[BUKAN] WARTAWAN EMBEDDED


Riuh Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta semakin terdengar, mengingat bulan Februari sudah di depan mata. Mungkin kita sudah gatal dengan berita-berita yang berseliweran di media sosial, yang membuat Pilkada Ibu Kota ini serasa pemilihan Presiden. Hoax dimana-mana. Saling serang dan menjatuhkan satu sama lain. Lebih sebal ketika sosok yang sebelumnya kita kagumi ikut berkomentar dengan kalimat-kalimat yang bisa ‘membakar’. But I won’t tell you about that. Nanti blog saya jadi ikutan panas. Hahaha.
Memang masih seputar Pilkada, tapi saya akan bercerita tentang pengalaman saya ikut kampanye paslon-paslon ini. Postingan ini tidak akan memihak siapapun karena isinya bukan kampanye mereka kok haha. Lha wong saya aja nggak akan ikutan milih di Pilkada entar :p

Pengalaman Pertama ‘Nyemplung’ di Pilkada
Masing-masing pasangan calon biasanya memiliki wartawan embedded yang diutus oleh kantor masing-masing untuk meliput si paslon, baik calon gubernurnya ataupun wakilnya. Yup, setiap harinya kita akan bertemu dengan wajah-wajah yang sama hahaha. Wartawan embedded sendiri berarti wartawan yang menempel, dalam artian, kemana pun si orang itu pergi untuk berkegiatan, kita yang ikut dan meliput.
Pertama kali saya ikut ‘nyemplung’ waktu masih tandem dan main ke Rumah Lembang, poskonya pasangan calon nomor dua, Ahok Djarot. Rame banget. Gerah haha. Disana Ahok menerima keluhan warga. Beberapa artis juga datang untuk mendukung. Pas saya kesana ada Memes, Ari dan Ira Wibowo. Terakhir, kita para wartawan diberi waktu untuk doorstop Ahok.

Baca Juga : [Journolife] : Di Balik Doorstop Interview

Jalan-Jalan keliling Jakarta
Selang beberapa waktu kemudian, saya sudah tidak di-tandem-kan lagi daaaaan harus menyambut cawagub nomor 3, Sandiaga Uno pas media visit ke kantor. Harusnya sih masih tandem, tapi karena ada satu lain hal, tandeman saya digeser. Without any preparations, saya juga nggak tau agendanya ngapain, saya mau nanya apa, it was blank! Hahaha.

Bersyukur Sandi is a good people and so humble (and handsome like people said haha). Nggak jadi grogi karena beliau enak diajak ngobrol juga, bahkan saat wawancara terasa seperti ngobrol hehe.
Lalu keesokan harinya, suruh ikutin agenda Anies-Sandi. Karena kemarin sudah dapet soundbite dari Sandi, maka hari itu saya putuskan untuk ikut agenda Anies. Lucky me, saya bertemu teman lama yang sudah berganti seragam, Kibow, yang bikin suasana jadi nggak canggung.
Kenapa canggung? Karena kebanyakan dari mereka adalah wartawan embedded yang selalu ngikutin bapak kemanapun kapanpun sampe jam berapapun *halah*. Apalagi saya baru dan wajah-wajah mereka tentu saya belum pernah bertemu haha.

Sudah kenalan, sudah beberapa kali ikut, selanjutnya saya dipindah untuk ikutin paslon nomor satu, AHY-Sylvi, padahal sudah nyaman sama teman-teman di sebelah *eeeaaa*. Pengalaman saya pertama banget ikutin pasangan ini adalah bertemu sama Mpok Sylvi, wanita tangguh yang mau berpolitik. Terlepas dari kegiatan berpolitiknya, saya suka dengan senyumannya yang selalu riang dan suka menggoda balik para wartawan alias suka bercanda.
Di beberapa hari berikutnya, saya ikut kegiatannya AHY. Dia lebih senang menyapa warga dengan istilahnya ‘gerilya lapangan’. Siap siap jalan kesana kemari (kadang) sambil bawa tripod.
Oh ya kalo blusukan begini, jangan lupa pakai sunblock dan topi guys biar ga hitam hahaha kepikiran amat 😁
Yah di saat sudah kembali nyaman ngobrol sama teman-teman embedded paslon nomor satu, saya kembali digeser ke paslon nomor 3. Dan begitu seterusnya haha. Saya sendiri jarang dibagi ke paslon nomor 2 karena sudah ada pembagiannya masing-masing dari koordinator liputan alias korlip saya.

