Euforia Mudik dan Berebut Tiket

8:33 PM Nova Zakiya 0 Comments

Ramadan sudah tinggal menghitung hari. Tapi tahukah kalian kalau tiket mudik lebaran telah habis sejak bulan April lalu?

Mudik sudah menjadi tradisi di penghujung bulan Ramadan. Ribuan orang berbondong-bondong pulang ke kampung halaman, merayakan hari kemenangan bersama keluarga besar.

Selama kurang lebih 16 tahun saya tidak pernah merasakan euforia mudik karena kebetulan nenek tinggal bersama di rumah. Sedangkan nenek dari ayah rumahnya juga tak jauh, hanya 30 menit perjalanan ditempuh menggunakan sepeda motor dengan kecepatan 40 km/jam.

Begitu di tahun ke-17 hingga sekarang, saya merasakan bagaimana rasanya mudik. Waktu masih mahasiswa, saya lebih memilih mudik menggunakan bus dari Bogor menuju Pekalongan. Maklum sebagai mahasiswa harus melakukan pengiritan supaya tidak terlalu sering minta uang kiriman. Beruntung, IMAPEKA yang merupakan perkumpulan mahasiswa Pekalongan Batang selalu mengadakan mudik bareng. Lebih aman lah intinya sehingga 3 tahun berturut-turut saya ikut.

Tahun ke-4 masa perkuliahan, yang biasanya mudik H-7 harus merelakan pulang lebih dekat dengan hari raya demi meraih gelar sarjana. Tak berselang lama, kembali ke Bogor pun H+4 demi terbitnya SKL hahaha.

Mudik dengan jalur darat melewati jalur Pantura jangan ditanya bagaimana macetnya. Saya kurang paham kenapa di tiap tahun macetnya bukannya berkurang tetapi malah bertambah. Mungkin frekuensi kendaraan yang melintas tiap tahunnya semakin bertambah, sedangkan lebar jalan di beberapa ruas masih sama saja. Perkara jalan rusak pun selalu menjadi bumbu cerita mudik jalur darat.

Setelah saya bekerja, saya memilih untuk pulang menggunakan kereta api demi efisensi waktu. Ibarat kata sekarang merelakan sedikit uang demi lebih cepat sampai di rumah. Apalagi sekarang kondisi kereta lebih bagus, kereta bisa menjadi pilihan bagi yang tak mau berlama lama di jalan raya.

Mudik tahun pertama setelah bekerja cukup menguras pikiran dan emosi. Seperti yang pernah saya ulas, resiko kerja di dunia pertelevisian adalah semua tanggal berwarna hitam sekalipun itu hari raya. Di tahun 2014, saya merayakan hari raya di kantor, sholat ied bersama keluarga Diah, teman sekantor dan baru pulang sore harinya. Sebelumnya saya telah memesan tiket kereta H-2 sebelum lebaran, namun ternyata tidak mendapat izin oleh manajer sehingga harus dibatalkan. Beruntung setelah itu saya langsung mendapatkan tiket pengganti untuk pulang di hari pertama lebaran. Sedihnya luar biasa karena feel lebarannya sudah berkurang gara-gara sholat ied tidak bersama keluarga.

Nampaknya, orang-orang pun sekarang lebih memilih naik kereta dibandingkan bermacet-macet ria. Terbukti, tiket langsung ludes begitu dibuka pemesanannya. Bahkan beberapa kali server sempat down saking banyaknya yang mengakses mulai dari jam 00.00. Salut sekali mereka sangat gigih demi mendapatkan tiket kereta dan saya tidak ikut berjuang bersama mereka. Mengapa? Karena saya belum tau dibagi cuti kapan dan berapa hari. Saya baru dibagi jadwal cuti akhir bulan Mei lalu dan semua tiket sudah ludes tak bersisa.

Sedikit bercerita mengenai pencarian tiket, tiap hari tak henti saya berdoa dan rutin mengecek jadwal kereta yang aplikasinya sudah saya install di handphone saya. Saya hanya bisa bergantung pada orang yang membatalkan tiket, sama seperti lebaran tahun lalu. Gagal mendapatkan tiket balik di tanggal 25 Juli, ternyata ada 1 tiket di tanggal 24 Juli yang dibatalkan. Langsung gerak cepat saya booking, takut keduluan orang. Dan Alhamdulillah berhasil.

Tiket balik sudah berhasil dipesan, tinggal tiket mudik di tanggal 16 Juli yang belum dapat. Sempat pesimis karena berhari-hari tidak pernah ada yang membatalkan. Agak sedikit sulit pula karena saya menginginkan jadwal malam (siangnya saya harus bekerja dulu). Terpikir jika tidak berhasil, mau tidak mau naik pesawat untuk mengejar waktu. Namun sulitnya, masih harus ada usaha lagi setelah itu dari Semarang ke rumah.

Saya bertanya dengan teman saya yang bekerja di PT KAI tentang gerbong tambahan lebaran namun ia tidak bisa memastikan. Beruntung salah seorang teman sekantor, Michael, membantu memantau web KAI juga. Yup, like a team work, saya pantau begitu pun dia.

Di saat saya mulai benar benar pesimis, tiba-tiba ada email masuk tentang pesanan tiket di tanggal 16 Juli atas nama saya, Minggu sore. Kaget tidak tahu darimana datangnya, saya bertanya dan memang benar itu atas bantuan Michael. Can't say anything except Alhamdulillah.

Benar-benar perjuangan lah untuk mendapatkan selembar tiket sampai setiap jamnya harus mengecek jadwal. Semua dilakukan demi berkumpul dengan keluarga dan saya tidak mau kehilangan momen seperti tahun lalu. Semoga Allah melancarkan setiap jalan yang saya tempuh. Amin.

Jadi bagaimana? Apakah kalian sudah mendapatkan tiket untuk mudik lebaran? Jika sudah selamat berkumpul dengan keluarga besar di hari raya. Jika belum, jangan menyerah dan pantau selalu KAI. Tentu, jangan lupa berdoa ya! Happy hunting!


P.S.

Big thanks to Michael. Without your help, I'll confuse how to get my ticket as soon as possible. Semuanya beringas ludes dengan cepat haha. Semoga Allah SWT membalas kebaikan lo, Michael.


Tiket serendeng satu paket buat PP awal Ramadan, satu paket lagi untuk PP lebaran hehe

0 comments: