[BUKAN] WARTAWAN EMBEDDED

5:51 PM Nova Zakiya 3 Comments


Riuh Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta semakin terdengar, mengingat bulan Februari sudah di depan mata. Mungkin kita sudah gatal dengan berita-berita yang berseliweran di media sosial, yang membuat Pilkada Ibu Kota ini serasa pemilihan Presiden. Hoax dimana-mana. Saling serang dan menjatuhkan satu sama lain. Lebih sebal ketika sosok yang sebelumnya kita kagumi ikut berkomentar dengan kalimat-kalimat yang bisa ‘membakar’. But I won’t tell you about that. Nanti blog saya jadi ikutan panas. Hahaha.
Memang masih seputar Pilkada, tapi saya akan bercerita tentang pengalaman saya ikut kampanye paslon-paslon ini. Postingan ini tidak akan memihak siapapun karena isinya bukan kampanye mereka kok haha. Lha wong saya aja nggak akan ikutan milih di Pilkada entar :p

Pengalaman Pertama ‘Nyemplung’ di Pilkada
Masing-masing pasangan calon biasanya memiliki wartawan embedded yang diutus oleh kantor masing-masing untuk meliput si paslon, baik calon gubernurnya ataupun wakilnya. Yup, setiap harinya kita akan bertemu dengan wajah-wajah yang sama hahaha. Wartawan embedded sendiri berarti wartawan yang menempel, dalam artian, kemana pun si orang itu pergi untuk berkegiatan, kita yang ikut dan meliput.
Pertama kali saya ikut ‘nyemplung’ waktu masih tandem dan main ke Rumah Lembang, poskonya pasangan calon nomor dua, Ahok Djarot. Rame banget. Gerah haha. Disana Ahok menerima keluhan warga. Beberapa artis juga datang untuk mendukung. Pas saya kesana ada Memes, Ari dan Ira Wibowo. Terakhir, kita para wartawan diberi waktu untuk doorstop Ahok.

Baca Juga : [Journolife] : Di Balik Doorstop Interview

Jalan-Jalan keliling Jakarta
Selang beberapa waktu kemudian, saya sudah tidak di-tandem-kan lagi daaaaan harus menyambut cawagub nomor 3, Sandiaga Uno pas media visit ke kantor. Harusnya sih masih tandem, tapi karena ada satu lain hal, tandeman saya digeser. Without any preparations, saya juga nggak tau agendanya ngapain, saya mau nanya apa, it was blank! Hahaha.

Bersyukur Sandi is a good people and so humble (and handsome like people said haha). Nggak jadi grogi karena beliau enak diajak ngobrol juga, bahkan saat wawancara terasa seperti ngobrol hehe.
Lalu keesokan harinya, suruh ikutin agenda Anies-Sandi. Karena kemarin sudah dapet soundbite dari Sandi, maka hari itu saya putuskan untuk ikut agenda Anies. Lucky me, saya bertemu teman lama yang sudah berganti seragam, Kibow, yang bikin suasana jadi nggak canggung.
Kenapa canggung? Karena kebanyakan dari mereka adalah wartawan embedded yang selalu ngikutin bapak kemanapun kapanpun sampe jam berapapun *halah*. Apalagi saya baru dan wajah-wajah mereka tentu saya belum pernah bertemu haha.

Sudah kenalan, sudah beberapa kali ikut, selanjutnya saya dipindah untuk ikutin paslon nomor satu, AHY-Sylvi, padahal sudah nyaman sama teman-teman di sebelah *eeeaaa*. Pengalaman saya pertama banget ikutin pasangan ini adalah bertemu sama Mpok Sylvi, wanita tangguh yang mau berpolitik. Terlepas dari kegiatan berpolitiknya, saya suka dengan senyumannya yang selalu riang dan suka menggoda balik para wartawan alias suka bercanda.
Di beberapa hari berikutnya, saya ikut kegiatannya AHY. Dia lebih senang menyapa warga dengan istilahnya ‘gerilya lapangan’. Siap siap jalan kesana kemari (kadang) sambil bawa tripod.
Oh ya kalo blusukan begini, jangan lupa pakai sunblock dan topi guys biar ga hitam hahaha kepikiran amat 😁
Yah di saat sudah kembali nyaman ngobrol sama teman-teman embedded paslon nomor satu, saya kembali digeser ke paslon nomor 3. Dan begitu seterusnya haha. Saya sendiri jarang dibagi ke paslon nomor 2 karena sudah ada pembagiannya masing-masing dari koordinator liputan alias korlip saya.

Baca Juga : Stop Being 'One Click Killer'

Tapi dengan ikut mereka berempat, saya jadi keliling Jakarta sampe ke gang-gang kecil. Jalan kaki bisa dari ujung gang mana keluar di ujung jalan mana. Bahkan pagi di Jakarta Selatan, siang di Jakarta Timur, sore bisa jadi di Jakarta Utara. Iya saya pernah haha pas ngejar Anies Baswedan. Karena belum dapat SOT-nya dan atas pertimbangan korlip akhirnya saya ikut agendanya dari pagi sampe sore (dan itu hari Sabtu haha).