Baca Juga : Stop Being 'One Click Killer'

Tapi dengan ikut mereka berempat, saya jadi keliling Jakarta sampe ke gang-gang kecil. Jalan kaki bisa dari ujung gang mana keluar di ujung jalan mana. Bahkan pagi di Jakarta Selatan, siang di Jakarta Timur, sore bisa jadi di Jakarta Utara. Iya saya pernah haha pas ngejar Anies Baswedan. Karena belum dapat SOT-nya dan atas pertimbangan korlip akhirnya saya ikut agendanya dari pagi sampe sore (dan itu hari Sabtu haha).

Suka Duka [Bukan] Wartawan Embedded
Nggak jadi wartawan embedded sebenarnya menguntungkan, karena kita bisa nambah teman sekaligus di satu momen. Bukan hanya teman sesama jurnalis, tapi juga timsesnya. Sementara nggak enaknya, kita akan ketinggalan momen masing-masing paslon yang bisa jadi bahan topik pembicaraan di pertemuan selanjutnya. Jadi suka nggak nyambung kan.
Misalnya, kemarin si A kemarin blusukan di Tanah Abang dan ada cerita lucu. Tapi kita nggak ada di momen itu karena ikut agendanya si B. Jadi pas ikut A lagi, mereka masih membahas kelucuan itu daaaan kita nggak nyambung.
Tapi itu nggak berlangsung lama sejauh kita bisa membaur dengan mereka. Bahkan kita juga suka berkoordinasi ‘mau tanya apa hari ini?’ atau ‘ada titipan pertanyaan dari kantor nggak?’. Jadi nanti dibagi, yang nanya topik A misal saya, lalu topik B wartawan tv sebelah, dan begitulah sampe semua pertanyaan terjawab. Intinya kalau kata teman saya, Kibow, “semakin lo sotoy (tentang agenda, dsb), semakin lo dikenal” hahaha.

Tips Jadi [bukan] Wartawan Embedded
1. Buang jauh rasa malu
Tips pertama dari saya jika kalian mengalami hal ini adalah jangan malu dan pasang muka tembok! Ini penting dalam artian, jangan malu untuk menyapa, bertanya, kenalan sama wartawan lainnya. Ngobrol apa aja, misal isu yang lagi panas saat ini yang lagi heboh diperbincangkan di media sosial. Bahkan kalian bisa ngobrol tentang apa sih pertanyaan yang mau kamu tanyakan ke paslon hari ini. Nggak apa-apa share aja. Nanti biasanya wartawan lain akan berbagi pengalamannya bertanya dengan paslon ini dan kasih tips bagaimana menyikapinya jika ditolak. Udah sok kenal aja pokoknya hehe.

2. Main HP boleh, asal jangan nunduk melulu
Yah, kadang pepatah yang bilang kalau 'HP itu mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat' itu ada benarnya juga. Saya nggak melarang kalian main HP saat liputan begini, hanya saja coba sedikit dikurangi biar nggak asyik sendiri dan nggak tau lingkungan. Better waktunya dipake untuk ngobrol sama wartawan lain. Karena salah-salah kalo kita asyik sama HP, kita ketinggalan koordinasi untuk doorstop. Kan sedih :(

3. Sotoy aja :3
Kalau ini yang tadi saya bilang, saya dapat tips ini dari Kibow. Semakin lo sotoy, semakin lo dikenal. Tentunya sotoy yang nggak gengges ya. Kaya misal kita membuka percakapan dengan info A1 yang masih belum pada tahu, seperti hari ini ternyata si A mau kampanye ajak ibunya. Itu bisa menjadi pancingan untuk ngobrol sama wartawan lain. Tentunya data harus valid ya. Jangan sampe kita ngarang cuma biar dapet perhatian dari yang lain.

