[BEAUTY] : Review Lip Remedies by Lippielust

Bibir kering sampai pecah-pecah sering banget kita jumpai saat menjalani puasa. Nah biasanya sih karena kurang konsumsi air putih dalam sehari, yang biasanya kita bebas minum kapan aja, kini hanya setelah berbuka puasa hingga sahur tiba.
Kondisi ini bisa semakin diperparah kalau kita biasa pakai lipstick atau lip cream yang matte, tanpa dibarengi penggunaan lip balm. Saya pribadi sih memang lebih suka lipstick matte ketimbang yang glossy, karena hasilnya yang lebih bagus dan tahan lama (pake yang glossy sering dibilang abis makan gorengan huff). Cuma kalau kita nggak rajin rawat si bibir, menggunakan lipstick matte secara terus menerus bisa bikin bibir makin kering, pecah pecah sampe bisa dikelet dan berdarah. Huff.
Ini yang saya alami beberapa waktu lalu (sebelum masuk Ramadan), bibir jadi pecah pecah super parah, berasa kering banget sampai tangan rasanya gatel pengen dikelet itu kulit bibir yang mengelupas. Lipstick matte pun untuk sementara nggak bisa dipakai, sementara kalau liputan (dan harus oncam) itu ya kudu pake lipstick (karena katanya kalau cuma lip balm tetep pucet). Yang saya ingat, waktu itu Rissa atau yang kita kenal dengan @lippielust di Instagram, sempet promo produknya bareng Evete Naturals, semacam lip care set gitu. Well, let’s try!

Tentang Lip Remedies by Lippielust

Perkara bibir kering itu menyiksa banget, bahkan makan kena pedes aja sakit. Dikelet sakit, didiemin jadi nggak oke, dijilat bikin nambah kering. Tanpa pikir panjang, saya langsung order si lip care set dari lippielust yang diberi nama Lip Remedies. Produk ini bisa kalian pesan di official website Evete Naturals seharga Rp 165 ribu.
Mengutip pernyataan Rissa, Lip Remedies ini difokuskan untuk perawatan bibir semua orang, khususnya bagi pecinta dead-matte liquid lipstick yang cenderung susah untuk dibersihkan. Jadi emang nggak hanya wajah saja yang punya perawatan khusus, tetapi bibir juga harus dong.
Lip Remedies ini dikemas dalam kemasan dominan pink dengan desain yang sungguh cute. Dia punya 3 produk di dalamnya, ada lipstick remover, lip scrub sama lip balm. Rissa sendiri juga sempat ditanya kenapa harus dijual dalam satu set alias tidak dijual satuan? Rissa pun menjawab bahwa si Lip Remedies Luxury Lip Care Set ini akan lebih efektif saat dipakai secara berurutan. Kamu bisa baca soal Lip Remedies ini di blognya Rissa ya.

Lipstick Remover

Produk pertama yang bakal saya ulas adalah Lipstick Remover yang memang jadi starter di lip care set ini. Sebelumnya sih saya kalau hapus lipstick pakai make up remover sekalian gitu haha. Atau bisa juga pake lip balm (kan jadi berminyak terus baru dihapus hehe nggak begitu efektif sih sebenernya).

Cara pakainya gampang. Tinggal oleskan si lipstick remover ini ke bibir secara merata, diamkan kurang lebih 30 detik lalu hapus pakai kapas atau tisu. Rissa menyarankan lipstick remover ini harus tetap dipakai sebelum menggunakan lip scrub karena ada kemungkinan residu pewarna dari lipstick tertinggal di bibir even kamu lagi nggak pakai lipstick.
Disini saya pakai NYX SMLC nomor 18 (Prague) dan warna bibir asli saya agak sedikit gelap. Terlihat bedanya nggak ya?

Jadi begitu dioles, memang bibir langsung mengkilat dan berminyak banget. Tapi setelah nunggu beberapa saat dan dilap pakai tisu atau kapas, si lipstick matte ini langsung bersih. Nggak pake drama digosok kuat biar ilang, bener-bener hanya dilap lembut aja sih. Bahkan setelahnya bibir berasa lebih moist aja. Sukak!

Lip Scrub

Nah produk kedua ada Lip Scrub. Sebenernya kita bisa bikin sendiri sih lip scrub bermodalkan gula sama madu (biasanya), cuma kadang males buat ngadon haha. Ini yang paling saya suka dari lip care set ini, karena bener bener jadi penyelamat kulit bibir saya yang suka nggak kontrol ngelupas sendiri belakangan ini (ditambah suka dikelupas pake jari sih tapi perih haha). Tapi dengan lip scrub ini, kulit bibir jauh lebih lembut setelah si kulit kulit kering ini terkelupas sempurna nggak pake drama apalagi berdarah.

