[BEAUTY]: CEGAH RAMBUT RONTOK DENGAN SARIAYU HIJAB INTENSE SERIES

Scrolling timeline Twitter itu seru. Apalagi kalau lagi nungguin narasumber datang ke meeting point yang udah disepakati buat wawancara. Meski sekarang kayanya udah nggak terlalu banyak yang akses si burung biru ini, tapi saya terhitung masih sering buat intip ada hot issues apa sih atau sekedar promote postingan terbaru di blog. Hihi.
Nah, nggak lama ini, saya menemukan beberapa tweet yang bilang kalau mereka pengen jadi reporter atau istilah kerennya jurnalis, supaya bisa jalan jalan keliling Indonesia. Hmmm.

Jadi Jurnalis = Jalan-Jalan Gratis?
Tapi memang iya sih, waktu masih kecil, saya pun berpikirnya demikian. Reporter itu bisa jalan-jalan keliling Indonesia atau bahkan ke luar negeri, dibayarin kantor. Nah, siapa sih yang nggak mau jalan-jalan gratis begini? Hihi.
Foto bareng Irjen Pol Royke Lumowa dan rekan-rekan media pas meninjau flyover Dermoleng, Brebes
Setelah jalan hampir setahun jadi reporter, saya juga merasakan beberapa kali dikirim buat DLK alias Dinas Luar Kota. Pengalaman pertama saya DLK adalah ketika memantau kesiapan jalur tol fungsional dari Surabaya sampai Jakarta, bersama Kakorlantas Mabes Polri, Irjen Pol Royke Lumowa dan tim NTMC Polri. Bersama teman-teman dari media lain, kita benar-benar menjadi yang pertama mencoba tol fungsional sebelum diperbantukan untuk arus mudik 2017. Yeay! (kalau ditulis di artikel lain, telat ga ya? hihi)
Sesiangan di mobil menyusuri jalan tol baru dari Surabaya sampai Jakarta. Kebayang lepeknya? Tapi tetep happy sih hihi
Kebayang dong gimana panasnya bulan puasa, di tengah tol yang belum 100 persen jadi, dan tentunya kita menempuh jalur darat selama 2 hari perjalanan? Hmmm tapi berhubung bulan puasa, jadi pas jam berbuka kita sudah di hotel sih hehe.
Difoto sama fotografer andalan NTMC Polri, Mas Heri Samsuljani sebelum bikin live on tape
Emang sih semua biaya perjalanan dan akomodasi ditanggung oleh kantor (dalam bentuk uang saku yey) dan penyelenggara (kecuali kalo jajan di luar itu ya bayar sendiri haha). Tapi jangan seneng dulu, karena di tengah perjalanan itu kita harus berkutat dengan naskah dan gambar yang harus segera dikirim ke kantor untuk tayang. Bahkan di dalam mobil aja, ada yang feeding, rough cut dan berbagai aktivitas lain demi layar.
Menuju desa yang hilang di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Ini sudah masuk laut Jawa lho. Panasnya jangan ditanya. Huff
Terakhir saya liputan ke luar Jakarta itu ke Muara Gembong beberapa hari lalu, mencari desa yang terkena dampak abrasi. Lokasinya dekat laut Jawa. Panasnya bukan main dan gersang. Untuk menuju desanya saja, saya harus naik ojek selama 30-40 menit dari jalan raya (mobil nggak bisa masuk ke desa itu huff). Ditambah saya juga harus naik kapal kecil gitu untuk melihat pesisir pantai yang dulunya bagian dari Kampung Beting, Desa Pantai Bahagia. Sudah kebayang panasnya gimana?

Beneran jalan-jalan?
Emang sih enak ya jalan-jalan, jadi nggak cuma kerja di kantor aja. Di Jakarta juga kita sering menclok sana menclok sini buat liputan. Bahasa gaulnya, mobilitas tinggi. Serunya lagi, kita bisa jadi orang yang pertama tau sesuatu, dapat ilmu dan ketemu sama orang-orang yang nggak kita bayangin sebelumnya (kaya ketemu Presiden). Nggak enaknya, ya itu, panas-panasan, ujan-ujanan (kalo musim ujan ya malah main becekan di banjir). Kulit gampang banget kering dan keling juga perih. Tangan sama muka siap siap belang.
Masih difoto sama Mas Heri NTMC Polri pas liputan di Tol Fungsional Gringsing, Batang, Jawa Tengah
Selain itu, ancaman rambut rontok juga ada lho, apalagi buat yang berjilbab. Huff.