4. Tukeran Nomor HP
Nah, ini penting banget! Kita sebisa mungkin minta nomor hp wartawan embedded atau timsesnya. Even kita juga dapat agenda paslon dari temen kita (yang sekantor), tapi nggak ada salahnya kan punya nomor hp temen selapangan. Karena dari dia, kita bisa dapet lokasi pastinya yang dia share via maps, dapet agenda kalau temen kita nggak balas whatsapp kita, dan dapet info lain-lainnya juga. Bahkan kita malah bisa diajak main sama mereka juga kan lumayan nambah temen kaya yang tadi saya bilang.
Intinya, mau ikut siapapun seru kok, tergantung kita gimana bisa membaur sama timses dan rekan-rekan embedded-nya. Terlepas kegiatan berpolitiknya, saya yakin ketiganya pasti memiliki visi misi yang mulia untuk memajukan Jakarta. Cieeee. 
Asal jangan ikut-ikutan war di media sosial seperti orang kebanyakan ya, yang gampang klik share berita tanpa divalidasi dulu. Rajin-rajinlah membaca dari sumber yang kredibel. Oke!

Salam damai.

XOXO!
Za

PS.
Selain pake kamera hape sendiri, foto juga didapat dari teman selapangan yang jarang bertemu di lapangan *halah* // Juga memakai properti Darth Vader dan Stormtrooper milik Ias agar kita tidak masuk ke dark side meski iming-imingnya menggiurkan. May the force be with you :3

Kulit Sehat dan Lembut dengan Redwin Sorbolene Moisturiser


Hello, there! Happy new year! 🎇🎆🎇🎊

Berbagai macam (sok) kesibukan membuat saya jarang ‘menyentuh’ blog di akhir tahun kemarin. As I told you, tahun kemarin memang saya mendapat tantangan baru yang mengharuskan saya turun langsung ke lapangan, mendatangi sumber berita sebagai bahan berita saya. Berbeda dari sebelumnya dimana saya bekerja di dalam kantor, sekarang saya harus siap panas-panasan di luar ruangan. You know lah panasnya Jakarta beberapa bulan belakang seperti apa 😩

Bahkan nih ya bisa seharian ikut blusukan beberapa paslon yang maju di Pilkada DKI di tengah teriknya matahari dan polusi Jakarta yang kian nggak sehat. Literally seharian, dari pagi sampai sore (I’ll tell you on the next post ya, promise! haha). Kadang setelah panas terik beberapa jam kemudian hujan deras. Salah salah, kalo nggak tahu triknya, kulit jadi kering dan keling. Ya maklum, kulitnya shock biasanya kepapar AC tau-tau jadi ‘berjemur’. Padahal sama aja sih dua-duanya kalau kelamaan bikin kulit kering.

Then I’m looking for something like moisturiser yang bisa bikin kulit tetap sehat. lembut dan lembab meski seharian di bawah sinar matahari. Ulalaaa, I've got this one named Redwin Sorbolene Moisturiser yang dari sekian review yang saya baca merekomendasikannya karena bisa bikin kulit sehat dan lembut. Ditambah Redwin juga telah mendapat rekomendasi dari para dermatologis lho untuk menjaga kelembapan kulit dan mengatasi masalah kulit sensitif, kering, kasar dan rusak karena pecah-pecah, bersisik, dan terkelupas akibat kehilangan elastisitas kulit. LENGKAP!


Produk darimana sih Redwin itu?

Nah buat yang masih asing dengan Redwin, brand yang satu ini berasal dari Australia. Nggak hanya moisturiser-nya aja, Redwin juga punya produk body wash-nya lho. Sementara kalau di Negara asalnya, Redwin juga punya produk deodorant, shampoo, hand wash, dan dry skin moisturiser.

