BELITUNG DAY #3 - HARI TERAKHIR DI BELITUNG

5:40 PM Nova Zakiya 1 Comments


Kata orang kebanyakan, kalau kita menikmati setiap momen yang terjadi, biasanya hari itu akan berasa cepet banget. Dan iya dong. Tiga hari liburan di Belitung berasa cepet aja, tau tau udah hari terakhir. Dan sorenya harus udah terbang ke Jakarta lagi aja dong. Liburanku berakhir sudah.
Sebenarnya di hari ketiga ini, acaranya udah ‘remeh temeh’ alias mengunjungi yang belum terkunjungi di hari-hari sebelumnya. Destinasinya pun terbilang udah sedikit, jadi bisa lumayan lama sih di masing-masing tempat. Yang penting. Kita bisa berangkat agak siangan. Hahaha.
Di akhir hari kedua karena kita nongkrong sampai malem kan di kafe pinggir pantai Tanjung Pendam, jadi di hari terakhir ini kita dijemput tim @bmctourbelitung sekitar pukul 10 pagi. Itu juga jam 10 nggak langsung jalan sih karena ada beberapa yang belum beres dan buat kenang-kenangan juga, kita foto. Depan bis. Di parkiran hotel.

(Ceritanya) Syuting di Pantai Tanjung Tinggi
Siapa yang nggak kenal Pantai Tanjung Tinggi? Kayaknya hampir semua orang yang ke Belitung pasti menjadikan pantai ini salah satu destinasi liburannya. Apalagi pantai ini menjadi salah satu lokasi syuting film Laskar Pelangi. Tapi terlepas jadi atau tidaknya pantai ini sebagai lokasi syuting film, si Pantai Tanjung Tinggi ini emang pantas jadi destinasi wisata favorit di Belitung.
Pertama, perpaduan pasirnya yang putih dan lautnya yang biru itu seger banget dilihatnya, apalagi air lautnya bening. Kedua, terdapat ratusan batu granit berukuran besar yang tersebar di area pantai tersebut, yang semakin menambah keindahan si pantai itu sendiri. 
Bebatuan ini berasal dari pembekuan magma di bawah permukaan bumi di kedalaman puluhan kilometer. Terus gimana bisa muncul ke permukaan? Itu karena bebatuan ini mengalami proses tektonik berupa pengangkatan, terus beberapa mengalami pematahan dan peretakan. Nah ketika si batu batu ini muncul di permukaan, mereka disambut pelapukan, erosi maupun abrasi selama ribuan tahun sehingga terjadilah sekarang si bebatuan granit ini muncul seolah-olah sebagai bongkahan batu yang terpisah-pisah. Coba perhatiin deh, pantai-pantai di Belitung ini hampir sebagian besar memiliki bongkahan batu granit ini. Oh ya, info ini awalnya saya dapet cerita Mba Desi, guide tour kita, terus pas bikin tulisan ini riset lebih dalem ketemulah ulasan dari ahli Geologi ITB, Budi Brahmantyo. Hehehe.
Mba Ajeng dan Retna nih kalau yang mau kenal haha
Tapi kita nggak basah-basahan disini, mengingat nanti sore kita sudah pulang ke Jakarta. Nggak ada waktu untuk bilas segala macem. Lebih tepatnya. Takut keburu-buru. Jadi kita puaskan foto foto aja deh ya. Hihi.

Namanya tempat wisata, sudah pasti ada yang jual buah tangan kan. Nah selain oleh oleh berupa makanan, ada oleh oleh khas lain dari Belitung yaitu Batu Satam. Batu ini terbentuk dari hasil proses alam atas reaksi tabrakan meteor dengan lapisan bumi yang mengandung timah tinggi jutaan tahun lalu di tanah pulau Belitung. Istimewanya, batu ini hanya ada di Indonesia lho dan jadi bebatuan langka yang banyak diburu kolektor batu di seluruh dunia. Bahkan batu satam sendiri dijadikan ikon ibu kota Belitung yang ada di alun alun Tanjung Pandan lho!

