[JOURNOLIFE] : FELLOWSHIP JURNALIS MRT JAKARTA 2017

Hello guys! I’m back! *bersihin sarang labalaba*
Dengan segala kesibukan yang terjadi dalam 2 bulan terakhir, akhirnya saya bisa menyentuh blog lagi *haru*. Emang ngapain aja sih sampe absen 2 bulan begini? Nah ini yang mau saya ceritakan pengalaman baru saya satu per satu di blog hehe.
Bulan Oktober lalu, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti Fellowship Jurnalis MRT Jakarta 2017, program tahunan yang diadakan oleh PT MRT Jakarta terkait peliputan isu transportasi publik terintegrasi, khususnya untuk menyambut MRT yang targetnya 2019 sudah bisa kita gunakan. Ada 20 jurnalis yang berhasil lolos dari sekitar 66 jurnalis yang mendaftar pada Agustus 2017. Dan yang lebih bikin excited dan semangat untuk ikut adalah 3 dari 20 jurnalis ini akan dikirim ke Jepang untuk studi banding. Siapa yang nggak mau coba ya :"
Total ada 5 kelas dan 1 kunjungan proyek yang harus kami ikuti dalam program Fellowship ini. Dan tentu saja ke Jepangnya harus pake effort dong. Untuk TV seperti saya dan beberapa teman lain, kita diharuskan membuat liputan terkait MRT ini, sementara untuk media online, cetak maupun radio, setelah kelas diharuskan membuat berita terkait topik di kelas tersebut. Terus di kelasnya ngapain aja sih?

Kelas Pertama
4 Oktober 2017 menjadi kelas pertama bagi kami yang tentu saja diawali dengan perkenalan dan penjelasan program oleh Corporate Secretary PT MRT Jakarta (kebetulan Pak William berhalangan hadir huff). Selanjutnya kelas diisi oleh pakar transportasi, Profesor Danang Parikesit yang membahas tentang “MRT dalam Perspektif Pembangunan Daerah”.
Di kelas ini, mulai dibukakan transportasi publik ideal di luar negeri seperti Hong Kong, Jepang, Singapura, dan beberapa negara lain yang bisa menjadi contoh untuk diterapkan di Indonesia. Prof. Danang berpendapat bahwa membangun MRT tak hanya membangun moda transportasi saja, tetapi memperbaiki struktur kota, sehingga kotanya lebih tertata ruang terbuka hijaunya dan kawasan sosial ekonomi bisa terpusat di stasiun. Inilah yang kemudian bisa kita sebut dengan kawasan transit terpadu alias Transit Oriented Development (TOD).

Kelas Kedua
Kelas selalu diadakan di hari Rabu. Kelas kedua (11/10) diisi oleh Direktur Konstruksi MRT Jakarta, Silvia Halim. Tentu saja dong pembahasan kita kali ini tentang konstruksi MRT yang meliputi bagaimana progress pembangunannya saat ini, siapa saja yang terlibat di Fase 1, teknologi apa yang digunakan dalam MRT Fase 1 yang menghubungkan Lebak Bulus – Bundaran HI ini, dan masih banyak lagi (info lengkap bisa kalian akses di website resmi PT MRT Jakarta ya, lengkap!).
Aduh saya kagum banget deh sama sosok Ibu Silvia Halim ini. Dia berhasil membuktikan bahwa dirinya juga bisa berada di lingkungan kerja yang mayoritas laki-laki, terlebih jadi direktur konstruksi lagi (FYI, beliau merupakan satu-satunya perempuan yang berada di jajaran direksi lho!). Udah gitu, ngobrol sama beliau enak banget karena selain humble, dia sama sekali nggak pelit ilmu. Mengutip kalimat beliau, “I don’t think you should do things differently because you’re a woman, you should just do things because that’s the way it should be done". FIX, saya ngefans!

Kelas Ketiga
Nah kelas ketiga ini entah kenapa berasa banget lagi kuliahnya. Membahas soal operasional MRT dan bisnis non-kereta, kelas ini diisi oleh Direktur Operasi dan Pemeliharaan MRT Jakarta, Agung Wicaksono. Kita membahas soal perbandingan MRT Jakarta dengan transportasi berbasis kereta lain (seperti Commuter Line Jakarta), mulai dari system persinyalan, operasional, pendeteksi lokasi, operasional pintu kereta, dan masih banyak lagi.
MRT Jakarta ini juga standarnya internasional lho karena selama proses pengerjaan ini, mereka benchmark-nya ke operator internasional seperti JR East dan Tokyo Metro (Jepang), MTR (Hong Kong), Land Transport Authority (Singapura), dll. Asa makin nggak sabar ya buat cobain MRT di Jakarta, Maret 2019 mendatang!