Redwin Sorbolene sendiri merupakan produk Sorbolene nomor satu di Australia yang telah dipercaya dan aman untuk melembabkan kulit dan menutrisi segala jenis kulit, bahkan untuk kulit yang paling sensitif juga aman buat kulit bayi yang baru lahir. Pantes aja kalo varian Redwin Sensitive Skin ini sudah dapat penghargaan lho. Kiw!



Trus, Sorbolene itu Apa?

Mungkin beberapa masih asing dengan istilah ini. Sorbolene adalah jenis perawatan kulit untuk seluruh tubuh yang nggak akan menyebabkan alergi, karena sorbolene sendiri tidak mengandung zat-zat aditif keras layaknya pewarna, wewangian dan parabens (bahan pengawet) yang bisa memicu reaksi alergi dan iritasi pada kulit.

Mengapa Redwin Sorbolene Moisturiser?

As their tagline, “try redwin for yourself and your skin will thank you everyday”, sorbolene moisturiser dari Redwin ini mengandung vitamin E, 10% Glycerine dan Sorbitol yang bisa bikin kulit lembut, lembab, halus dan sehat pastinya. Ditambah nggak adanya bahan-bahan pemicu alergi jadi aman dipakai, termasuk buat kulit sensitif.

Selain itu, ini dia beberapa kegunaan Redwin Sorbolene Moisturiser :
💜 Melembabkan dan mempertahankan kelembutan kulit serta melindungi kulit
💜 Mengatasi dan mencegah masalah-masalah kulit kering, kasar dan bersisik
💜 Meningkatkan elastisitas kulit untuk kulit yang lebih kenyal
💜 Vitamin E dari minyak biji gandum sebagai anti-oxidant untuk melawan radikal bebas, mencegah penuaan dini, dan meremajakan kulit yang rusak akibat masalah kulit kering

Soal Kemasan
Saya punya yang kemasan 100 gr berbentuk tube plastik dengan tutup flip. Pas pertama banget mau dipakai, ada alumunium foil yang menutup lubangnya sehingga terjamin kebersihan dan keamanan isinya.
Di kemasannya tercantum tentang informasi komposisi, fungsi, dan aturan penggunaan. Selain itu, juga terdapat informasi produk dibuat dimana, didistribusikan oleh siapa, juga yang paling penting, expired date-nya. Meski demikian, produk ini memiliki masa kadaluarsa 24 bulan alias 2 tahun setelah segel dibuka.

Soal Tekstur dan Wanginya
Redwin SorboleneMoisturiser ini memiliki tekstur yang agak kental dengan warna putih. Senangnya, pelembab ini sama sekali tidak lengket saat diaplikasikan ke kulit dan cepat meresap. Nyaman banget dong tentunya buat yang harus 'sat-set' beraktivitas haha. Memang tidak terlihat ada bedanya sebelum dan sesudah pemakaian kalau difoto ya, tapi kalo disentuh duuuuuh lembut sukaaaak! 💓

Kalau soal wangi, emmm, jujur saya agak kurang suka. Beberapa menyebut wanginya vanilla tapi kalau saya pribadi saat mengaplikasikan ke kulit, justru tercium bau obat-obatan atau bau rumah sakit yang agak menyengat. Wajar sih, soalnya Redwin mengklaim produknya tidak menggunakan wewangian. Untungnya, bau obatnya cepat hilang secepat dia meresap di kulit hehe.

Pengalaman Menggunakan Redwin Sorbolene Moisturiser

Well, sudah lebih dari satu bulan saya menggunakan Redwin Sorbolene Moisturiser. Biasanya saya pakai sehabis mandi sebelum berangkat kerja, terutama di tangan dan kaki yang lebih rawan kering hehe. Setelah wudhu biasanya saya kembali usap di tangan dan kaki. Atau pas ngerasa kulit kering banget biasanya dioles lagi.

Namun karena panasnya sinar matahari yang kejamnya super duper bikin perih kulit, sekitar 15 menit sebelum ke luar ruangan, tangan dan kaki saya tambah sunblock biar nggak belang hehe.