Rambut rontok karena sering panas-panasan?
Saya sendiri memang mengenakan jilbab saat beraktivitas sehari-hari, termasuk kalau liputan. Panasnya matahari yang belakangan menyengat banget (kata BMKG sekarang Indonesia sedang di puncak musim kemarau!) bikin rambut cepet lepek, ujung-ujungnya banyak rontok. Rambut yang tertutup jilbab memang harus dirawat sebaik-baiknya karena di keseharian rambut kita tidak mendapat udara yang cukup sehingga memicu minyak dan keringat jadi lembab gitu. Terus ketombe. Terus gatal. Terus rontok. Ah tidaaaaak!!
Rekomendasi dari Diary Hijaber nih, guys
Di tengah pencarian saya mencari shampoo yang cocok yang bisa memenuhi hajat hidup rambut saya (halah), saya menemukan review dari DiaryHijaber, sebuah komunitas hijaber terbesar di Indonesia, yang mengulas shampoo dari Sariayu. Terus apa bedanya dengan shampoo lainnya? Nah si Sariayu ini memang mengeluarkan produknya khusus untuk menjawab kegundahgulanaan wanita berhijab, yaitu Sariayu Hijab Intense Series Shampoo Hair Fall! Yeay!

Terus apa keunggulannya?
Dengan kandungan ekstrak kacang polong dan kedelai dalam PeaVit Complex, serta mild surfactant, shampoo dari Sariayu ini memiliki 3 langkah intensif buat kita-kita yang berjilbab. Pertama, dia mengurangi kerontokan rambut. Kedua, membantu menguatkan akar dan inti rambut. Dan ketiga,  membantu melindungi dan memperbaiki rambut dari kerusakan. Hmmm. Menarik.
Terus yang pasti sariayu hijab ini merupakan brand lokal yang halal, natural dan no animal testing! Seneng nggak sih dengernya? Hihi.

Setelah dicoba...
Karena penasaran setelah membaca review dari Diary Hijaber yang bisa kalian baca disini, saya pun mencari si shampoo bertutup ungu ini. Saya membeli di LotteMart Kuningan City seharga Rp 20.500 dengan ukuran 180 ml. Terjangkau kan? Dengan harga segitu udah bisa dapetin semua kebaikan buat mencegah rambut rontok hehe.
Wanginya juga enak, manis lembut dan seger terus tahan lama gitu. Rambut jadi berasa ringan sampai besokannya juga masih enakeun dipake beraktivitas juga. Nggak kusut meski diiket seharian hehe.
Tutupnya flip gitu dan kencang. Jadi nggak khawatir kalau dibawa bepergian
Memang sih saya baru pakai minggu ini jadi yang saya ceritakan baru sekelumit kesan pemakaian pertamanya. Nanti ya sekitar satu atau dua bulan kita lihat apakah benar-benar mengurangi rambut rontok. Saya sih sangat berharap ini jadi jawaban bagi para wanita berjilbab yang sama sama mengalami rambut rontok karena lembab. Sayonara rambut rontok :3

Tips biar rambut tetap sehat
Tapi yang perlu diingat, selain memilih shampoo yang tepat, kalian juga harus keramas secara teratur ya minimal dua sampai tiga hari sekali, dibarengi dengan pemakaian kondisioner, hair tonic dan hair mist untuk hasil terbaik (jangan sedih, di sariayu hijab ada kok). Selain itu, hindari langsung mengenakan jilbab saat rambut masih basah (apalagi langsung diiket) karena itu bisa bikin rambut rapuh saking lembabnya. 
Bagaimanapun juga, meski rambut kita tertutup, tapi jangan sampai nggak peduli sama kesehatannya ya, karena rambut adalah mahkota wanita hihi. Selamat mencoba ya!
XOXO!
Za