Borong Oleh-Oleh di Klapa
Cukup lama kita berada di Pantai Tanjung Tinggi, sampai akhirnya Mba Desi mengingatkan masih ada destinasi lain di hari ini sebelum pulang ke Jakarta. Lebih tepatnya, beli oleh-oleh! Rencana awal, sebelum beli oleh-oleh, kita mau mampir makan duren Belitung. Sayangnya, durennya lagi nggak banyak pas lewat kata Mba Desi, dan lumayan sepi. Jadi pupuslah harapan saya untuk makan duren Belitung. Huff.
Rombongan darmawisata ini langsung menghabiskan pundi-pundi uang di Klapa, sebuah toko oleh-oleh khas Belitung. Lantas apa saja oleh-oleh khasnya? Ada kerupuk ikan dan segala seafood lain yang dibuat kerupuk (maksudnya ada krupuk cumi, udang, rumput laut, teri, dll gitu lho), ada terasi khas Belitung, ada kaos, kain termasuk batik Belitung, terus ada juga sirup jeruk kunci yang di malam sebelumnya kita pernah minum di Wan Bie.
Setelah bungkus yang berkardus kardus (yang lain, bukan saya, karena saya nggak banyak belanja, cuma modal dikresekin aja karena setelah ini nggak langsung pulang ke rumah), kami sempat mencicipi es kopi susu yang dijual di kedai di tempat oleh-oleh itu. Harganya kisaran Rp 10.000 – 20.000 satu gelasnya. Ya seperti biasanya, saya hanya minum es coklat dan itu pun enak banget, coklatnya lebih berasa ketimbang yang sebelum-sebelumnya saya minum. Kata Mba Desi juga begitu sih, enak disini hehe. Nah kalau kopinya, menurut Retna si anak kopi, juga lebih enak dari kopi kuli yang diminum sebelumnya. Katanya, kopinya ada rasa rasa coklatnya gitu.

Makan Siang di Mie Belitung Atep
Puas belanja oleh-oleh baik untuk keluarga maupun teman sekantor, perjalanan kita lanjutkan untuk makan siang di Mie Belitung Atep di Jalan Sriwijaya! Bakmi yang terkenal banget sebagai bakmi-nya Belitung. FYI, mie Belitung Atep ini udah dirintis dari tahun 1973 dan tetap ramai sampai sekarang! Hal ini bisa dilihat dari banyaknya foto pengunjung yang dipajang, yang sebagian besar itu artis dan pejabat. Bangunannya aja masih nuansa nuansa bangunan lama gitu. Hehe.
Nah yang penasaran isi Bakmi Atep itu apa aja, jadi ada mie kuning (pastinya dong ya!) yang sudah diseduh air panas, lalu ditaburi tauge, irisan timun, kentang rebus, tahu, udang, dan emping melinjo. Jika biasanya bakmi bakmi lain menggunakan kuah kaldu ayam, nah si Mie Atep ini pakai kuah kaldu udang yang kental berwarna kecoklatan gitu. Rasanya manis-manis kental gitu enak. Kalau yang nggak terlalu suka makan makanan manis, bisa ditambah kecap asin sih. Sama tambah sambel biar lebih pedas! Kalau saya sih suka!
Ada kejadian lucu di tempat ini. Ya namanya kita berenam belas, sudah jelas ramainya kaya apaan tau. Ramai secara fisik. Ramai secara suara. Terus satu meja itu kira-kira hanya bisa diisi 6-7 orang. Awalnya ada niatan untuk gabungin meja biar bisa satu meja rame-rame. Eh ternyata nggak boleh. Mungkin karena fengshui juga kali ya, atau bikin repot juga sih buat yang punya warung (mungkin). Tapi yang lebih lucunya adalah Mas Kancil dimarahin sama salah satu ibu pekerja di situ yang lagi motongin sayur kayanya gara-gara berisik. Terus dia langsung diem seterusnya sambil lirik-lirik ke ibu itu. Hahaha.
Selepas dari Mie Atep Belitung, kita mampir sebentar ke tempat jualan Ketam Isi yang isinya beneran kepiting. Lokasinya masih selurusan sama Mie Atep ini, nggak ada 5 menit sih. Ketam isi yang dijual disini ada yang ready to eat, ada yang frozen food. Kisaran harga yang sudah matang ini dari Rp 5.000 sampai Rp 10.000-an tergantung ukurannya.