Kenapa saya bilang nggak pake drama? Karena si lip scrub ini memakai grain atau butiran gula yang lebih lembut daripada lip scrub konvensional. Jadi ya emang pas scrubbing, nggak bikin sakit atau perih. Kalian cukup ambil secukupnya si lip scrub lalu oles (gosok lembut) ke bibir dengan gerakan melingkar. Nah kalau dirasa sudah cukup, basahi bibir lalu bersihkan sisa sisa gula dengan tisu. 

Saya sih ngerasa jauh lebih nyaman setelah scrubbing, karena bibir jadi lembut dan kulit keringnya udah hilang. Enak sih manis gitu (tapi jangan dimakan please haha). Memang ini bisa ngangkat kulit mati di bibir, tapi jangan terlalu sering ya. Disarankan untuk menggunakannya cukup dua kali dalam satu minggu. 

Lip Balm

Nah ini rangkaian produk terakhir dari si lip care set ini yang bisa kapan saja dipakai untuk melembabkan bibir. Si lip balm ini juga bisa kalian pakai sebagai lip base sebelum menggunakan lipstick (yes I did it)

Yang saya suka dari lip balm ini adalah dia nggak memberikan kesan berminyak. Bener-bener ringan tapi lembab setelahnya. Jarang saya nemu lip balm yang model dry lip balm begini (hahaha norak). Mungkin karena sebelumnya lip balm saya model model yang berminyak gitu sampai sampai kalau pake temen bilang abis makan gorengan (iya temen saya memang tarkom huff). Saya sih pakai sebelum tidur juga jadi pas bangun bibir terasa lembut :3

FYI, kesemua produk di lip remedies ini mengandung extra virgin coconut oil, shea butter, mango butter dan argan oil yang memang sudah dikenal bagus untuk merawat bibir. Semua produknya ini oil based dan nggak pakai pengawet. Di kemasannya sih ada keterangan bahwa produk ini bisa bertahan selama 18 bulan setelah dibuka. Hanya saja, karena si lip scrub ini sering kontak dengan jari, katanya sih hanya tahan 6 bulan.

Saya sudah pakai lebih dari satu bulan dan suka banget, apalagi sama wangi mangganya yang manis dan menggoda. Jadi pas pakai pun berasa nyaman karena memang suka sama wanginya. Saya sih seneng ada produk ini, karena masalah saya memang sering berputar di area bibir yang kering dan gampang dikelet. Cuman sih info yang beredar, produk ini termasuk limited edition huff. Berharap sih produk ini bakal tetep ada sampai kapanpun karena zaman sekarang banyak banget lipstick matte yang begitu menggoda. 

Overall saya puas karena memang ini yang saya butuhkan. Repurchase? Of course ya!
Kalian sudah coba juga? Yuk share pengalaman kalian mengatasi bibir kering di kolom komentar yaa!

XOXO!
Za

[BEAUTY] : REVIEW DEJAVU KEEP STYLE MASCARA


Selama ini, saya termasuk orang yang picky soal mascara (kayanya semuanya gitu deh ya). Beberapa kali nyoba beberapa merk yang diulas beauty blogger, malah berasa nggak sreg. Beberapa berasa berat, ada juga yang kerasa lengket atau menggumpal dan yang paling nggak saya suka adalah keliatan nggak alami. Haha. Padahal hampir semua mascara ya memang akan kasih kesan bulu mata yang tebal jadi ya memang nggak akan keliatan alami ya. Ya bukan sih? Ya aja lah ya haha.
Bulu mata saya cenderung sedikit dan nggak terlalu keliatan (kalo kata orang Jawa) ‘mblalak’. Pengen sih pake eyelash extension biar nggak usah effort kalo make up di bagian mata, apalagi saya pakai hijab. Cuma masih nyari info yang tepat juga sih. Nah di saat itulah, teman saya Holi, cerita kalau si mascara bernama deJavu ini oke. Ya memang pas liat Holi pakai, keliatan natural, nggak ada gumpalan. Yaudah cari tahu tentang si deJavu dulu deh.