Kelas Keempat
Jika dua kelas sebelumnya diisi oleh jajaran direksi MRT Jakarta, kali ini kelas diisi oleh Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi, Lingkungan dan Energi Perhubungan, Prasetyo Boeditjahjono. Kelasnya lebih membahas soal regulasi perkeretaapian Indonesia. Sepanjang kelas bapaknya ngelawak mulu, jadi imbang deh antara belajar sama bercanda.
Sesekali bapaknya mengeluarkan celotehan yang ‘off the record’ terus ujungnya beliau bilang, “pokoknya nih kalau sampe ada apa apa atau saya dipanggil Pak Menteri, pasti salah satu dari kalian nih yang bocorin. Hahaha,” yang terus disambut tawa lepas dari kita. Hahaha.

Kelas Kelima
Ndak nyangka lho, tau tau udah kelas terakhir yaitu di tanggal 27 Oktober 2017. Mentornya merupakan wartawan senior Kompas, Banu Astono. Pembahasannya lebih kepada gimana sih sebaiknya media dalam peliputan dan pengemasan isu transportasi itu? Disitu kita diajarkan untuk kritis menanggapi sebuah tema (tapi tugas saya sudah di-submit haha). 
Yang lebih menyenangkannya lagi adalah Pak Banu ini ‘ngomporin’ Dirut MRT Jakarta, Pak William Sabandar, supaya kita semua diberangkatin ke Jepang supaya ilmunya lebih dapet. Karena katanya percuma kalau yang diambil hanya 3 gitu. Saya sih setuju (dan lainnya pun sama). Sayangnya katanya anggarannya udah diketuk sih. Huff.

Proses Membuat Tugas
Begitu tau kalau kelas ini ada tugasnya, pertama saya langsung menghubungi Ezra, produser saya. Nggak perlu dijelaskan lebih rinci kenapa saya memilih Ezra sebagai mentor saya, intinya saya lebih percaya sama dia dibandingkan dengan yang lain. Di awal, Ezra menyuruh saya untuk mengelompokkan apa yang pasti saya dapat, apa yang bisa saya dapat, dan apa yang belum. Terus juga saya diberikan contoh untuk membuat TOR yang baik. Mulailah dari situ saya stress karena belum menemukan ide mau bikin apa. Kafe demi kafe saya tongkrongi supaya bisa jadi sebuah TOR yang baik dengan materi yang based on research, bukan karangan belaka.
Yang lain dimodalin dibawain kamera liputan, saya cuma pake mirrorless yang saya punya. mengandalkan suara atmo. ya buat jaga jaga sih hehe
Setelah jadi (dengan masukan dari Ezra, Ias dan Yana hehe), akhirnya TOR saya submit ke Corsec MRT Jakarta dan minta tim liputan ke Korlip. Dan saya pilih cameramen saya si A’ Iki yang memang sudah saya percaya hasil kerjanya. TOR sudah saya share ke A’ Iki dan sudah pula saya ceritakan saya pengennya bikin yang ‘begini’, akhirnya kita mulai liputan saat kunjungan proyek di tanggal 19 Oktober 2017.
Kejar-kejaran dengan waktu yang ternyata hanya dikasih sekitar 45 menit (waktu maksimal kunjungan katanya sih segitu), dengan banyak jurnalis (yang masing-masing juga bawa partner), berbagi tempat untuk oncam buat yang sesama TV dan saya banyak take karena grogi tapi maunya perfect. Hahaha. Percaya lah, saya masih remah remah. Huff.
Step 1 - menghapal contekan!
Step 2 - Praktekin pake gerakan!
Step 3 - Jangan kelamaan kasian yang lain!
Begitu selesai kunjungan lapang yang nggak jadi didampingi oleh direksi MRT Jakarta karena mereka sedang bertemu Pemprov DKI (yang kata Mas Tomo juga mendadak huh), akhirnya saya dan A’ Iki langsung ngejar ke Balai Kota. Kebetulan saya butuh soundbite dari Anies atau Sandi juga sih. Dan pas sampai sana Alhamdulillah belum doorstop.
Ketika wawancara dengan Dirut MRT Jakarta, William Sabandar. Seru dan dapat ilmu baru 
Yang menyenangkan di liputan ini adalah selain saya belajar mengonsepkan semuanya sendiri (Ezra bagian koreksi dan kasih masukan kalau saya mulai melenceng), saya banyak bertemu dengan narasumber-narasumber yang cerdas dan Alhamdulillah lagi mudah banget diajak janjian. Seperti janjian sama Pak William Dirut MRT yang pas WhatsApp langsung direspon dan dikasih waktu wawancara, pun dengan Prof. Danang Parikesit yang mau meluangkan 10 menitnya di tengah acaranya untuk wawancara.
Ada drama saat wawancara ini karena... saya... kurang tinggi :(
Total dengan segala oncam, ambil stockshot dan wawancara narasumber, liputan saya selesai dalam waktu 4 hari. Ya agak lama sih memang. Tinggal editing dan nyari slot tayang karena tugas ini harus tayang di TV. Dengan sedikit drama karena saya nggak rela liputan saya dipegang oleh produser lain (pengalaman yang udah udah seringnya kecewa sih), akhirnya liputan saya tayang di program Lensa Indonesia Sore dengan durasi 6 menit (pasnya si Lensor lagi kurang materi). HAHAHA.
Ya meski agak kurang puas dengan hasilnya karena saya merasa ada yang kurang (iya saya agak perfeksionis huff), Ezra bilang saya harus berbangga dengan diri sendiri. Karena saya berani membuat konsep atau treatment liputan yang memang jarang dilakukan disini. Singkatnya kata Ezra, saya sudah membuktikan ke diri sendiri bahwa saya sudah berkembang dengan kerja keras saya sendiri.

