[JOURNOLIFE] : FELLOWSHIP JURNALIS MRT JAKARTA 2017

7:11 PM Nova Zakiya 2 Comments

Hello guys! I’m back! *bersihin sarang labalaba*
Dengan segala kesibukan yang terjadi dalam 2 bulan terakhir, akhirnya saya bisa menyentuh blog lagi *haru*. Emang ngapain aja sih sampe absen 2 bulan begini? Nah ini yang mau saya ceritakan pengalaman baru saya satu per satu di blog hehe.
Bulan Oktober lalu, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti Fellowship Jurnalis MRT Jakarta 2017, program tahunan yang diadakan oleh PT MRT Jakarta terkait peliputan isu transportasi publik terintegrasi, khususnya untuk menyambut MRT yang targetnya 2019 sudah bisa kita gunakan. Ada 20 jurnalis yang berhasil lolos dari sekitar 66 jurnalis yang mendaftar pada Agustus 2017. Dan yang lebih bikin excited dan semangat untuk ikut adalah 3 dari 20 jurnalis ini akan dikirim ke Jepang untuk studi banding. Siapa yang nggak mau coba ya :"
Total ada 5 kelas dan 1 kunjungan proyek yang harus kami ikuti dalam program Fellowship ini. Dan tentu saja ke Jepangnya harus pake effort dong. Untuk TV seperti saya dan beberapa teman lain, kita diharuskan membuat liputan terkait MRT ini, sementara untuk media online, cetak maupun radio, setelah kelas diharuskan membuat berita terkait topik di kelas tersebut. Terus di kelasnya ngapain aja sih?

Kelas Pertama
4 Oktober 2017 menjadi kelas pertama bagi kami yang tentu saja diawali dengan perkenalan dan penjelasan program oleh Corporate Secretary PT MRT Jakarta (kebetulan Pak William berhalangan hadir huff). Selanjutnya kelas diisi oleh pakar transportasi, Profesor Danang Parikesit yang membahas tentang “MRT dalam Perspektif Pembangunan Daerah”.
Di kelas ini, mulai dibukakan transportasi publik ideal di luar negeri seperti Hong Kong, Jepang, Singapura, dan beberapa negara lain yang bisa menjadi contoh untuk diterapkan di Indonesia. Prof. Danang berpendapat bahwa membangun MRT tak hanya membangun moda transportasi saja, tetapi memperbaiki struktur kota, sehingga kotanya lebih tertata ruang terbuka hijaunya dan kawasan sosial ekonomi bisa terpusat di stasiun. Inilah yang kemudian bisa kita sebut dengan kawasan transit terpadu alias Transit Oriented Development (TOD).

Kelas Kedua
Kelas selalu diadakan di hari Rabu. Kelas kedua (11/10) diisi oleh Direktur Konstruksi MRT Jakarta, Silvia Halim. Tentu saja dong pembahasan kita kali ini tentang konstruksi MRT yang meliputi bagaimana progress pembangunannya saat ini, siapa saja yang terlibat di Fase 1, teknologi apa yang digunakan dalam MRT Fase 1 yang menghubungkan Lebak Bulus – Bundaran HI ini, dan masih banyak lagi (info lengkap bisa kalian akses di website resmi PT MRT Jakarta ya, lengkap!).
Aduh saya kagum banget deh sama sosok Ibu Silvia Halim ini. Dia berhasil membuktikan bahwa dirinya juga bisa berada di lingkungan kerja yang mayoritas laki-laki, terlebih jadi direktur konstruksi lagi (FYI, beliau merupakan satu-satunya perempuan yang berada di jajaran direksi lho!). Udah gitu, ngobrol sama beliau enak banget karena selain humble, dia sama sekali nggak pelit ilmu. Mengutip kalimat beliau, “I don’t think you should do things differently because you’re a woman, you should just do things because that’s the way it should be done". FIX, saya ngefans!