Cigarettes After Sex Live in Jakarta

Yeay! Finally, Cigarettes After Sex live in Jakarta! *give them applause yeeeee*
Tepatnya satu minggu yang lalu, di hari Rabu (16/8) malam, Ismaya Live berhasil mendatangkan Cigarettes After Sex untuk show pertama kalinya di Jakarta. Duh. Emang harus ditonton banget!
Ismaya sendiri secara resmi mengumumkan konser ini di semua akun media sosial mereka pada pertengahan Juni lalu. Bawaannya langsung gregetan buat nunggu tanggal buat beli tiketnya karena menurut hemat saya (aseeek), Cigarettes After Sex ini jarang-jarang ke Jakarta. Band ini bahkan mungkin nggak semua orang tau dan nggak semua orang suka. Di tengah kebimbangan antara menonton We The Fest (event dari Ismaya juga) yang dari sekian artis cuma ngincer Zhu sama Vallis Alps, akhirnya resmi di tanggal 21 Juni 2017, saya langsung order tiket Cigarettes After Sex yang presale 1 ludes dalam waktu 15 menit (dan saya nggak dapet di harga itu huff).

Cigarettes After Sex itu Band Apa?
Mungkin kebanyakan orang langsung ‘bergidik’ mendengar nama band ini. Kenapa saya bisa berkata demikian? Karena dari beberapa teman saya menunjukkan ekspresi yang “apaan sik? Kok nama bandnya gitu?”. Padahal mah ya, kalau didengerin ya nggak gitu gitu amat juga liriknya. Malah syahdu :3
Cigarettes After Sex sendiri merupakan band bergenre ambient pop yang berasal dari Brooklyn, New York. Dibentuk sejak tahun 2008, band ini beranggotakan 4 orang, diantaranya Greg Gonzalez (lead vocal + electric/acoustic guitar), Phillip Tubbs (keyboards, electric guitar), Randall Miller (bass), dan Jacob Tomsky (drums). Lagu-lagunya dirilis pertama di tahun 2012 yang katanya basically an accident; kind of experiment gitu, macam Nothing’s Gonna Hurt You Baby, I’m a Firefighter, Dreaming of You, dan Starry Eyes. Eksperimen aja bagus gini ya hmmmm (anyway di tahun 2011 mereka bikin demo juga sih).

Kenapa Suka?
Sebelum jawab kenapa suka, boleh saya cerita sejak kapan saya suka? Haha. Sebenarnya saya suka juga belum lama lama banget, tepatnya di tahun 2015. Diperkenalkan oleh ‘teman’. Lagu pertama yang saya dengarkan saat itu adalah Keep on Loving You (yang kemudian jadi lagu favorit sepanjang masa). Semenjak itu saya dengarkan juga lagu-lagu mereka yang lain dan… suka.
Apa ya? Adem syahdu aja gitu denger lagunya. Enak banget didengerin pas ujan ujan haha nggak bikin galau sih, cuma ngena aja. Apalagi suaranya si Greg. Awalnya, sebelum cari tau banyak, dikira vokalisnya cewek. Ternyata itu suara si Greg sendiri yang memang punya androgynous voice yang menambah derajat keromantisan si lagu. Ah. Jadi fans itu memang sederhana :3
Awal Juni 2017 lalu, mereka baru banget merilis studio album bertajuk Cigarettes After Sex (yes namanya sendiri hihi). Aduh lagunya enakeun deh susah dijelasin kata-kata haha coba dengerin deh. Udah ada kok di Spotify hehehe.