And the Winners are...
Namanya kompetisi pasti ada menang ada kalah ya. Pengumuman itu saya dapat waktu saya sedang liputan di Solo. Belum berkesempatan untuk ikut studi banding ke Jepang. Sedih sih. Saya pengen banget ke Jepang. Tapi kata Ezra, kalau baru pertama ikut beginian langsung menang, saya nggak akan belajar dan menjadi tangguh.
Setidaknya, hampir 4 tahun saya di RTV, saya mulai berani untuk keluar ‘cangkang’ yang sebelumnya nggak pernah terpikir sama saya. Alhamdulillah nya saya jadi banyak belajar. Insya Allah bermanfaat ya. Kali rejeki saya ke Jepang nya justru dengan kuliah S2 ya. Amin hehe.
Saya kasih sedikit bonus ya. Hihi~
Well, terima kasih kepada PT MRT Jakarta yang memberi saya kesempatan untuk join di program Fellowship ini. Relasi baru, teman-teman baru yang semuanya ramah dan mau berbagi ilmu hihi. Tak lupa, selamat bagi 5 jurnalis (kuotanya bertambah yeeyyy!) yang berhasil lolos studi banding ke Jepang. Semoga saya bisa segera menyusul kesana ya. Hihi.

XOXO!

Za

[BEAUTY]: CEGAH RAMBUT RONTOK DENGAN SARIAYU HIJAB INTENSE SERIES

Scrolling timeline Twitter itu seru. Apalagi kalau lagi nungguin narasumber datang ke meeting point yang udah disepakati buat wawancara. Meski sekarang kayanya udah nggak terlalu banyak yang akses si burung biru ini, tapi saya terhitung masih sering buat intip ada hot issues apa sih atau sekedar promote postingan terbaru di blog. Hihi.
Nah, nggak lama ini, saya menemukan beberapa tweet yang bilang kalau mereka pengen jadi reporter atau istilah kerennya jurnalis, supaya bisa jalan jalan keliling Indonesia. Hmmm.