Dan saya mengamini manfaat Redwin Sorbolene Moisturiser ini yang bener-bener bikin kulit lembab dan kenyal biar dipakai beraktivitas di lapangan seharian. Kadang kalo lagi ribet nggak sempet ‘moles’ lagi, kulit saya terasa lembab selama hampir 24 jam, terutama di bagian yang tidak terkena air. Dan setelah sebulanan pake ini, kulit saya memang terasa lebih sehat dan lembut, nggak ada lagi tuh goresan saat kuku digores ke tangan. Yeay!

Oh ya, kabar gembiranya lagi, Redwin Sorbolene Moisturiser ini ternyata sudah dapet label halal lho dari Australian Federation of Islamic Council (AFIC) jadi yes ini kosmetik halal ndak perlu khawatir ada bahan bahan 'mencurigakan'. Alhamdulillah :))

So the conclusions are…
(+)
kulit sehat dan lembut. FIX!
cepat meresap di kulit dan tidak lengket
jago deh kalo urusan melembabkan dan menutrisi kulit
travel friendly!
cocok untuk semua jenis kulit dari segala usia mulai dari bayi sampai tua, bahkan untuk kulit sensitif sekalipun
Sudah dapet label halal coy~

(-)
wanginya wangi obat :(
saat diaplikasikan dalam jumlah banyak, meresapnya agak lama ya

So I give Redwin Sorbolene Moisturiser 8 from 10 yeay! 👏👏👏👏👏👏

Buat yang bingung dapetin produk ini dimana, dia dijual di berbagai drug store seperti Watsons, Guardian, Century, Kimia Farma. Terus ada juga di Toserba Yogya, Carrefour, AEON, Ranch Market, Farmers Market, the Food Hall, Daily Food Hall, LotteMart, dan masih banyak lagi. Untuk harga, Redwin Sorbolene Moisturiser kemasan 100 gr ini dibanderol Rp 75K. Ya worth it lah untuk dapetin kulit sehat dan lembut :3

Kamu bisa kepoin lebih lanjut si Redwin Sorbolene Moisturiser ini kesini nih 👉 Redwin Indonesia

Jadi karena kulit adalah aset berharga setiap orang, khususnya wanita, yuk kita jaga dan rawat sebaik mungkin, salah satunya dengan memilih pelembab yang tepat. Nah saya rekomendasikan produk ini karena kulit sehat dan lembut berawal dari Redwin Sorbolene Moisturiser~

Selamat mencoba!

XOXO!

Za 

Jembatan Buntu Sengon Subah Batang


Selama ini, jika saya berada di Batang, tempat wisata yang sering saya kunjungi selalu saja yang berada di jalur ke Selatan (eh bener kan?), seperti ke kebun teh Pagilaran, Rumah Pohon Tombo, dan terakhir ke Sikembang di Blado. Jarang bermain ke wilayah Utara selain ke Pantai. Iya, nyebrang dari jalur Pantura ke utara lagi ketemunya udah laut lho (nanti kapan-kapan kuceritakan ya!).

Makanya pas saya lihat instagram-nya explorebatang dan instabatang, ada sebuah tempat di Subah bernama Jembatan Buntu, saya langsung tertarik. Yakan jarang main ke Utara haha. Apalagi view tempatnya asoy banget.

Inget kalo jaman SD suka gambar dua gunung (atau bukit gagal paham sama gambar sendiri) terus di tengahnya ada sungai yang mengalir plus sawah sawah? Nah tempat ini hampir menyerupai gambar tersebut haha. Cuma nggak terlihat ada sawahnya sih, cuma bukit hijau ala ala wallpaper Windows. Gimana nggak tertarik coba?

How to go there...
Akhirnya, di hari Senin (28/11), saya memutuskan pergi kesana bersama Dian Risma (yang jauh jauh datang dari Jakarta haha). Kalau menurut petunjuk dari kakak kelas yang ada di Batang, patokannya Rumah Makan Sate H. Subali, masuk ke jalan di seberangnya. Jadi berangkatlah saya dengan sepeda motor lewat jalur Pantura (the only way to go there haha).