Saat Hari Konser Tiba…
Saya menonton konser ini bersama teman saya, Dian. Seperti yang saya bilang, nggak banyak temen saya yang suka band ini makanya berasa senengnya pas nemu satu di antara sekian yang suka dan mau nonton konsernya. Hahaha. Tertulis di akun IG nya Ismaya Live, bahwa open gate di jam 7 namun jam 6 sudah bisa menukar e-ticket dengan wristband. Lokasinya di The Establishment, Lot 6 SCBD.
Oh ya, tiket juga bisa didapatkan secara on the spot (tentu saja masuknya terakhir sih) dan peraturannya jadi bisa semua umur yang menonton. Hmm.
Satu hal yang menyebalkan di awal adalah ditahan karena bawa kamera. Padahal di peraturan yang dilarang adalah macem kamera DSLR atau kamera profesional lainnya dan yang saya bawa adalah mirrorless biasa. Itu juga peraturan baru tau di venue karena sebelumnya nggak ada pengumuman sama sekali mengenai do and don’t di medsos ataupun email (cek di website juga nggak nemu sih). Agak lama saya dan 2 orang lainnya tertahan di pintu masuk dengan alasan kamera yang kami bawa harus diletakkan di dalam loker dan mereka (security) sedang mencari kunci lokernya. Berkali-kali protes ini kamera biasa tetep aja nggak diwaro. Bahkan dengan konyolnya si security bilang, kamera kami sebaiknya ditaruh di mobil karena kuncinya nggak ketemu. Lah dari kita bertiga nggak ada yang bawa mobil. Terus dengan entengnya, dia bilang titipkan saja ke depan. Duh Pak, kalo kamera kita ilang mau tanggung jawab memang?
Akhirnya setelah menunggu agak lama (ada kali ya hampir 20 menitan), si bapak bertanya lagi soal spesifikasi kamera yang kami bawa. Setelah dijelaskan bahwa ini kamera biasa bukan kamera profesional, kami akhirnya diperbolehkan masuk. Huff. Sedih aja gitu kalau kamera nggak boleh masuk, udah usaha ini pinjem punya Yana :(
Nah karena masuknya agak telatan, jadi saya dapet di lajur kelima, itu juga Dian yang nempatin karena dia berhasil masuk duluan. Posisi menentukan tingkat keindahan foto kak bagi anak amatir macem saya *sigh*
Agak lama sih nunggu sampai show-nya mulai. Dan garing karena nggak ada MC ataupun opening band gitu. Bahkan beberapa ada yang memilih duduk di lantai. Kalau saya sih lebih memilih berdiri sambil nyelip nyelip sampai akhirnya bisa dapet posisi di baris ketiga hahaha.
Show baru dimulai sekitar pukul setengah 9 malam (lama kan?) dimana Greg dan lainnya naik ke panggung dan langsung memainkan lagu di album barunya ‘Sweet’ (tanpa sepatah kata pembuka). Aduh nggak tahan buat nggak teriak dan ikutan nyanyi bareng. Greg dengan suaranya yang adem dan romantic itu sukses bikin merinding. Disusul lagu kedua ‘Each Time You Fall in Love’. Aduh meleleh.
Meski penontonnya pada ikut nyanyi, tapi nggak mengurangi kesyahduan konser. Tenang rasanya.
Beberapa lagu lainnya yang dimainkan (secara berurutan ya) ada Truly, I’m a Firefighter, K, Sunsetz, Flash, Nothing’s Gonna Hurt You Baby, Keep on Loving You (asli seneng banget lagu ini dimainin aaak), Affection, dan Apocalypse. Mereka sendiri tak banyak berinteraksi dengan penonton, paling cuma say hi and thank you juga bilang seneng bisa tampil di Jakarta.
Kelar Apocalypse, semua personel masuk ke backstage. Asa nggak terima gitu yang dimainin hanya segitu, kita kompak teriak ‘we want more!.
Nggak lama dari itu, Greg dan Phillip kembali ke panggung dan menyanyikan lagu Please Don’t Cry. Dreamy banget. Baru setelahnya semua personel ke panggung bawain lagu John Wayne. Terus udahan aja mereka pamitan bilang ‘thank you so much. See you next time!’ terus turun panggung. Kita masih nggak percaya kalo konsernya udahan secara baru jam 10an sampai akhirnya lampu ruangan dinyalakan. Bahkan mereka pamitan baris berempat aja nggak ada. Berasa sebentar banget sedih belum puas puas amat :(

