Belajar di Museum Batik Pekalongan

10:46 PM Nova Zakiya 2 Comments

Pekalongan terkenal sebagai kota batik. Bagi masyarakat Pekalongan sendiri, batik memiliki dua jendela, yakni dari sisi ekonomi dan juga budaya. Oleh karenanya, pada Desember 2014, Pekalongan dinobatkan sebagai Kota Kreatif Dunia untuk kategori Kerajinan dan Kesenian Rakyat oleh UNESCO.

Nah hari ini, saya mengunjungi Museum Batik Pekalongan yang terletak di Jalan Jatayu No 1 Pekalongan. Museum ini buka dari jam 8 pagi hingga 3 sore. Tiket masuknya murah, untuk orang dewasa cukup membayar Rp 5 ribu dan seribu rupiah bagi anak-anak/pelajar.

Dipandu oleh Mas Fajar, saya dan beberapa pengunjung yang datang, kira-kira berjumlah 7 orang, memasuki satu per satu ruangan yang ada di museum ini. Sebelumnya ia bercerita bahwa bangunan ini dulunya Balai Kota Pekalongan, yang kemudian diresmikan sebagai Museum Batik oleh Presiden (saat itu) Susilo Bambang Yudhoyono pada 12 Juli 2006. Museum batik ini dijadikan pusat data dan informasi mengenai batik, litbang ilmu desain batik, perpustakaan dan acuan dalam hal perbatikan, serta koleksi batik klasik, batik lawasan dan batik kontemporer.  Kurang lebih ada sekitar 1149 koleksi batik tersimpan di tempat ini.

Museum trip kali ini diawali dengan menjelajahi Ruang Pamer I. Di ruang ini terdapat koleksi batik dari beberapa daerah, seperti Pekalongan, Riau, Lasem, Bengkulu, Cirebon dan beberapa daerah lainnya. Di dekat pintu masuk juga terdapat peralatan membatik seperti koleksi canting (sesuai ukurannya), cap, malam juga pewarna. Mas Fajar juga menjelaskan dan memberi contoh bahwa ada 3 jenis batik berdasarkan cara membuatnya, yakni batik tulis, batik cap, dan batik printing. FYI, batik tulis/cap itu akan ada di 2 sisi alias malamnya nembus di sisi belakang. Inilah yang membedakannya dengan batik printing.

Beranjak ke Ruang Pamer II, disini koleksi batik lebih banyak lagi dari berbagai daerah di Indonesia. Koleksi batik Pekalongan lebih banyak disini, pun dengan batik Solo dan Yogyakarta. Dua daerah tersebut seperti yang kita tahu memiliki motif yang ajeg alias pasti. Ya, batik ini merupakan batik pedalaman, dengan warna gelap dan motif yang sudah ada. Berbeda dengan batik pesisir seperti Pekalongan, Cirebon, dan Lasem yang lebih berani bermain warna dengan motif bebas.

Lalu kami masuk ke Ruang Pamer III, yang tetap didominasi oleh koleksi batik Pekalongan, Yogyakarta dan Solo. Ada 2 motif batik Pekalongan yang terkenal, yakni batik Jlamprang dan batik Buketan.

Batik Jlamprang dengan motif yang lebih terstruktur ini mendapat pengaruh dari India. Sejak dulu, batik ini kerap dijadikan sebagai benda sakral penghubung dengan dunia atas (dewa/dewi kahyangan). Seperti misalnya batik ini digunakan dalam upacara nyadran/larungan sebagai salah satu persembahan bagi penjaga laut utara, Den Ayu Lanjar (konon katanya Den Ayu Lanjar gemar dengan batik ini). Mitosnya lagi menurut Mas Fajar, di bawah laut ada pembatikan pula.

Motif batik satunya yakni batik Buketan. Berasal dari bahasa Perancis, bouquet, yang berarti rangkaian bunga. Ya, rangkaian bunga di dalam batik merupakan motif dari batik Buketan. Batik ini mendapat pengaruh dari Belanda. Adalah Eliza, wanita Indo-Eropa yang membuat batik ini sejak tahun 1888 mulai menetap di Pekalongan hingga meninggal.

Selain itu, batik buketan juga mendapat pengaruh dari warga keturunan Tionghoa. Batik yang dibuat oleh etnis Tionghoa ini merupakan tiruan dari batik yang dibuat Indo-Eropa. Bedanya, batik buketan yang dibuat oleh etnis Tionghoa lebih berani menggunakan warna yang mencolok, sedangkan wanita Indo-Eropa lebih memilih warna lembut seperti pastel. Bagi warga Tionghoa, yang memakai batik buketan adalah wanita yang sudah menikah alias encim, sehingga munculah istilah batik encim. Motif batik ini juga ada yang dibuat batik pagi sore, yakni batik yang memiliki 2 motif untuk pagi (warna terang) dan malam hari (warna gelap).

Museum trip ditutup dengan praktek membatik di Ruang Workshop. Disini disediakan peralatan membatik seperti berbagai jenis canting, kain mori, dan tentunya malam yang dipanaskan, bagi pengunjung.

Menyenangkan bukan berkunjung ke Museum Batik? Karena tidak hanya teori saja yang kalian dapat, melainkan juga prakteknya. Bahkan disini juga dibuka kelas membatik lho. Tertarik untuk belajar atau sekedar mencoba membuat batik? Mampirlah ke Museum Batik jika kalian sedang berada di Pekalongan.

2 comments:

  1. Hahaha karena sesungguhnya aku ga punya ide gambar apapun pas disuruh cobain ngebatik hahaha

    ReplyDelete