Perjalanan menuju Jembatan Buntu yang terletak di Desa Sengon, Subah, dari rumah saya (taruhlah start dari Alun-Alun Batang) hanya membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dengan kecepatan normal. Namun tentu saja, teman perjalanan ya semacam truk dan bus bus besar (namanya juga Pantura ya sis). Cuma tinggal ngikutin jalan aja kok.


Pas udah masuk kawasan Subah, kurangi kecepatan biar Sate Subali nggak kelewatan. FYI, Sate Subali ini letaknya ada di kanan jalan ya. Tepat di seberangnya, ada sebuah jalan kecil ke utara dan sudah ada petunjuk arah ke Jembatan Buntu nya lho! Disitu tertulis, Jembatan Buntu (dengan tanda panah) 1 km. 

Jangan bingung saat masuk ke jalan kecil tersebut, karena di setiap persimpangan, ada petunjuk arahnya (warga setempat sepertinya tahu cara melihat peluang haha). Kita akan temui sedikit hutan dengan jalan yang mulus teraspal sebelum akhirnya kita disuruh belok ke kanan ke arah jembatan buntu. Nah disini, kita harus sedikit berhati-hati karena jalan untuk sepeda motor cukup kecil (motor dari dua arah saja harus gantian, ada kadal nyeberang aja harus berhenti guys!). Jangan dibayangkan jalanan ini semacam jalan beraspal juga ya. Ini lebih mirip jalan di tengah kebon haha.

Dan perjalanan diakhiri dengan jalur berbelok dan menurun plus berbatu hahaha.

Tentang Biaya Masuk dan Parkir
Saat sampai, sudah ada beberapa motor yang terparkir di gerbang kecil. Ada beberapa anak muda yang menjaga parkiran tersebut. Untuk biaya parkir sendiri dikenakan 2 ribu rupiah per motor (untuk mobil emmm nggak liat ada mobil disini sih pas saya kesini haha) sementara untuk biaya masuknya seikhlasnya. Sekelompok anak muda ini menyediakan semacam kotak amal di gerbang masuk, bebas mau isi di awal atau di akhir hehe.
Jalan menuju jembatan buntunya diberi pagar kayu yang dicat warna pastel. Bahkan ada hiasan berupa tulisan serupa pantun 😆

Yang Menarik dari Jembatan Buntu 
Tempat ini memiliki empat jembatan buntu, dua dari anyaman bambu dan dua dari kayu. Semua view-nya sama, perbukitan hijau dengan dua buah sungai coklat. Satu jembatan anyaman memiliki hiasan tanda 'love' bunga-bunga yang dilengkapi dengan tulisan tulisan kekinian (berbahasa Jawa tapi ya hehe). Duh udah pasti buat background foto bagus deh!
Kalo capek, tinggal duduk di saung atau bangku-bangku yang tersedia deh!

Yang Disesalkan di Jembatan Buntu

Pengelola tempat ini sudah menempelkan warning sebelum kita ke menaiki jembatan, seperti dilarang menaiki pagar, maksimal 5 orang dan foto maksimal 10 menit, serta dilarang membuang sampah sembarangan. 
Tapi pas saya kesana, beberapa terlihat melanggar. Paling gemes pas ada segerombolan cewek foto-foto di jembatan, salah satunya naik ke pagar. Bukan karena apa apa, tapi kalo pas apes, kehilangan keseimbangan, jatuh, ke bawahnya tinggi kan. And she did like everything is okay, semuanya terasa aman. Cuma yang liat itu geregetan lho ngeri jatuh meski sudah dipegangi temennya. Jadi, JANGAN TIRU ADEGAN INI YA!

Pesan dan Kesan Main ke Jembatan Buntu
So happy because this view is awesome! Dan ini ada di Batang, which is nggak banyak yang tahu Batang punya tempat sekece ini. Ya tapi memang objek fotonya cuma pemandangan bukit hijau dan sungai itu aja sih hehe.
Lebih menyenangkannya lagi, tempat ini bersih. Ada tempat sampah di beberapa titik, tepatnya yang dekat dengan tempat duduk (lengkap dengan tulisan satir haha). Dan sejauh mata memandang, i didn't found any trash here. Gimana nggak happy :3 (anaknya cinta lingkungan banget haha).