Jadi Jurnalis = Jalan-Jalan Gratis?
Tapi memang iya sih, waktu masih kecil, saya pun berpikirnya demikian. Reporter itu bisa jalan-jalan keliling Indonesia atau bahkan ke luar negeri, dibayarin kantor. Nah, siapa sih yang nggak mau jalan-jalan gratis begini? Hihi.
Foto bareng Irjen Pol Royke Lumowa dan rekan-rekan media pas meninjau flyover Dermoleng, Brebes
Setelah jalan hampir setahun jadi reporter, saya juga merasakan beberapa kali dikirim buat DLK alias Dinas Luar Kota. Pengalaman pertama saya DLK adalah ketika memantau kesiapan jalur tol fungsional dari Surabaya sampai Jakarta, bersama Kakorlantas Mabes Polri, Irjen Pol Royke Lumowa dan tim NTMC Polri. Bersama teman-teman dari media lain, kita benar-benar menjadi yang pertama mencoba tol fungsional sebelum diperbantukan untuk arus mudik 2017. Yeay! (kalau ditulis di artikel lain, telat ga ya? hihi)
Sesiangan di mobil menyusuri jalan tol baru dari Surabaya sampai Jakarta. Kebayang lepeknya? Tapi tetep happy sih hihi
Kebayang dong gimana panasnya bulan puasa, di tengah tol yang belum 100 persen jadi, dan tentunya kita menempuh jalur darat selama 2 hari perjalanan? Hmmm tapi berhubung bulan puasa, jadi pas jam berbuka kita sudah di hotel sih hehe.
Difoto sama fotografer andalan NTMC Polri, Mas Heri Samsuljani sebelum bikin live on tape
Emang sih semua biaya perjalanan dan akomodasi ditanggung oleh kantor (dalam bentuk uang saku yey) dan penyelenggara (kecuali kalo jajan di luar itu ya bayar sendiri haha). Tapi jangan seneng dulu, karena di tengah perjalanan itu kita harus berkutat dengan naskah dan gambar yang harus segera dikirim ke kantor untuk tayang. Bahkan di dalam mobil aja, ada yang feeding, rough cut dan berbagai aktivitas lain demi layar.
Menuju desa yang hilang di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Ini sudah masuk laut Jawa lho. Panasnya jangan ditanya. Huff
Terakhir saya liputan ke luar Jakarta itu ke Muara Gembong beberapa hari lalu, mencari desa yang terkena dampak abrasi. Lokasinya dekat laut Jawa. Panasnya bukan main dan gersang. Untuk menuju desanya saja, saya harus naik ojek selama 30-40 menit dari jalan raya (mobil nggak bisa masuk ke desa itu huff). Ditambah saya juga harus naik kapal kecil gitu untuk melihat pesisir pantai yang dulunya bagian dari Kampung Beting, Desa Pantai Bahagia. Sudah kebayang panasnya gimana?

Beneran jalan-jalan?
Emang sih enak ya jalan-jalan, jadi nggak cuma kerja di kantor aja. Di Jakarta juga kita sering menclok sana menclok sini buat liputan. Bahasa gaulnya, mobilitas tinggi. Serunya lagi, kita bisa jadi orang yang pertama tau sesuatu, dapat ilmu dan ketemu sama orang-orang yang nggak kita bayangin sebelumnya (kaya ketemu Presiden). Nggak enaknya, ya itu, panas-panasan, ujan-ujanan (kalo musim ujan ya malah main becekan di banjir). Kulit gampang banget kering dan keling juga perih. Tangan sama muka siap siap belang.
Masih difoto sama Mas Heri NTMC Polri pas liputan di Tol Fungsional Gringsing, Batang, Jawa Tengah
Selain itu, ancaman rambut rontok juga ada lho, apalagi buat yang berjilbab. Huff.

Rambut rontok karena sering panas-panasan?
Saya sendiri memang mengenakan jilbab saat beraktivitas sehari-hari, termasuk kalau liputan. Panasnya matahari yang belakangan menyengat banget (kata BMKG sekarang Indonesia sedang di puncak musim kemarau!) bikin rambut cepet lepek, ujung-ujungnya banyak rontok. Rambut yang tertutup jilbab memang harus dirawat sebaik-baiknya karena di keseharian rambut kita tidak mendapat udara yang cukup sehingga memicu minyak dan keringat jadi lembab gitu. Terus ketombe. Terus gatal. Terus rontok. Ah tidaaaaak!!
Rekomendasi dari Diary Hijaber nih, guys
Di tengah pencarian saya mencari shampoo yang cocok yang bisa memenuhi hajat hidup rambut saya (halah), saya menemukan review dari DiaryHijaber, sebuah komunitas hijaber terbesar di Indonesia, yang mengulas shampoo dari Sariayu. Terus apa bedanya dengan shampoo lainnya? Nah si Sariayu ini memang mengeluarkan produknya khusus untuk menjawab kegundahgulanaan wanita berhijab, yaitu Sariayu Hijab Intense Series Shampoo Hair Fall! Yeay!