Brand dari mana sih deJavu?
Saya pribadi memang kurang familiar dengan brand yang satu ini. Usut punya usut, deJavu ini berasal dari Jepang (yak, Holi beli langsung disana pas lagi liburan ke Jepang) dan udah ngeluarin produk mascara sejak tahun 2001. Keunggulan produk deJavu ini, mereka memiliki formula material film yang berbeda dengan mascara merek lain. Yes, formula ini lah yang membuat bulu mata kita terlapisi air dan minyak sehingga tidak akan luntur dan tahan gesekan. Selain itu, deJavu mascara ini mudah dibersihkan dengan air hangat.
DeJavu punya 4 produk mascara, yaitu Fiberwig Ultra Long, Lash Knockout, Keep Style, dan Tiny Sniper. 
Coba perhatikan perbedaan brush-nya deh :3
Denger denger sih, mascara yang Fiberwig ini yang jadi favorit. Lumayan lah bisa tampil kece pas Ramadan kali aja kan. Apalagi dapet (rencana) liputannya yang ketemu desainer-desainer hijab kece favorit :3

Dimana belinya?
Oh ya, brand ini bisa kalian dapat di SOGO Kota Kasablanka, SOGO Alam Sutera, SOGO Mall Kelapa Gading 2, SOGO Pondok Indah Mall 2, SOGO Emporium Pluit Mall. Saya sih begitu tahu dari Holi, langsung cuss ke Kokas. Sejujurnya di awal saya berniat membeli yang Fiberwig tapi setelah banyak ngobrol dengan SPG-nya, dia menyarankan untuk beli yang Keep Style aja. Hmmm.
Apakah terlihat bedanya? Hahaha

Review
Secara kemasan, sebenarnya nggak jauh beda dengan kemasan mascara-mascara lainnya yang cenderung ‘gemuk’, tapi nggak makan tempat (di make up pouch). DeJavu Keep Style hadir dengan kemasan berwarna merah agak ke-orange-an dengan shape diamond. Tapi nggak bikin susah sih pas lagi pake. 


Nah soal aplikatornya, dia berbentuk brush yang melengkung dengan bulu sikat yang menyebar, yang katanya sih bikin bulu mata lebih lentik. Saran saya kalau kamu berhijab, better gunakan sebelum kamu pakai hijab karena takutnya nyecer dan kena di hijab (like my photos huff).


Kalau soal tekstur, saya merasa si deJavu Keep Style ini memiliki tekstur agak basah dan punya banyak fiber. Tapi senangnya, meski formulanya basah, nggak serta merta bikin bulu mata berat dan lengket. Bahkan cenderung cepat kering.


Saat dipakai, efek yang diberikan bulu mata saya terasa lebih ‘ada’, alias tebal dan panjang, namun melengkung ke atas (saya belum pakai penjepit bulu mata). Sama sekali nggak menggumpal pas dipakai, walau diaplikasikan lebih dari satu kali. Senangnya, pakai mascara ini benar-benar terlihat natural alias no drama. Cuma ya kalau kamu pengen kesan yang lebih dramatis, better cari yang lain kalau gitu hehe.
Faktor satu ini tentu yang paling disukai para pengguna mascara dari deJavu. Dia nggak bikin mata panda! Beberapa mascara saat dibersihkan cenderung meninggalkan noda hitam seperti noda mascara atau eyeliner yang luntur, tapi si deJavu ini nggak, malah seperti bisa dikupas (kalau bahasa saya dikelet) seperti karet atau masker macam sekarang. Dia bisa dengan mudah dibersihkan dengan air hangat.


Waterproof atau nggak? Absolutely yes! Saya biasa pakai untuk kerja berangkat jam 7 pagi bisa pulang sampai jam 8 malam (karena main dulu hehe) dan efeknya di bulu mata saya sama sekali nggak hilang. Padahal sudah dipakai wudhu berkali-kali. Udah gitu enaknya tetep ringan dan nggak gumpal, nggak bikin gatel dan bulu mata tetap lembut alias sama sekali nggak kaku dan juga nggak rontok. Ah bahagia.
Paling pesan saya, kalau pas membasuh muka (saat wudhu), jangan terlalu diusap kasar di bagian mata, karena si mascara ini bisa berjatuhan gitu.

Harganya?
Satu mascara ini dibanderol dengan harga Rp 188 ribu berlaku untuk semua jenis mascaranya. Tapi saya merasa harganya worth it untuk hasil yang sedemikian apik. Baru kali ini ngerasa nyaman pakai mascara (sebelumnya beberapa sempet bikin mata perih dan lengketnya itu yang nggak nahan sih). Repurchase? Absolutely YES! 


Jadi menurut saya, ini must have item sih buat kamu kamu yang sedang belajar no make up make up hijab karena kesan natural yang dihasilkannya. Oh ya, untuk hasil maksimal, sebaiknya dibarengi dengan penggunaan penjepit bulu mata. Dijamin deh Ramadan dan lebaran nanti, kamu pasti bisa tampil beda. Selamat mencoba! :3


XOXO!

Za

[BEAUTY] : Review Sariayu Liquid Eyeshadow


Beberapa minggu belakang (iya memang hebohnya udah lama tapi baru diulas sekarang), timeline Instagram saya banyak banget berseliweran tutorial make up yang simpel, ya maksudnya semacam make up daily look gitu. Nah yang lebih bikin tertariknya lagi adalah kebanyakan beauty blogger ini ngasih tutorial pakai liquid eyeshadow.

Tertarik? Iya banget. Ya gimana nggak, selama ini saya pribadi lebih sering (dan pakai) eyeshadow yang bentuknya padat. Penasaran usut punya usut, Sariayu Martha Tilaar lah yang mengeluarkan inovasi eyeshadow berbentuk cair ini. Yup! Ini brand lokal pertama yang ngeluarin eyeshadow cair lho.

Sekilas tentang Koleksi Terbaru Sariayu
Si liquid eyeshadow ini masuk dalam tren warna Sariayu tahun 2017 yang mengangkat tema “Inspirasi Gili Lombok”. Sariayu sendiri memang sering menggunakan nama-nama daerah di Indonesia sebagai koleksinya. Nah di tahun ini, Lombok lah yang menjadi pilihan Sariayu karena menyimpan banyak keindahan alam dan kekayaan budaya.
Source: Instagram Sariayu_MT

Warna-warna yang diangkat pun seperti warna sintheca alias warna coral dengan sentuhan peach, galeri (gradasi hijau), legacy (warna alam dan ungu), dan embellishment (warna terang dengan tone lebih dalam).

Dalam seri ini, Sariayu mengeluarkan 6 pilihan liquid eyeshadow dengan kombinasi warna metalik. Lebih menyenangkannya, dalam satu wadah, kita bisa dapetin dua warna sekaligus dengan kombinasi warna yang memang cucok alias pasangannya.

Packaging
Dari kardusnya aja, udah Indonesia banget dengan sedikit sentuhan tenun sasak Lombok. Paduan warnanya juga menarik. Selain itu, di kardusnya ini juga terdapat informasi bahwa si liquid eyeshadow ini mengandung ekstrak tanaman flamboyant, amethyst powder, vitamin E, bisabolol dan tabir surya, yang bisa merawat kulit kelopak mata sekaligus membantu melindungi dari iritasi dan pengaruh buruk sinar matahari. Asikan :3

Nah ternyata, si motif tenun sasak ini nggak hanya di kardusnya aja, tetapi juga ada di kemasan eyeshadow-nya ini. Ukurannya kecil dan sungguh genggam-able. Di tiap ujungnya ada dua warna, terang dan gelap. Kuasnya ada di sambungan dua cup liquid eyeshadow ini. Cara membukanya cukup diputar aja. Meskipun hanya diputar puter gini, tapi dia cukup kencang kok jadi kemungkinan ‘nyecer’ sangatlah minim.

Dan yang paling penting, baik di kardus ataupun di kemasan tabungnya, terdapat informasi expired date-nya. Penting bukan :3

Shades
Saya sendiri punya dua seri dari enam liquid eyeshadow ini, yaitu GL-01 (pink-ungu) dan GL-05 (peach-coklat). Ada alasan kenapa saya beli yang shade ini, pertama saya tertarik beli yang GL-01 ini karena liat tutorial di Instagram-nya Abel Cantika dan pas dia pake emang kece warnanya. Nah kalau yang GL-05 ini saya mikirnya bisa dipake buat no make up make up karena warnanya yang cenderung natural kan.

Sebenernya beberapa shade lainnya bahkan nggak cuma dipakai buat eyeshadow aja lho, tetapi bisa juga buat jadi highlighter. Hanya saja saya nggak beli yang itu hehe karena niatnya mau nyoba dulu dua shade ini.

Pengalaman Pas Pake
Kalau ditanya enak atau nggaknya, jawabannya relatif. Tergantung bisa make atau nggaknya, juga tergantung kecocokan sama warna kulit. Dari cara pakenya sendiri, kalian bisa menggunakan tangan alias dibaur pake jari untuk hasil yang soft, atau langsung menggunakan aplikatornya alias si synthetic brush flat buat hasil yang bold.
pigmented kan, tapi bae bae pakenya nanti bececer :(
Dari sejumlah review mengatakan bahwa eyeshadow ini lebih solid dan tahan lama. Pas saya pakai pun memang tahan lama dan waterproof, dipakai wudhu berkali-kali nggak ilang.