Namanya jembatan, jadi nggak ada pohon yang menaungi jembatan ini. Kemarin saya datang siang sekitar jam 10 dan itu panas terik sekali. Jadi pesan saya, jangan lupa pake sunblock/sunscreen ya! Biar nggak belang muka dan tangannya :')

Kesini lagi? Mau dong! Kali aja udah ditambah beberapa objek foto yang kece hehe. Kebetulan aksesnya nggak jauh juga dari jalur Pantura jadi cincai lah hehe.
Well, sampai jumpa di jalan-jalan selanjutnya ya! 

XOXO!
Za

PS.
All photos taken using kamera andalan Sony Xperia C5 Ultra depan belakang andalan banget deh ah! (bukan pesan sponsor)

Sikembang Kembang Langit Blado Batang


Dewasa ini, sangatlah mudah mempromosikan tempat wisata melalui media sosial, khususnya instagram. Bahkan kini, masing-masing daerah memiliki akun instagramnya sendiri. Tentu saja ini mempermudah kita pas kita mau jalan jalan dong, ya kan :3

Beberapa bulan yang lalu, saya mengunjungi Rumah Pohon Tombo setelah melihat instagram milik instabatang, Explore Batang dan visitbatang (tentu dong saya langsung cus follow). Mereka memang mempromosikan wisata wisata daerah di Batang, Jawa Tengah. Saya rasa ini bagus karena bisa meningkatkan pariwisata daerah, terlebih mungkin nggak banyak yang tahu Batang itu dimana (selain sebelahan sama Pekalongan haha).


Dan di liburan kali ini, saya mengunjungi Kembang Langit atau Sikembang di daerah Blado, Batang. Tentunya setelah melihat foto foto kece para anak muda kekinian disana hahaha anaknya kabitaan kan. Seperti biasa saya pergi bersama Ayu, partner jalan jalan saya kalau pulang. Kebetulan dia sudah pernah ke Kembang Langit jadi urusan jalan cincai lah ya. 

How to go there...
Perjalanan menuju Kembang Langit hanya membutuhkan waktu 30-45 menit dari Batang Kota, tergantung kecepatan kita saat berkendara sih sebenernya. Jadi kita ambil jalur menuju Agrowisata Kebun Teh Pagilaran Batang. Tapi pas di persimpangan Pondok Modern Tazakka Bandar, kita ambil jalur yang lurus (sementara kalo ke kiri itu ke arah Pagilaran). Terus aja ngikutin jalan sekitar 10 km yang cenderung penuh dengan tanjakan turunan dan tikungan tajam. Beberapa tikungan berbentuk melingkar sehingga kita tidak tahu ada kendaraan atau tidak dari arah sebaliknya. Oleh karenanya kita harus berhati-hati dan waspada. Kalo saya sih pas di tikungan itu ngasih kode bunyiin klakson.
Pemandangan sepanjang jalan :3

Kanan kiri jalan akan lebih banyak kita jumpai hutan dan sawah. Sikembang ini lokasinya ada di kiri jalan dan pas masuk lokasi agak menanjak. Satu orang dikenai biaya 3 ribu rupiah.

Apa Menariknya Sikembang Langit?
Apa sih yang menarik dari tempat ini? Kalau ada yang pernah ke Wisata Gunung Pancar di Bogor, mungkin tempat ini ga jauh beda ya. Kita disajikan pemandangan berupa hamparan hutan pinus lengkap dengan beberapa properti untuk foto. Hahaha tempat ini ada memang untuk memanjakan para pecinta fotografi (dan selfie). Sebut saja Jembatan Bambu dan Gardu Pandang dengan latar jalan berbentuk huruf S yang fenomenal (di instagram banyak yang foto pake latar itu dan layak disebut kekinian haha), hammock, kursi kayu, rumah pohon dan juga beberapa saung serta payung payung merah bergelantungan. 
Jembatan bambu fenomenal berlatar 'letter S'
kalau capek foto foto bisa istirahat di saung yang tersedia :3
Gardu Pandang yang nggak pernah sepi dari pengunjung


FYI, untuk foto di hammock, seorang dikenakan biaya 2 ribu rupiah. Eh tapi entah 2 ribunya itu sekali foto atau gimana, saya tidak coba soalnya antre parah haha. Kundak cukup kekinian huff.

