Taati Aturan dari Hal Kecil

11:07 PM Nova Zakiya 2 Comments

Entah darimana awalnya ada istilah "peraturan ada untuk dilanggar". Jujur saja saya tidak begitu setuju dengan adanya pernyataan tersebut. Karena ketika kita berada di posisi si pembuat aturan, akan merasa kesal kalau peraturan yang kita buat tidak dipatuhi.

Awalnya, kadang saya memang suka berontak. Namun setelah saya tahu bagaimana rasanya membuat peraturan, saya berusaha untuk lebih taat terhadap aturan yang berlaku, selama itu baik untuk semua pihak alias bukan cuma menguntungkan satu pihak saja.

Hal yang sering dimaklumi oleh banyak orang adalah masalah mengantre dan tempat duduk kereta. Atas dasar pertemanan, terkadang kasir atau siapapun yang berada di balik mesin uang itu, selalu mendahulukan temannya tanpa mempedulikan orang-orang yang sudah berbaris menunggu giliran. Ataupun kasus lain, yakni mengantre di halte TransJakarta. Beberapa orang yang suka nyelip dan malah marah kalau ditegur. Padahal antrian mengular panjang. Kalau sudah begini, kadang petugas pun tak bisa berbuat banyak.

Masalah tempat duduk kereta pun sama. Padahal kita membeli tiket pun bisa langsung memilih tempat duduk, mau yang di dekat jendela kah atau nomer tengah kah, dan lain sebagainya. Saya suka heran dengan orang yang kekeuh menduduki kursi yang bukan miliknya dan bahkan menyuruh orang yang seharusnya duduk disitu untuk mencari kursi yang lain.

Sewaktu saya pulang dari Semarang menuju Jakarta bulan April lalu, saya menemui kasus demikian. Seorang bapak dengan nyeleneh mempersilahkan sekeluarga (4 orang; sepasang suami istri dan 2 orang anak; 1 anak masih bayi) untuk mencari kursi kosong yang lain. Kesal, sang istri sudah banyak menyindir pun tetap tak dihiraukan oleh bapak itu, sedangkan suaminya berusaha meredam emosi baik dirinya maupun istrinya. Yang jelas mereka masih berdiri. Si bapak itu tetap saja kekeuh menyuruh keluarga itu mencari kursi lain, bahkan di gerbong lain. Hingga akhirnya petugas KAI lewat dan si istri mengadukan permasalahan yang dialaminya. Akhirnya jalan yang diambil adalah mengecek tiket mereka masing-masing dan mau tidak mau si bapak harus beranjak pergi karena kursi tersebut atas nama si keluarga. Dan yang saya tidak habis pikir, ternyata gerbong bapak itu bukan di gerbong ini, melainkan masih di gerbong belakangnya. Heran -,-

Saya sendiri juga sempat mengalaminya. Saat naik kereta, saya memang lebih suka berada di pinggir jendela. Nah, berhubung kereta dari Pekalongan itu sudah mengangkut penumpang dari Semarang, otomatis beberapa kursi telah terisi. Dan ketika naik, ada ibu yang sedang tiduran di kursi saya. Dengan sopan, saya minta izin untuk duduk di kursi saya, namun dia kekeuh maunya duduk di pojok alias pinggir jendela. Akhirnya saya cuma bilang, "ya udah bu kita sesuai yang tertulis di tiket saja ya". Dengan muka jutek, ibu itu beranjak dari kursi saya.

PT KAI telah memberikan kemudahan dengan membebaskan kita dalam memilih kursi dan gerbong, lantas mengapa masih saja ada orang yang tidak mau taat aturan seperti ini? Alangkah baiknya kita menaati aturan dari hal-hal kecil, agar apa? Agar hidup kita teratur dan meminimalisir timbulnya masalah. Prinsip saya, saya tidak mau mengalah kepada orang yang jelas-jelas tidak menaati aturan. Resikonya memang tidak selalu ada, tapi alangkah baik bila bisa dicegah bukan?

2 comments:

  1. Seringgg banget kayak gitu za, dan seringnya ibu2 hahahah yang masih muda. Kalau nenek2 sepuh sih gapapa,,tak maklumi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha kemarin ibu-ibu masih muda yang begitu di kursi aku. Sampai turun di Senen tuh ibu masih aja senewen gara-gara aku minta kursi aku hahaha

      Delete