Kapan Mau Pulang?

11:10 AM Nova Zakiya 2 Comments

“Nok*, kamu mau pulang kapan?”
Sepi. Begitu kata Mamak (panggilan ibu saya) ketika saya menelpon beliau pagi itu. Dan rasa sepi itu selalu berujung dengan pertanyaan “kapan mau pulang”.

Ah Mak, andai aku disini sudah bisa minimal ngontrak rumah, rasanya pengen aku ajak Mamak serta Abah tinggal bersama di kota perantauan ini

17 tahun tinggal bersama di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, lalu setahun kemudian harus merantau demi meraih masa depan. Sejak kecil saya tidak pernah terpikir untuk tinggal jauh dari orang tua, begitu juga dengan Mamak. Saya bungsu dari 2 bersaudara. Di tahun yang sama saat saya harus merantau ke Bogor untuk menimba ilmu, kakak saya juga harus meninggalkan rumah karena mengabdi pada sang suami dan menetap di Salatiga.
“Kamu pikirin mateng-mateng mau diambil atau nggak kesempatan ini. Pikirin masa depan, pengen jadi apa kamu ke depannya. Yang mau masuk ke kampus itu pasti banyak, dan kamu lolos. Jauh dari Mamak nggak apa-apa asal kamu bisa kuliah, karena Mamak sama Abah nggak bisa warisin harta buat kamu. Cuma ini yang Mamak sama Abah bisa kasih, biar kamu bisa sukses.”
Sebuah nasihat dari Mamak saat saya bimbang untuk mengambil kesempatan tersebut.

Juni 2009. Semua telah siap. Mamak dan Abah memenuhi undangan pertemuan orang tua mahasiswa dan saya bersiap masuk asrama. Rasanya berat beberapa jam lagi mereka pulang ke rumah dan saya sendiri di asrama tanpa mereka. Masih jelas teringat saat Mamak memeluk saya ketika berpamitan pulang. Hati-hati, jangan lupa salat, begitu katanya. Ingin menangis tapi harus ditahan karena takut Mamak akan khawatir. Setelah mereka pulang, barulah saya menangis.

Telepon di akhir minggu menjadi rutinitas wajib sejak saat itu. Biasanya kita bisa bercerita banyak secara langsung, kini semua bergantung pada pulsa dan sinyal telepon.
Kamu udah makan, Nok? Jangan bolong-bolong makannya nanti sakit. Kamu kan jauh dari orang tua jadi harus bisa jaga kesehatan.”
Begitu kata Mamak di setiap teleponnya.

Saat kuliah, saya termasuk anak yang jarang pulang, mengingat sebagai anak rantau harus menghemat pengeluaran dan saya tidak mau terlalu sering meminta kiriman uang. Beberapa kali libur panjang saya gunakan untuk mengambil semester pendek ataupun magang. Sekalinya pulang, Mamak selalu antusias membuatkan makanan favorit saya setiap harinya. Ya, masakan Mamak saya memang ngangenin.

Mamak selalu bangga menceritakan saya di depan teman-temannya. Dan Alhamdulillah 4 tahun tepat saya lulus. Dengan matang Mamak menyiapkan segala kebutuhan untuk wisuda nanti. Ya, ini kedua kalinya Mamak akan ke Bogor setelah mengantar saya ke asrama di tahun pertama.

Di hari wisuda, Mamak bilang terharu saat mendengar nama saya disebut dan melihat foto saya terpampang di layar. Saya? Menangis saat mendengar lagu Bunda dinyanyikan oleh Paduan Suara, mengingat bagaimana dukungan beliau kepada saya selama ini.

Mamak selalu berharap supaya saya bekerja di dekat rumah, tapi saya ingin mengejar cita-cita disini. Mamak bilang supaya rumah tidak sepi lagi karena setelah ditinggal Mbak dan saya, Mamak dan Abah hanya tinggal berdua di rumah. Apalagi kalau Abah harus menginap di tempat kerjanya, Mamak sendirian di rumah. Namun sekali lagi, beliau merelakan anaknya jauh secara raga dari mereka, demi cita-cita sang anak.

Nyatanya pekerjaan saya saat ini tidak se-fleksibel seperti saat saya kuliah yang bisa pulang di tanggal merah dan akhir pekan. Dalam satu tahun kemarin, bisa dihitung dengan jari berapa kali saya pulang. Bahkan, lebaran hari pertama pun saya lewatkan jauh dari mereka.
“Nok, kamu masih apa? Nanti ngantor jam berapa? Tadi salat Ied dimana? Di rumah rame lho, Nok. Sava (anak Mbak saya yang masih berumur 4 tahun) dari tadi aktif banget cerewet godain Mbah Kakung-nya mulu.”
Saya bisa merasakan suara beliau menahan tangis, pun dengan saya yang pada akhirnya pecah ketika Mamak menutup telepon. Sekali lagi, saya tidak ingin membuat beliau khawatir.

Suatu hari saat Mbak pulang ke rumah, ia memasangkan TV kabel. Katanya biar Mamak bisa lihat hasil kerja saya, melihat program-program saya walaupun bukan saya yang tampil di layar kaca.
“Nok, tadi Mamak lihat nama kamu di setiap akhir program-program beritamu.”
Dengan bangga Mamak menceritakan itu di telepon. Seketika saya menangis, tentu saja diam-diam supaya tidak terdengar oleh beliau.

Kapan mau pulang” kini seolah menjadi pertanyaan wajib Mamak saat menelepon. Kangen, begitu yang Mamak sampaikan walau hanya tersirat. Pun dengan saya yang selalu kangen ngobrol berdua dengan beliau, membicarakan hal-hal dari yang sekedar haha-hihi sampai yang serius tentang masa depan, kangen masakannya yang enak, kangen bikin kue lebaran bareng, kangen tidur bareng saat saya terbangun dari mimpi buruk dan takut sendirian, kangen akan semuanya walaupun tak jarang saya pernah membantah perintah beliau.

Tenang Mak, anakmu ini akan segera pulang ke rumah, karena tiket pulang sudah di tangan.

Saya sadar ternyata saya hanya punya sedikit foto bersama beliau, karena beliau jarang sekali mau difoto
*Nok – berasal dari kata Sinok, panggilan anak perempuan di Jawa selain Nduk (Genduk)


Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya bisa diakses di website http://nulisbarengibu.com

2 comments:

  1. Heuheh nangis bacanya zha..
    Alhamdulillah kerjaanku ngga se tight kamu schedulenya. Aku sering pulang. Nggak kayak temen2 lain yg travelling kemana-mana.
    Bedanya aku anak sulung..tapi ya tetep diharepin juga buat pulang.
    Selamat Pulang Zha....someday kita bisa selalu di samping mereka tiap hari. InsyaAllah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku nulisnya aja sengaja pas di booth sendirian biar ga keliatan kalo nangis mbak hehe
      Iya Alhamdulillah kalo bisa sering pulang, ya sebenernya sedih sih tapi ini risiko yang dari awal aku pilih dan aku ambil jadi mau ga mau ya harus terima.

      Iya makasih Mbak Nurul, Amin YRA :)

      Delete