Meet and Greet!
Kita bener bener baru percaya konser udahan setelah tau bahwa personelnya duduk di area penjualan merchandise untuk sesi meet and greet. Bentaran kan :(
Puas foto foto di area konser, saya dan Dian akhirnya melipir ikut baris buat meet and greet. Tapi kita nggak bawa apapun yang bisa ditandatangan. Merchandise abis (emmm emang belum tertarik beli sih karena merchandise-nya berupa vinyl, CD dan kaos) dan kita nggak bawa notes karena tasnya kecil. Sebenernya cuma pengen foto bareng aja tapi sayang aja kalo nggak tanda tangan. Akhirnya kita lepas wristband kita buat mereka tulisin hahaha.
Greg dan Jacob ramah banget sama fansnya. Terbukti pas giliran kita maju, mereka mau ngobrol bahkan memuji tasnya Dian yang dia bilang lucu. Ah cute deh pokoknya!
Overall, puas puas engga sih sebenernya sama konsernya. Puas karena mereka akhirnya ke Jakarta dan saya berhasil nonton secara live (ambience-nya tetep sama antara denger langsung dan denger di Spotify tengah malem. Sama sama syahdu dan adem). Bahkan bisa dapet foto bareng juga. Nggak puasnya karena kerasa bentar banget konsernya (ya bersih bersihnya sekitar 1,5 jam aja masa) dan waktu menunggu yang lama. Apalagi ada insiden ketahan kamera huh. Tapi lebih banyak senengnya karena akhirnya bisa nonton mereka hahaha (padahal besokannya kita harus kerja pagi pagi betul hahaha). Mau lagi lah nonton. Dengan waktu yang lebih lama pula hihi.
See you next time, Cigarettes After Sex!

XOXO!
Za

PS.
Kali ini fotonya diambil pake kamera Canon EOS M10 punya Yana (yey makasih banyak udah dipinjemin! *sending virtual hug...*). Bagus nggak? Hahaha apa sayanya aja ya yang masih belum mahir pake mirrorless hihi. Masih tahap pilih memilih nih mau mirrorless mana. Tapi dua foto yang wristband sama ticket box itu diambil (masih tetep di hati) pake Xperia C5 Ultra hihi.
Bonus foto! See ya on the next event yaw!


Wisata Berfaedah di Perbatasan Sukabumi-Bogor


Wooooh! Weekend is coming, yeay!
Buat orang yang hobinya jalan-jalan, pasti bawaannya pengen explore banyak tempat. Apalagi kalau tinggal di Jakarta, bawaanya setiap weekend pengen jalan ke tempat yang ‘seger’ dan bisa refresh otak. Biar nggak mall lagi mall lagi aja gitu haha. Saya punya rekomendasi tempat wisata yang mungkin bisa kalian datangi di weekend ini. Yup, kita sedikit explore ke wilayah perbatasan Sukabumi dan Kabupaten Bogor ya!
Jadi ceritanya, hari itu saya dapat libur pengganti 2 hari dari kantor (ditambah libur sendiri 1 hari jadilah 3 hari haha). Bosan dong kalo cuma di kosan doang (mau pulang masih banyak kerjaan). Alhasil saya berhasil ngikut Usmi, temen semasa kuliah saya, ke Sukabumi. Kebetulan dia masih ikut program dari Kementerian Pertanian untuk turun ke desa mengamalkan ilmunya (asek…). Dan kebetulannya lagi, program itu udah selesai (tinggal pamitan ke perangkat desa) jadi si Usmi bisa saya tarik buat memandu jalan-jalan si anak yang kurang liburan ini. Hihi.

How to go there...
Kereta Bogor-Sukabumi ternyata penuh juga lho
Berangkatlah kita menggunakan kereta api Pangrango dari Stasiun Bogor Paledang arah Sukabumi. Tapi jangan mentok turun ke Sukabumi karena sebenarnya cuma sampai di Cicurug aja, yang bener-bener masih deket banget sama Kabupaten Bogor. Harga tiketnya terjangkau banget, Bogor-Cicurug hanya 15 ribu rupiah untuk kelas ekonomi dan 40 ribu rupiah untuk eksekutifnya. Muraaaah haha.


Perjalanan hanya memakan waktu sekitar 1 jam. Selanjutnya, saya dan Usmi sambung naik angkot arah ke Cicurug untuk menuju kantor BP3K (Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan) Kecamatan Cicurug, tempat kita menginap nantinya. Karena lokasinya yang dikelilingi banyak pabrik, seperti pabrik aqua, yakult, indomilk dan masih banyak lagi lainnya, jadi wajar aja sih ini cukup berdebu parah. Plus kalo di jalan saingannya sama truk-truk macam di film Transformer haha.
Kantor tempat Usmi dan rekan-rekan menginap untuk mengabdi kepada masyarakat :3

Day 1 - Suparman Farm 
Pemberhentian short trip to Sukabumi pertama kita adalah ke rumah Pak Suparman. Beliau merupakan ketua kelompok tani di desanya. Memang sih dari isi obrolan kita (saya datang bersama Usmi dan 2 peserta program lainnya, Ika dan Binti) keliatan banget kalau beliau concern sama pertanian di Indonesia. Sawah, Kebun juga kolam Lele beliau ada. Ternak sapi perah juga ada di belakang rumahnya. Sekarang beliau punya semacam home industri gitu yang bikin susu dan yoghurt beraneka rasa.
Ngasih makan sapi kudu punya tenaga juga ternyata, karena si sapi nariknya kuat haha 
Jika biasanya kalau kita bertamu ke rumah orang, disuguhinnya teh manis, di rumah Pak Parman kita disuguhi susu sapi murni yang masih hangat dengan tambahan gula (dan madu sepertinya). Bahagia sederhana bos! Lalu beliau mulai bercerita tentang ternak sapinya yang hanya berawal dari 2 ekor sapi pemberian zamannya Pak Harto (kata beliau lho). Ya seperti kita tahu sih, era Pak Harto kan program-program di bidang pertanian sangat gencar. Berbagai kebijakan dibuat guna revolusi pangan. Berbagai usaha dilakukan agar rakyat Indonesia bisa mencukupi pangannya sendiri tanpa harus impor. Nah di masa itu lah Pak Parman mulai mengembangbiakkan sapi (selain bertani juga).
Yeay! Minum susu sapi murni dari peternakan sapi perahnya Pak Parman :3
Dari ternak sapi tersebut, Pak Parman bisa menyekolahkan semua anaknya hingga perguruan tinggi. Namun yang agak menampar sih, Pak Parman bilang, anak zaman sekarang hampir nggak ada yang tertarik jadi petani. Beliau menyontohkan anaknya yang tadinya beliau harap mau ambil kuliah di jurusan peternakan (biar jadi dokter sapi) tetapi dia (anaknya) lebih tertarik ambil jurusan teknik.

Pak Parman bercerita tentang kehidupannya bertani dan beternak
“Kata anak saya, jadi petani itu nggak cool dan nggak bikin kaya. Tapi kalau saya sih mikirnya cukup aja. Mau nguliahin anak cukup, mau beli apa cukup, ini cukup, intinya semuanya cukup lah. Hahaha.” Kata Pak Parman.

Day 2 - Curug Cikaracak
Di hari terakhir saya di Cicurug (ya emang 2 hari aja sih hehe), saya diajak untuk main air di Curug Cikaracak, Desa Cinagara, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Katanya sih, letak si curug ini tepat di kaki Gunung Gede Pangrango. Wow!
Perjalanan dari Cicurug ke Cinagara kita tempuh menggunakan sepeda motor. Tips dari abang-abang yang setim sama Usmi di proyek ini, pertama, jangan berpenampilan layaknya orang kota (maksudnya terlalu banyak aksesoris, baju macem main ke mall, dll haha rese sih ya tapi untung ada celana training si usmi karena saya nggak bawa baju ganti haha). Kedua, pake sandal jepit aja karena track-nya kita akan mendaki gunung lewati lembah seberangi sungai. Ketiga, jangan lupa bawa air minum.
Gerbang ke curug dijaga oleh sejumlah pemuda desa
Begitu masuk gerbangnya gitu, sudah ada ‘akamsi’ yang jaga. Satu motor dikenai biaya masuk 5 ribu rupiah. Selanjutnya motor kita parkir di dekat warung dan perjalanan pun dimulai *bunyi genderang mau perang*.
Sepanjang perjalanan menuju puncak, hamparan sawah dan kebun terbentang. Beberapa kali ada sungai kecil gitu yang airnya bening. Pokoknya pemandangan yang nggak akan kalian dapetin di Jakarta deh.
Ada Mushola di tengah sawah guys!
Sungainya berasa seger banget senang liatnya!
Padi-padinya sudah menguning sebentar lagi panen. Yeay!
Di tengah perjalanan, ketemu sekeluarga yang lagi 'ngaso' makan siang setelah bertani

Setengah perjalanan, jalanan mulai terjal. Bukan sawah atau kebun lagi, tapi hutan dengan jalan setapak yang kecil dan terjal juga nanjak.

Sangat tidak disarankan menggunakan sepatu dan amat sangat disarankan menggunakan sandal gunung karena kita lewatin 3 kali sungai gitu. Arusnya cukup deras. Beberapa kali sandal saya dan Binti hampir hanyut (untung bawa sandal jepit kan haha). Tapi enak airnya dingin. Dan dengan alasan keamanan, saya tidak banyak memotret momen-momen menyeberang sungai yang ada 3 buah jumlahnya itu. Hehehe.

Ketika hampir sampai dan jalanan mulai agak lebih terjal, ada sebuah papan peringatan gitu, hanya saja sudah sobek. Tapi masih bisa sedikit terbaca sih yang intinya dengan alasan keamanan dan keselamatan, air terjun cikaracak ini ditutup. Kalau kondisi sekarang sudah dibuka lagi sih semoga sudah aman ya. Soalnya mulai banyak yang berkunjung juga. Hmmm.

Sebelum sampai di curug utama, ada curug kecil dulu yang macem air-air terjunan buat dekor rumah gitu. Berhubung saya belum pernah kesana, agak hampir percaya aja gitu pas salah satu abang itu bilang ini curug yang kita tuju. Nggak taunya masih di depan curug yang sesungguhnya hahaha.

Total nih, perjalanan dari bawah (tempat parkir motor) sampai curug ini butuh waktu 45 menit hingga 1 jam. Sebenarnya tergantung kitanya sih ya jalannya cepet atau selow aja. Itu waktu tempuh kita sudah sama istirahat 1x di bekas saung jualan madu gitu yang letaknya kalau kata saya tepat di tengah-tengah antara jalur landai dengan jalur nanjak. Dan inilah jalan terjal yang terakhir sebelum sampai di Curug Cikaracak.
Naiknya kudu hati-hati banget biar nggak kepeleset


Dan mainlah kita :3
Seger kan liatnya airnya bening bangeeeeet

Sungguh semacam obat stress banget di tengah hiruk pikuk ibu kota dan kehidupan kantor yang aduhai bikin penat.
Main sama usmi kali ini no jambu yes! haha

Tapi sedihnya, pengunjung yang datang kemari masih suka ninggalin sampah. Padahal apa susahnya buat ngantongin sampah mereka buat dibuang ketika sudah sampai di bawah dan ketemu tempat sampah ya? Ah :(

Nah jadi kalau kamu ada di Bogor (Kabupaten ya) ataupun Sukabumi (yang perbatasan Bogor tapinya), kalian bisa mengisi akhir pekan yang sehat di Curug Cikaracak ini. Udaranya masih segar pula dan nggak terlalu ramai, enak deh. Weekend ramai sih tapi nggak ramai ramai banget. Kalau saya dan kawan kawan ini ke Curugnya hari Rabu jadi sepi enak hehe.

Selamat berakhir pekan ya! Ingat. Kerja sama liburan harus seimbang, guys! Hihi.

XOXO!

Za

PS.
Sebenernya masih banyak foto-fotonya tapi nggak mungkin diupload semua hahaha. Semua foto masih setia diambil dengan Sony Xperia C5 Ultra. Mau beli mirrorless sih, tapi masih bingung mau yang mana haha jadi curhat dah. Ada rekomendasi? Tapi sebelumnya nih saya kasih bonus foto karena suka sama perpaduan warnanya aja hahaha.
Foto ter-unfaedah :))))