Terus apa keunggulannya?
Dengan kandungan ekstrak kacang polong dan kedelai dalam PeaVit Complex, serta mild surfactant, shampoo dari Sariayu ini memiliki 3 langkah intensif buat kita-kita yang berjilbab. Pertama, dia mengurangi kerontokan rambut. Kedua, membantu menguatkan akar dan inti rambut. Dan ketiga,  membantu melindungi dan memperbaiki rambut dari kerusakan. Hmmm. Menarik.
Terus yang pasti sariayu hijab ini merupakan brand lokal yang halal, natural dan no animal testing! Seneng nggak sih dengernya? Hihi.

Setelah dicoba...
Karena penasaran setelah membaca review dari Diary Hijaber yang bisa kalian baca disini, saya pun mencari si shampoo bertutup ungu ini. Saya membeli di LotteMart Kuningan City seharga Rp 20.500 dengan ukuran 180 ml. Terjangkau kan? Dengan harga segitu udah bisa dapetin semua kebaikan buat mencegah rambut rontok hehe.
Wanginya juga enak, manis lembut dan seger terus tahan lama gitu. Rambut jadi berasa ringan sampai besokannya juga masih enakeun dipake beraktivitas juga. Nggak kusut meski diiket seharian hehe.
Tutupnya flip gitu dan kencang. Jadi nggak khawatir kalau dibawa bepergian
Memang sih saya baru pakai minggu ini jadi yang saya ceritakan baru sekelumit kesan pemakaian pertamanya. Nanti ya sekitar satu atau dua bulan kita lihat apakah benar-benar mengurangi rambut rontok. Saya sih sangat berharap ini jadi jawaban bagi para wanita berjilbab yang sama sama mengalami rambut rontok karena lembab. Sayonara rambut rontok :3

Tips biar rambut tetap sehat
Tapi yang perlu diingat, selain memilih shampoo yang tepat, kalian juga harus keramas secara teratur ya minimal dua sampai tiga hari sekali, dibarengi dengan pemakaian kondisioner, hair tonic dan hair mist untuk hasil terbaik (jangan sedih, di sariayu hijab ada kok). Selain itu, hindari langsung mengenakan jilbab saat rambut masih basah (apalagi langsung diiket) karena itu bisa bikin rambut rapuh saking lembabnya. 
Bagaimanapun juga, meski rambut kita tertutup, tapi jangan sampai nggak peduli sama kesehatannya ya, karena rambut adalah mahkota wanita hihi. Selamat mencoba ya!
XOXO!
Za

Cigarettes After Sex Live in Jakarta

Yeay! Finally, Cigarettes After Sex live in Jakarta! *give them applause yeeeee*
Tepatnya satu minggu yang lalu, di hari Rabu (16/8) malam, Ismaya Live berhasil mendatangkan Cigarettes After Sex untuk show pertama kalinya di Jakarta. Duh. Emang harus ditonton banget!
Ismaya sendiri secara resmi mengumumkan konser ini di semua akun media sosial mereka pada pertengahan Juni lalu. Bawaannya langsung gregetan buat nunggu tanggal buat beli tiketnya karena menurut hemat saya (aseeek), Cigarettes After Sex ini jarang-jarang ke Jakarta. Band ini bahkan mungkin nggak semua orang tau dan nggak semua orang suka. Di tengah kebimbangan antara menonton We The Fest (event dari Ismaya juga) yang dari sekian artis cuma ngincer Zhu sama Vallis Alps, akhirnya resmi di tanggal 21 Juni 2017, saya langsung order tiket Cigarettes After Sex yang presale 1 ludes dalam waktu 15 menit (dan saya nggak dapet di harga itu huff).