Di empat foto atas ini, sengaja saya setting untuk tau gimana si liquid eyeshadow ini kalau dipakai di siang hari dan malam hari. Untuk dua foto paling atas saya pakai shade GL-01 dan dua di bawah pakai GL-05. Tetep shimmering sih ya meski udah nggak ada sinar matahari. Hanya saja, menurut pendapat saya, hasil si liquid eyeshadow akan jauh lebih bagus, nyata dan merata, kalau kita pake eyeshadow base sebelum mengaplikasikan eyeshadow. Saya sudah coba tapi belum sempat difoto hehe.

Nah soal warna, ternyata saya jauh lebih suka warna peach-coklat ketimbang pink-ungu. Hmmm mungkin karena lebih cocok dengan warna kulit sih ya, kali. Kesan pertama pas dipakai, sekali gores warnanya memang langsung keluar. Ya kalau kata beauty blogger sih pigmented gitu.
Hanya saja, saya ngerasa ini tuh oily banget pas dipakai, mungkin karena tekstur awalnya dia udah cair kali ya. Tapi dari si oily ini yang bikin nggak terlalu suka adalah eyeliner yang ‘nyeplak’ di lipatan kelopak mata. Dan ini bikin jelek :(
Mungkin saya belum tahu triknya biar si eyeliner ini nggak nyeplak kali ya, selain kudu nunggu si eyeshadow lumayan mongering (tapi cukup lama). By the way, saya pake eyeliner yang spidol.


So, the conclusions are...
(+)
Pigmented
Akan jauh lebih bagus kalau sebelumnya pake eyeshadow base
Varian warnanya keren dan cocok di tiap kemasannya (karena dapet 2 warna kan)
Nggak hanya dipake buat mata tapi juga bisa jadi highlighter

(-)
Oily
Bikin eyeliner nyeplak di kelopak mata. Kalaupun nunggu kering agak lama
Wanginya pas dipakai semacam wangi cat (is that something wrong with my nose?)

Overall, saya seneng dengan inovasi terbaru dari si Sariayu ini, ya kapan lagi ada brand lokal yang ngerilis liquid eyeshadow kan? Oh ya, liquid eyeshadow dan juga ‘inspirasi Gili Lombok’ lainnya (kaya Duo Lip Colour) bisa kalian dapetin di gerai Sariayu yang ada di mall-mall atau juga bisa dibeli via website di official online store-nya Martha Tilaar (klik disini ya)

Satu liquid eyeshadow ini bisa dibeli dengan harga Rp 88.000,-. Repurchase? Masih mikir lagi sih sampai bisa menemukan solusi biar eyeliner-nya nggak nyeplak. Ada ide?
Favoritku shades GL-05 :3

XOXO!

Zakia

PS.
Foto produk sama Jessie hasil kolaborasi sama toys photographer Ragasukma. Gih kepoin akun instagramnya dimari :D

#MEMESONAITU... YANG BERANI MERAIH MIMPINYA

Setiap orang pasti punya mimpi, pun dengan saya. Mimpi saya banyak yang selalu saya tulis di buku (bukan) diary saya. 
Dulu sih waktu kuliah, kalau ikut seminar-seminar penuh motivasi itu, selalu disarankan untuk menulis mimpi-mimpi alias cita-cita kita agar kita bisa mulai surprise checklist, apa saja yang sudah tercapai.
Yang jelas dari mimpi-mimpi itu, ada yang sudah ter-checklist sempurna dan ada yang checklist­-nya baru separuh hehe. Terutama soal bekerja. Maklum saya yang benar-benar merantau sendiri ke kota besar ini sama sekali tidak punya link (atau bahasa kerennya orang dalem lah ya) untuk bantuin dapet kerja setelah lulus kuliah. Tentu saja segala cara saya lakukan asalkan halal hahahasikan~