Kelas Ketiga
Nah kelas ketiga ini entah kenapa berasa banget lagi kuliahnya. Membahas soal operasional MRT dan bisnis non-kereta, kelas ini diisi oleh Direktur Operasi dan Pemeliharaan MRT Jakarta, Agung Wicaksono. Kita membahas soal perbandingan MRT Jakarta dengan transportasi berbasis kereta lain (seperti Commuter Line Jakarta), mulai dari system persinyalan, operasional, pendeteksi lokasi, operasional pintu kereta, dan masih banyak lagi.
MRT Jakarta ini juga standarnya internasional lho karena selama proses pengerjaan ini, mereka benchmark-nya ke operator internasional seperti JR East dan Tokyo Metro (Jepang), MTR (Hong Kong), Land Transport Authority (Singapura), dll. Asa makin nggak sabar ya buat cobain MRT di Jakarta, Maret 2019 mendatang!

Kelas Keempat
Jika dua kelas sebelumnya diisi oleh jajaran direksi MRT Jakarta, kali ini kelas diisi oleh Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi, Lingkungan dan Energi Perhubungan, Prasetyo Boeditjahjono. Kelasnya lebih membahas soal regulasi perkeretaapian Indonesia. Sepanjang kelas bapaknya ngelawak mulu, jadi imbang deh antara belajar sama bercanda.
Sesekali bapaknya mengeluarkan celotehan yang ‘off the record’ terus ujungnya beliau bilang, “pokoknya nih kalau sampe ada apa apa atau saya dipanggil Pak Menteri, pasti salah satu dari kalian nih yang bocorin. Hahaha,” yang terus disambut tawa lepas dari kita. Hahaha.

Kelas Kelima
Ndak nyangka lho, tau tau udah kelas terakhir yaitu di tanggal 27 Oktober 2017. Mentornya merupakan wartawan senior Kompas, Banu Astono. Pembahasannya lebih kepada gimana sih sebaiknya media dalam peliputan dan pengemasan isu transportasi itu? Disitu kita diajarkan untuk kritis menanggapi sebuah tema (tapi tugas saya sudah di-submit haha). 
Yang lebih menyenangkannya lagi adalah Pak Banu ini ‘ngomporin’ Dirut MRT Jakarta, Pak William Sabandar, supaya kita semua diberangkatin ke Jepang supaya ilmunya lebih dapet. Karena katanya percuma kalau yang diambil hanya 3 gitu. Saya sih setuju (dan lainnya pun sama). Sayangnya katanya anggarannya udah diketuk sih. Huff.