Yang Agak Disesalkan sih...
Ramainya bukan main, mungkin karena saya datang di hari Sabtu kali ya. Sayangnya, masih banyak para remaja yang datang yang tidak mengindahkan peraturan. Seperti di jembatan bambu maksimal harusnya 3 orang tapi banyak yang melanggar bahkan sampai 7 orang di waktu yang bersamaan. Padahal ngerinya kalo ga kuat menopang malah longsor (bayanginnya ngeri coy). Sedih sih cuma biar dibilang kekinian. Saya dan Ayu bahkan harus nunggu lebih dari 10 menit untuk antre foto di spot ini karena kita ga berani kalo langsung diterjang banyakan begitu kan.
Sementara saya ngantri karena pemberitahuan maksimal 3, ini langsung serombongan :(

Terus masih ada beberapa sampah yang berserakan seperti bungkus pop mie atau kaleng susu beruang huff. Memang sudah ada imbauan untuk tidak membuang sampah sembarangan, tapi sepenglihatan saya, tidak ada tempat sampah di tempat ini. CMIIW.
bambu bambu mungkin bekas pembuatan rumah ini. tapi kalo bungkus popmie, kresek, kwaci sama susu kaleng rasanya ga elok kalo dibuang sembarangan begini :(

Pesan dan Kesan (Ceilah...)
Tentu saja jika tempat ini dikelola dengan baik, bisa menjadi tujuan wisata bagi orang-orang dari luar kota juga. Apalagi kalo liat di IG asa yang indah banget gitu lho. Tapi inget ya, buang sampahnya jangan asal. Jika memang belum tersedia tempat sampah, ada baiknya untuk menyimpan dulu sampahnya di tas atau saku.
mungkin karena masih baru jadi bawahnya masih balatak hehe
Nah kalo laper, disini juga ada saung dan warung yang jual makanan. Enak coy dingin dingin (ga terlalu dingin sebenernya haha) makan pop mie. 

Oh ya, tempat ini ternyata juga menjadi pilihan bagi pasangan yang mau menikah lho alias buat foto prewed. Belum ada yang ekstrim jadiin tempat resepsi nikah deh kayanya. Hanya saja saran saya, better kesini sebelum dzuhur karena di atas jam 12 potensi turun hujan sangatlah besar haha. Di hari Selasa saya kembali kesana sekitar jam 12an lewat, hujan turun dengan badainya dan dingin banget :(
Balik lagi ke tempat ini? Mau. Setelah saya sampai Jakarta, katanya banyak ditambah ornamen lagi di tempat ini. Ya semoga adek adek remaja kekinian tetap mengindahkan peraturan disana dong ya. Tapi kalo dari saya pribadi pengen banget masih penasaran pengen ke Danau Sidringo. Katanya tinggal lurus dari Kembang Langit, cuma agak ngeri-ngeri sedap aja kalo perginya cuma berdua sama Ayu hehe.

[BONUS] Spot Foto Kece (ala Zakia) :3

Si Payung Merah yang tak pernah kosong
ngantrinya nungguin anak anak ini, tapi setelah itu tetep aja rame -.-
Balok-balok tak bertuan

Jembatan bambu berlatar 'letter S' yang fenomenal
sambil nunggu jembatannya sepi jadi selfie dulu haha

Di tengah segalanya hahaha

Sampai jumpa di cerita jalan-jalan selanjutnya ya!

XOXO!
Za


PS.
All photos taken using Sony Xperia C5 Ultra (andalan saya banget haha) dan Yi Cam International (punya Ayu haha)