MIMPI #1 : TERJUN KE DUNIA BROADCASTING
Dulu waktu masih SD, saya selalu suka melihat reporter tampil di stasiun TV, melaporkan berbagai macam kejadian di lapangan. Saya berandai-andai, jika saya yang ada di layar kaca tersebut, melaporkan kepada pemirsa seperti apa ya? Apalagi sewaktu SD, saya sering sekali ditunjuk mewakili sekolah di berbagai lomba, ya ibaratnya udah ga malu lah ya ngomong depan banyak orang.
Saat SMP-SMA, cita-cita menjadi jurnalis itu seolah menguap begitu saja. Namun angan ini kembali lagi saat saya kuliah dan mulai merantau ke Bogor. Jurusan kuliah saya yang kurang familiar didengar orang membuat saya memutar otak, bagaimana caranya saya harus bisa kerja di media. Karena di IPB ada sistem mayor minor, saya memanfaatkan hal tersebut dengan mengambil minor Ilmu Komunikasi. Belajar berbagai macam cabang ilmu komunikasi, termasuk membuat program di radio, wawancara narsum, sampai bikin iklan.
Tapi saya rasa, 5 mata kuliah kurang cukup untuk bisa masuk ke dunia broadcast. Di saat teman-teman saya sibuk mengolah hasil penelitian mereka untuk skripsi, saya memilih untuk apply magang di beberapa stasiun televisi (padahal di jurusan saya nggak wajib magang semester akhir haha). Alhamdulillah satu lamaran nyangkut di tvOne, sebagai staf Litbang Redaksi.
Sebuah kiriman dibagikan oleh Nova Zakiya (@novazakiya) pada

Selama 3 bulan, saya belajar banyak di divisi tersebut, mulai dari seperti apa sih pola kerja di TV, bagaimana meriset agar data yang dibutuhkan tercukupi, menghitung rating dan share, dan berbagai hal yang biasa dilakukan di tim riset konten. Beruntung pula, user saya pas magang asyik dan nggak pelit ilmu (salim sungkem sama Mba Mayya, Mas Arief, Mas Febri).
Berbekal inilah setelah lulus, saya mencoba peruntungan mendaftar ke berbagai stasiun TV di Jakarta. Tapi jalannya nggak selalu mulus. Saat saya mendapat panggilan tes dari tempat magang saya dulu, ayah saya tidak mengizinkan saya berangkat ke Jakarta. Yap, ayah saya tidak merestui saya bekerja sebagai jurnalis karena dianggap sebagai pekerjaan yang berbahaya bagi wanita. Alhasil saya didiemin selama satu minggu di rumah. And it was hurt :(
Ayah saya punya satu syarat, kalau mau bekerja di media boleh asalkan bukan jadi reporter. Pilihan pun semakin sedikit. Tapi mungkin karena restu orang tua, saya akhirnya bisa bekerja di sebuah TV swasta di Jakarta sebagai staf riset (awalnya saya kira serupa dengan saat saya magang dulu rupanya hmmm...) tidak jauh setelah saya wisuda.
Dua setengah tahun lebih saya bekerja sebagai tim riset (yang kadang diperbantukan mengerjakan yang lebih), tiba-tiba saya mendapat tawaran untuk turun ke lapangan, mencari berita langsung dari sumbernya sebagai reporter. Tawaran itu konon katanya datang setelah melihat hasil kerja saya yang dibilang sayang kalau hanya di dalam kantor saja. Sebenarnya agak traumatis takut didiemin lagi sama orangtua, namun ternyata mereka justru merestui sekarang dan sering nanya kapan saya oncam huff.
My very first live report huff
Memang belum sempurna tercapai, tapi seenggaknya saya akan mencoba dan terus belajar supaya bisa sampai di tujuan cihuy~

MIMPI #2 : MENJADI WIRAUSAHA PUNYA BISNIS WEDDING PLANNER
Pas ngampus, saya join di UKM musik di kampus sebagai event organizer. Memang sebelumnya saya sering ikut kepanitiaan lain pas di sekolah, makanya pas UKM bernama MAX!! ini menggelar open recruitment, saya daftar. Niatnya sih sebenernya buat batu loncatan ke UKM lain yang belum dibuka waktu itu, tapi ternyata saya justru suka dan nyaman di UKM ini.
MAX!! sebenernya UKM musik, dan tim EO nya lah yang menggelar acara musiknya. Memang awalnya agak bosen, tapi ternyata orang-orang di UKM ini justru yang merangkul saya dan melatih saya agar tahan banting selama 4 tahun di bangku perkuliahan haha.
Di tahun terakhir, saya dateng ke nikahannya salah satu GM MAX!! terdahulu dan merasa takjub saat melihat tim wedding organizer-nya. Saya dan Memeh, temen segeng di MAX!!, memang pengen punya WO. Terus diiyakan juga sama Iam dan Bari juga Khalid, Herna dan Dil sehingga terciptalah apa yang dinamakan MAXIS ORGANIZER.
Namanya diambil karena kita sama-sama dari UKM MAX!! IPB, pun tagline-nya “we do as a max is” juga melambangkan bahwa kita akan bersungguh-sungguh kerjanya seperti kita dulu diajarin di MAX!! (cieeee~).