Proses Membuat Tugas
Begitu tau kalau kelas ini ada tugasnya, pertama saya langsung menghubungi Ezra, produser saya. Nggak perlu dijelaskan lebih rinci kenapa saya memilih Ezra sebagai mentor saya, intinya saya lebih percaya sama dia dibandingkan dengan yang lain. Di awal, Ezra menyuruh saya untuk mengelompokkan apa yang pasti saya dapat, apa yang bisa saya dapat, dan apa yang belum. Terus juga saya diberikan contoh untuk membuat TOR yang baik. Mulailah dari situ saya stress karena belum menemukan ide mau bikin apa. Kafe demi kafe saya tongkrongi supaya bisa jadi sebuah TOR yang baik dengan materi yang based on research, bukan karangan belaka.
Yang lain dimodalin dibawain kamera liputan, saya cuma pake mirrorless yang saya punya. mengandalkan suara atmo. ya buat jaga jaga sih hehe
Setelah jadi (dengan masukan dari Ezra, Ias dan Yana hehe), akhirnya TOR saya submit ke Corsec MRT Jakarta dan minta tim liputan ke Korlip. Dan saya pilih cameramen saya si A’ Iki yang memang sudah saya percaya hasil kerjanya. TOR sudah saya share ke A’ Iki dan sudah pula saya ceritakan saya pengennya bikin yang ‘begini’, akhirnya kita mulai liputan saat kunjungan proyek di tanggal 19 Oktober 2017.
Kejar-kejaran dengan waktu yang ternyata hanya dikasih sekitar 45 menit (waktu maksimal kunjungan katanya sih segitu), dengan banyak jurnalis (yang masing-masing juga bawa partner), berbagi tempat untuk oncam buat yang sesama TV dan saya banyak take karena grogi tapi maunya perfect. Hahaha. Percaya lah, saya masih remah remah. Huff.
Step 1 - menghapal contekan!
Step 2 - Praktekin pake gerakan!
Step 3 - Jangan kelamaan kasian yang lain!
Begitu selesai kunjungan lapang yang nggak jadi didampingi oleh direksi MRT Jakarta karena mereka sedang bertemu Pemprov DKI (yang kata Mas Tomo juga mendadak huh), akhirnya saya dan A’ Iki langsung ngejar ke Balai Kota. Kebetulan saya butuh soundbite dari Anies atau Sandi juga sih. Dan pas sampai sana Alhamdulillah belum doorstop.
Ketika wawancara dengan Dirut MRT Jakarta, William Sabandar. Seru dan dapat ilmu baru 
Yang menyenangkan di liputan ini adalah selain saya belajar mengonsepkan semuanya sendiri (Ezra bagian koreksi dan kasih masukan kalau saya mulai melenceng), saya banyak bertemu dengan narasumber-narasumber yang cerdas dan Alhamdulillah lagi mudah banget diajak janjian. Seperti janjian sama Pak William Dirut MRT yang pas WhatsApp langsung direspon dan dikasih waktu wawancara, pun dengan Prof. Danang Parikesit yang mau meluangkan 10 menitnya di tengah acaranya untuk wawancara.
Ada drama saat wawancara ini karena... saya... kurang tinggi :(
Total dengan segala oncam, ambil stockshot dan wawancara narasumber, liputan saya selesai dalam waktu 4 hari. Ya agak lama sih memang. Tinggal editing dan nyari slot tayang karena tugas ini harus tayang di TV. Dengan sedikit drama karena saya nggak rela liputan saya dipegang oleh produser lain (pengalaman yang udah udah seringnya kecewa sih), akhirnya liputan saya tayang di program Lensa Indonesia Sore dengan durasi 6 menit (pasnya si Lensor lagi kurang materi). HAHAHA.
Ya meski agak kurang puas dengan hasilnya karena saya merasa ada yang kurang (iya saya agak perfeksionis huff), Ezra bilang saya harus berbangga dengan diri sendiri. Karena saya berani membuat konsep atau treatment liputan yang memang jarang dilakukan disini. Singkatnya kata Ezra, saya sudah membuktikan ke diri sendiri bahwa saya sudah berkembang dengan kerja keras saya sendiri.

And the Winners are...
Namanya kompetisi pasti ada menang ada kalah ya. Pengumuman itu saya dapat waktu saya sedang liputan di Solo. Belum berkesempatan untuk ikut studi banding ke Jepang. Sedih sih. Saya pengen banget ke Jepang. Tapi kata Ezra, kalau baru pertama ikut beginian langsung menang, saya nggak akan belajar dan menjadi tangguh.
Setidaknya, hampir 4 tahun saya di RTV, saya mulai berani untuk keluar ‘cangkang’ yang sebelumnya nggak pernah terpikir sama saya. Alhamdulillah nya saya jadi banyak belajar. Insya Allah bermanfaat ya. Kali rejeki saya ke Jepang nya justru dengan kuliah S2 ya. Amin hehe.
Saya kasih sedikit bonus ya. Hihi~
Well, terima kasih kepada PT MRT Jakarta yang memberi saya kesempatan untuk join di program Fellowship ini. Relasi baru, teman-teman baru yang semuanya ramah dan mau berbagi ilmu hihi. Tak lupa, selamat bagi 5 jurnalis (kuotanya bertambah yeeyyy!) yang berhasil lolos studi banding ke Jepang. Semoga saya bisa segera menyusul kesana ya. Hihi.

XOXO!

Za

2 comments:

  1. wah asyik sekali ya bisa ikutan ini, nambah wawasan

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Alhamdulillah beneran nambah wawasan sih hihi

      Delete