cuma pendapat saya aja dong ya hehehe.

Tuppy sama Blobby aja minum Natsbee Honey Lemon lho hahayy
Jadi (lagi), udah siap bersihkan hari aktifmu, #AsikTanpaToxic dengan Natsbee Honey Lemon yang kandungan Vitamin C-nya nggak main-main? Selamat mencoba ya!

XOXO!
Za