Mampir di Rumah Adat Belitung
Karena ternyata waktunya masih ada, jadilah kita mampir ke rumah adat Belitung. Tadinya destinasi ini hampir di-skip biar di destinasi terakhir bisa agak lamaan. Tapi kata Mba Desi di rumah adat pun nggak akan lama kok. Nama rumah adatnya sendiri adalah Rumah Adat Panggong, yang menjadi miniatur rumahnya bangsawan atau pejabat zaman dulu. Letaknya kalau saya tidak salah seinget saya dekat dengan kantor bupati, biar kalau ada tamu dinas bisa lihat juga gitu hehe.
Ada diorama pernikahan Adat Belitung lho
Hampir semua bangunannya terbuat dari kayu dan dibangun memanjang menjadi lima bagian, dimana semakin ke belakang fungsinya semakin rendah. Ya semacam kalau di teras untuk tamu terus semakin ke belakang ketemu dapur untuk asisten rumah tangga. Semacam itu deh. Nah pas masuk, kita langsung bisa lihat ada pakaian pengantin khas Belitung, lengkap dengan seserahan dan segala jenis makanan dan perintilan saat acara pernikahan, ada juga pakaian adat dan foto-foto bupati Belitung terdahulu, juga foto foto kebudayaan di Belitung. Adem sih pas masuk rumah. Teduh aja gitu.
Foto-foto pemimpin Belitung nih guys
Uniknya rumah ini tuh sama sekali minim sekat, bahkan sama sekali nggak ada sekat sekat kamarnya sih. Jalan sedikit ke belakang ada jembatan yang disebut loss yang menghubungkan dengan ruangan selanjutnya yaitu dapur tempat hasil pertanian, perkebunan atau ikan disimpan. Di loss ini juga biasa digunakan anggota keluarga buat bersantai sambil quality time gitu katanya. Enak ya sambil menikmati semilir angin hihi. Beranjak ke dapur, selain tersimpan bahan makanan, tentu saja disimpan alat-alat memasak, bahkan ada juga replika alat yang biasa digunakan untuk mengangkut hasil kebun lho. Di belakang lagi masih ada satu ruang yang biasanya digunakan sebagai ruangan untuk penjaga rumah atau asisten rumah tangga. Katanya sih ruang ini yang membedakan antara rumah si bangsawan dengan rakyat biasa, karena biasanya rumah rakyat biasa nggak ada ruang penjaga gitu jadi cuma ada 4 ruangan gitu.
Ini Mas Rato lagi cobain alat pengangkut hasil kebun 

Destinasi Terakhir: Danau Biru Kaolin
Destinasi ini memang udah saya incar dari awal bahkan pas masih dulu dulu sebelum ke Belitung. Seru aja sih liat orang foto disini. Kombinasi biru sama putih plus langitnya yang cerah juga. Dan beneran dong, pas beneran dateng kesini emang beneran indah. Oh ya, tips saya, pake kacamata ya kalau pas kesini, karena saking didominasi warna putih yang kepantul juga sama sinar matahari bikin susah melek kalau nggak pake kacamata.
bukan endorse kacamata lho!
Bersama model kenamaan seantero Palmerah dan sekitarnya, Billy :D
Danau ini merupakan bekas pertambangan Kaolin yang udah lama ditinggalkan, bukan danau yang berasal dari kawah gunung karena di Belitung nggak ada gunung aktif. Seinget saya sih Mba Desi pernah bilang begitu hehe. FYI, kaolin itu suatu mineral buat bahan industri kayak kosmetik sama kertas gitu lho!
Di pinggirannya sendiri dipagari kayu dan ada warning untuk berhati-hati di kawasan tersebut. Saya sendiri hanya melewati pagar sedikit, nggak berani buat ke bawah karena curam. Yang ke bawah hanya Mas Abi, Mas Rato dan Mas Kancil (terus Mas Kancil atraksi macam seluncur pasir gitu). Katanya fotonya jauh lebih bagus di bawah. Tapi ya gimana. Mba Desi juga wanti wanti sih kalau bisa jangan ke bawah hehe. Jadi sebagian besar dari kita hanya foto foto di atas aja sih.
Mas Abi, Mas Rato dan Mas Kancil berburu gambar di bawah, pun abis itu seluncur pasir -.-
Formasi rombongan darmawisata LENGKAP!
Puas berfoto dan nerbangin drone di Danau Biru Kaolin yang nggak jadi diterbangin di Pantai Tanjung Tinggi karena anginnya kencang, masuklah kita ke bus, dan menuju Bandara yang hanya menempuh waktu kurang lebih 15 menit. Ibaratnya, baru mau merem nih, eh tau tau udah masuk parkiran bandara aja. Ini menandakan bahwa liburan kita benar-benar sudah berakhir.
Kami pun berpamitan dengan Mba Desi, Mas Eko dan Bang Rampet, untuk kemudian check in dan mengetahui bahwa pesawat kami delay sekitar 40 menitan dari yang seharusnya flight di jam 16.40 WIB. Sudah bisa dipastikan bahwa rombongan kami lah yang paling ramai di ruang tunggu. Hahaha.
Hampir pukul 6 sore akhirnya kita masuk pesawat dan take off menuju Soetta. Niatnya di pesawat mau tidur, tapi apa daya nggak bisa. Perjalanan pulang memang akan selalu terasa lebih cepat daripada perjalanan berangkat. Karena kita ngobrol, ngemil muffin dari maskapai, foto-foto senja sambil nunjuk banyak kapal di lautan di bawah (beberapa nampak seperti kapal pesiar hmmm), baru mau merem (lagi), tau tau udah mau landing di Soetta. Memang tidak ditakdirkan untuk tidur nampaknya. Hmmm.
Foto foto di pesawat ini jelas bukan dari kamera saya karena kamera saya di kabin dan hape saya mati haha
Selalu ada aja cerita, di Bandara Soetta sekalipun. Jadi sambil nunggu bagasi, (sepertinya) dipelopori oleh Mas Rato, kita beramai-ramai menyaksikan dan (sebagian) mencoba air siap minum di Bandara yang disebut sebagai air yang turun dari langit. Hahaha. Maka selanjutnya, sebelum berpisah, kami dinner dulu. Di KFC. Setelah 3 hari sama sekali tidak menyentuk junk food *LOL*
Sekitar jam 8 pun saya pamit undur diri berpisah dengan rombongan darmawisata ini menuju stasiun kereta bandara untuk pulang ke kosan. Sementara yang lain ada yang naik Damri, ada yang naik taksi online, dan ada yang dijemput driver.

Kesan dan (tidak memberi) Pesan
Ini nih si Retna, oknum yang selalu ngajakin liburan. gapapa eke senang!
Jadi sebelum saya menutup cerita liburan saya, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada rombongan independen terpercaya ini yang sudah mengizinkan saya menyusup ikut liburan bersama dan nambah teman-teman baru. Sebenarnya, sebelumnya saya sudah pernah bermain dengan sebagian anak-anak ini, kaya Billy, Tina, Mba Ajeng, Mas Tommy, Mas Al, dan Mas Aby waktu ke Bandung abis kondangan di Mas Wildan. Tentu saja Retna yang ngajak lah orang kita udah main bareng dari bertahun-tahun lalu waktu masih satu sekolah (plus gibah bareng juga ya sis haha), dari zaman cuma ke Bandung sampai ke Belitung. Eh sekarang makin tambah temen-temen baru, macam Happy, Venni, Mba Ici, Mba Oca, Mas Rato, Mas Kancil, Mas Bima dan Mas Vicko, dengan karakter dan ceritanya masing-masing. Terima kasih atas liburan singkatnya. Saya senang!
Sampai jumpa di liburan selanjutnya ya!

XOXO!
Za

PS.
Dokumentasi yang ada di postingan ini sebagian besar hasil foto saya sih, tapi nggak sedikit juga di-combine dari dokumentasinya @bmctourbelitung, terus kamera Mas Al, Mas Tommy dan Mas Aby. Sepertinya sih hanya itu. Lupa haha. Ada banyak banget fotonya yang saking banyaknya (hampir seribu deh kalo ditotal sama dokumentasi dari pihak tour) jadi nggak bisa diunggah semua di sini. Hehe.

Dan yang belum baca cerita di hari-hari sebelumnya bisa klik di bawah ini ya!

Selamat merencanakan liburan ya! Semoga tulisanku bisa membantu! Yeay!

1 comment:

  1. Ternyata Belitung bukan cuma pantai aja ya...tapi banyak juga wisata lainnya yg menarik. Mantab Mba Liburannya.....:)

    ReplyDelete