Suka Duka [Bukan] Wartawan Embedded
Nggak jadi wartawan embedded sebenarnya menguntungkan, karena kita bisa nambah teman sekaligus di satu momen. Bukan hanya teman sesama jurnalis, tapi juga timsesnya. Sementara nggak enaknya, kita akan ketinggalan momen masing-masing paslon yang bisa jadi bahan topik pembicaraan di pertemuan selanjutnya. Jadi suka nggak nyambung kan.
Misalnya, kemarin si A kemarin blusukan di Tanah Abang dan ada cerita lucu. Tapi kita nggak ada di momen itu karena ikut agendanya si B. Jadi pas ikut A lagi, mereka masih membahas kelucuan itu daaaan kita nggak nyambung.
Tapi itu nggak berlangsung lama sejauh kita bisa membaur dengan mereka. Bahkan kita juga suka berkoordinasi ‘mau tanya apa hari ini?’ atau ‘ada titipan pertanyaan dari kantor nggak?’. Jadi nanti dibagi, yang nanya topik A misal saya, lalu topik B wartawan tv sebelah, dan begitulah sampe semua pertanyaan terjawab. Intinya kalau kata teman saya, Kibow, “semakin lo sotoy (tentang agenda, dsb), semakin lo dikenal” hahaha.

Tips Jadi [bukan] Wartawan Embedded
1. Buang jauh rasa malu
Tips pertama dari saya jika kalian mengalami hal ini adalah jangan malu dan pasang muka tembok! Ini penting dalam artian, jangan malu untuk menyapa, bertanya, kenalan sama wartawan lainnya. Ngobrol apa aja, misal isu yang lagi panas saat ini yang lagi heboh diperbincangkan di media sosial. Bahkan kalian bisa ngobrol tentang apa sih pertanyaan yang mau kamu tanyakan ke paslon hari ini. Nggak apa-apa share aja. Nanti biasanya wartawan lain akan berbagi pengalamannya bertanya dengan paslon ini dan kasih tips bagaimana menyikapinya jika ditolak. Udah sok kenal aja pokoknya hehe.

2. Main HP boleh, asal jangan nunduk melulu
Yah, kadang pepatah yang bilang kalau 'HP itu mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat' itu ada benarnya juga. Saya nggak melarang kalian main HP saat liputan begini, hanya saja coba sedikit dikurangi biar nggak asyik sendiri dan nggak tau lingkungan. Better waktunya dipake untuk ngobrol sama wartawan lain. Karena salah-salah kalo kita asyik sama HP, kita ketinggalan koordinasi untuk doorstop. Kan sedih :(

3. Sotoy aja :3
Kalau ini yang tadi saya bilang, saya dapat tips ini dari Kibow. Semakin lo sotoy, semakin lo dikenal. Tentunya sotoy yang nggak gengges ya. Kaya misal kita membuka percakapan dengan info A1 yang masih belum pada tahu, seperti hari ini ternyata si A mau kampanye ajak ibunya. Itu bisa menjadi pancingan untuk ngobrol sama wartawan lain. Tentunya data harus valid ya. Jangan sampe kita ngarang cuma biar dapet perhatian dari yang lain.

4. Tukeran Nomor HP
Nah, ini penting banget! Kita sebisa mungkin minta nomor hp wartawan embedded atau timsesnya. Even kita juga dapat agenda paslon dari temen kita (yang sekantor), tapi nggak ada salahnya kan punya nomor hp temen selapangan. Karena dari dia, kita bisa dapet lokasi pastinya yang dia share via maps, dapet agenda kalau temen kita nggak balas whatsapp kita, dan dapet info lain-lainnya juga. Bahkan kita malah bisa diajak main sama mereka juga kan lumayan nambah temen kaya yang tadi saya bilang.
Intinya, mau ikut siapapun seru kok, tergantung kita gimana bisa membaur sama timses dan rekan-rekan embedded-nya. Terlepas kegiatan berpolitiknya, saya yakin ketiganya pasti memiliki visi misi yang mulia untuk memajukan Jakarta. Cieeee. 
Asal jangan ikut-ikutan war di media sosial seperti orang kebanyakan ya, yang gampang klik share berita tanpa divalidasi dulu. Rajin-rajinlah membaca dari sumber yang kredibel. Oke!

Salam damai.

XOXO!
Za

PS.
Selain pake kamera hape sendiri, foto juga didapat dari teman selapangan yang jarang bertemu di lapangan *halah* // Juga memakai properti Darth Vader dan Stormtrooper milik Ias agar kita tidak masuk ke dark side meski iming-imingnya menggiurkan. May the force be with you :3

3 comments:

  1. Replies
    1. istilah lainnya, wartawan menempel (padahal sama aja haha)

      Delete
  2. Wahhh seru bangettttt

    www.extraodiary.com

    ReplyDelete