Cigarettes After Sex itu Band Apa?
Mungkin kebanyakan orang langsung ‘bergidik’ mendengar nama band ini. Kenapa saya bisa berkata demikian? Karena dari beberapa teman saya menunjukkan ekspresi yang “apaan sik? Kok nama bandnya gitu?”. Padahal mah ya, kalau didengerin ya nggak gitu gitu amat juga liriknya. Malah syahdu :3
Cigarettes After Sex sendiri merupakan band bergenre ambient pop yang berasal dari Brooklyn, New York. Dibentuk sejak tahun 2008, band ini beranggotakan 4 orang, diantaranya Greg Gonzalez (lead vocal + electric/acoustic guitar), Phillip Tubbs (keyboards, electric guitar), Randall Miller (bass), dan Jacob Tomsky (drums). Lagu-lagunya dirilis pertama di tahun 2012 yang katanya basically an accident; kind of experiment gitu, macam Nothing’s Gonna Hurt You Baby, I’m a Firefighter, Dreaming of You, dan Starry Eyes. Eksperimen aja bagus gini ya hmmmm (anyway di tahun 2011 mereka bikin demo juga sih).

Kenapa Suka?
Sebelum jawab kenapa suka, boleh saya cerita sejak kapan saya suka? Haha. Sebenarnya saya suka juga belum lama lama banget, tepatnya di tahun 2015. Diperkenalkan oleh ‘teman’. Lagu pertama yang saya dengarkan saat itu adalah Keep on Loving You (yang kemudian jadi lagu favorit sepanjang masa). Semenjak itu saya dengarkan juga lagu-lagu mereka yang lain dan… suka.
Apa ya? Adem syahdu aja gitu denger lagunya. Enak banget didengerin pas ujan ujan haha nggak bikin galau sih, cuma ngena aja. Apalagi suaranya si Greg. Awalnya, sebelum cari tau banyak, dikira vokalisnya cewek. Ternyata itu suara si Greg sendiri yang memang punya androgynous voice yang menambah derajat keromantisan si lagu. Ah. Jadi fans itu memang sederhana :3
Awal Juni 2017 lalu, mereka baru banget merilis studio album bertajuk Cigarettes After Sex (yes namanya sendiri hihi). Aduh lagunya enakeun deh susah dijelasin kata-kata haha coba dengerin deh. Udah ada kok di Spotify hehehe.

Saat Hari Konser Tiba…
Saya menonton konser ini bersama teman saya, Dian. Seperti yang saya bilang, nggak banyak temen saya yang suka band ini makanya berasa senengnya pas nemu satu di antara sekian yang suka dan mau nonton konsernya. Hahaha. Tertulis di akun IG nya Ismaya Live, bahwa open gate di jam 7 namun jam 6 sudah bisa menukar e-ticket dengan wristband. Lokasinya di The Establishment, Lot 6 SCBD.
Oh ya, tiket juga bisa didapatkan secara on the spot (tentu saja masuknya terakhir sih) dan peraturannya jadi bisa semua umur yang menonton. Hmm.
Satu hal yang menyebalkan di awal adalah ditahan karena bawa kamera. Padahal di peraturan yang dilarang adalah macem kamera DSLR atau kamera profesional lainnya dan yang saya bawa adalah mirrorless biasa. Itu juga peraturan baru tau di venue karena sebelumnya nggak ada pengumuman sama sekali mengenai do and don’t di medsos ataupun email (cek di website juga nggak nemu sih). Agak lama saya dan 2 orang lainnya tertahan di pintu masuk dengan alasan kamera yang kami bawa harus diletakkan di dalam loker dan mereka (security) sedang mencari kunci lokernya. Berkali-kali protes ini kamera biasa tetep aja nggak diwaro. Bahkan dengan konyolnya si security bilang, kamera kami sebaiknya ditaruh di mobil karena kuncinya nggak ketemu. Lah dari kita bertiga nggak ada yang bawa mobil. Terus dengan entengnya, dia bilang titipkan saja ke depan. Duh Pak, kalo kamera kita ilang mau tanggung jawab memang?
Akhirnya setelah menunggu agak lama (ada kali ya hampir 20 menitan), si bapak bertanya lagi soal spesifikasi kamera yang kami bawa. Setelah dijelaskan bahwa ini kamera biasa bukan kamera profesional, kami akhirnya diperbolehkan masuk. Huff. Sedih aja gitu kalau kamera nggak boleh masuk, udah usaha ini pinjem punya Yana :(
Nah karena masuknya agak telatan, jadi saya dapet di lajur kelima, itu juga Dian yang nempatin karena dia berhasil masuk duluan. Posisi menentukan tingkat keindahan foto kak bagi anak amatir macem saya *sigh*
Agak lama sih nunggu sampai show-nya mulai. Dan garing karena nggak ada MC ataupun opening band gitu. Bahkan beberapa ada yang memilih duduk di lantai. Kalau saya sih lebih memilih berdiri sambil nyelip nyelip sampai akhirnya bisa dapet posisi di baris ketiga hahaha.
Show baru dimulai sekitar pukul setengah 9 malam (lama kan?) dimana Greg dan lainnya naik ke panggung dan langsung memainkan lagu di album barunya ‘Sweet’ (tanpa sepatah kata pembuka). Aduh nggak tahan buat nggak teriak dan ikutan nyanyi bareng. Greg dengan suaranya yang adem dan romantic itu sukses bikin merinding. Disusul lagu kedua ‘Each Time You Fall in Love’. Aduh meleleh.
Meski penontonnya pada ikut nyanyi, tapi nggak mengurangi kesyahduan konser. Tenang rasanya.
Beberapa lagu lainnya yang dimainkan (secara berurutan ya) ada Truly, I’m a Firefighter, K, Sunsetz, Flash, Nothing’s Gonna Hurt You Baby, Keep on Loving You (asli seneng banget lagu ini dimainin aaak), Affection, dan Apocalypse. Mereka sendiri tak banyak berinteraksi dengan penonton, paling cuma say hi and thank you juga bilang seneng bisa tampil di Jakarta.
Kelar Apocalypse, semua personel masuk ke backstage. Asa nggak terima gitu yang dimainin hanya segitu, kita kompak teriak ‘we want more!.
Nggak lama dari itu, Greg dan Phillip kembali ke panggung dan menyanyikan lagu Please Don’t Cry. Dreamy banget. Baru setelahnya semua personel ke panggung bawain lagu John Wayne. Terus udahan aja mereka pamitan bilang ‘thank you so much. See you next time!’ terus turun panggung. Kita masih nggak percaya kalo konsernya udahan secara baru jam 10an sampai akhirnya lampu ruangan dinyalakan. Bahkan mereka pamitan baris berempat aja nggak ada. Berasa sebentar banget sedih belum puas puas amat :(

Meet and Greet!
Kita bener bener baru percaya konser udahan setelah tau bahwa personelnya duduk di area penjualan merchandise untuk sesi meet and greet. Bentaran kan :(
Puas foto foto di area konser, saya dan Dian akhirnya melipir ikut baris buat meet and greet. Tapi kita nggak bawa apapun yang bisa ditandatangan. Merchandise abis (emmm emang belum tertarik beli sih karena merchandise-nya berupa vinyl, CD dan kaos) dan kita nggak bawa notes karena tasnya kecil. Sebenernya cuma pengen foto bareng aja tapi sayang aja kalo nggak tanda tangan. Akhirnya kita lepas wristband kita buat mereka tulisin hahaha.
Greg dan Jacob ramah banget sama fansnya. Terbukti pas giliran kita maju, mereka mau ngobrol bahkan memuji tasnya Dian yang dia bilang lucu. Ah cute deh pokoknya!
Overall, puas puas engga sih sebenernya sama konsernya. Puas karena mereka akhirnya ke Jakarta dan saya berhasil nonton secara live (ambience-nya tetep sama antara denger langsung dan denger di Spotify tengah malem. Sama sama syahdu dan adem). Bahkan bisa dapet foto bareng juga. Nggak puasnya karena kerasa bentar banget konsernya (ya bersih bersihnya sekitar 1,5 jam aja masa) dan waktu menunggu yang lama. Apalagi ada insiden ketahan kamera huh. Tapi lebih banyak senengnya karena akhirnya bisa nonton mereka hahaha (padahal besokannya kita harus kerja pagi pagi betul hahaha). Mau lagi lah nonton. Dengan waktu yang lebih lama pula hihi.
See you next time, Cigarettes After Sex!

XOXO!
Za

PS.
Kali ini fotonya diambil pake kamera Canon EOS M10 punya Yana (yey makasih banyak udah dipinjemin! *sending virtual hug...*). Bagus nggak? Hahaha apa sayanya aja ya yang masih belum mahir pake mirrorless hihi. Masih tahap pilih memilih nih mau mirrorless mana. Tapi dua foto yang wristband sama ticket box itu diambil (masih tetep di hati) pake Xperia C5 Ultra hihi.
Bonus foto! See ya on the next event yaw!