Fight The New Drugs : Bahaya Pornografi

9:39 PM Nova Zakiya 2 Comments

Siang tadi, saya menemukan sebuah foto yang di-post akun twitter Mba Tia Setiawati. Dengan tagar #FightTheNewDrugs, dia mengunggah capture dari Yana Febrina.

The new drugs yang dimaksud adalah pornografi. Banyak kita lihat, baik media elektronik maupun cetak, berita tentang pencabulan, pemerkosaan, pelecehan dan berbagai jenis kekerasan seksual, diberitakan tanpa ada habisnya. Layaknya gunung es, yang dulunya korban, kini menjadi pelaku. Lebih menyedihkan, hal ini bahkan dilakukan oleh anak di bawah umur atau bahkan anggota keluarganya sendiri.

Menurut Bu Elly Risman yang menjadi pembicara sebuah seminar parenting yang ditulis oleh Yana, semua berawal dari pola asuh orang tua. Komunikasi yang terlalu cepat, bohong, menggurui atau bahkan tidak memberikan kesempatan bagi anak berbicara, hanya menjadikan anak BLAST (jiwa kosong, tidak percaya diri, pemarah, dendam dengan orang tua sendiri). Sudah barang tentu, anak-anak seperti ini tidak memiliki ikatan atau bonding yang kuat dengan orang tuanya. Dan anak seperti inilah yang menjadi sasaran para pengusaha pornografi. Mengenai cara kerjanya, mungkin kalian bisa baca di foto yang saya lampirkan di bawah.

Pornografi layaknya candu dan paling sulit diobati, karena merusak kehidupan sosial, dampak pada tubuh baik fisik maupun psikis. Kecanduan pornografi adalah perilaku berulang untuk melihat hal-hal yang merangsang nafsu seksual, dapat merusak kesehatan otak dan sulit untuk dihentikan.

Candu pornografi ini bertingkat. Selalu ada rasa tak puas di dalamnya dan ini yang membahayakan. Ambilah sebuah contoh, jika yang awalnya orang gemar melihat gambar wanita berbikini, lama kelamaan ia akan bosan dan tidak puas hanya melihat itu saja. Meningkat, ia kemudian akan mencari gambar wanita telanjang, lalu meningkat menonton video porno, dan parahnya mungkin menjadi pelaku. Selain itu, gambar atau video porno tersebut akan melekat dan sulit untuk dihilangkan dalam jangka waktu lama.

Banyak orang mengabaikan dampak pornografi. Selain sulit dideteksi, efek negatif pornografi lebih merusak otak ketimbang narkoba. Jika narkoba merusak 3 bagian otak, pornografi dapat merusak 5 bagian otak, terutama Pre Frontal Corteks (bagian otak yang tepat berada di belakang dahi). Seorang anak yang sudah kecanduan akan sulit menghentikan kebiasaannya. Anak dapat merasa bersalah tapi tidak berani mengungkapkannya kepada orang tua. Dalam keadaan cemas, otak berputar 2,5 kali lebih cepat daripada saat keadaan normal. Akibatnya, secara fisik otak dapat menciut dan tidak berkembang dengan baik.

Hal-hal tersebut kemudian ditambah dengan perkembangan media massa yang jauh dari kata layak bagi anak-anak. Adegan pacaran dan bullying nampaknya terus-terusan disuguhkan guna mendulang keuntungan dari tingginya rating. Peran orang tua sebagai pengawas sangat dibutuhkan dalam hal ini.
Semakin majunya teknologi saat ini, hampir tidak ada satupun kekuatan yang mampu mengendalikan berita atau hiburan dengan konten pornografi. Ya, yang mampu mengendalikannya hanyalah diri sendiri. Butuh tekad yang kuat untuk menghentikan candu yang melebihi candu narkoba ini. Orang tua memegang peran yang penting dalam hal ini. Pengawasan dengan komunikasi yang teratur dan hangat membuat anak merasa diterima sehingga ia akan menjadi lebih terbuka.

Sedikit uneg-uneg dari saya, mungkin akan dibahas secara lebih mendalam di lain waktu.
Mari selamatkan generasi muda dari bahaya pornografi ini!

2 comments:

  1. Selalu geregetaaaan kalau baa kayak gini. LGBT malah jadi guyonan seringnya

    ReplyDelete
  2. Side-effects of the drug and drug interactions should be avoided or minimized by the use of suitable drug delivery systems. nzt48

    ReplyDelete