Cukup lama bahas akhirnya kita eksekusi di event pertama, acara nikahan Epin Bagas di Bea Cukai. Senangnya luar biasa. Dari situ mulailah word of mouth dan datanglah job nikahan lainnya nggak hanya di Jakarta, tetapi juga di Depok dan Bogor.
Nggak cuma WO hari H, tapi kita juga sempet dapet job buat wedding planner. Bener-bener ngonsepin nikahan dari awal, hubungin vendor, dealing, sampai akhir saat hari H. Memang belum sempurna, tapi saya bisa ambil banyak pelajaran dari setiap event, mana yang harus diperbaiki, mana yang harus di-upgrade, dan mana yang harus dipertahankan. Sebagian besar event nikahan, saya jadi project manager-nya :’)
Dan sekarang MAXIS nggak hanya ngurus momen nikahan lho, tapi bisa juga acara lain seperti reuni ataupun gathering. Doakan lancar ya! :3
JADI #MEMESONAITU...  
adalah mereka yang berani berusaha dalam meraih mimpi-mimpinya. Saya bukannya mau menonjolkan cerita saya, hanya saja saya yakin, pasti ada jalan bagi kita, mereka yang mau berusaha meraih mimpinya. Tidak semuanya langsung memang, butuh waktu bertahun-tahun untuk dapat mencapainya.
Yap. #MemesonaItu memang bukan hanya kecantikan fisik semata, kulit putih, wajah cantik, tinggi semampai, badan kurus. Tetapi juga mereka yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain, syukur bisa menginspirasi. Dan yang pasti, tetaplah menjadi diri sendiri ya!
Kalau ditanya siapa inspirasi saya untuk mantap menjadi jurnalis itu Marissa Anita, sementara kalau di bidang wedding organizer/planner, saya begitu mengidolakan istrinya Rizky Hanggono, Roro Maheswari Yekti, pemilik Adhyakti Wedding, juga sangat mengidolakan Bantu Manten Group. Saya sih pengen suatu saat nanti WO saya bisa jadi seperti mereka. Pasti bisa. 
Well, ini arti #MemesonaItu menurut saya, kalau kamu seperti apa? Ceritakan di kolom komentar ya :)
#MemesonaItu

XOXO!
Za

[REVIEW FILM] : POWER RANGERS

Salah satu idola generasi 90-an adalah sekumpulan pahlawan pembela kebenaran bernama Power Rangers. Ya nggak sih? Kalau saya sih iya haha. Dulu setiap hari Minggu (kalau nggak salah inget sih jam 10 pagi), pasti nongkrongin depan TV nggak boleh ada yang ganggu atau ganti channel karena itu jamnya Power Rangers main. Bahkan ibu saya sampai geleng-geleng liat kelakuan anaknya yang sampai udah kuliah masih aja nonton Power Rangers, Ultraman, Doraemon, Shincan, Scooby Doo dan berbagai jenis tayangan favorit di hari libur pokoknya.
Source : Power Rangers Wikia
Makanya pas Yana, temen sekantor saya, ngajak nonton, saya langsung mengiyakan untuk film Power Ranger ini (pilihan lainnya nonton Life saya nggak terlalu tertarik haha). Ya kan kapan lagi bisa nostalgia film-film masa kecil gini :3

Sinopsis
Source : Pinterest (ebay)
Jenis film: Action, Adventure, Sci-Fi
Produser : Halim Saban
Sutradara : Dean Israelite
Penulis : John Gatins, Matt Sazama, Burk Sharpless, Zack Stentz
Produksi : Entertainment One
Durasi : 123 menit
Kategori : R 13+

Film yang menjadi seri pertama Power Rangers di abad ke-21 ini akan menampilkan beberapa tokoh utama dari seri Mighty Morphin Power Rangers yang akan diperankan oleh aktor terbaru.
Berkisah mengenai lima remaja yang dipersatukan oleh sebuah insiden yang melanda sebuah kota kecil bernama Angel Grove. Dengan menyatukan kemampuan unik mereka, kelima remaja tersebut bersatu sebagai Power Ranger untuk menghentikan alien dalam misi menghancurkan bumi.

Review *Spoiler Alert*
Film ini dibuka dengan adegan Zordon, si empu-nya Power Ranger, yang tidak berhasil melawan Rita Repulsa, si Ranger Hijau yang dulunya temen setim Zordon (Ranger Merah), yang akhirnya mati bersama (elah kebanyakan kata yang). Lalu masuklah cerita ke masa kini dimana mulai ada cerita drama anak sekolah, hingga akhirnya berteman, dan akhirnya bersama sama menemukan koin Ranger dan jadilah Power Ranger.
Source : Pinterest Filmbook
Film ini memang menyajikan lengkap cerita bagaimana si Dacre Montgomery (Jason – Ranger Merah), Becky G (Trini – Ranger Kuning), RJ Cyler (Billy – Ranger Biru), Naomi Scott (Kimberly – Ranger Pink), dan Ludi Lin (Zack – Ranger Hitam) bertransformasi menjadi pahlawan super yang diselingi dengan berbagai macam drama khas anak sekolah. Juga kebangkitan Rita Repulsa dan Goldar yang ingin menguasai dunia dengan mencari Kristal Zeo. Tapi kalau pendapat pribadi saya, ceritanya agak bertele-tele, lebih banyak dramanya dan kurang nostalgic.
Ya memang sih jauh beda dengan series durasi 30 menit yang biasanya langsung ketemu musuh, berantem terus menang. Di film ini, kita dikenalkan dengan karakter masing-masing, termasuk dengan keluarganya. Jarak antara mereka terpilih dan berubah jadi Power Ranger itu cukup lama lho, ya kira-kira 30 menit sebelum film berakhir. Bahkan nggak ada kata-kata it’s morphin time L (ya mungkin karena baru pertama kali berhasil berubah langsung tarung kali ya).
Hawa-hawa 90-an itu justru berasa di menit ke 100, saat jingle “Go Go Power Rangers” berkumandang. Ya tapi cuma sebentar sih.
Tapi saya akui, si Megazord-nya ini keren banget! Ya walaupun nggak dilihatin sih pas menyatunya gimana hmmm.
Source : Pinterest (MovieWeb)
Oh ya, bicara soal berantemnya juga agak agak gimana gitu. Udah kerja keras nih si lima power rangers ini berantem lawan Rita Repulsa sama Goldar, eh kalahnya cuma begitu doang. Asa kurang greget sih berantemnya apalagi ending-nya.
I like Zack by the way haha Source : Pinterest (superherohype.com)
Hmmm daritadi berasa ngomonginnya negatifnya mulu ya? Sebenarnya film ini ada sisi bagusnya juga kok. Seperti kejutan kejutan di dalamnya, taruhlah soal pemain. Sadar nggak sih, kalau disini, cast-nya pada di-switch gitu. Biasanya Ranger Hitam itu ya berasal dari kulit hitam, terus Ranger Biru kulit putih dan Ranger Kuning itu biasanya chinese. Tapi disini, justru sebaliknya, perhatiin deh. Terus ada tokoh-tokoh lama juga yang jadi cameo lho :3
White Caramel Almond yang begitu menggodaaaa :3
Dan juga nonton ini jadi laper pengen makan Krispy Kreme hahaha (yang udah nonton pasti paham). Langsung kebayang enaknya White Caramel Almond-nya KK rasanya, apalagi sebelum nonton cuma makan apel doang haha. Product Placement-nya emang yahud deh :3

Rate
Kalau maksimal angka di 10, saya kasih nilai film ini 7. Kenapa? Memang sih sebagai film yang di-remake dari serial tv favorit anak zaman dulu, cukup memuaskan tapi agak kurang. Eh gimana sih haha. Intinya, film ini nggak jelek, tapi nggak bisa dibilang bagus juga karena nostalgianya terasa setengah-setengah.
Dan juga film ini akhirnya menyadarkan kita bahwa Power Ranger bukan lagi untuk anak-anak layaknya seial di TV. Bahkan isu LGBT yang berhembus di film sebelah, justru lebih berasa di film ini sih kata saya (meski nggak terlihat dari adegannya, tapi ada dialog yang mengakui hal itu).
Saran saya, jangan beranjak sebelum filmnya benar benar habis. Karena ada kejutan dan sedikit clue untuk sekuel si Power Rangers Movie ini lho.
Nah buat yang belum nonton, buruan deh nonton ke bioskop sebelum filmnya turun layar. Tapi liat trailer-nya dulu kali yaaa. Selamat menonton!

XOXO!
Za